Miskin Semua Hal: Telinga Tuli, Otak Tak Dipakai.
Ada satu fenomena yang cukup sering ditemukan di berbagai sudut kota, termasuk Makassar, Fenomena ini menarik karena seolah menentang…
Miskin Semua Hal: Telinga Tuli, Otak Tak Dipakai.
Ada satu fenomena yang cukup sering ditemukan di berbagai sudut kota, termasuk Makassar, Fenomena ini menarik karena seolah menentang logika bersosial. Semakin biasa kualitas suara seseorang, semakin besar kemungkinan ia memegang mikrofon dan menyetel speaker pada volume yang bisa didengar satu lorong penuh. Jika bakat menyanyi diukur dari tingkat kepercayaan diri, mungkin sebagian orang sudah layak menggelar konser stadion.
Yang lucu, tujuan karaoke hari ini tampaknya bukan lagi untuk menikmati musik, melainkan memastikan seluruh lingkungan mengetahui lagu apa yang sedang diputar. Speaker diposisikan menghadap jalan, volume dinaikkan hingga kaca jendela bergetar, lalu dimulailah pertunjukan yang tidak pernah diminta siapa pun. Tetangga yang sedang istirahat, belajar, bekerja, atau bahkan ingin menikmati suasana tenang, mendadak menjadi penonton wajib tanpa membeli tiket.
Secara psikologis, dalam tulisan di https://journal.fi/psy/article/view/160756/121211 fenomena ini sebenarnya cukup menarik. Banyak orang menggunakan karaoke sebagai sarana pelampiasan stres dan mencari hiburan murah. Namun di beberapa kasus, karaoke berubah menjadi ajang validasi sosial. Bukan soal menyanyi dengan baik, melainkan soal mendapatkan perhatian. Karena tidak semua orang bisa menarik perhatian lewat prestasi, sebagian memilih menarik perhatian lewat speaker berukuran setengah lemari dan suara yang berjuang keras mencari nada yang tepat.
Yang lebih ironis, sebagian orang menganggap Spotify Premium atau YouTube Premium sebagai pengeluaran yang tidak penting. Iklan yang muncul setiap beberapa menit diterima dengan ikhlas sebagai bagian dari pengalaman mendengarkan musik. Tetapi ketika ada promo speaker dengan daya yang cukup untuk menggelar konser kecil di tingkat RT, keputusan pembeliannya bisa terjadi dalam hitungan menit. Seolah kualitas suara tidak terlalu penting, yang penting suaranya terdengar jauh, dan ironi paling jelas adalah kebanyakan dari mereka orang miskin banget.
Di Makassar sendiri, pemandangan seperti ini bukan hal yang asing. Pada sore atau malam hari, suara karaoke kadang terdengar dari beberapa rumah sekaligus. Masalahnya bukan pada kegiatan bernyanyinya. Semua orang berhak mencari hiburan. Masalah muncul ketika batas antara hiburan pribadi dan gangguan publik mulai menghilang. Ketika satu orang ingin menikmati musik, tetapi satu kampung dipaksa ikut mendengarkan, maka itu bukan lagi soal hiburan, melainkan soal kurangnya kesadaran terhadap ruang bersama.
Fenomena ini menunjukkan satu hal yang cukup unik tentang masyarakat modern. Banyak orang ingin didengar, tetapi tidak semua mau belajar bagaimana cara menghasilkan sesuatu yang layak didengar. Akibatnya, yang diperbesar bukan kualitasnya, melainkan volumenya. Yang ditingkatkan bukan kemampuannya, melainkan kekuatan speakernya.
Aneh memang. Yang paling sering mengeluh tidak dihargai kadang justru yang paling sering mengabaikan kenyamanan orang lain. Speaker harus paling keras, jalan umum dianggap halaman pribadi, sampah dilempar ke mana saja/bakar sampah sembarangan dan kalau ditegur langsung merasa dizalimi. Seolah-olah hak selalu ingin dituntut, tetapi kewajiban selalu dicari jalan pintasnya. Bukan soal kaya atau miskin,
tetapi memang ada kelompok orang yang hidup dengan prinsip sederhana mereka: selama saya senang, urusan orang lain belakangan
Sebagian orang hidup susah bukan hanya karena kekurangan uang, tapi karena terus melihara kebiasaan yang membuat hidup mereka dan orang di sekitarnya tetap berantakan. Kritik dianggap ejekan, aturan dianggap pilihan, dan ketertiban dianggap gangguan. Lalu ketika keadaan tidak berubah bertahun-tahun, yang disalahkan selalu nasib, pemerintah, atau orang lain kecuali cermin. dasar battala.
메타데이터
- post_id
- 618b4a1daa79
- slug
- miskin-semua-hal-telinga-tuli-otak-tak-dipakai-618b4a1daa79
- url
- https://medium.com/@frotzaa/miskin-semua-hal-telinga-tuli-otak-tak-dipakai-618b4a1daa79
- canonical_url
- https://medium.com/@frotzaa/miskin-semua-hal-telinga-tuli-otak-tak-dipakai-618b4a1daa79
- author_url
- https://medium.com/@frotzaa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 12:15:08