← Back to list

Jumatan (I) Ramadan 1447 H: Puasa Sosmed dan Bijak Sosmed

Jujur Banget

Yus Ramadhani · 2026-02-22 01:54 · 0 claps · 3.2 min read
#creativity #lecturer #islamic #islam #ramadan
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Jumatan (I) Ramadan 1447 H: Puasa Sosmed dan Bijak Sosmed

Jujur Banget

Jujur, bagiku khotbah Jumat di Bulan Ramadan biasanya menjadi agenda yang sangat membosankan, karena agenda ini tidak beda jauh dengan kegiatan mendengarkan secara seksama siaran ulang radio yang telah disiarkan selama bertahun-tahun. Kreativitas dakwah bahkan kalah dengan iklan Sirup Marjan yang setiap tahunnya mengiklankan Sirup yang sama tapi dengan kemasan iklan yang selalu mengalami penyegaran tiap tahunnya.

Akan tetapi, kemasan khotbah Jumat yang diisi oleh Kiai Zia Ul Haramain kali ini cukup berbeda. Beliau begitu lihai membahas keutamaan Ramadan dengan studi kasus yang begitu dekat dengan kita hari ini.

Beliau menyampaikan bahwa Ramadan adalah madrasah (sekolah) untuk mencerdaskan ketakwaan seorang muslim dengan bekal keimanan dan pengharapan rida-Nya selama satu bulan. Visi dari sekolah ini sangat jelas, tidak lain dan tidak bukan mencetak seorang muslim yang lebih beriman dan bertakwa (Al-Baqrah/2: 183). Kegiatan ini dilakukan secara berulang untuk membangun a new habit dengan mengandalkan repetisi amal saleh selama Ramadan. Sebagaimana yang beliau kutip dari teori psikologi sosial bahwa repetisi akan membangun suatu kebiasaan.

Pesan Inti

Di antara habit yang harus kita bangun di era ini adalah puasa sosial media. Menahan hentakan jemari kita untuk tidak enteng dalam tiga hal;

1) Segera bereaksi ketika ada masalah.

Seyogyanya sebagai muslim, hal pertama yang dilakukan adalah berzikir kepada Allah dengan mengucapkan kalimat thoyyibah untuk menenangkan hati. Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Ar-Rad/13 : 28;

ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَتَطۡمَىِٕنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَىِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Dengan modal hati yang tenang serta pikiran yang jernih, memungkinkan seseorang menganalisis masalah dengan objektivitas dan akurasi yang jauh lebih berkualitas. Inilah konsep keberkahan dalam berzikir kepada Allah. Ketenangan yang dihasilkan akan berimplikasi pada kelancaran dalam pekerjaan.

2) Cepat menyimpulkan.

Seorang muslim anti sekali untuk menyimpulkan sesuatu berdasarkan segepok FYP, sebongkah Tweet atau setinggi trending YouTube tanpa melalui proses analisis dan verifikasi mendalam, yang mana dalam agama dikenal dengan istilah Tabayyun. Inilah bentuk implementasi atas perintah Allah dalam Al-Qur’an;

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِن جَاۤءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإࣲ فَتَبَیَّنُوۤا۟ أَن تُصِیبُوا۟ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةࣲ فَتُصۡبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِین

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (Surah Al-Ḥujurāt/49: 6)

Jika seluruh muslim berhasil mengimplementasikan titah Allah tersebut, rasanya hampir mustahil bagi setan dan pasukannya untuk mengadu domba kita.

3) Mudah Menghakimi.

Seorang muslim yang benar dalam memahami permasalahan, akan cenderung lebih banyak menerima ketimbang menghakimi. Dia akan sangat berhati-hati dan super teliti untuk mencapai tahap ‘menghakimi seseorang atau sesuatu’. Alasannya sederhana, karena segala sesuatu yang kita hakimi akan kita pertanggungjawabkan keabsahannya baik di dunia maupun akhirat.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an;

وَلَا تَقۡفُ مَا لَیۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولࣰا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya” [Surah Al-Isrāʾ/17 : 36]

Muslim manapun yang berhasil meresapi ayat tersebut, akan muncul sebuah prinsip no judge before research (pantang menghakimi sebelum meneliti). Maka idealnya ‘daya meneliti' tidak menjadi barang mahal nan ekslusif yang dimiliki para peneliti saja. Sudah semestinya saya itu juga dimiliki oleh setiap muslim yang salih.

Penutupan

Selepas meresapi khotbah jumat penuh makna itu, saya menuju kamar sambil merenung sejenak. Lantas buah yang saya dapat petik dari proses perenungan khotbah tersebut ialah;

Satu-satunya langkah paling strategis dalam bijak bersosmed adalah puasa sosmed. Menghindari huru-hara dan hiruk-pikuk yang tidak berkesudahan. Dengan mengurangi intensitas kita berselancar di sosial media akan membuat hidup kita lebih hidup. Kita bisa lebih fokus menyalurkan energi positif kita kepada hal-hal yang ada di depan mata kita. Jangan rusak kebaikan amalan kita dengan konten-konten receh yang membagikan informasi remeh-temeh sepotong-sepotong. Tidak ada yang dikorbankan kecuali waktu dan energi kita yang pergi begitu saja tanpa meninggalkan makna.

Maka sudah saatnya kita memilih dan memilah konten yang kita konsumsi. kita tidak perlu mengetahui semua hal. Yang kita perlukan adalah mengetahui apa yang kita kerjakan. sebagaimana yang dikatakan oleh Warren Buffett “Risk comes from not knowing what you’re doing”. Pengetahuan semacam itu tidak akan pernah kita raih dengan kesibukan di dunia maya. Pengetahuan semacam itu hanya bisa diraih dengan memperbanyak interaksi di dunia nyata, bergaul dan berteman dengan sesama di lingkungan terdekat kita.

Sekian terimakasih

وَآخِرُ دَعۡوَانا أَنِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ

والله أعلم بالصواب


메타데이터
post_id
62482da5a4fc
slug
jumatan-i-ramadan-1447-h-puasa-sosmed-dan-bijak-sosmed-62482da5a4fc
url
https://medium.com/@yusramadhani29/jumatan-i-ramadan-1447-h-puasa-sosmed-dan-bijak-sosmed-62482da5a4fc
canonical_url
https://medium.com/@yusramadhani29/jumatan-i-ramadan-1447-h-puasa-sosmed-dan-bijak-sosmed-62482da5a4fc
author_url
https://medium.com/@yusramadhani29
status
ok
fetched_at
2026-07-12 01:14:04