← Back to list

Perkara Pena Aina

Selama empat bulan Juan duduk di kelas sebelas ini, baru kemarin dia mengetahui bahwa teman sebangkunya bisa sekesal itu.

Inmyowl · 2026-03-23 00:04 · 34 claps · 4.4 min read
#cerpen #mindset #sekolah #remaja
Open on Medium ↗

Photo by 2H Media on Unsplash

Photo by 2H Media on Unsplash

Perkara Pena Aina

Selama empat bulan Juan duduk di kelas sebelas ini, baru kemarin dia mengetahui bahwa teman sebangkunya bisa sekesal itu.

Aina di matanya adalah gadis periang yang punya catatan rapi dan warna-warni. Dia tipe siswi yang punya alat tulis lengkap mulai dari pensil, penghapus, pena, tip-ex, penggaris, sampai stabilo dan pena dengan tinta berbagai warna. Interaksi keduanya nggak ada bedanya dengan interaksi teman sekelas pada umumnya. Saling tanya ini-itu, bercanda bareng, ngegosipin anak kelas sebelah sambil ngerjain tugas kelompok. Yah intinya hubungan mereka biasa aja dan baik-baik aja.

Tapi Juan nggak nyangka kalau Aina bisa melayangkan tatapan yang sebegitu tajamnya ke arahnya kemarin seolah Juan adalah seorang kriminal.

Ini bermula dari Juan yang kelabakan membongkar tasnya ketika jam pelajaran Miss Leyla akan dimulai. Seingatnya, dia selalu melemparkan pena tanpa tutupnya itu ke dalam tas setiap kali bersiap pulang, dan lebih memilih untuk menggunakan pena yang standby di meja TV ketika dia mengerjakan tugas di rumah. Tapi, pagi itu dia nggak menemukan penanya di bagian manapun dalam tasnya.

Klotak klotak sepatu Miss Leyla sudah menggema di koridor. Juan nggak punya banyak waktu. Mengingat Aina punya alat tulis lengkap, Juan akhirnya mengetuk meja tetangganya dan menampilkan wajah memelas.

“Boleh pinjam pena, nggak, Ai?”

Aina dengan baik hatinya mengambil pena cadangan dan menyerahkannya ke tangan Juan. “Jangan lupa nanti dikembalikan, ya.”

Juan mengangguk berlebihan dan memberi jempol. Kemudian Miss Leyla masuk dan pelajaran dimulai. Juan rasanya lega sekali bisa duduk semeja dengan siswi seperti Aina yang nggak pelit dan suka menolong teman.

Sayangnya, Juna telah melakukan kesalahan fatal. Sangat fatal.

Kesalahan yang berhasil membangunkan macan dalam diri Aina.

“Ini perbuatanmu, kan?” Pertanyaan Aina terdengar tajam seperti silet sampai-sampai Juan mengira dia salah dengar.

Juan melihat pena yang tadi dipinjamnya, kemudian menatap Aina dengan kebingungan. Baru lima detik yang lalu dia mengembalikannya, dan dalam jangka waktu iu juga sosok Aina yang riang berubah menjadi Aina yang garang.

Gadis itu mendengkus kasar dan Juan bisa melihat asap imajinatif keluar dari hidungnya. Aina menunjuk gerigi-gerigi kasar di ujung tutup penanya dengan tegas, membuat Juan menyadari kesalahan besarnya. “Ah, itu, maaf tadi aku kelaparan, jadi refleks gigitin pena—”

Aina meraih tangan Juan dan menjatuhkan penanya di sana bagai mengoper sampah bungkus makanan. Juan yang kebingungan menunjuk pena itu dan dirinya bergantian untuk memastikan maksud Aina.

Aina mengangguk sekali. “Itu untukmu. Lalu, belikan aku pena yang baru. Harus sama seperti yang udah kamu nodai itu.”

Tanpa bertanya lebih lanjut, Juan segera mengiyakan.

Di hadapan pintu kelasnya, Juan tiba-tiba merasa gugup. Ini pertama kalinya dia slek dengan teman semeja, dan ternyata rasanya sama sekali nggak enak. Dalam perjalanan tadi, Juan sudah overthinking aja kalau interaksi mereka bakalan canggung dan penuh tensi.

Di dalam kelas, sudah ada Aina dan empat teman sekelasnya yang lain. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Juan berjalan ke mejanya sambil komat-kamit berharap supaya Aina sudah nggak segalak kemarin. Setelah duduk dengan diam, Juan mengambil pena baru dari dalam tasnya. Lalu, dia meletakkannya di meja tetangga.

“Anu, Ai, ini penanya. Sekali lagi maaf, ya, buat yang kemarin.”

Aina mengangguk puas kepada pena baru yang mulus itu. Dia melihat wajah tegang Juan dan akhirnya tertawa. “Santai aja kali. Mukamu udah kayak lagi nungguin hasil ulangan kimia aja. Aku nggak gigit, kok.”

“Abisnya kamu kesel banget kemarin. Kukira kamu masih marah pagi ini.”

Aina menaik-uturnkan bahunya. “Aku keselnya kemarin doang. Lagian kalau dipikir-pikir, ini salahku juga karena nggak ngingatin kamu kemarin.”

“Tetap aja kemarin itu memang aku yang salah,” timpal Juan.

“Tapi kamu udah paham, kan, apa kesalahanmu? Besok-besok kalau pinjam pena atau barang apa pun, dari siapa pun itu, harus dikembalikan dengan keadaan yang sama ketika kamu meminjamnya, ya.”

Juan akhinya bisa bersikap lebih santai. Berbagai fake scenarios yang diisi dengan kemarahan Aina ternyata nggak ada yang terwujud, untungnya. Dia melirik Aina yang bersenandung pelan sembari menyusun buku dan alat tulisnya, bersiap untuk memulai jam pelajaran pertama nanti.

“Ternyata kamu suka banget sama kerapian dan kebersihan, ya?” celetuk Juan.

“Ini konteksnya masih pena yang tadi?”

“Iya.”

“Kalau itu, sih, bukan masalah kerapian atau kebersihan, Juan, tapi menghargai apa yang aku punya.” Aina menarik napas bersiap untuk menyampaikan apa yang dipikirnya.

“Coba kamu bayangkan. Kalau benda-benda itu punya perasaan, mereka pasti bakalan sakit hati gara-gara kita nggak menjaga mereka dengan benar. Mereka bakalan berpikir kalau kita nggak bersyukur, nggak berterima kasih karena udah punya dia. Padahal, kan, kita juga yang butuh.

“Contohnya aja pena ini. Kita butuh dia untuk menulis, kan. Tapi kalau kita meletakkan dia sembarangan dan nggak menyimpannya dengan baik, terus kita membeli yang baru untuk menggantikan yang hilang, pena itu pasti bakal marah banget karena kita nggak menghargai keberadaannya.”

“Tapi Ai kalau kasusnya hilang, kan, bisa beli yang baru.”

“Ya, memang benar. Tapi kalau kita berusaha menjaganya dari awal, kita bisa mencegah supaya nggak hilang, kan? Lagi pula, kalau dikit-dikit hilang terus beli yang baru, jatuhnya jadi buang-buang uang. Bayangkan aja kalau dalam seminggu kamu kehilangan pena seharga 3.000 tiga kali, berarti kamu udah mengeluarkan uang sebanyak 9.000 cuma untuk pena. Padahal, kalau kamu menjaga supaya penanya nggak hilang, kamu bisa menghemat uang 9.000 itu. Terutama in this economy, kita harus lebih bijak dalam menggunakan uang dan memanfaatkan apa yang udah kita punya.”

“Oke, aku paham.” Juan mengangguk. Dia mengetukkan jari telunjuknya di ujung dagu. “Jujur, aku nggak pernah berpikir sampai sejauh itu, karena aku awalnya mikir, kan ini cuma pena. Tapi setelah kamu jabarkan, ternyata ini bukan hanya masalah pena, tapi lebih ke bagaimana kita merawat apa yang kita punya, sekecil apa pun itu.”

“Betul. Kalau kita menjaga benda yang kita punya, selain sebagai bentuk menghargai, benda itu juga jadi lebih awet, kan.” Aina tersenyum puas karena Juan dapat menangkap maksudnya.

“Keren, ya, kamu, punya pemikiran kayak gini. Aku jadi merasa tercerahkan,” puji Juan. Matanya memancarkan kekaguman yang tulus.

Aina menggaruk halus pipinya yang sedikit memerah. Gadis itu agak lemah dengan pujian, sehingga dia memberikan sesuatu ke Juan supaya bisa segera mengalihkan topik. “Dari pada kamu gigitin pena, mending kamu ngunyah permen.”

Juan tentu menerimanya dengan senang. How toughtful she is, pikirnya. “Tapi, kan, nggak boleh makan permen pas lagi belajar, Ai.”

“Nggak masalah kalau nggak ketahuan, kan?” Dia mengerling, “Aku pernah mengerjakan ujian sambil dengerin lagu pakai TWS dan aman-aman aja, kok. Kalau cuma makan permen pasti kesulitannya lebih kecil.” Aina mengatakannya sesantai dia menceritakan kucingnya yang suka tiduran di keranjang pakaian.

Juan pasti sudah melongo sekarang. “Kamu nggak kelihatan seperti murid yang bakal melakukan itu, Ai.”

Mendengarnya, Aina tertawa lepas.

Sudah empat bulan Juan jadi teman sebangku Aina. Dia benar-benar belum mengenal Aina sepenuhnya dan itu bikin Juan jadi semakin bersemangat untuk mengenalnya. Siapa tahu kedepannya dia bisa mendengar pemikiran Aina yang nggak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.[]


메타데이터
post_id
61735c9fcf1d
slug
perkara-pena-aina-61735c9fcf1d
url
https://medium.com/@inmyowl/perkara-pena-aina-61735c9fcf1d
canonical_url
https://medium.com/@inmyowl/perkara-pena-aina-61735c9fcf1d
author_url
https://medium.com/@inmyowl
status
ok
fetched_at
2026-06-18 00:10:23