Overcome—Her Progress
Hanin dan Sarah kembali duduk di depan laptop mereka, bersiap untuk mengikuti zoom berikutnya yang dipimpin oleh Claudia. Ini merupakan…
Overcome—Her Progress

Hanin dan Sarah kembali duduk di depan laptop mereka, bersiap untuk mengikuti zoom berikutnya yang dipimpin oleh Claudia. Ini merupakan rapat lanjutan setelah presentasi dari tim lapangan yang sebelumnya bermasalah dengan titik pengeboran.
“Semoga sekarang tim Tomori udah ada progress…” Sarah berbisik pelan sambil mengenakan earphone. Ia baru saja kembali dari kampus karena ada urusan dan memutuskan singgah ke kosan Hanin untuk mengikuti rapat bersama. “Kalo belum juga, ga kebayang gimana reaksi Bu Claudia nanti.”
Hanin refleks menoleh pada Sarah. “Beliau pasti langsung negur kalo ada yang salah lagi ga sih? Semoga ada kabar bagus deh, biar mood Bu Claudianya juga baik selama rapat ga kayak waktu itu.”
Sarah lantas mengamini. Berkaca dari rapat sebelumnya, mereka jadi paham bahwa atasan mereka tersebut tidak main-main ketika berurusan dengan data.
Sesaat kemudian, layar laptop mereka pun menampilkan wajah Claudia yang baru saja bergabung ke dalam zoom. Claudia terlihat mengenakan blazer hitam dengan rambut yang dicepol rapi. Wajahnya dihiasi senyum simpul yang pasti menarik perhatian banyak orang, akan tetapi sorot matanya mengisyaratkan bahwa ia mengharapkan hasil yang jauh lebih baik pada pertemuan kali ini.
“Selamat pagi semua.” Claudia memulai rapat dengan sapaan ramah nan formal. “Hari ini kita akan membahas tindak lanjut dari presentasi sebelumnya mengenai titik pengeboran di wilayah Tomori, Sulawesi Tengah. Saya harap kali ini datanya sudah lebih lengkap dan mencakup semuanya, sesuai dengan arahan yang saya minta ya.”
Meskipun Claudia tidak bisa melihat secara langsung, Hanin dan Sarah seketika menegakkan punggung mereka begitu sesi rapat resmi dibuka. Suasana serius yang tercipta membuat semua peserta lekas memperhatikan jalannya pembicaraan.
Project officer sektor Tomori muncul di layar, masih terlihat pucat pasi — penampilannya tidak jauh berbeda dari beberapa hari lalu. Ia segera memulai presentasi, menampilkan revisi dari laporan mereka. Peta dan grafik baru diproyeksikan di layar, menunjukkan lokasi pengeboran alternatif yang telah mereka tinjau setelah menerima kritik dari Claudia pada rapat sebelumnya.
Sementara itu, Claudia tampak mendengarkan presentasi dengan saksama dan matanya tetap fokus pada data yang ditampilkan pada layar. Setelah presentasi selesai, ada jeda singkat sebelum Claudia memulai pembicaraan. “Terima kasih atas penyampaian laporannya.” Claudia menanggapi dengan anggukan. “Saya lihat kalian sudah memperbaiki beberapa kekurangan dari laporan sebelumnya dan saya menghargai usaha tersebut. Tapi tentu, ada beberapa hal yang masih perlu kita bahas lebih lanjut.”
Ketua dan anggota tim cabang terlihat menahan napas, menunggu evaluasi dari Claudia. Di sisi lain, Hanin dan Sarah juga ikut merasa tidak tenang, tampak menantikan apa yang akan dikatakan oleh atasan mereka itu.
“Terkait lokasi,” Claudia menjeda kalimat, sebelum menjabarkan alasannya. “Lokasi alternatif yang kalian usulkan memang lebih aman dari risiko seismik, tetapi ada masalah lain yang belum kalian sertakan dalam analisis ini, yaitu ketersediaan infrastruktur pendukung di sekitar wilayah pengeboran.”
“Lokasi di utara yang kalian pilih berada jauh di luar jalur distribusi utama dan ini tentu akan meningkatkan biaya logistik secara signifikan. Apakah kalian sudah mempertimbangkan hal ini sebelumnya?”
Project officer tersebut tampak terkejut, terlihat berusaha memutar otak untuk menjawab. “Kami memang mencatat adanya jarak tambahan untuk transportasi, tetapi kami belum menyelesaikan perhitungan biaya logistik secara rinci, Bu Claudia.”
Claudia menggelengkan kepalanya sedikit, nada suaranya terdengar lebih ditekan. “Itu adalah informasi penting yang harus dimasukkan juga dalam laporan. Pembahasan tidak terbatas pada risiko geologis saja, perlu mempertimbangkan dampak operasional dari pemindahan lokasi pengeboran. Tanpa perhitungan logistik yang tepat, kita tidak bisa membuat keputusan yang jelas apakah pemindahan lokasi benar-benar lebih menguntungkan.”
Hanin mengamati bagaimana Claudia menangani perubahan situasi di lapangan dengan sangat profesional. Meskipun ada kekurangan dalam laporan, Claudia tetap dapat langsung mengarahkan alternatif opsi yang memberikan insight tambahan. Sarah juga tampak kagum dan tidak bisa berhenti berkomentar. “Damn. Well said, Bu. Kok kepikiran aja lagi, ya? Padahal dengerin sekilas presentasi tim tadi tuh gue kira bakal clear aja.”
Hanin menyepakati komentar Sarah. “Another level, Sar. No wonder beliau bisa di posisi sekarang. Remahan rengginang kayak kita mana sampe mikir ke sana.”
Setelah memberikan masukan perihal sektor logistik, Claudia juga menegaskan bahwa data terkait lingkungan sekitar harus segera dilengkapi, termasuk kemungkinan dampak ekologis dari pemindahan lokasi pengeboran. “Saya tidak ingin ada pengabaian terhadap dampak lingkungan.” Claudia menambahkan pernyataannya. “Pastikan laporan akhir nanti mencakup analisis lingkungan yang komprehensif agar menjadi catatan kita ke depan. Jika menemui kesulitan, tolong segera hubungi saya.”
Semenjak mengikuti magang, Hanin dan Sarah akan sibuk mempersiapkan bahan untuk evaluasi tiap Jumat. Sudah menjadi rutinitas setiap minggu untuk mempresentasikan hasil notulensi dari rapat-rapat yang telah diikuti kepada mentor mereka selama magang, yaitu Jihan.
Biasanya, presentasi berlangsung dalam suasana yang cenderung santai. Jihan adalah orang yang supel dan sudah mereka anggap selayaknya figur kakak sendiri. Wanita itu bahkan selalu menyempatkan diri untuk memberikan masukan yang berharga kepada mereka berdua. Bagi Hanin dan Sarah, memiliki mentor sebaik Jihan merupakan mukjizat yang diberikan Tuhan di tengah huru-hara melelahkannya masa perkuliahan mereka.
Namun, hari Jumat kali ini sepertinya akan berbeda. Mereka masih berkutat dengan slide bahan tayang ketika sebuah pesan masuk ke grup chat beranggotakan mereka bertiga.

Pesan singkat itu membuat mata Hanin melebar tidak percaya.
Hanin tahu betul siapa Claudia. Meskipun selama magang ini mereka tidak pernah berinteraksi secara face to face, tentu kehadiran Claudia yang menjabat sebagai Kepala Divisi dalam zoom mereka akan terasa cukup menakutkan untuk dibayangkan.
Bahkan, Hanin pernah mendengar cerita-cerita tentang betapa perfeksionis dan terlampau telitinya Claudia dalam setiap pekerjaan yang ia tangani dari beberapa percakapan bocor para pegawai setelah Claudia keluar dari zoom meeting. Di saat yang sama, Hanin merasa khawatir dengan permintaan mendadak dari atasan mereka tersebut.
Mengapa Claudia tiba-tiba saja tertarik menyaksikan presentasi mereka?
Hanin langsung menelepon sahabatnya untuk membahas tamu tak diundang yang akan menonton presentasi mereka. “Sar, gimana ini?” gumam Hanin sambil berulang kali melirik ke arah jam dengan waswas. “Lo udah siap?”
“Siap ga siap, udah pasti mati kita Hanin.” lenguh Sarah yang terdengar frustrasi.
“Tapi mungkin beliau cuma mau liat perkembangan kita? Secara kita doang yang magang di divisi ini ga sih... Sar?” balas Hanin serasional mungkin. Ia menarik napas panjang dan berusaha menenangkan mereka lagi. “Yang penting kita fokus deh. Kita udah siapin materi sebaik-baiknya. Lagian ini cuma laporan mingguan, ga ada yang perlu ditakutin ‘kan?” katanya lebih kepada diri sendiri. Sarah di ujung telepon hanya bisa mengamini sebelum panggilan itu pun disudahi dengan pembacaan doa bersama.
Saat waktu menunjukkan pukul 2 siang, Hanin dan Sarah sudah bersiap di depan layar laptop masing-masing. Jantung Hanin sudah berdegup lebih cepat dari biasanya.
“Semoga kami ga lakuin kesalahan apapun…” rapal Hanin diam-diam sambil menatap layar laptop. Belum ada tanda-tanda kehadiran Claudia di sana.
Hanin telah bersiap dengan membuka file presentasi dan Jihan yang terlebih dahulu terlihat di layar pun langsung menyapa mereka. “Oke, kita mulai presentasinya. Hanin dan Sarah, kalian siap?”
“Siap, Mba,” jawab Hanin dan Sarah hampir bersamaan.
Tidak berselang lama di sudut kanan layar, muncul wajah familiar yang membuat suasana tenang seketika berubah drastis.
Nama Claudia_JOB-PSN kini sudah tertera sebagai peserta yang akan menyaksikan presentasi mereka hari ini.
Dari layar Claudia tidak terlihat menunjukan ekspresi apa-apa namun eksistensinya di sana saja sudah cukup membuat Hanin gelagapan—ditonton oleh salah satu petinggi perusahaan sudah pasti memberikan efek teramat besar.
Selama sesi presentasi berlangsung pun Claudia tidak banyak bicara. Ia hanya mendengarkan, menonton dengan saksama dan sesekali mencatat sesuatu. Aura profesionalisme yang memancar dari Claudia begitu kuat hingga Hanin merasa mati kutu.
Sarah juga yang biasanya santai dan kini tampak lebih kaku, Hanin bisa merasakan kegugupan temannya dari cara Sarah berbicara selama melakukan pemaparan. Tetapi, mereka berdua tahu bahwa presentasi ini harus berjalan lancar. Poin-poin penting dari rapat mingguan yang mereka hadiri perlu disampaikan dengan jelas dan rinci. Hanin pun berusaha menenangkan dirinya, mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara.
Ketika giliran Hanin untuk tampil tiba, ia merasakan bagaimana Claudia menatapnya langsung, meski hanya melalui layar. Hanin berusaha sebaik mungkin untuk menjaga suaranya agar tetap stabil dalam menyampaikan poin-poin dengan jelas dan lugas. Di dalam benaknya, hanya ada satu pemikiran—jangan sampai membuat kesalahan di hadapan Claudia.
“Hanin, coba lanjutkan.” Jihan menginstruksikan ketika Hanin berhenti sejenak untuk memeriksa slide. “Jelaskan dampak dari keputusan rapat yang kemarin ya.”
Hanin mengangguk sebelum melanjutkan presentasinya. Dia menjelaskan dampak dari keputusan-keputusan rapat yang telah diambil menurut interpretasinya. Pernyataan keluar dari mulut Hanin dengan hati-hati, takut ada satu kesalahan yang bisa memengaruhi penilaian Claudia akan dirinya.
Setelah presentasi berakhir, Jihan memberikan evaluasi. Tak lupa juga ia menyampaikan beberapa catatan dan pujian atas presentasi mereka. Namun itu masih belum membuat Hanin tenang, penilaian dari Claudia-lah yang nantinya menentukan nasib mereka berdua.
“Not bad.”
Claudia memuji singkat. Posturnya yang semula tegap, sekarang terlihat lebih condong ke depan. “Namun saya ingin lihat lebih banyak analisis dari kalian berdua. Jadi, tidak hanya menyampaikan apa yang terjadi di rapat. Coba ke depannya, pikirkan juga bagaimana detail dampak poin-poin yang kalian laporkan terhadap proyek secara keseluruhan.”
Penyampaian Claudia kepada mereka mungkin terdengar sederhana, namun cukup membuat Hanin sadar bahwa presentasi mereka masih jauh dari kata sempurna.
“Baik, Bu Claudia.”
메타데이터
- post_id
- 6153b9ebb4b9
- slug
- overcome-her-progress-6153b9ebb4b9
- url
- https://medium.com/@sortaoutta/overcome-her-progress-6153b9ebb4b9
- canonical_url
- https://medium.com/@sortaoutta/overcome-her-progress-6153b9ebb4b9
- author_url
- https://medium.com/@sortaoutta
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-16 19:09:56