← Back to list

Praktik Aksi tanpa Budaya Keamanan (Bagian I)

Setiap tindakan menciptakan efek lanjutan

Sutan Marajo Lelo · 2025-12-18 15:51 · 1 claps · 7.7 min read
#aksi #gerakan #anarkisme
Open on Medium ↗

Praktik Aksi tanpa Budaya Keamanan (Bagian I)

Tidak ada tindakan yang murni individual. Pernyataan ini bukan slogan moral, melainkan deskripsi kondisi. Setiap gerak, setiap keputusan, setiap pembukaan ruang selalu beroperasi di dalam jaringan relasi yang sudah ada: hukum, ekonomi, aparat, norma sosial, dan memori institusional. Mengabaikan jaringan ini atas nama kebebasan personal bukan budaya keamana . Itu kebutaan yang dipilih.

Dalam beberapa waktu terakhir, kegagalan paling konsisten dari praktik aksi bukan datang dari represi yang terlalu kuat, melainkan dari kesalahan membaca risiko. Risiko diperlakukan sebagai pilihan personal. Kerentanan diperlakukan sebagai kebajikan. Dua hal ini saling menguatkan dan menghasilkan pola yang berulang: tindakan diambil tanpa kalkulasi, dampak jatuh ke banyak orang, lalu kegagalan dibungkus sebagai konsekuensi tak terhindarkan dari keberanian. Ini harus dihentikan. Bukan karena kita takut pada “gesekan”, tetapi karena “gesekan” tidak bisa dimenangkan dengan cara bodoh.

Kerentanan bukan kondisi alamiah. Ia adalah posisi yang dihasilkan. Ia muncul dari cara kita berkumpul, cara kita berbicara, cara kita memutuskan, dan cara kita membuka diri. Ketika keterbukaan dipuja tanpa pembacaan medan, ia berubah menjadi kebocoran. Ketika kebocoran dinormalisasi, represi tidak lagi perlu bekerja keras. Data disediakan. Pola ditawarkan. Relasi dipetakan dari dalam.

Dalam kondisi negara modern yang bekerja melalui arsip, prediksi, dan korelasi, keterbukaan tanpa keamanan bukan keberanian. Ia adalah kolaborasi pasif. Negara tidak lagi menunggu deklarasi ideologis. Ia membaca kebiasaan. Ia mencatat pengulangan. Ia menghubungkan titik-titik kecil yang oleh pelakunya dianggap remeh. Praktik aksi yang menolak membaca ini sedang bekerja membunuh dirinya sendiri.

Banyak yang masih bersikeras bahwa spontanitas adalah bentuk tertinggi kebebasan. Ini salah sejak awal. Spontanitas hanya bermakna ketika lawan tidak memiliki struktur. Negara selalu memiliki struktur. Modal selalu terorganisir. Aparat bekerja dengan prosedur, memori, dan pembagian peran. Menghadapi ini dengan ketidakteraturan bukan radikalitas. Itu kegoblokan.

Di titik ini, penting untuk membedakan antara keterbukaan sebagai prinsip dan keterbukaan sebagai praktik. Prinsip keterbukaan menolak hierarki pengetahuan dan monopoli keputusan. Praktik keterbukaan yang tidak terkelola justru memproduksi hierarki baru: siapa yang paling vokal, siapa yang paling berani tampil, siapa yang paling sedikit menanggung risiko. Yang lain menanggung sisanya.

Jo Freeman sudah lama menunjukkan bahwa ketiadaan struktur tidak menghapus kekuasaan. Ia hanya memindahkannya ke ruang yang tidak terlihat. Dalam konteks dua dekade terakhir, ketiadaan struktur juga memindahkan risiko. Keputusan diambil tanpa mekanisme evaluasi. Dampak disebar tanpa penanggung jawab. Ketika sesuatu runtuh, tidak ada siapa pun yang bisa dimintai pertanggungjawaban, karena semuanya mengklaim setara. Ini bukan horizontalitas. Ini penghapusan akuntabilitas.

Masalah menjadi jauh lebih serius ketika logika ini dipadukan dengan ide kebebasan personal yang dipinjam mentah-mentah dari liberalisme. Kalimat seperti “ini pilihan saya” sering dipakai untuk menutup diskusi tentang dampak. Padahal dalam ruang yang penuh relasi kuasa, tidak ada pilihan yang berhenti pada pelaku. Setiap tindakan menciptakan efek lanjutan. Setiap efek jatuh tidak merata.

\

\

Ketika seseorang bertindak tanpa membaca konteks sosial, tanpa bernegosiasi dengan ruang, tanpa menghitung dampak terhadap orang lain, ia tidak sedang melawan dominasi. Ia sedang mereproduksi logika dominasi dalam skala kecil. Ia menetapkan bahwa kehendaknya sendiri cukup untuk menentukan risiko yang harus ditanggung bersama. Ini bukan kebebasan. Ini pemksaan.

Argumen bahwa pembatasan internal identik dengan represi harus ditolak tanpa kompromi. Keamanan kolektif bukan bentuk negara mini. Kesepakatan bersama bukan hukum positif. Tanggung jawab bukan moralitas borjuis. Ia menolak aturan yang dipaksakan secara hierarkis dan tidak bisa digugat. Aturan yang disepakati untuk melindungi keselamatan bersama adalah syarat minimal agar kebebasan tidak berubah menjadi senjata.

Dalam dua dekade terakhir, dengan menguatnya jaringan digital dan logika visibilitas, kesalahan taktis memiliki umur yang panjang. Negara tidak lupa. Arsip tidak menguap. Kesalahan hari ini menjadi dasar pembacaan esok hari. Dalam kondisi ini, keberanian individual yang dipertontonkan sebagai nilai tertinggi menjadi tidak relevan. Yang dibutuhkan adalah kecerdasan kolektif. Kecerdasan kolektif bukan berarti semua orang sepakat. Ia berarti ada mekanisme untuk membaca risiko, menimbang dampak, dan menarik rem ketika perlu. Ia berarti ada kesediaan untuk menahan diri, bukan karena takut, tetapi karena paham medan. Ia berarti mengakui bahwa tidak semua tindakan layak diambil, meskipun terasa membebaskan.

Di sinilah garis konflik mulai jelas. Di satu sisi, ada praktik aksi yang memahami dirinya sebagai intervensi material, yang menimbang akibat, yang membangun budaya keamanan sadar demi kelangsungan. Di sisi lain, ada politik ekspresif yang memuja keberanian personal, menolak evaluasi, dan selalu memiliki pembenaran setelah kerusakan terjadi. Tidak ada jalan tengah di antara keduanya.

Kerentanan yang terus direproduksi bukan nasib. Ia adalah hasil dari pilihan politik yang buruk. Selama risiko diperlakukan sebagai urusan individu, selama keterbukaan dipuja tanpa kalkulasi, selama mengkalkukasikan resiko dianggap “cupu”, praktik aksi akan terus menjadi ladang empuk bagi represi.

Tulisan ini tidak menawarkan kenyamanan. Ia menolak romantisisme. Ia menolak ilusi bahwa niat bisa menggantikan analisis. Ia menolak gagasan bahwa kebebasan personal adalah nilai tertinggi. Yang ditawarkan di sini hanyalah kejelasan medan: siapa pun yang berbicara tentang aksi harus siap berbicara tentang akibat.

Bagian ini berhenti bukan karena persoalan selesai, tetapi karena fondasi konflik sudah diletakkan. Dari sini, pertanyaan tidak lagi sederhana. Ia bergerak dari analisis ke wilayah teori, dari deskripsi ke konseptualisasi. Dan di sanalah banyak ilusi lama mulai runtuh.

Jika fondasi konflik sudah diletakkan, maka persoalan berikutnya tidak bisa dihindari: bagaimana praktik gerakan tanpa budaya keamanan memahami dirinya secara teoretis tanpa jatuh ke dua jebakan lama — dogmatisme lama dan relativisme baru. Di sinilah banyak pergeseran pemikiran dua dekade terakhir justru memperlihatkan ambiguitas yang berbahaya.

Salah satu gejala paling mencolok adalah fetisisme proses. Politik direduksi menjadi cara, bukan arah. Rapat dianggap suci, bukan alat. Konsensus diperlakukan sebagai tujuan, bukan mekanisme. Ketika proses dipisahkan dari akibat, evaluasi dianggap gangguan. Segala kegagalan dimaafkan atas nama pembelajaran. Ini bukan kedewasaan politik. Ini penundaan tanggung jawab.

Jo Freeman menulis kritiknya bukan untuk membela struktur hierarkis, tetapi untuk menunjukkan bahwa kekuasaan selalu muncul di mana pun keputusan diambil. Dalam ruang tanpa mekanisme formal, kekuasaan tidak lenyap. Ia berpindah ke relasi personal, ke karisma, ke siapa yang paling lama hadir dan paling lantang berbicara. Dua dekade terakhir menunjukkan bahwa pola ini tidak melemah, justru mengeras ketika dibungkus bahasa horizontalitas.

Masalahnya bukan pada konsensus itu sendiri, melainkan pada absolutisasi konsensus. Ketika kesepakatan harus bulat dan tanpa batas waktu, keputusan lumpuh. Ketika keputusan lumpuh, yang berkuasa adalah kebiasaan. Ketika kebiasaan berkuasa, tidak ada lagi ruang untuk koreksi. Inilah titik di mana praktik keamana yang abai ppada resiko mulai mengkhianati dirinya sendiri.

Dalam konteks ini, kritik terhadap struktur sering disalahartikan sebagai penolakan koordinasi. Ini kesalahan fatal. Koordinasi bukan hierarki. Koordinasi adalah syarat konflik. Tanpa koordinasi, tidak ada tekanan yang berkelanjutan. Tanpa tekanan, kekuasaan tidak terganggu. Yang tersisa hanyalah ekspresi yang cepat padam.

Lucien van der Walt dan Michael Schmidt, dalam pembacaan historis mereka, berulang kali menegaskan bahwa tradisi libertarian yang berakar pada kelas selalu memahami organisasi sebagai alat perjuangan, bukan sebagai tujuan. Budaya kemanan dipahami sebagai kesediaan mengikat diri demi kekuatan kolektif, bukan kepatuhan pada otoritas. Menolak perbedaan ini berarti menolak sejarah sendiri.

Namun, ketakutan terhadap segala bentuk struktur terus menghantui praktik aksi hari ini. Ketakutan ini bukan tanpa sebab. Ia lahir dari pengalaman pengkhianatan, birokratisasi, dan penguasaan internal. Tapi mengubah trauma menjadi prinsip absolut hanya akan melahirkan kebuntuan baru. Politik tidak bergerak dengan menghindari semua risiko. Ia bergerak dengan memilih risiko secara sadar.

Di titik inilah arus kritik pasca-klasik masuk membawa bahasa baru. Saul Newman, misalnya, membantu membongkar ilusi bahwa kekuasaan selalu terpusat dan bisa dijatuhkan dengan satu pukulan. Kekuasaan bekerja melalui subjek, hasrat, dan wacana. Ini pembacaan penting. Tapi ketika pembacaan ini dipisahkan dari keputusan politik, ia berubah menjadi estetika kritis tanpa arah. Banyak pembacaan arus kritik pasca-klasik merayakan ketidakpastian sebagai kebajikan. Segala posisi dianggap sementara. Segala garis dianggap mencurigakan. Dalam medan konflik nyata, sikap ini melumpuhkan. Negara tidak sementara. Modal tidak cair dalam arti politis. Aparat tidak menunda tindakan karena kita masih berdiskusi tentang posisi.

Ruth Kinna mengingatkan bahwa penolakan terhadap pemerintahan tidak berarti penolakan terhadap pengaturan. Ada perbedaan mendasar antara otoritas yang memerintah dan kesepakatan yang mengatur diri. Ketika perbedaan ini dikaburkan, praktik aksi kehilangan alat konseptual untuk membedakan disiplin sadar dari dominasi.

Masuknya teknologi digital memperparah kebingungan ini. Media sosial mengubah politik menjadi panggung. Visibilitas dianggap kekuatan. Keberanian diukur dari seberapa jauh seseorang membuka diri. Peter Gelderloos sudah lama mengingatkan bahwa logika ini sepenuhnya kompatibel dengan kebutuhan negara modern. Ketika semua orang menyiarkan dirinya sendiri, represi tidak perlu menyusup. Ia cukup mengamati.

Dalam kondisi seperti ini, prefigurasi sering dijual sebagai jawaban etis. Hidup sekarang seperti dunia yang diinginkan nanti. Tapi tanpa strategi konflik, prefigurasi berubah menjadi simulasi. Marina Sitrin menulis tentang horizontalidad sebagai praktik yang lahir dari krisis, bukan sebagai estetika kenyamanan. Ketika konsep ini dilepaskan dari konteks materialnya, ia berubah menjadi gaya.

Tidak ada yang salah dengan membangun relasi yang berbeda. Yang bermasalah adalah ketika relasi itu tidak siap menghadapi tekanan. Negara tidak runtuh karena kita hidup berbeda. Ia runtuh ketika ia dipaksa kehilangan kendali material. Tanpa orientasi ini, praktik gerakan tanpa budaya keamanan hanya akan menghasilkan ruang rapuh yang runtuh oleh sentuhan pertama.

Di sini teori bertemu batasnya. Analisis tanpa keputusan adalah kelumpuhan. Kritik tanpa orientasi adalah kebisingan. Menyadari bahwa kekuasaan tersebar tidak berarti kita berhenti menarik garis. Justru sebaliknya. Dalam kondisi kekuasaan yang bekerja melalui pola dan relasi, kejelasan posisi menjadi lebih penting, bukan kurang.

Dari sini, ketegangan bergerak lebih dalam. Bukan lagi soal teknik atau teori, tetapi soal keberlangsungan. Soal siapa yang menanggung risiko. Soal siapa yang dilindungi dan siapa yang dikorbankan. Di sinilah persoalan eksistensial mulai muncul, bukan sebagai refleksi personal, tetapi sebagai pertanyaan kolektif yang tidak bisa ditunda.

Di titik ini, tidak ada lagi ruang untuk ketidakjelasan. Seluruh perdebatan tentang kebebasan, struktur, dan risiko bermuara pada satu pertanyaan yang tidak bisa dihindari: siapa yang ditanggung, dan siapa yang dikorbankan. Praktik gerakan tidak diuji oleh kemurnian niat, tetapi oleh distribusi akibat. Setiap politik yang menolak menjawab ini sedang bersembunyi di balik bahasa.

Dalam dua dekade terakhir, banyak ruang runtuh bukan karena diserang dari luar, tetapi karena mengabaikan logika ini. Keruntuhan jarang datang sebagai ledakan besar. Ia datang sebagai erosi: kepercayaan yang menghilang, kehati-hatian yang berubah menjadi saling curiga, solidaritas yang terkikis oleh tindakan sepihak. Semua ini sering dimulai dari pembenaran kecil atas nama kebebasan personal.

Risiko tidak pernah netral. Ia selalu jatuh lebih berat pada mereka yang paling sedikit memiliki perlindungan. Mereka yang bergantung pada ruang bersama. Mereka yang tidak bisa dengan mudah pindah, menghilang, atau mengganti identitas. Mengambil risiko tanpa persetujuan mereka bukan keberanian. Itu eksploitasi.

Di sini garis harus ditarik. Praktik aksi yang menempatkan ekspresi individual di atas keselamatan kolektif berada di sisi lain dari aksi. Tidak ada istilah lunak untuk ini. Ia bukan radikal. Ia bukan subversif. Ia adalah reproduksi logika dominasi dengan bahasa yang berbeda.

Tidak semua tindakan layak dilakukan. Tidak semua keterbukaan perlu dirayakan. Tidak semua keberanian patut dipuji. Pernyataan-pernyataan ini sering ditolak karena terdengar tidak membebaskan. Padahal justru sebaliknya. Tanpa batas yang disepakati, kebebasan berubah menjadi hak istimewa bagi yang paling berisik dan paling kebal terhadap konsekuensi.

Praktik aksi yang serius harus memilih: menjadi medan yang mampu bertahan, atau menjadi rangkaian momen yang terus-menerus mengorbankan dirinya sendiri. Pilihan ini tidak heroik. Ia tidak estetis. Ia dingin. Tapi ia nyata.

Tidak ada janji kemenangan di sini. Tidak ada jaminan keselamatan. Yang ada hanyalah penolakan untuk kalah dengan cara yang sama berulang kali. Penolakan untuk terus memproduksi korban internal demi mempertahankan ilusi kebebasan.

Teks ini tidak mengajak berdamai. Ia tidak mencari titik temu. Ia berfungsi sebagai pemisah. Siapa pun yang masih menganggap risiko kolektif sebagai urusan individu berada di luar medan ini. Siapa pun yang menolak budaya keamanan atas nama spontanitas memilih jalan yang lain.

Praktik aksi, jika masih ingin memiliki arti politik, harus menerima bahwa ia adalah pertaruhan. Pertaruhan yang menuntut kejelasan, bukan perasaan. Ketegasan, bukan sensitivitas tanpa arah. Pilihan, bukan ambiguitas. Di luar itu, semua hanyalah pengulangan dengan nama baru.


메타데이터
post_id
61b2a663cfde
slug
praktik-aksi-tanpa-budaya-keamanan-61b2a663cfde
url
https://medium.com/@sutanmarajolelo/praktik-aksi-tanpa-budaya-keamanan-61b2a663cfde
canonical_url
https://medium.com/@sutanmarajolelo/praktik-aksi-tanpa-budaya-keamanan-61b2a663cfde
author_url
https://medium.com/@sutanmarajolelo
status
ok
fetched_at
2026-06-20 20:29:01