Ketika suara kalah dengan pikiran yang berisik
Awalnya kukira mempertimbangkan segala hal itu ada baiknya, tentang postif negatifnya, resiko baik buruknya, keuntungan dan kerugian…
Ketika suara kalah dengan pikiran yang berisik
Awalnya kukira mempertimbangkan segala hal itu ada baiknya, tentang postif negatifnya, resiko baik buruknya, keuntungan dan kerugian, hingga citra diri yang harus diperlihatkan. Semua itu memang baik dan harus di perhatikan sebelum keluar dari diri dan di perdengar oleh yang lainnya. Guna mengamankan segala hal dan memperkecil ruang permasalahan. Bagiku yang juga seorang introvert, mempertimbangkan adalah hal yang wajib untuk segala Keputusan, bahkan manusia yang ada di muka bumi ini Ketika ingin memutuskan pasti akan mempertimbangkan dahulu. Tapi entah akhir-akhir ini terasa muak Ketika memikirkannya, seperti ada banyak hal yang malah menjadi rumit Ketika selalu dipikirkan Kembali, tersadar akan banyak resiko yang dihadapi seiring bertambahnya waktu dan usia. Yang dulunya terasa mudah dan baik-baik saja, tetiba entah sejak kapan segala hal menjadi abstrak dan sulit untuk diputuskan, seperti semakin dipikirkan semakin tidak yakin dan semakin untuk enggan. Entah aku saja yang pernah merasakannya, atau yang lain juga. Tapi yang jelas, Ketika aku merenungi hal ini, ternyata itu hal buruk, bukan pada pertimbangannya, akan tetapi pada berlarut-larutnya. Ketika kita sudah yakin harusnya langsung saja dikeluarkan, lepaskan dan mulai evaluasi, bukan evaluasi baru dilepaskan. Mempertimbangkan dalam sejam masih memungkinkan, tapi jikalau sampai berhari hari, itu akan menjadi toxic dan stuck yang ga normal. Entah kita akan melakukannya atau membatalkannya, toh semua hal pasti ada resikonya. Dan persenan kemungkinan yang terjadi juga tidak absolut, tidak ada yang pasti, dan yaps itulah sesuatu yang kubenci, tapi begitulah kehidupan, dan mungkin disitulah letak serunya. Untuk dunia yang fana ini, untuk apa terlalu berlarut-larut, aah diri ini, mungkin sudah termakan obsesi untuk menjadi sebaiknya yang tak berindikator, membuat segala hal ingin tampil menjadi kesempurnaan yang batasnya semu. Toh orang hebat pun masih saja ada yang benci kan, lagian juga malah aneh kalo hidup gada resikonya, seperti keluar dari fitrahnya, hooh lagi lagi pikiran ini seperti dua arah, dan kenyataan seperti itulah berisiknya pikiran. Pro kontra yang penengahnya diri sendiri, sungguh aneh tapi nyata. So, Solusi dari ini semua adalah pembatasan, mulai atur waktu untuk berapa lama pikiran ini dibolehkan untuk berdebat dan kapan harus berhenti untuk memikirkan hal lainnya, terlalu sayang untuk stuck pada hal yang akan menjadi masa lalu, lagian ada tuhan yang mentakdirkan ini semua, hidup pun juga milikmu, semua yang terjadi maka sesuai dengan mindset mu, jadi yuk mari bijak dalam berpikir, utamakan diri sendiri sebelum yg lainnya.
메타데이터
- post_id
- 6161632dcd08
- slug
- ketika-suara-kalah-dengan-pikiran-yang-berisik-6161632dcd08
- url
- https://medium.com/@aksallkay2/ketika-suara-kalah-dengan-pikiran-yang-berisik-6161632dcd08
- canonical_url
- https://medium.com/@aksallkay2/ketika-suara-kalah-dengan-pikiran-yang-berisik-6161632dcd08
- author_url
- https://medium.com/@aksallkay2
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-12 00:17:29