Haul 2025: Se-Fruit Obrolan bersama Alumni
Obrolan jam 12 malam yang dilakukan di jam 12 siang
Haul 2025: Se-Fruit Obrolan bersama Alumni

.
Dari sekian orang yang berada dalam satu frame foto di atas, hanya saya yang masih belum mengantongi KTA (Kartu Tanda Alumni). Sepotong kartu berwarna biru tersebut, nyatanya benar-benar menjadi tiket kebebasan yang diidam-idamkan oleh banyak santri.
Kartu sakti yang mengubah status sang pemilik.
Kesenjangan status ini lalu menghasilkan warna-warni topik pembicaraan kami yang seharusnya sederhana.
Terlalu lama berada di zona nyaman benar-benar melenakan. Saya tidak menyadari betapa konsep fikih yang saya pelajari, tidak sesederhana itu untuk diterapkan di tengah-tengah masyarakat kita. Apalagi, bagi mereka yang bermukim di tempat minoritas muslim, seperti Bali.
Kawan saya memberikan beragam pertanyaan, yang bagi saya itu sangat problematik.
Jadi, ada kasus nyata yang terjadi pada orang sekitarnya. Ada pemuda yang sedang sakit, lumayan parah. Dia masih memiliki orang tua. Hanya saja, selama sakit, yang merawat dengan penuh kasih bukanlah orang tuanya, melainkan sang pacar.
Ketelatenan sang pacar dalam merawat pemuda tersebut juga tidak kaleng-kaleng. Mulai dari menyuapinya makan, meminumkan obat, sampai memandikan dengan model *seko.*
Dilema muncul ketika cowok tersebut menggantungkan harapan hidupnya pada belas kasih pacarnya. Ia tidak memiliki semangat hidup bila tidak dengan tangan lembut kekasihnya.
Sementara kita tahu, apa yang dilakukan oleh mereka berdua, berada dalam taraf ikhtilat yang berada di luar koridor syariat. Bila dilarang, si cowok akan kehilangan gairah untuk melanjutkan hidup, dan berpotensi kehilangan nyawanya. Namun, bila dibiarkan, mereka terjebak dalam kubangan dosa.
Saya menawarkan solusi untuk menikahkan mereka saja. Tapi, si cewek keukeuh menolak pembahasan untuk menikah. Ia merasa belum siap untuk memikul tanggung jawab sebagai istri.
Sampai sini, ada dua variabel yang bermasalah disini; (1) si cowok bisa sampai kehilangan nyawa jika tidak dirawat oleh si pacar, dan (2) si cewek menolak untuk segera dinikahkan.
Teman saya menimpali, bahwa dalam kasus tersebut yang berbicara bukan lagi agama, melainkan kemanusiaan. Atas dasar kemanusiaan, apa yang mereka lakukan dapat dibenarkan.
Tapi, masa iya sih? Emang apa sih kemanusiaan itu sampai bisa menabrak aturan syariat? Emang syariat Islam tidak berbicara soal kemanusiaan?
Kawan saya juga menambahkan, “bila hal tersebut dibolehkan, bisa menjadikannya sebagai hal yang biasa selanjutnya.” Dengan kata lain, karena pernah berinteraksi dengan seintens itu, mereka tidak lagi sungkan berduaan, meski tidak dalam keadaan darurat.
Tapi, kalau pun itu diperbolehkan sebagai bentuk rukhsah, apa iya setiap rukhsah dapat membenarkan hal itu dilakukan kembali pada kondisi ikhtiar, hanya karena beralasan sudah pernah melakukannya?
Masa iya seseorang yang diperbolehkan melakukan qashar karena perjalanan, lalu ia ketagihan dan selalu mengqashar shalatnya meski sedang seharian di rumah?
Atau, apa iya hanya karena dibolehkan ketika darurat, seseorang kembali mengonsumsi daging babi karena ketagihan dengan rasanya?
Saya tidak bisa menjawab banyak terkait urusan tersebut. Saya sedikit memberikan jawaban asal, bahwa apa yang dilakukan mereka sama seperti apa yang dilakukan oleh dokter lawan jenis. Sama-sama dalam rangka mengobati.
Mengobrol dengan alumni kemarin, membuka mata saya, bahwa apa yang saya pelajari, tidak sesederhana itu untuk saya praktikan di rumah. Ada variabel khusus yang menjadi pertimbangan. Dan ini kadang di luar nalar.
메타데이터
- post_id
- 6196974d3a6f
- slug
- haul-2025-se-fruit-obrolan-bersama-alumni-6196974d3a6f
- url
- https://medium.com/@achmadhikam299/haul-2025-se-fruit-obrolan-bersama-alumni-6196974d3a6f
- canonical_url
- https://medium.com/@achmadhikam299/haul-2025-se-fruit-obrolan-bersama-alumni-6196974d3a6f
- author_url
- https://medium.com/@achmadhikam299
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 12:24:47