JALAN PANJANG PENUH KENANGAN-1
Merangkai mimpi bersama
Jalan Panjang Penuh Kenangan

Suatu hari di sebuah desa kecil yang sunyi…
Mentari mulai bersinar, cahaya jingganya mulai merambat hangat ke kulitku.
“Ibu, aku berangkat dulu, dadah.” Ucapku setelah mencium tangan ibu. Sebut saja aku Nur!, ah, itu memang namaku.
“Iya nak, hati-hati ya” Ucap ibu sambil melihat kepergianku dengan melambaikan tangan.
Aku mulai membawa langkah menuju sekolah baru, ya, SMPN 1 Balaesang, dengan menempuh jarak 5 km berjalan kaki. Apakah aku akan terlambat? Tuhan tolong, aku tak mau terlambat di hari pertama, harapku begitu dalam.
Lalu kemudian…
Terdengar suara motor mengikutiku dari belakang.
“Ayo naik!”
“Ayah?”
Tak berpikir panjang, dengan kecamuk di kepala, mata yang mulai memanas, air mata sudah tertahan di bola mataku. Dadaku sesak dan suaraku mulai tertahan. Perlahan aku naik di jok belakang.
“Sudah” kataku.
Motorpun melaju menembus jalanan panjang, kulewati banyak pengendara juga anak-anak yang sepertinya satu sekolah denganku nanti, ada yang berjalan kaki bersama, ada yang naik motor. Semuanya terlihat begitu ceria, berbeda dengan kondisiku saat ini.
Aku sedang menangis.
Ku hapus air mataku yang terus mengalir, sambil menarik nafas panjang. Tak lama, kurang lebih 10 menit, kami sampai. Tentu saja karena naik motor. “Terima kasih”, ucapku lalu menjabat tangan dan mencium tangan ayah. Aku bergegas masuk ke halaman sekolah, mengikuti MOS hari pertama.
Kalau kalian tanya ‘kenapa aku menangis?, jawabannya karena hatiku terasa sakit!
Sakit yang aku bawa bertahun-tahun. Sakit karena kecewa, marah dan sempat dendam. Pikiranku sekejam itu.
Selama 3 tahun aku menempuh pendidikan di SMPN 1, awalnya aku duduk di kelas 7a dan mendapat juara 2 di semester 1, namun prestasiku kian menurun setiap semester, hingga saat kelas 9, aku dipindahkan di kelas 9e, hah, tragis.
Jujur saja, selama 3 tahun masa SMP, aku merasa hidup ini tak ada artinya, diperjalanan, aku hanya bisa menangis, tertawa sadis, lalu diam seribu bahasa sambil berangan-angan, berandai-andai yang tak mungkin, dan mengkhayal setinggi langit. Terlalu menyakitkan, namun menyenangkan.
Jalan panjang itu menjadi saksi kisahku selama menempuh pendidikan. Namun. Kadang aku tak sendirian, kadang ada 1 atau 2 temanku yang ikut berjalan bersama sepulang sekolah, dia Lia, sebut saja begitu. Kami berbeda keyakinan, tapi bagiku dia itu saudara. Terkadang kami melewati jalan raya, sawah, atau kebun warga. Mungkin ada yang bertanya, kenapa harus lewat sawah atau kebun warga? Baiklah, hm, karena jalan raya lebih panas di siang hari dan di sawah ada pepohonan yang memberi lebih banyak oksigen, juga terpaan angin yang lebih sejuk dan jalanan yang tak berpenghuni, maksudnya sunyi, hehe.
Selain itu, aku atau kami biasanya bercerita sepanjang jalan, membayangkan masa depan yang di luar nalar. Imajinasi wanita memang luar biasa. Aku teringat pernah mengkhayalkan bahwa suatu saat di masa depan, kami punya 1 bangunan yang kami semua tinggal di dalamnya bersama keluarga masing-masing, di kelilingi anak-anak yang bermain dan sekitar yang asri. Indah, sangat indah.
Dulu, aku tak tau apakah mungkin ada tempat seperti itu?, namun kini aku tau namanya, bangunan itu ternyata ada di dunia nyata, namanya “apartmen”.
메타데이터
- post_id
- 61c136fa20be
- slug
- jalan-panjang-penuh-kenangan-1-61c136fa20be
- url
- https://medium.com/@mnurhalima87/jalan-panjang-penuh-kenangan-1-61c136fa20be
- canonical_url
- https://medium.com/@mnurhalima87/jalan-panjang-penuh-kenangan-1-61c136fa20be
- author_url
- https://medium.com/@mnurhalima87
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-13 12:55:53