Ableism dan Logika Platform yang Tidak Mengenal Empati
Ketika Viral Lebih Penting dari Martabat
Ableism dan Logika Platform yang Tidak Mengenal Empati
Ketika Viral Lebih Penting dari Martabat

Foto oleh Kampus Production di Pexels
Kita tidak perlu menjadi pengguna aktif TikTok untuk tahu bagaimana platform itu bekerja. Cukup perhatikan konten mana yang selalu berhasil menembus keluar dari aplikasi itu, menyebar ke grup WhatsApp, masuk ke linimasa Instagram, dibahas di portal berita. Konten yang viral bukan selalu yang terbaik. Ia adalah yang paling mengejutkan, paling provokatif, atau paling berhasil menyentuh sesuatu yang kita tidak siap untuk melihatnya.
Awal Juni 2026, salah satu konten yang berhasil menembus keluar dari TikTok adalah video kreator konten @violettaaxandrea, yang dikenal sebagai Xander. Bukan karena ia melakukan sesuatu yang brilian. Tapi karena dalam sejumlah videonya, Xander menampilkan ekspresi dan gerakan yang diasosiasikan dengan penyandang disabilitas, termasuk menirukan gejala *tic disorder*, gangguan neurologis yang ditandai dengan gerakan atau suara berulang di luar kendali penderitanya. Yang memperkeruh situasi: konten itu bukan lelucon tanpa konteks. Konten itu adalah promosi produk kecantikan.
Kecaman datang cepat. Tapi yang lebih menarik untuk dicermati bukan kecamannya, melainkan mengapa konten seperti itu bisa ada, bisa viral, dan bisa terikat kontrak brand sebelum ada yang cukup keras bersuara.
Bukan Sekadar Tidak Sensitif
Sebelum kita bicara soal algoritmanya, ada satu kata yang perlu kita pahami dulu: ableism.
Istilah ini merujuk pada prasangka, stereotip, dan perlakuan diskriminatif terhadap individu dengan disabilitas, sebagaimana didefinisikan oleh American Psychological Association. Tapi ableism bukan hanya soal niat jahat yang terang-terangan. Ia juga hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus dan jauh lebih lazim, yakni asumsi bahwa tubuh dan cara kerja pikiran yang “berbeda” adalah sesuatu yang lucu, menggelikan, atau layak dijadikan tontonan.
Di media sosial, ableism justru paling sering muncul dalam format yang terasa ringan. Ekspresi yang meniru kondisi neurologis seseorang. Gerakan yang dikemas sebagai komedi. Konten yang seolah tidak bermaksud menyakiti, tapi secara konsisten menjadikan disabilitas sebagai bahan tertawa. Tidak ada yang merasa menjadi pelaku diskriminasi. Semua terasa seperti hiburan saja.
Dan di situlah bahayanya paling besar bersembunyi.
Algoritma Tidak Mengenal Empati
Dari luar, cara TikTok bekerja cukup mudah dibaca. Platform ini membangun ekosistem di mana perhatian adalah mata uang utama dan algoritma adalah hakimnya. Konten yang memicu reaksi kuat, baik tawa, kaget, maupun kemarahan, mendapat distribusi lebih luas. Sistem ini tidak membedakan antara reaksi yang lahir dari kecerdasan dan reaksi yang lahir dari penertawaan orang lain. Keduanya terhitung sama: engagement.
Tawa massal adalah tujuan yang paling mudah dikejar dalam logika platform seperti ini. Dan cara paling efisien memancing tawa massal adalah dengan menampilkan sesuatu yang dianggap “di luar normal”. Penyandang disabilitas masuk dalam kategori itu, bukan karena mereka memang lebih rendah, tapi karena sistem yang sudah lama berjalan telah meletakkan mereka di posisi yang mudah disorot dan ditertawakan.
Ableism di media sosial tidak membutuhkan kebencian sebagai bahan bakarnya. Ia hanya membutuhkan ketidakpedulian, dan ketidakpedulian adalah sesuatu yang sangat mudah diproduksi dalam skala massal ketika yang kita kejar adalah angka.
Tubuh Orang Lain Bukan Properti Konten
Sadam Permana, kreator konten yang sendiri memiliki tic disorder, merespons konten Xander dengan pernyataan yang langsung: “Ini nggak lucu sama sekali dan bukan bahan candaan. Sebagai pemilik tic disorder, jujur ini sangat menyinggung aku pribadi.” Kalimat itu bukan sekadar ekspresi tersinggung. Itu pengingat bahwa di balik angka tayangan yang terus naik, ada individu yang setiap hari hidup dengan kondisi yang sedang ditertawakan oleh jutaan orang asing.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan terhadap perilaku ableist dapat meningkatkan perasaan malu, kecemasan, hingga gejala depresi pada penyandang disabilitas. Kerusakan itu tidak selesai ketika video dihapus. Ia sudah terlanjur tersebar bersama setiap tayangan yang pernah tercatat. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang dirugikan itu mendapat bagian dari engagement yang dihasilkan konten tersebut.
Inilah yang membuat ableism dalam konten digital lebih dari sekadar masalah selera atau sensitivitas. Ia adalah bentuk eksploitasi. Tubuh dan kondisi seseorang dijadikan bahan baku kreativitas orang lain, dikemas sebagai hiburan, lalu dimonetisasi, tanpa izin, tanpa kompensasi, dan seringkali tanpa kesadaran bahwa ada yang sedang dirugikan.
Kontrak Lebih Kuat dari Permintaan Maaf
Kita juga perlu melihat lebih jauh dari sekadar kontennya.
Xander membuat video itu sebagai bagian dari promosi produk kecantikan. Artinya ada brand yang menyetujui, ada tim kreatif yang merencanakan, ada algoritma yang mendistribusikan, dan ada angka engagement yang kemudian dijadikan laporan keberhasilan kampanye. Ketika Xander akhirnya meminta maaf dan berjanji menghapus konten, ia menyampaikan satu kalimat yang justru paling telanjang dari seluruh kejadian ini: beberapa video tidak bisa dihapus karena masih terikat kontrak brand.
Kontrak lebih kuat dari permintaan maaf. Dan itu bukan sekadar kegagalan satu orang. Itu adalah cara industri bekerja ketika tidak ada yang mengajukan pertanyaan yang semestinya sejak awal. Pertanyaan sederhana yang seharusnya diajukan oleh semua pihak yang terlibat, dari kreator, tim kreatif, hingga brand, sebelum kamera dinyalakan: apakah ada kelompok yang akan dirugikan oleh konten ini?
Siklus yang Terus Berputar
Dari posisi kita sebagai pengamat, ada pola yang terus berulang setiap kali kasus seperti ini muncul. Konten dibuat, viral, dikecam, kreator meminta maaf, percakapan mereda, lalu siklus itu berulang dengan wajah yang berbeda. Platform tidak berubah karena tidak ada insentif nyata untuk berubah. Brand tidak berubah selama angka engagement tetap naik. Dan pengguna yang aktif di dalamnya seringkali tidak menyadari bahwa setiap tayangan, bahkan yang bernada kecaman, tetap menghitung sebagai bahan bakar bagi konten berikutnya.
Haus akan viral dalam ekosistem seperti ini bukan semata-mata ambisi personal. Ia adalah respons yang sangat logis terhadap sistem yang memang dirancang untuk menghasilkan itu. Ketika seseorang seperti Xander menemukan formula yang berhasil menarik perhatian, ia menggunakannya lagi. Bukan hanya karena ia tidak peduli, tapi juga karena tidak ada mekanisme dalam sistem itu yang memberinya alasan untuk berhenti sebelum ada yang cukup keras berteriak.
Dan yang paling keras berteriak hampir selalu bukan platform, bukan brand, bukan pengiklan. Melainkan orang-orang yang dirugikan langsung, seperti Sadam, yang harus mengeluarkan energi untuk menjelaskan bahwa kondisi tubuhnya bukan bahan komedi.
Pertanyaan yang Tidak Boleh Kita Tunda Lagi
Permintaan maaf dari Xander adalah langkah yang perlu diambil. Tapi kita tahu satu permintaan maaf tidak mengubah cara algoritma bekerja, tidak mengubah cara brand mengukur keberhasilan kampanye, dan tidak mengubah selera penonton yang selama ini memberi tayangan pada konten seperti itu.
Yang perlu kita pertanyakan bukan hanya apa yang salah dari konten Xander, tapi apa yang salah dari sistem yang membuat konten itu menguntungkan sejak awal. Apakah platform punya tanggung jawab lebih dari sekadar menunggu kecaman publik sebelum bertindak? Apakah brand yang menandatangani kontrak dengan kreator punya kewajiban untuk memeriksa rekam jejak konten sebelum uang berpindah tangan?
Selama pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawab dengan serius, kita hanya akan terus menyaksikan siklus yang sama. Konten baru, kecaman baru, permintaan maaf baru. Dan di ujung setiap siklus itu, selalu ada seseorang yang tubuh atau kondisinya dijadikan bahan, yang tidak pernah dimintai izin, dan yang tidak mendapat apa-apa dari viralnya konten tersebut kecuali rasa sakit yang harus mereka tanggung sendiri.
메타데이터
- post_id
- 61e2eb4dd27b
- slug
- ableism-dan-logika-platform-yang-tidak-mengenal-empati-61e2eb4dd27b
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/ableism-dan-logika-platform-yang-tidak-mengenal-empati-61e2eb4dd27b
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/ableism-dan-logika-platform-yang-tidak-mengenal-empati-61e2eb4dd27b
- author_url
- https://medium.com/@panjiakbar
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-14 11:28:49