← Back to list

Saya Kehilangan Tiga Gigi di Montreal

Bagaimana sebuah frasa bisa menjatuhkan sebuah rezim

Stepanus BP · 2026-01-23 03:59 · 279 claps · 3.4 min read paywalled
#cabutgigi #reformasi #rezim #iran #dokter-gigi
Open on Medium ↗
Wiki topics: OPS · LLMOps & Inference

Saya Kehilangan Tiga Gigi di Montreal

Bagaimana sebuah frasa bisa menjatuhkan sebuah rezim

***For the English translation, click here.***

Dirawat, atau dicabut? Photo by SoyBreno on Unsplash

Dirawat, atau dicabut? Photo by SoyBreno on Unsplash

Berita dari Iran terasa berat akhir-akhir ini. Kita menerimanya dalam potongan-potongan dengan angka korban yang terus diperdebatkan. Internet diputus. Informasi terfragmentasi.

Dari jarak ribuan kilometer, perhatian sering menjadi satu-satunya bentuk kehadiran yang mungkin. Saya menolak untuk berpaling dari skala tragedi yang sedang berlangsung. Protes yang bermula dari tekanan ekonomi, lalu menjelma kemarahan kolektif terhadap kekuasaan. Dan sekarang dijawab dengan kekerasan yang intensitasnya jarang kita saksikan.

Pikiran tentang rasa sakit yang tak tersuarakan itu justru menemani saya ke tempat yang paling tak terduga: kursi dokter gigi di Montreal. Di sana, saya memahami satu hal sederhana: rasa sakit punya paspor. Ia menyeberang tanpa izin, lalu menetap di tempat yang paling tak terduga.

Andai saja rasa sakit punya GPS, gigi bolong saya akan mengarah lurus ke sini. Tiga gigi saya tanggal tahun ini di tangan satu dokter. Setiap kali bertemu, Dr. Rachel bertanya dengan datar, tenang, tegas!

“Kita perbaiki, atau kita cabut?”

Saya tak ragu: “Cabut saja, Dok.”

Daripada repot, cabut saja sekalian. Itu logika yang sederhana. Sesuatu yang sakit, sesuatu yang bermasalah, lebih baik disingkirkan. Cepat, tegas, tuntas!

Minggu lalu, saya berbaring pasrah di kursinya dengan mulut terbuka lebar, lampu operasi menyilaukan di atas kepala. Dr. Rachel dan asistennya bekerja dengan presisi — tarik, putar, tarik lagi. Geraham saya bandel.

Di tengah sensasi tarikan yang tumpul itu, pikiran saya justru melayang jauh — bukan ke Iran, tapi ke sebuah studio televisi di Indonesia, tahun 1998. Saya teringat wawancara legendaris oleh Ira Koesno di SCTV, tak lama sebelum Reformasi, ketika frasa “cabut gigi” masuk ke wacana publik.

Jelas ini bukan tentang dokter. Atau gigi. Itu adalah bahasa kode.

Kala itu, menyebut nama Soeharto berbahaya. Metafora menjadi strategi bertahan hidup. Tapi “cabut gigi” melakukan lebih dari sekadar menyamarkan. Frasa itu membingkai ulang krisis. Rezim digambarkan sebagai “gigi busuk”.

Rasa sakitnya bukan hanya di mulut penguasa, tapi menjalar ke urusan perut rakyat, ke dompet, ke kebebasan, ke harapan. Dan gigi busuk yang dibiarkan, meracuni seluruh tubuh.

Dengan satu frasa itu, tuntutan reformasi tak lagi terdengar seperti kekacauan, tapi seperti perawatan yang diperlukan. Sebuah tindakan medis yang logis, bahkan mendesak dilakukan. Metafora itu berhasil melakukan apa yang gagal dicapai oleh berbulan-bulan demonstrasi dan teriakan di jalanan. Ucapan “cabut gigi” menembus kesadaran elite, menyatukan pemahaman, dan akhirnya — membuka jalan bagi sebuah rezim untuk dicabut.

Kembali ke kursi dokter di Montreal, saya hampir tertawa di balik pelindung karet. Dorongan untuk mencabut itu sesuatu yang primitif. Bukan politis. Tapi ternyata, logikanya sama: rasa sakit yang begitu total sampai kita rela kehilangan sebagian diri hanya untuk menghentikannya.

Lalu pikiran saya kembali ke Iran. Menyaksikan protes di sana hari ini, saya mendengar teriakan: “Matilah sang diktator!” Mentah. Marah. Saya pahami kemarahan itu — rasa sakit sedalam itu butuh penyaluran. Tapi sejarah memberi kita pelajaran, kemarahan saja jarang menggeser kekuasaan yang mengakar. Teriakan adalah luapan emosi yang jarang menjelma menjadi sebuah rencana penanganan.

Di suatu tempat, di ruang-redaksi bawah tanah atau di percakapan para intelektual Iran yang berhati-hati, mungkin sedang dicari: versi “cabut gigi” mereka sendiri. Sebuah metafora yang cukup tajam untuk membingkai pergolakan ini bukan sebagai kerusuhan, tapi sebagai operasi darurat. Sebuah frasa yang bisa diterjemahkan ke dalam bahasa diplomasi internasional, yang bisa meyakinkan kelas menengah yang ragu, yang bisa menjadi pisau bedah linguistik.

Rezim yang kuat berakar, tidaklah mudah jatuh, apalagi karena diteriaki. Mereka jatuh ketika seseorang akhirnya menemukan kata-kata yang tepat — kata-kata yang mengubah amorf menjadi diagnosa, yang mengubah kemarahan menjadi keharusan.

Pop! Satu gigi terlepas. “Oke. Selesai,” kata Dr. Rachel.

Ada nada kelegaan pada suaranya.

Saya meninggalkan klinik dengan mulut masih baal, tapi pikiran jernih. Rasa sakit fisik itu hilang. Tapi saya tahu, rasa sakit kolektif tak pernah sesederhana itu. Ia tidak bisa sekadar ‘dicabut’ dan dilupakan. Luka lama bisa bernanah, luka baru bisa muncul. Namun pengalaman reformasi di Indonesia bisa menjadi pesan kuat bahwa sebelum sebuah bangsa memutuskan untuk ‘merawat’ atau ‘mencabut’, ia lebih dulu harus memiliki kata-kata untuk mendiagnosis penyakitnya.

Bahasa bukan hanya alat deskripsi. Dalam momen-momen genting, ia bisa menjadi alat pembedah — atau pemicu — perubahan. “Cabut gigi” pernah menjadi pisau bedah semacam itu. Kini, di belahan dunia lain, sejarah sedang menunggu lahirnya sebuah frasa baru.

Jika hari ini kau menghadapi rasa sakit — entah di gusi, atau di hati nurani — jangan buru-buru memilih untuk mencabut. Tapi pertama-tama, berusahalah memberinya nama. Temukan frasamu. Kata yang tepat bisa jadi tindakan pertama. Dan terkadang, itu adalah satu-satunya senjata yang kita miliki.

Terima kasih telah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Jika hari ini hidup memberimu pilihan ini, jangan terburu-buru berkata, “Cabut saja.”

Pertimbangkan komitmen untuk merawat, kemungkinan untuk sembuh. Dan jika kau harus mencabut, lakukan dengan senyum tenang. Kau mungkin kehilangan sebuah gigi. Tapi kau akan mendapatkan sebuah cerita.

Jika kamu menyukai ini, kamu mungkin juga menyukai ini:

[embed]List: Kabar Dari Montreal | Curated by Stepanus BP | Medium Kabar Dari Montreal · 12 stories on Mediummedium.com

Esai terinspirasi dari percakapan dengan seorang dokter gigi Sukron Tajudin.


메타데이터
post_id
625f932bd985
slug
saya-kehilangan-tiga-gigi-di-montreal-625f932bd985
url
https://medium.com/@stepanuskapoda/saya-kehilangan-tiga-gigi-di-montreal-625f932bd985
canonical_url
https://medium.com/@stepanuskapoda/saya-kehilangan-tiga-gigi-di-montreal-625f932bd985
author_url
https://medium.com/@stepanuskapoda
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13