Childhood Strings (Xdinary Heroes Jooyeon AU)
Childhood Strings
Childhood Strings (Xdinary Heroes Jooyeon AU)
Childhood Strings
— Lee Jooyeon —
“Dunia boleh mengenal Lee Jooyeon sebagai rockstar karismatik. Tapi di mata Jung Dahee, dia tetaplah si dower manja yang hobi bikin pancake belepotan tepung.”
A Childhood Friends to Lovers Story.
— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — -
Lampu indikator recording di sudut studio ruangan bawah tanah daerah Mapo-gu itu baru saja padam. Suara dengung dari amplifier akhirnya meredap, digantikan dengusan napas berat dari cowok yang masih terduduk di atas salah satu speaker besar.
Lee Jooyeon — bassist sekaligus vokalis band rock yang namanya lagi naik daun tahun ini — merenggangkan otot lehernya sampai berbunyi. Di atas panggung dengan sorotan lampu dan ribuan teriakan fans, dia itu definisi rockstar muda yang karismatik. Tapi begitu masuk ruangan berukuran enam kali tujuh meter yang baunya campur aduk antara kopi dingin, baju keringat, dan kabel panas ini, Jooyeon cuma cowok dua puluh dua tahun biasa. Iseng, tengil, dan punya bakat alami bikin orang di sekitarnya mengurut dada.
“Woi, Jooyeon! Bass lo taruh stand, jangan dilepas gitu aja di atas sofa! Dahee mau duduk tuh!” suara Gunil membahana dari balik meja konsol.
Gunil ini drummer sekaligus leader. Dari segi umur, dia cuma beda setahun-dua tahun dari yang lain, tapi jiwanya sudah kayak bapak-bapak anak lima. Paling cerewet, paling ribet mikirin jadwal makan anak-anaknya, dan secara ajaib jadi satu-satunya alasan kenapa band ini belum bubar karena masalah internal yang sepele — kayak rebutan remote AC atau kabel instrumen yang ketukar.
“Bentar napa, Nil, pegel banget bahu gue,” balas Jooyeon tanpa rasa dosa, tetap bergeming di tempatnya.
Pintu studio terdorong terbuka. Jung Dahee melangkah masuk sambil membawa dua kantong plastik besar berisi kemasan makanan instan dari minimarket depan gang. Wajahnya ditekuk. Kuncir kudanya agak berantakan kena angin malam Seoul yang mulai dingin, plus ekspresi lelah khas buruh kreatif yang habis dihajar deadline di kantor agensi periklanan.
“Gue denger ya, Nil. Gak usah dibela-bela, emang otaknya aja yang ketinggalan di panggung,” celetuk Dahee sambil melempar dua kantong plastik itu ke atas meja kayu di tengah ruangan.
“Dahee-ya! Ya ampun, penyelamat hidup gue!” Seungmin — pemain synthesizer yang visualnya selalu bikin fans cewek menjerit di Twitter, tapi aslinya kelakuan kayak golden retriever hiperaktif — langsung menyambar kantong itu. Seungmin ini tipe friendly ke semua orang, flirty sana-sini, tapi entah kenapa sampai sekarang tetap jomblo karena kelakuannya yang sering kelewat polos. “Gue dari tadi udah mau pingsan dengerin Jooyeon ngeluh laper tapi mager beli makanan.”
“Gue denger ya, Seungmin,” cetus Jooyeon dari posisinya. Matanya yang tajam menatap Dahee yang sekarang sibuk menghempaskan tubuh ke sofa — menggeser bass mahal milik Jooyeon dengan gerakan lumayan kasar sampai cowok itu terperanjat bangun. “Pelan-pelan, Dahee! Itu bass harganya bisa buat bayar uang sewa kosan lo setengah tahun!”
“Bodo amat. Lagian lo yang naruh sembarangan,” balas Dahee cuek. Dia melempar jaket tebalnya ke sandaran sofa, membiarkan badannya rileks total.
Kalau ada yang heran kenapa seorang Dahee bisa lalu-lalang di studio latihan band yang penjagaannya ketat ini seolah-olah tempat itu kamar pribadinya, jawabannya cuma satu: Lee Jooyeon.
Mereka berdua itu sudah berteman dari zaman TK. Yup, sejak era di mana Jooyeon masih suka nangis gara-gara es krimnya jatuh ke pasir, dan Dahee yang selalu membagikan biskuitnya. Dahee tahu persis luka parut di lutut kiri Jooyeon itu gara-gara nekat memanjat pohon ceri tetangga, dan Jooyeon tahu pasti Dahee bakal mengamuk kalau ada orang yang mengambil acar di dalam burger-nya.
Bahkan setelah Jooyeon debut, punya ribuan fans, dan jadwalnya padat bukan main dari jam lima pagi sampai dua malam, cowok itu gak pernah absen buat ketemu Dahee. Kalau ada selang waktu satu jam di antara jadwal shooting, Jooyeon pasti bela-belain menyelinap keluar cuma buat membelikan Dahee kopi, atau sekadar menumpang tidur di lantai kamar Dahee sambil mengeluhkan lagunya yang belum kelar. Sebaliknya, kalau Jooyeon terkunci di studio berhari-hari pasca-produksi album, Dahee yang bakal datang membawa stok makanan, memastikan cowok itu gak mati kelaparan.
Mereka selalu bersama. Dan secara konsisten, mereka selalu bertengkar.
“Kalian berdua tuh kalau sehari gak cakar-cakaran, dahi lo berdua bisulan ya?” celetuk Jiseok.
Jiseok ini memegang posisi rhythm guitar, dan bisa dibilang dia adalah versi kembar tidak identik dari Jooyeon dari segi kelakuan. Duo ngeselin. Paling kocak, paling gabut, dan hobi utamanya adalah nongkrong di tempat-tempat gak jelas sampai subuh. Saat ini dia lagi duduk bersila di lantai, menyambar sepotong kimbab dari genggaman Seungmin tanpa rasa bersalah.
“Dia yang mulai!” sahut Jooyeon dan Dahee persis bersamaan.
Jungsu, yang sejak tadi duduk di depan keyboard-nya sambil memegang pensil dan kertas skor lagu, memijit pelipisnya. Sebagai keyboardist, Jungsu adalah tipe orang yang paling gampang darah tinggi di antara mereka semua. Musisi idealis yang sering stres sendiri kalau ada nada yang gak pas. “Bisa diem gak? Gue lagi nyari nada buat chorus ini, dari tadi raises-nya gak dapet gara-gara isinya cuma suara Jooyeon menderita sama Dahee ngomel.”
“Tuh dengerin kata Jungsu,” gumam Hyungjun dari pojokan ruangan.
Hyungjun ini pemegang lead guitar. Paling muda, paling diam, paling jarang ngomong. Tapi begitu mulutnya terbuka, amunisinya selalu sanggup bikin orang mati skakmat. Tanpa mendongak dari layar ponselnya, Hyungjun menimpali, “Lagian aneh. Katanya gak pacaran, tapi tiap hari nempel terus kayak perangko. Kalau emang saling suka bilang aja sih, cape gue liatnya.”
“Hah?” Dahee langsung mendelik ke arah Hyungjun. “Gue sama Jooyeon? In your dreams, Hyungjun-ah. Gue lebih pilih jomblo seumur hidup daripada harus pacaran sama cowok yang mandi aja harus didobrak pintunya gara-gara ketiduran.”
Jooyeon melompat turun dari amp, berjalan mendekati sofa lalu tanpa permisi menjatuhkan diri di sebelah Dahee, membuat tubuh cewek itu terangkat sedikit gara-gara hentakannya. “Gue juga ogah kali. Lo tuh galak, Dahee. Gak ada anggun-anggunnya sama sekali. Kasihan cowok yang nanti jadi pacar lo, pasti batinnya tersiksa lahir batin.”
“Mulut lo ya!” Dahee menyikut perut Jooyeon cukup keras sampai cowok itu mengaduh pelan.
Tapi bukannya menjauh, Jooyeon malah santai saja menyandarkan kepalanya di bahu Dahee, memejamkan mata karena kelelahan. Dahee menyipitkan mata, tangannya sudah terangkat berniat mendorong kepala Jooyeon. Tapi begitu melihat lingkaran hitam yang lumayan tebal di bawah mata cowok itu, napas Dahee terhela halus. Tangannya berbelok, cuma menepis pelan beberapa helai poni Jooyeon yang menutupi matanya.
Gunil yang memperhatikan pemandangan itu dari balik meja konsol cuma bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.
Dulu, waktu pertama kali Jooyeon membawa Dahee ke studio saat masa-masa awal latihan kuliah, member lain sempat mengira mereka berdua ini pacaran tapi main rahasia-rahasiaan. Tapi seiring berjalannya waktu, melihat bagaimana santainya Jooyeon menceritakan cewek yang disukainya waktu SMA di depan Dahee, dan bagaimana Dahee cuek saja curhat soal cowok yang mencoba mendekatinya, mereka paham: dua orang ini cuma terlalu terbiasa ada di hidup satu sama lain. Sampai-sampai batas antara ‘teman dari kecil’ dan ‘lebih dari itu’ sudah lama kabur, dan mereka berdua terlalu bodoh buat menyadarinya.
Nanti juga mereka sadar sendiri, pikir Gunil saat itu.
“Btw, Dahee,” Seungmin membuka suara di tengah mulutnya yang penuh ramen instan. “Tadi pas lo turun dari mobil di depan gang studio, gue liat lo diantar cowok. Siapa? Tampangnya kayak orang kantoran elit gitu, pake kemeja rapi.”
Jooyeon, yang matanya tadi terpejam rapat di bahu Dahee, mendadak tertegun. Kepalanya tidak lagi bersandar santai. Dia menegakkan tubuhnya, menoleh menatap samping wajah Dahee dengan dahi berkerut tajam.
“Oh, itu?” Dahee meminum teh kemasannya santai. “Itu Mas Han. Senior di divisi gue.”
“Mas Han?” Jooyeon mengulang nama itu. Suaranya berubah. Bukan nada tengil seperti biasanya, tapi ada desis asing yang tidak familiar. “Sejak kapan lo punya panggilan ‘Mas’ buat senior kantor lo? Perasaan kemarin-kemarin lo panggilnya ‘Pak Han’.”
Dahee menoleh, menatap Jooyeon heran. “Ya terserah gue lah. Dia sendiri yang minta dipanggil gitu biar gak terlalu kaku di luar jam kerja. Lagian dia baik banget, tadi pas kelar rapat dia nawarin tebengan sekalian arah pulang. Tadi juga sempet nanyain gue udah makan malam atau belum.”
Jooyeon diam. Matanya tertuju pada Dahee, memperhatikan ekspresi cewek itu yang tampak biasa saja — bahkan ada sedikit senyum tipis yang tak sengaja terukir di bibirnya saat menyebut nama seniornya itu.
Di sudut ruangan, Jiseok yang tadinya mau menyambar sosis langsung menghentikan tangannya. Dia dan Gunil saling bertukar pandang.
Ada perubahan atmosfer yang halus tapi nyata di udara studio yang tadinya penuh canda tawa itu. Mendadak terasa agak dingin.
“Ramen lo makin dingin tuh, Yeon,” tegur Jungsu pelan, suaranya seperti mencoba memecah keheningan singkat yang mendadak canggung.
Jooyeon tidak menyahut teguran Jungsu. Dia cuma meraih mangkuk ramen-nya lambat-lambat, tapi sorot matanya masih tertahan pada Dahee yang sekarang sudah kembali mengobrol santai dengan Seungmin.
Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba berdesir di dada Jooyeon — perasaan aneh, samar, tapi cukup mengganggu yang belum pernah dia rasakan selama dua puluh dua tahun mengenal Jung Dahee.
To be continued…

메타데이터
- post_id
- 62e22f5de739
- slug
- childhood-strings-xdinary-heroes-jooyeon-au-62e22f5de739
- url
- https://medium.com/@chewgawl/childhood-strings-xdinary-heroes-jooyeon-au-62e22f5de739
- canonical_url
- https://medium.com/@chewgawl/childhood-strings-xdinary-heroes-jooyeon-au-62e22f5de739
- author_url
- https://medium.com/@chewgawl
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-09-13 10:52:34