← Back to list

Good Will Hunting; Hanya Ada Satu Kita Di Sini

Will adalah seorang petugas kebersihan di sebuah kampus. Film dibuka dengan adegan Will yang menyelesaikan soal matematika paling sulit…

ami · 2026-03-23 04:56 · 0 claps · 3.7 min read
#good-will-hunting #movie-review #robin-williams #matt-damon
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎬 · Film & Television

Good Will Hunting; Hanya Ada Satu Kita Di Sini

Will adalah seorang petugas kebersihan di sebuah kampus. Film dibuka dengan adegan Will yang menyelesaikan soal matematika paling sulit yang diberikan oleh salah satu profesor di kampus tersebut. Awalnya, Will menyelesaikan soal-soal itu secara diam-diam. Sikapnya itu membawanya untuk berkenalan dengan profesor yang memberikan soal tersebut, Gerald Lambeau. Lambeau baru mengetahui bahwa Will sedang berada di penjara karena melakukan penyerangan. Menariknya, itu bukan kali pertama Will menyerang orang lain. Akhirnya, Lambeau menjadi penanggung jawab Will dengan dua syarat. Ia harus bekerja sama dengan Lambeau dalam menyelesaikan soal-soal sulit dan harus melakukan terapi. Will dapat memenuhi syarat pertama, tapi tidak dengan syarat kedua.

Satu demi satu terapis menemuinya, dan lima terapis menyerah dengannya. Mereka semua tak ingin melanjutkan sesi terapi lagi. Itu karena Will yang berbalik menyerang sang terapis melalui hal-hal personal yang ia ketahui. Sampai akhirnya Lambeau menemui teman lamanya, Sean Maguire. Dari sinilah cerita hidup Will mulai berubah arah.

Awalnya, Will tidak melihat Sean sebagai terapis yang berbeda. Pertemuan-pertemuan awal mereka tidak berjalan lancar. Entah berakhir dengan pertengkaran, Will yang tidak bicara sepanjang sesi terapi, atau Will yang menjawab dengan sesuka hatinya sampai Sean memintanya untuk keluar. Namun lama-kelamaan, setelah melalui banyak sesi terapi, Will justru merasa waktu terapi mereka kian sebentar. Waktu satu jam yang pada awalnya terasa sangat lama, kini sangat ia nikmati. Will merasa menemukan lawan bicara yang baik, dan tentu dengan cara yang benar pula.

Masalah lain mulai muncul ketika Lambeau mendorong Will agar menjadi seperti dirinya. Ia melihat potensi yang begitu besar dalam diri Will, karena ia adalah anak yang sangat pintar dan memiliki peluang besar untuk bisa menjadi sukses. Namun Sean, berlawanan dengan Lambeau. Sean merasa tidak seharusnya mereka mengarahkan Will pada arah yang sudah mereka tentukan sejak awal. Sean ingin Will memilih apa yang diinginkannya, bukan yang memang sejak awal diarahkan untuk ia pilih. Sean tak ingin Will menjalani kehidupan yang pernah ia inginkan. Melalui pertemuannya dengan Sean, Will akhirnya memilih jalannya sendiri dan tentunya memiliki kehidupan yang lebih baik.

Will, tumbuh seorang diri. Ia kerap berpindah-pindah panti asuhan, dan pernah memiliki orang tua angkat yang sering menggunakan kekerasan. Hal itu pula yang memicu Will untuk menyerang orang lain sampai ia dipanggil berkali-kali ke persidangan. Selayaknya anak muda, Will memiliki tiga orang teman dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama dan bersenang-senang. Bahkan pada suatu kesempatan, ia berhasil mengencani seorang perempuan yang ia temui di bar. Melalui tokoh Will, kita bisa melihat bahwa bagaimana seorang anak terbentuk akan selalu kembali lagi ke pertanyaan dasar; bagaimana lingkungan tempat anak itu tumbuh.

Sebagai sebatang kara, Will tumbuh dengan membangun banyak batasan dan proteksi di sekelilingnya. Ia enggan terlalu dekat dan percaya dengan orang lain karena mungkin, baginya, semua orang akan meninggalkannya sendirian seperti orang tuanya dulu. Ia cenderung menarik diri dan skeptis pada orang-orang yang sebetulnya percaya dan menyayanginya. Tumbuh sendirian tentu membuatnya memiliki banyak ruangan yang tidak bisa disentuh oleh orang lain. Namun, ada satu orang yang berhasil menyentuh ruang paling jauh itu, Sean.

Sean memiliki metode pendekatan yang berbeda dengan terapis-terapis lain. Sean tidak memaksa Will untuk membicarakan dirinya dari awal, tapi justru membangun kepercayaan Will terhadap dirinya lebih dulu. Baginya, seorang pasien tidak akan berkata dengan jujur jika tidak percaya pada sang terapis. Karena itu Sean berusaha membangun ikatan itu dengan Will, melalui berbagai cara. Mereka tidak selalu membicarakan tentang bagaimana Will ingin menjalani hidupnya kelak, tapi juga masa lalu dan hal-hal ringan yang ingin Will bicarakan. Bahkan Sean pun turut menceritakan kehidupan pribadinya, karena tampaknya cara itu bekerja untuk membangun kepercayaan antara dirinya dan Will. Sepertinya, Sean hanya ingin Will percaya padanya sebagai seorang teman. Atau mungkin pendengar yang baik. Karena itu Sean kerap membiarkan Will membicarakan hal-hal yang ada di dalam kepalanya.

Sampai suatu hari, Sean menyadarkan Will akan satu hal. Bahwa Will tidak sempurna, pun dengan perempuan yang dikencaninya, Skylar. Will membuat batasan dengan Skylar karena ia tak ingin melihat bahwa Skylar tidak berbeda dengan perempuan-perempuan yang sebelumnya pernah ia temui. Will tidak ingin menyadari bahwa Skylar tidak sempurna. Namun Sean mengatakan hal yang sebaliknya. Terapis itu mengatakan bahwa Will pun tidak sempurna, keduanya tidak sempurna. Tapi apakah keduanya bisa menjadi sempurna satu sama lain, itu adalah hal yang lain.

Adegan yang akan membuat beberapa dari kita menangis, ada di akhir film. Sean meyakinkan bahwa semua yang Will alami dan lakukan, bukan salahnya. Sean mengatakan itu berkali-kali karena ia ingin meyakinkan Will, bahwa ia mengatakan itu sungguh-sungguh. Tidak sebagai bentuk komunikasi profesional antara terapis dan pasiennya, tapi benar-benar meyakinkan bahwa semua yang terjadi di hidupnya bukanlah salah dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, setelah semua hal tragis dan sedih yang terjadi dalam hidupnya, Will menangis.

Hidup terus berlanjut dan peluang-peluang itu terus berada di sekeliling kita. Apakah kita melihatnya, mendengarnya, membicarakannya, atau punya keberanian untuk mengambilnya, hanya kita yang bisa memutuskannya. Perjalanan mencari apa yang ingin kita lakukan untuk waktu lama tentu bukan perjalanan singkat. Pun, bukan perjalanan mudah. Tapi apakah itu berarti perjalanan itu akan menjadi perjalanan tanpa henti? Tentu tidak. Pencarian itu akan berhenti ketika kita sendiri yang memilih untuk berhenti. Hidup terus berlanjut, ketakutan-ketakutan itu mungkin akan selalu ada di sana, tapi semua akan selalu mencapai kata ‘baik’-nya sendiri.

Seperti kata Sean,

“You’re always afraid to take the first step because all you see is every negative thing 10 miles down the road. You can do anything you want, you are bound by nothing.”


메타데이터
post_id
62094d3d2682
slug
good-will-hunting-hanya-ada-satu-kita-62094d3d2682
url
https://medium.com/@amii./good-will-hunting-hanya-ada-satu-kita-62094d3d2682
canonical_url
https://medium.com/@amii./good-will-hunting-hanya-ada-satu-kita-62094d3d2682
author_url
https://medium.com/@amii.
status
ok
fetched_at
2026-07-11 04:34:09