Pengaruh Program KB Terhadap Kualitas dan Kuantitas Penduduk: Studi Kasus di Indonesia dan…
Oleh: Zalfa Hasna Safitri B, Suci Wulandari, Khalisa Salsabil Riefana, Muhammad Iqbal, Muhammad Riduan, dan Fairuz Firjatullah.
Pengaruh Program KB Terhadap Kualitas dan Kuantitas Penduduk: Studi Kasus di Indonesia dan Singapura
Oleh: Zalfa Hasna Safitri B, Suci Wulandari, Khalisa Salsabil Riefana, Muhammad Iqbal, Muhammad Riduan, dan Fairuz Firjatullah.
Kebijakan kependudukan merupakan wujud perhatian pemerintah terhadap pertumbuhan penduduk yang sangat pesat. Kebijkaan tersebut antara lain meliputi penyediaan lapangan kerja, peningkatan kesehatan, dan peningkatan kesejahteraan penduduk. Untuk mengatasi masalah penduduk, pemerintah menyelenggarakan program keluarga berencana tujuannya meningkatkan kesejahteraan penduduk dan meminimalisis pertumbuhan penduduk. Program keluarga berencana merupakan suatu gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran, dengan menganggap ideal jumlah anak dalam satu keluarga adalah dua orang.
Keberhasilan program KB diukur melalui dua paramater, yakni secara kuantitas maupun kualitas penduduk disuatu negara. Berdasarkan kuantitas suatu negara program KB di ukur pengaruhnya terhadap tingkat kelahiran atau crude birth rate dan laju pertumbuhan penduduk suatu negara. Sedangkan berdasarkan kualitas penduduk diukur melalui indeks pembangunan manusia atau human development index maupun empat indikator lainnya yakni angka harapan hidup atau life expectancy, angka kematian bayi atau infant mortality, angka kematian anak atau child mortality, serta angka kematian ibu atau maternal mortality.
Definisi Program Keluarga Berencana atau Family Planning
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009 BAB I Pasal 1 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menjelaskan pengertian KB yakni:
Keluarga Berencana (KB) adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas.
Menurut Sulistyawati (2012) Keluarga Berencana (family planning/planned parenthood) merupakan suatu usaha menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Program KB adalah suatu langkah-langkah atau suatu usaha kegiatan yang disusun oleh organisasi-organisasi KB dan merupakan program pemerintah untuk mencapai rakyat yang sejahtera berdasarkan peraturan dan perundang-undangan kesehatan.
Pengaruh Program KB Secara Kuantitas di Indonesia

Total Fertility Rate Indonesia 1971–2010 (Sumber : BPS)
Mendasar kepada data yang diperoleh dari BPS, dapat terlihat bahwa terdapat penurunan fertilitas pada tahun-tahun terakhir. Pada tahun 1967, hasil SP1971 TFR Indonesia adalah 5,605 anak per wanita. Kemudian pada tahun 1976 hasil SP80 TFR Indonesia mengalami penurunan menjadi 4,680 anak per wanita atau turun sekitar 1,9 persen. Pada tahun 1986 TFR Indonesia hasil SP90 menjadi 3,326 anak per wanita atau turun sekitar 3,3 persen. Keadaan ini terus berlanjut sampai dengan tahun tahun 1996 TFR menjadi 2,344 atau turun sekitar 3,4 persen, dan hasil SP2010 TFR Indonesia sedikit mengalami kenaikan sekitar 0,5 persen.

Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia
Laju pertumbuhan penduduk (LPP) Indonesia memiliki kecenderungan menurun. Kebijakan pemerintah untuk menekan LPP dengan adanya program Keluarga Berencana (KB) yang diluncurkan pada tahun 1980an semakin nyata hasilnya. Pada tahun 1971–1980 pertumbuhan penduduk Indonesia masih cukup tinggi sekitar 2,33 persen. Pertumbuhan penduduk ini kemudian mengalami penurunan yang cukup tajam hingga mencapai 1,44 persen pada 1990–2000. Penurunan ini antara lain disebabkan berkurangnya tingkat kelahiran sebagai dampak peran serta masyarakat dalam program KB. Namun pada periode sepuluh tahun berikutnya, tepatnya awal masa reformasi tahun 2000–2010 laju pertumbuhan ini mengalami sedikit peningkatan sekitar 0,05 persen. Laju pertumbuhan penduduk apabila tidak dikendalikan berakibat pada meningkatnya jumlah penduduk. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2010–2015) laju pertumbuhan penduduk Indonesia kembali mengalami penurunan menjadi 1,43 persen
Pengaruh Program KB Secara Kuantitas di Singapura
Sejak dikeluarkannya Undang-Undang yang mengatur tentang kependudukan dan keluarga bencana yaitu Singapore Family Planning and Population Board Act 1965 dan berlaku pada tahun 1966. Secara keselurahan secara presentasi, angka pertumbuhan dapat dikatakan terkendali karena tidak terjadinya ledakan penduduk jika kita berpacu pada grafik di bawah ini.

Laju Pertumbuhan Penduduk di Singapura
Tanggapan penduduk terhadap pelaksanaan program KB dipengaruhi oleh kondisi sosial-ekonomi. hampir keseluruhan penduduknya mendukung kebijakan mengenai mengendalikan laju kelahiran yang tinggi. Meskipun beberapa ada yang tidak sependapat terhadap kebijakan tersebut. ketidaksetujuan mereka disebabkan cara pemerintah memberikan sanksi sosial-ekonomi dan jumlah ideal anak yang dimiliki tiap keluarga. Pemerintah Singapura melegalkan aborsi dan strelisasi bagi warganya apabila telah memiliki dua anak dengan insentif menarik berupa uang. Kuatnya birokrasi pemerintah menciptakan kestabilan sosial-ekonomi dan politik, mempengaruhi paradigma penduduknya untuk menerima pelaksanaan program KB. Sehingga, program tersebut dapat dilakukan dengan sedikit hambatan dan juga dapat dikatakan berhasil karena telah menekan angka kelahiran dan pertumbuhan penduduk dalam jangka waktu yang cukup sebentar setelah undang-undang tersebut disahkan dan dilaksanakan.
Pengaruh Program KB Secara Kualitas di Indonesia
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan, suksesnya pelaksanaan KB disuatu daerah akan berdampak pada pertumbuhan Indeks Pertumbuhan Manusia (IPM) di daerah tersebut. Pengendalian angka kelahiran mampu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), meningkatkan kesejahteraan, dan mengurangi kemiskinan. Ada beberapa faktor yang dapat menjadi indikator terkait mengukur kualitas penduduk, antara lain: tingkat pendapatan penduduk, tingkat pendidikan penduduk, tingkat kesehatan penduduk, dan IPM.
- Tingkat Pendapatan Penduduk

Pertumbuhan PDB Perkapita Penduduk Indonesia
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pendapatan penduduk Indonesia yang diukur menurut produk domestik bruto (PDB) per kapita tumbuh 8,5% menjadi Rp 62,2 juta (US$ 4,35 ribu) per tahun pada 2021 dibanding posisi 2020 sebesar 57,3 juta per tahun. Pertumbuhan pendapatan tersebut seiring dengan tumbuhnya perekonomian domestik sebesar 3,69% pada tahun lalu. Pendapatan penduduk Indonesia berhasil melampaui capaian sebelum terjadi pandemi Covid-19, yakni pada 2019 yang hanya sebesar Rp 59,1 juta per tahun. Artinya, PDB per kapita nasional mencatat rekor tertinggi pada tahun lalu seperti terlihat pada grafik. Jika melihat dari pertumbuhan pdb yang justru cenderung selalu menurun dalam jumlah penduduk yang cenderung meningkat, dapat dikatakan bahwa pernyataan tentang KB adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pendapatan adalah benar dengan penjelasan-penjelasan yang sudah disampaikan.
- Tingkat Pendidikan Penduduk

Tingkat Penyelesaian Sekolah Berdasarkan Jenjang
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tingkat penyelesaian Sekolah Menengah Atas (SMA) hanya sebesar 63,95% pada 2020. Persentase itu menjadi yang terendah dibandingkan jenjang pendidikan dasar lainnya di Indonesia. Tingkat penyelesaian Sekolah Menengah Pertama (SMP) tercatat sebesar 87,89% pada tahun lalu. Sedangkan, tingkat penyelesaian Sekolah Dasar (SD) mencapai 96%. Tingginya penyelesaian pendidikan SD dan SMP didukung program wajib belajar sembilan tahun. Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah. Sementara, belum ada kewajiban bagi penduduk Indonesia untuk menamatkan pendidikan hingga SMA. Pemerintah baru pada tahap merintis wajib belajar 12 tahun melalui Permendikbud Nomor 19 tahun 2016 tentang Program Indonesia Pintar. Program tersebut hanya mengupayakan agar peserta didik tidak mengalami putus sekolah dengan memberikan bantuan uang tunai. Berdasarkan penelitian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), faktor lain yang menghambat tingkat penyelesaian pendidikan adalah kemiskinan. Ada pula masalah jarak sekolah yang jauh dari tempat tinggal, minimnya ketersediaan layanan pendidikan, dan tingkat pendidikan keluarga.
- Tingkat Kesehatan Penduduk

Angka Harapan Hidup Menurut Jenis Kelamin
Angka harapan hidup (AHH) perempuan di Indonesia lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Pada 2020, AHH perempuan tercatat sebesar 73,46 tahun. Sementara, AHH laki-laki saat lahir tercatat sebesar 69,59 tahun. AHH perempuan sendiri terus meningkat dalam 10 tahun terakhir. Pada 2011, AHH perempuan tercatat sebesar 72,02 tahun. Angkanya lalu menyentuh 73 tahun sejak 2017 hingga saat ini. Pentingnya kesehatan mempengaruhi kemampuan bekerja dengan maksimal, pentingnya pendidikan mempengaruhi kesadaran terkait kesehatan dan mempengaruhi pendapatan. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain.
- Indeks Pembangunan Manusia

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia mencapai 72,29 pada 2021. Angka itu meningkat 0,49% dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang sebesar 71,94. Peningkatan IPM seiring perbaikan kinerja ekonomi yang berpengaruh positif terhadap indikator konsumsi riil per kapita (yang disesuaikan). Selama periode 2010–2021, IPM Indonesia menunjukkan tren meningkat dengan rata-rata 0,76% per tahun. Secara rinci, peningkatan IPM pada tahun ini terjadi di semua dimensi:
- Dimensi hidup layak yang diukur berdasarkan rata-rata pengeluaran riil per kapita per tahun meningkat 1,30% menjadi Rp 11,15 juta pada 2021.
- Dari dimensi pendidikan, harapan lama sekolah (HLS) penduduk berusia 7 tahun meningkat 0,77% menjadi 13,08 tahun pada 2021. Sementara, rata-rata lama sekolah penduduk umur 25 tahun ke atas meningkat 0,7% menjadi 8,54 tahun
- Dimensi umur panjang dan hidup sehat yang diukur dari umur harapan hidup (UHH) tercatat sebesar 71,57 tahun pada 2021. Angka tersebut naik 0,13% dibandingkan pada 2020 yang sebesar 71,47 tahun.
Pengaruh Program KB Secara Kualitas di Singapura
- Tingkat Pendapatan Penduduk

PDB Perkapita Singapura
Pada grafik diatas terlihat bahwa PDB per kapita yang menjadi salah satu indikator untuk mengukur rata-rata pendapatan per penduduk suatu wilayah terus mengalami kenaikan, namun sempat terjadi tiga kali penurunan pada tahun 2015, 2019, dan 2020. Penurunan tersebut antara lain disebabkan oleh krisis global pada tahun 2015, terjadinya perang dagang yang berlarut-larut antara Amerika Serikat dengan China pada tahun 2019, dan adanya pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Jika melihat nominal PDB per kapita penduduk Singapura di sepanjang tahun yang memiliki keadaan ekonomi normal atau tidak adanya krisis, maka akan terlihat pergerakan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut berkaitan erat dengan jumlah penduduk usia kerja yang ada di Singapura. Berdasarkan peraturan yang baru diberlakukan oleh perdana menteri Lee Hsien Loong bahwa usia pensiun yang berlaku ditingkatkan sampai usia 65 tahun hal tersebut bertujuan untuk mendukung pekerja yang ingin bekerja lebih lama dan meningkatkan tabungan pensiun mereka.
- Tingkat Pendidikan Penduduk

Angka Harapan Lama Sekolah
Harapan lama sekolah didefinisikan sebagai lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Pada tabel diatas kategori umur anak yang dipakai adalah tujuh tahun, maka lama sekolah yang diharapkan pada tahun 2019 adalah selama 16 tahun atau setara dengan jenjang perkuliahan dan mendapatkan gelar sarjana. Jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN lainnya, angka HLS Singapura masih menjadii yang tertinggi, hal tersebut juga berkaitan karan program family planning. Faktor HLS inilah yang menjadi keberhasilan kampanye tersebut hingga nilai TFR yang berada di bawah level 2.1 karena para pasangan yang ingin memiliki anak di Singapura akan terlebih dahulu melakukan perencanaan khususnya keuangan melalui keikutsertaan dalam asuransi untuk menjamin anak yang akan dilahirkan mendapat pendidikan yang baik, sehingga banyak orang tua memilih untuk menunda kehamilan atau membatasi hanya pada satu atau dua anak, dengan tujuan anak-anak yang dihasilkan akan menjadi SDM yang berkualitas melalui pendidikan yang baik.
- Tingkat Kesehatan Penduduk

Angka Harapan Hidup
Angka Harapan Hidup saat lahir (AHH) atau life expectancy at birth didefinisikan sebagai rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang sejak lahir. AHH mencerminkan derajat kesehatan suatu masyarakat, semakin tinggi nilai dari AHH maka semakin baik pelayanan kesehatan suatu kawasan. Pada tabel diatas terlihat bahwa AHH Singapura pada tahun 2009–2021 terus mengalami peningkatan dan berada di atas level 81 tahun, hal ini menunjukan bahwa setiap bayi yang baru lahir pada tahun 2009–2021 memiliki harapan hidup hingga lebih dari 81 tahun. Peningkatan AHH akan terus di pengaruhi oleh peningkatan HLS, semakin lama HLS suatu masyarakat maka akan semakin tinggi nilai AHH yang dihasilkan. Hal tersebut terjadi karena semakin tingga masyarakat mengenyam pendidikan maka semakin tinggi juga kesadaran masyarakat akan suatu hal selah satunya adalah kesehatan, sebagai contoh jika pada tahun 2000-an awal kesaran akan kesehatan mental belum menjadi perhatian masyarakat maka semakin meningkatnya zaman dan pendidikan kesehatan mental saat ini menjadi salah satu fokus utama masyarakat dalam menjalani kehidupan.
- Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Penentuan keberhasilan pembangunan manusia menurut standar United Nations Development Program (UNDP), terdiri dari 4 kriteria, yakni IPM >80 kategori sangat tinggi, IPM 70–79 kategori tinggi, IPM 60–79 kategori sedang, dan IPM <60 kategori rendah.

Indeks Pembangunan Manusia
Pada grafik diatas terlihat bahwa pola dari perubahan IPM di Singapura terbilang terus meningkat namun dengan terdapat beberapa kondisi adanya penurunan IPM. Meskipun terdapat penurunan IPM, nilai yang dihasilkan tetap masuk kedalam kategori sangat tinggi. Hal tersebut mencerminkan bahwa Singapura berhasil untuk melakukan upaya untuk membangun kualitas hidup masyarakat dengan kemudahan penduduk dalam mengakses hasil pembangunan seperti memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan Jika merujuk pada analisis program family planning terhadap tiga indikator kualitas masyarakat maka tidak mengejutkan bahwa Singapura memiliki nilai IPM yang sangat tinggi. Pendapatan perkapita yang tinggi diukur melalui PDB perkapita, tingkat pendidikan yang tinggi diukur melalui angka harapan lama sekolah, dan tingkat kesehatan yang baik diukur melalui angka harapan hidup merupakan beberapa output yang dihasilkan dari adanya program familly planning.
Tujuan awal program family planning telah terpenuhi yakni mencegah terjadinya pernikahan di usia dini telah terpenuhi melalui tingginya angka harapan lama sekolah, menekan angka kematian ibu dan bayi akibat hamil di usia yang terlalu muda atau terlalu tua, atau akibat penyakit sistem reproduksi telah terpenuhi melalui lamanya angka harapan hidup dan tingkat pendidikan yang semakin tinggi, dan menekan jumlah penduduk serta menyeimbangkan jumlah kebutuhan dengan jumlah penduduk di Singapura telah terpenuhi melalui nilai total fertility rate dan pendapatan perkapita. Namun masalah baru yang muncul adalah rendahnya nilai TFR sehinggi menyebabkan terus menurunnya laju pertumbuhan penduduk di Singapura, hal tersebut nantinya akan sangat berdampak pada komposisi penduduk berdasarkan usia, maka hal tersebut harus menjadi perhatian penuh pemerintah singapura dalam menjalankan program family planning ini.
Kesimpulan
Pengaruh yang ditimbulkan akibat dari program ini tentu akan menyasar pada aspek kependudukan secara kuantitas seperti total fertility rate dan laju pertumbuhan penduduk. Indonesia sampai saat ini masih memiliki nilai TFR diatas level 2.1 sehingga fokus pemerintah masih kepada bagaimana mengendalikan kelahiran menjadi mendekati level 2.1, sedangkan program family planning yang dijalankan oleh pemerintah Singapura memiliki fokus yang berkebalikan, karena nilai TFR Singapura yang berada dibawah level 2.1 sehingga pemerintah mengupayakan untuk meningkatkan angka kelahiran. Pengaruh program keluarga berencana juga menyasar pada kualitas penduduk, terdapat tiga indikator yang menjadi indeks untuk mengukur kualitas penduduk yakni tingkat pendidikan penduduk, tingkat pendapatan penduduk, dan tingkat kesehatan penduduk. Jika menggunakan ketiga indeks tersebut maka Indonesia masih jauh tertinggal dari tingkat pendidikan Singapura, namun di masing-masing negara program keluarga berencana masih signifikan berpengaruh terhadap kualitas kependudukan yang dihasilkan.
메타데이터
- post_id
- 630e52a4d1cb
- slug
- pengaruh-program-kb-terhadap-kualitas-dan-kuantitas-penduduk-studi-kasus-di-indonesia-dan-630e52a4d1cb
- url
- https://medium.com/@writtenbysuci/pengaruh-program-kb-terhadap-kualitas-dan-kuantitas-penduduk-studi-kasus-di-indonesia-dan-630e52a4d1cb
- canonical_url
- https://medium.com/@writtenbysuci/pengaruh-program-kb-terhadap-kualitas-dan-kuantitas-penduduk-studi-kasus-di-indonesia-dan-630e52a4d1cb
- author_url
- https://medium.com/@writtenbysuci
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13