Setuju atau Tidak, Manusia Itu Hewan
Jika kamu ditanya dengan pertanyaan, “hewan apa yang paling cerdas?”, kira-kira apa jawabanmu? Tidak sedikit orang akan menjawab: monyet…
Setuju atau Tidak, Manusia Itu Hewan

Jika kamu ditanya dengan pertanyaan, “hewan apa yang paling cerdas?”, kira-kira apa jawabanmu? Tidak sedikit orang akan menjawab: monyet, kera, lumba-lumba, atau gajah. Iya, kan?
Tapi, jawaban yang paling tepat adalah: kita, manusia. Suka atau tidak, setuju atau tidak, begitulah sabda sains.
Dalam ilmu biologi, manusia berada dalam Kingdom Animalia (hewan). Kita bertulang belakang, termasuk mamalia, tergolong primata, dan berada dalam kelompok Great Apes (kera besar). Spesies kita punya nama ilmiah: Homo sapiens.
Mungkin ada yang tidak setuju. Tidak masalah. Kalau alasannya karena keimanan, ya, sains tidak peduli dengan iman atau keyakinan kita.
Kalau kita percaya manusia itu diciptakan oleh dewa Spageti dan bahan dasarnya dari tepung gandum, itu hak masing-masing. Tapi, sains tidak bekerja dengan keyakinan seperti itu. Sains menuntut objektivitas, sementara kepercayaan bersifat subjektif.
Namun begini: meskipun kita disebut “hewan”, kita ini hewan yang keren. Keren banget, malah. Tidak ada hewan sekeren kita.
Bayangkan, kita meletakkan puluhan ribu simpanse di dalam stadion besar, lalu memintanya menonton pertandingan sepak bola. Apa yang terjadi? Pasti chaos. Kacau dan berantakan.
Tapi mengapa hal itu tidak terjadi pada manusia? Setiap pekan, stadion diisi puluhan ribu manusia yang bersorak, berteriak, dan berdesakan, tapi tetap relatif aman dan terkendali. Kok bisa berbeda dengan simpanse tadi? Jawabannya adalah kemampuan kognitif dan realitas intersubjektif.
Revolusi Kognitif dan Realitas Intersubjektif
Manusia adalah hewan paling cerdas di muka bumi karena Revolusi Kognitif hanya terjadi pada spesies kita sekitar 70.000 tahun yang lalu. Sekitar 10.000–20.000 tahun setelahnya, manusia mulai menciptakan sesuatu yang luar biasa: mitos yang dipercayai bersama atau realitas intersubjektif.
Mitos seperti kepercayaan pada roh, dewa-dewi, sistem kepercayaan, negara, perusahaan, bahkan klub sepak bola, semuanya termasuk realitas intersubjektif.
Apa itu realitas intersubjektif? Sederhananya, itu adalah kenyataan yang secara objektif tidak ada, tapi dikarang dan disepakati bersama agar menjadi bermakna. Tujuannya? Untuk menciptakan kerja sama kolektif.
Contohnya, klub sepak bola Barcelona.
Apa yang benar-benar ada secara fisik dari klub ini? Ya, manusia yang menjadi pemain dan pelatih, dokumen legal, stadion dari batu, besi, dan semen. Lalu, yang mana “Barcelona”-nya? Tidak ada.
Ia menjadi ada ketika manusia, dengan kemampuan kognitifnya menciptakan konsep dan menyepakatinya bersama. Secara fisik, klub itu tidak ada. Tapi secara sosial dan mental, ia hidup dalam kesadaran kolektif kita.
Inilah realitas intersubjektif. Hal yang sama berlaku pada sistem keyakinan, perusahaan, sistem hukum, ekonomi, hingga negara. Kita mempercayai semua itu karena secara kolektif kita menganggapnya bernilai.
Realitas ini pula yang memungkinkan miliaran manusia yang tidak saling kenal bisa hidup, bekerja, dan berjuang bersama di bawah simbol yang sama. Keren, kan?
Hewan yang Mampu Mencipta Makna
Apakah hewan lain seperti simpanse, monyet, anjing, atau gajah bisa menciptakan realitas intersubjektif semacam ini? Tidak bisa. Karena Revolusi Kognitif tidak terjadi pada mereka.
Satu-satunya hewan yang mampu menciptakan makna, menyepakati mitos, dan membangun peradaban dari imajinasi bersama hanyalah kita, manusia. Homo sapiens.
Dan menariknya, kesadaran bahwa manusia adalah hewan bukan cuma pandangan modern.
Seorang ulama dan filsuf besar dari era Islamic Golden Age, Abu Yusuf Ya‘qub ibn Ishaq al-Kindi, sudah lebih dulu menyatakannya: “Al-insān ḥayawān nātiq.” Manusia adalah hewan yang berpikir.
Jadi, ketika sains menyebut manusia sebagai hewan, itu bukan merendahkan martabat kita. Justru di sanalah keagungan kita: Makhluk biologis yang mampu berpikir, mencipta makna, dan membangun dunia dari imajinasi bersama.
Kesimpulan
Kita memang hewan. Tapi bukan sembarang hewan. Kita hewan yang berpikir, berimajinasi, dan bersepakat. Dan karena itulah, kita bisa menulis sejarah, membangun peradaban, dan merenungi diri sendiri, seperti yang sedang kita lakukan sekarang.
(Artikel ini merupakan refleksi dari buku berbagai buku-buku Yuval Noah Harari. Terutama buku dengan judul “Sapiens”)
메타데이터
- post_id
- 60191e2f31eb
- slug
- setuju-atau-tidak-manusia-itu-hewan-60191e2f31eb
- url
- https://medium.com/@iankassa/setuju-atau-tidak-manusia-itu-hewan-60191e2f31eb
- canonical_url
- https://medium.com/@iankassa/setuju-atau-tidak-manusia-itu-hewan-60191e2f31eb
- author_url
- https://medium.com/@iankassa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 19:38:28