← Back to list

Blue Lips : The Sanctuary

vielamyze · 2026-05-30 18:04 · 50 claps · 5.1 min read
#relationships #boys-love #romance
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Blue Lips : The Sanctuary

;soft kissing, fluff, KeonHoon area

Suasana dorm malam itu terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk perform yang baru saja mereka selesaikan di KyungHee tadi. Martin, Seonghyeon, dan James sudah tumbang sejak sampai di dorm dan memilih untuk memeluk bantal daripada harus terjaga lebih lama. Namun, bagi Keonho, ketenangan ini justru terasa membosankan. Pikirannya masih dipenuhi bayangan panggung dan euforia dari penggemar yang sangat antusias dengan penampilan mereka.

Juhoon yang sedang duduk santai di ruang tengah mendongak saat melihat Keonho berjalan gontai ke arahnya, tampak lelah namun gelisah.

"Keonho, ayolah. Kamu nggak capek apa habis perform tadi?" tanya Juhoon sambil menatap Keonho yang tengah sibuk mencari handuk di lemari.

"Capek," jawab Keonho singkat saat Juhoon menatapnya dengan tanya. Ia menoleh, menatap Juhoon lekat-lekat. "Tapi aku pengen berenang, kak. You know that’s how I keep from getting tired."

"Temenin aku, ya? Sebentar saja."

Juhoon menggeleng. “Nggak mau," tolak Juhoon cepat. "Aku kan nggak bisa renang. Nanti kalau aku tenggelam, kamu mau tanggung jawab?"

“Aku nggak akan biarin itu terjadi, kak.”

“Tapi tetep aja, takdir nggak ada yang tahu.”

Keonho terkekeh, ia mendekat dan duduk di samping Juhoon, menatapnya dengan tatapan yang sulit ditolak. Ia membujuk berkali-kali, berjanji akan terus berada di dekatnya. Akhirnya, Juhoon menghela napas panjang dan memberikan syarat bahwa ia hanya akan duduk di tepian kolam dan sama sekali tidak akan masuk ke air.

“Oke, tapi aku nggak akan masuk ke air, deal?.”

Keonho tersenyum puas.

Sesampainya di sana, suasana kolam renang terasa begitu magis. Lampu bawah air yang memancarkan pendar biru lembut memantul di permukaan air yang tenang, menciptakan efek cahaya yang menari-nari di dinding kolam. Keonho meluncur masuk ke air, gerakannya tampak luwes dan mampu membuang jauh beban pikiran yang sedari tadi menghantuinya.

Juhoon sendiri duduk dengan tenang di tepian, mengayunkan kaki, menyentuh air sembari menikmati semilir angin malam. Ia tatap Keonho yang dengan mahir mengayunkan lengannya dan kaki bersamaan. Juhoon sempat terpaku — ya, Keonho jauh terlihat tampan jika di dalam air.

“Beneran nggak mau berenang? Airnya nggak dingin kok,” tanya Keonho.

Lagi lagi Juhoon menggeleng.

Keonho mengangguk singkat. “Jujur, tadi Kakak cantik banget pas perform," celetuk Keonho sambil menopang dagu di tepi kolam, menatap Juhoon.

Juhoon melirik sekilas, mencoba menutupi kegugupannya dengan tawa kecil. "Tiba-tiba banget?"

Keonho tidak memutus kontak mata, justru tatapannya semakin dalam. "Nggak tiba-tiba kok, emang dari dulu kamu cantik banget, kak. Mungkin, lelaki paling cantik yang pernah ada di hidup aku."

Juhoon tertegun. Rona merah menjalar cepat ke pipinya, ia merasa jantungnya berdegup tidak karuan. Dengan malu, Juhoon memercikkan air ke wajah Keonho, mencoba menyembunyikan wajahnya yang mulai panas. "Berhenti gombal atau aku tinggalin kamu sendirian di sini.”

Keonho hanya terkekeh pelan, menikmati bagaimana Juhoon bereaksi. Suasana kemudian hening sejenak. Juhoon kembali menatap langit malam yang bersih, sementara Keonho tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari sosok di depannya, menatap Juhoon seolah pria itu adalah satu-satunya dunia yang ia miliki.

Di tengah keheningan yang manis itu, sebuah ide usil melintas di benak Keonho. Dengan gerakan yang sangat halus, ia mendekati pinggiran kolam tanpa mengeluarkan suara, bersiap untuk aksinya.

"Eh, ada bintang jatuh. Coba lihat kesana, kak,” ucap Keonho guna mengalihkan perhatian Juhoon.

Saat Juhoon menengadah dengan polos, Keonho dengan cepat menarik kaki Juhoon hingga pria itu kehilangan keseimbangan.

Byur

Juhoon terjatuh ke dalam kolam dengan suara kecipak air yang keras, membuatnya panik dan refleks mencengkeram bahu Keonho.

“Keonho! Kamu gila ya!" gerutu Juhoon kesal, wajahnya basah kuyup. “Kalo aku tenggelam gimana, huh?” ucapnya lagi sembari mengusap kasar wajah kecilnya.

Keonho hanya tersenyum tenang, tangan kirinya menahan pinggang Juhoon agar tetap stabil. "Aku nggak akan biarin kamu tenggelam, kak."

Keonho mengangkat tangan kanannya guna mengusap helaian rambut basah yang menempel pada dahi Juhoon, membersihkan sisa air yang menghalangi pandangannya. Keonho menatap Juhoon dengan intens, seolah sedang mengagumi setiap detail wajah sang kakak di bawah pantulan lampu biru yang temaram.

Hening menyelimuti mereka, hanya suara riak air kecil yang terdengar. Keonho menunduk sedikit, suaranya kini merendah, berat dan penuh dengan ketulusan yang sulit disembunyikan.

"Kak... you look so pretty tonight," bisik Keonho, jempolnya perlahan menyusuri garis rahang Juhoon dengan gerakan yang begitu halus. "Aku benar-benar suka sama kamu."

Juhoon terdiam, tatapannya terkunci pada manik mata Keonho yang tampak berkilat di bawah temaram lampu kolam. Ia hendak membuka mulut, mungkin ingin membalas atau sekadar mengatur napasnya yang tercekat, namun Keonho bergerak lebih cepat.

"Kamu indah. Kamu cantik banget. Cara kamu tersenyum, cara kamu menatap langit tadi... aku nggak tahu harus pakai kata apa lagi supaya kamu sadar kalau kamu itu sempurna di mata aku, kak" tutur Keonho, membanjiri Juhoon dengan rentetan pujian yang terdengar begitu tulus dan dalam.

Juhoon mengerjapkan matanya, wajahnya kini terasa panas bukan hanya karena suhu air, tapi karena desiran hebat di dadanya. Ia terkekeh pelan meski suaranya sedikit bergetar, mencoba bersikap santai meski hatinya sudah tidak keruan. "Kamu berlebihan," gumamnya pelan.

Keonho menggeleng kecil, sorot matanya melembut namun tetap intens. Ia menarik pinggang Juhoon sedikit lebih dekat, hingga jarak di antara mereka nyaris hilang. "Semua tentang kamu nggak ada yang berlebihan, kak. Bahkan kalau aku memuji kamu seharian pun, itu belum cukup buat mendeskripsikan betapa berartinya kamu buat aku."

Juhoon kehilangan kata-kata. Ia hanya bisa menatap Keonho dengan tatapan yang sarat akan kasih sayang yang mendalam.

“Kak, kalau aku cium kamu sekarang, boleh?”

Juhoon terdiam, namun matanya menatap Keonho dengan penuh arti. Perlahan, kedua tangannya yang sedari tadi berada di bahu Keonho bergerak merapat, memberikan tarikan halus agar lelaki di depannya itu mendekat, sebuah isyarat bisu yang menjadi jawaban paling mutlak.

Keonho tidak membuang waktu lagi. Ia mendaratkan bibirnya yang lembut dan hangat di atas bibir Juhoon. Hanya sebuah kecupan singkat yang terasa manis, namun cukup untuk membuat waktu di sekitar mereka seolah berhenti.

Setelah tautan bibir mereka terlepas, Juhoon menatap Keonho dengan tatapan lembut. “Kamu juga indah. Saat kamu bergerak di dalam air, kamu sangat mempesona. Indah, tampan, dan sempurna. Sepertinya air sangat menyatu dengan jiwa kamu."

Keonho tersenyum, sorot matanya kini berubah lebih dalam dan penuh puja pada sosok di depannya. Ia kembali mencondongkan tubuh, kali ini ia menangkup pipi Juhoon dengan kedua tangannya yang basah. Keonho memiringkan kepalanya sedikit, menutup jarak hingga napas mereka beradu, sebelum akhirnya ia memagut bibir Juhoon dengan tempo yang lambat dan penuh perasaan.

Ciuman itu jauh lebih intens dari sebelumnya. Hangat dan sedikit menuntut, namun tetap dilakukan dengan kehati-hatian yang luar biasa. Keonho menghisap bibir bawah Juhoon dengan lembut, membiarkan kehangatan tubuh mereka yang kontras dengan dinginnya air kolam menyatu. Juhoon membalas pagutan itu, jarinya meremas tengkuk Keonho, membiarkan dirinya tenggelam dalam irama napas yang saling memburu di tengah sunyinya malam.

Namun, perlahan napas Juhoon mulai memburu, ia merasa kehabisan oksigen dan tubuhnya mulai menggigil karena terlalu lama berendam. Dengan sisa tenaga, Juhoon menepuk pelan bahu Keonho agar memberi jarak.

"Keonho, cukup,” bisiknya dengan napas yang masih tersengal dan wajah yang merona hebat. "Kita naik sekarang, makin malam udaranya makin dingin. Aku takut kamu malah sakit kalau terlalu lama di sini."

Keonho mengangguk mengerti. Dengan gerakan lembut, ia membantu Juhoon naik ke tepian.

“Aku bisa jaga kamu, kak," bisik Keonho pelan.

"Maksudnya?"

Keonho menatapnya dalam, lalu kembali memberikan handuk miliknya sendiri untuk menutupi kepala Juhoon agar rambutnya yang basah segera kering. "Kamu nggak perlu takut sama air kalau ada aku," ucap Keonho lembut, jemarinya merapikan helaian rambut yang menutupi dahi Juhoon. "Bahkan jangan takut sama apa pun kalau kamu sama aku. Dunia luar mungkin berisik dan dingin, tapi aku akan jadi pelindung kamu dari segalanya. Pegang janji aku, ya?"

Di bawah langit malam yang sunyi, janji itu terucap bukan sebagai kata-kata manis belaka, melainkan sebagai sumpah yang membuat hati Juhoon merasa hangat.

Juhoon menatapnya lekat, sebuah senyum tipis yang tulus terukir di wajahnya. "I’ll hold onto that promise."


메타데이터
post_id
60290c2ef86c
slug
blue-lips-the-sanctuary-60290c2ef86c
url
https://medium.com/@virniesyafrudin/blue-lips-the-sanctuary-60290c2ef86c
canonical_url
https://medium.com/@virniesyafrudin/blue-lips-the-sanctuary-60290c2ef86c
author_url
https://medium.com/@virniesyafrudin
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30