Eksperimen Sang Ilmuwan Posesif
Sinar mentari sore menyelinap masuk melalui jendela ruang kuliah, jatuh tepat di atas meja yang kau tempati bersama teman lelakimu. Tawa…
Eksperimen Sang Ilmuwan Posesif

sengen married
Sinar mentari sore menyelinap masuk melalui jendela ruang kuliah, jatuh tepat di atas meja yang kau tempati bersama teman lelakimu. Tawa kalian berdua terdengar samar di sela-sela penjelasan dosen di depan kelas yaitu pria yang kebetulan adalah suamimu sendiri, Senku Ishigami.
Dari balik kacamata laboratoriumnya, Senku sempat melirik kalian sekilas. Rahangnya mengeras selama sepersekian detik, sebelum ia kembali bersikap cuek dan melanjutkan menuliskan rumus-rumus kimia serumit jaring laba-laba di papan tulis. Di dalam kelas, tak ada satu pun mahasiswa yang curiga. Namun, sebagai istrinya, kau tahu betul arti tatapan itu. Dalam benak Senku, rumus di papan tulis itu mungkin sudah berganti menjadi daftar rencana ‘hukuman’ pribadi untuk malam ini.
Sesampainya di rumah, suasana berubah total menjadi tegang. Tanpa sepatah kata pun, Senku langsung menarik lenganmu menuju kamar. Tubuhmu dipojokkan ke dinding dingin dengan cepat. Sebelum kau sempat bersuara, ia langsung menuntut sebuah ciuman yang kasar tanpa permisi, membuatmu hingga sesak napas. Kedua tanganmu mencoba mendorong dadanya, namun ia sama sekali tidak peduli.
Saat tautan itu terlepas, napasnya terasa panas berembus di dekat telingamu, membuat bulu kudukmu merinding seketika. Senku menatapmu tajam dengan sorot mata yang berbahaya, perpaduan antara logika dingin seorang ilmuwan dan rasa posesif yang membara.
“Kau pikir aku tidak melihat tawa kalian di kelas tadi? Sepuluh miliar persen, hukumanmu harus lebih keras malam ini,” bisik Senku dengan nada rendah yang mengancam.
Kau langsung menundukkan kepala, mencoba meredam amarahnya dengan suara cicitan kecil, “Senku-chan, maafkan aku... Maaf sudah membuat dirimu cemburu.”
Mendengar permintaan maafmu yang begitu mencicit, Senku menghela napas pelan. Raut wajahnya masih sedatar biasanya, tetapi sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk seringai tipis. Ia menggeser satu tangannya ke pinggangmu, menjepit tubuhmu erat di antara dinding keras dan dadanya yang bidang.
“Otak logisku tahu itu Cuma basa-basi di kelas,” sahut Senku, wajahnya kian mendekat hingga hidungmu bersentuhan seinci dari bibirnya. “Tapi bagian posesifku tetap ingin memastikan kau ingat malam ini kau milik siapa.”
Perlahan, satu tangannya bergerak meraih dasi yang melingkari lehernya sendiri, lalu melonggarkannya dengan gerakan lambat yang sengaja menyiksa emosimu. “Eksperimen hukuman di meja laboratorium malam ini. Kau siap?”
Kau mendongak menatap ke arah Senku dengan tatapan memelas, “T-tapi Senku-chan, aku harus mengerjakan tugas darimu yang tadi... Nanti kalau tidak selesai bagaimana?”
Mendengar alasan itu, Senku menyeringai tipis. Matanya yang tajam meneliti setiap jengkal ekspresi di wajahmu. Ia mendekatkan dagunya ke bahumu, membiarkan napas hangatnya menggelitik kulit lehermu yang sensitif.
“Tugas? Itu alasan paling lemah yang pernah kau pakai,” bisiknya tepat di daun telingamu dengan nada lirik yang menggoda. “Reaksi di otakmu jelas menunjukkan prioritas yang salah. Aku akan beri opsi kau bisa kerjakan tugas di meja laboratorium ini sambil aku awasi hingga selesai. Atau...”
Ia menjeda kalimatnya sengaja membuatmu berdebar. “Kau pilih hukuman malam ini. Eksperimen sains terapan... dan kau yang akan jadi subjek utamanya.”
Jantungmu berdegup kencang, rona merah mulai menjalar di pipimu saat kau membalas, “Eumm... ahh, Senku-chan sepertinya memang sangat ingin menghukumku ya? Kalau begitu aku akan terima hukuman apa pun itu. Hukuman biologis juga akan aku terima...” celetukku sedikit bercanda.
Mendengar jawaban yang keluar dari bibirmu, seringai Senku melebar. Bukan senyuman ramah, melainkan seringai khas seorang ilmuwan yang baru saja menemukan variabel eksperimen yang paling sempurna. Matanya mengkilat penuh kepuasan di balik kacamata laboratoriumnya. Jari-jarinya turun perlahan, membelai rahangmu dengan kelembutan yang posesif.
"Hukuman biologis? Wah, kamu barusan setuju begitu saja tanpa tahu konsekuensinya." ucapnya penuh kemenangan.
Dengan satu gerakan cepat, Senku menarik dasi dari lehernya hingga melingkar longgar di pergelangan tanganmu. Ia meraih pinggangmu, mendorong tubuhmu mundur perlahan menuju meja laboratorium yang terletak di sudut kamar. Rasa dingin dari permukaan meja kayu itu langsung menyentuh kulit pahamu saat ia membaringkanmu di atasnya.
“Kalau begitu, mari kita buktikan hipotesisnya. Sesi praktikum malam ini dimulai sekarang,” bisik Senku.
Dengan sisa dasi yang mengikat kedua pergelangan tanganmu, kau tergeletak pasrah di atas meja kerjanya. “Senku-chan... akhh...” protesmu pelan sembari menatap wajahnya.
Senku menunduk perlahan memandangmu. Jari-jarinya yang jenjang menyentuh dagumu, menaikkan wajahmu hingga sepasang manik mata kalian saling mengunci. Sinar lampu laboratorium di belakang tubuh Senku memberikan efek bayangan yang jatuh dramatis di wajahnya, mempertegas seringai tipis yang kembali melebar.
“Ekspresi protesmu itu menggemaskan sekali,” ujarnya gemas. “Tapi ingat, kau sendiri yang memilih hukuman ini. Sekarang, kau hanya perlu diam, atau aku harus membungkammu dengan caraku sendiri?”
Wajahnya merunduk kian dekat, napas hangatnya menyapu permukaan bibirmu, namun ia sengaja berhenti tepat seinci sebelum bibir kalian saling bersentuhan. Matanya yang jeli menelusuri setiap detail wajahmu dengan intensitas tinggi, seolah sedang menganalisis reaksi paling menarik yang pernah ia temui seumur hidupnya.
“S-Senku-chan..aakh,” bisikmu pasrah, sepenuhnya menyerah pada pesonanya.
Mendengar kepasrahanmu, jemari Senku mulai bergerak turun menyusuri lehermu, seolah-olah sedang menghitung ritme denyut nadimu yang kian berkejaran. Perlahan tapi pasti, jemarinya meraih kerah bajumu dan membuka satu kancing teratas dengan perlahan.
"Nah, bagus," ucap Senku, terdengar puas. ”Tapi jangan mengira tugasmu selesai. Eksperimen ini baru dimulai, dan kita berdua harus tetap fokus.”
Satu per satu, Senku melepas kancing kemejamu hingga seluruh kemeja itu terbuka lebar, mengekspos dadamu yang kini kembang kempis menahan debaran, memperlihatkan bagian sensitifmu yang sudah menegang akibat sensasi dingin dan gairah. Kau segera memalingkan wajahmu yang sudah semerah tomat karena malu. “Senku-chan...” cicitmu tertahan.
Melihat pipimu yang merona hebat dan respons tubuhmu yang begitu jujur, Senku tersenyum puas. Jari telunjuknya menyentuh ringan dadamu, menelusuri lekukan tulang selangkamu dengan lembut sembari menahan napasmu yang kian memburu.
“Reaksi di permukaan kulitmu... sepuluh miliar persen sangat menarik,” analisisnya dengan nada rendah yang terdengar seksi. “Kamu bilang tidak apa-apa, tapi tubuhmu bicara hal yang sebaliknya.”
Senku mencondongkan badannya lebih rendah lagi, bibirnya nyaris menyentuh dadamu sebelum ia kembali menjeda gerakannya. Hembusan napas hangatnya membuat bulu-bulu halus di dadamu meremang. Dari posisi bawah, kau bisa melihat pantulan cahaya lampu lab yang menari-nari di kacamata laboratoriumnya.
"Aku ingin tahu, kau benar-benar menikmati ini atau hanya menjalankannya karena perintah dari dosenmu?" tanyanya, mengamati reaksinya.
Sebelum kau sempat menjawab, jemarinya bergerak turun ke arah pinggangmu. Bersamaan dengan suara klik pelan dari gesper celanamu yang dibuka, gema suara itu memantul di dalam ruangan yang sunyi. Senku melucuti celanamu perlahan, menyisakan selembar pakaian dalam putih yang tersisa ditubuh mu.
Kau semakin menyembunyikan wajahmu yang memanas, memalingkannya ke samping. “Senku-chan..., aku malu...” bisikmu lirih.
Jarak di antara tubuh kalian kini terkikis habis. Napas hangat Senku terasa begitu nyata menerpa kulit lehermu saat ia merunduk kian dekat. Tanpa terburu-buru, ujung jarinya menyusuri tepi celana dalam putihmu dengan sensual.
“Katamu malu, tapi sorot matamu bilang lain,” bisik Senku dengan seringai penuh kemenangan. “Otakmu sedang kebanjiran adrenalin. Kau benar-benar objek sempurna untuk malam ini.”
Ia memberikan kecupan ringan di bahumu. Sapuan bibirnya yang hanya sekilas itu sukses membuat tubuhmu tersentak kaget. Sedetik kemudian, tangan Senku yang lain meraih ujung dasi yang mengikat pergelangan tanganmu, menariknya sedikit lebih kencang untuk mengunci posisimu agar tidak bisa melarikan diri dari atas meja laboratorium.
Sambil menatapmu tajam dari balik kacamata laboratoriumnya, jari telunjuk Senku menyentuh ujung celana dalam putihmu, menariknya ke bawah secara perlahan dan konstan.
"Sekarang jujur padaku. Apa warna celana dalam favoritmu?" tanyanya. "Atau aku harus menebaknya sendiri, sementara tanganku bergerak?”
“A-akhh... i-itu... mungkin putih?” jawabmu terbata-bata. Suara berat Senku yang terlalu dekat di telingamu sukses membuatmu gelagapan, ditambah setiap sentuhan yang diberikannya benar-benar membuat seluruh fokus dan logikamu hancur kalang kabut.
Mendengar jawabanmu yang berantakan itu, seringai tipis kembali menghiasi wajah tampan sang ilmuwan. Reaksi di antara kalian berdua malam ini baru saja dimulai.
"Tebakan yang cukup mudah," ujarnya pelan, nada puas terselip di balik suaranya. "Aku hanya membaca reaksimu."
Tatapan merahnya tidak lepas darimu, seolah sedang mengamati hasil sebuah eksperimen yang berjalan persis sesuai perkiraannya.
"Tapi kurasa masih ada banyak data yang perlu dikumpulkan malam ini."
Ia membungkuk perlahan, membiarkan bibirnya mencium ringan tulang pinggangmu. Sentuhan itu meninggalkan jejak basah hangat yang seketika membuat seluruh tubuhmu menegang. Sementara itu, tangannya yang bebas meraih dasi yang masih mengikat pergelangan tanganmu, lalu menariknya sedikit untuk mengencangkan kunciannya.
“Senku-chan geli... ahhh...” Kau tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerang. Sentuhan intim itu memicu luapan rasa yang begitu kuat. Melihat reaksimu, Senku bergerak mendekat ke arah telingamu dan mendaratkan ciuman mesra di sana, sengaja memicu reaksi yang lebih intens di antara kalian.
Mendengar erangan pasrahmu dan merasakan bagaimana kau mulai membalas sentuhannya, senyum tipis terukir di dekat telingamu. Senku menarik sedikit cuping telingamu menggunakan giginya, lalu berbisik dengan suara serak yang seketika membuat punggungmu merinding hebat.
"Reaksimu menarik," ujar Senku pelan. "Sepertinya aku sudah menemukan bagian yang paling mudah membuatmu kehilangan fokus. Tapi kita baru mulai, dan eksperimen ini masih panjang.”
Tangannya yang bebas kini merayap turun ke perutmu, menyentuh kulit hangat tepat di bawah pusar. Di saat yang sama, bibirnya masih menempel erat di lehermu, memberikan kecupan-kecupan ringan yang bergerak turun hingga ke tulang selangka.
“Akhh, Senku-chan...” Kau benar-benar kehilangan kendali diri. Kau hanya bisa mengerang tertahan karena kedua tanganmu telah disabotase dan kau tidak diizinkan untuk melawan untuk apa pun. Namun, alih-alih merasa tersiksa, sentuhan-sentuhannya justru membuatmu kecanduan. “Senku-chan.. ahhh...”
Mendengar eranganmu yang setengah candu itu, Senku menghentikan gerakannya sejenak. Ia mendongak, menatap langsung ke matamu dengan sorot tajam yang perlahan meleleh menjadi hangat. Jari-jarinya bergerak naik menyusuri rahangmu, membelainya dengan sangat lembut, seolah ia sedang menghargai sebuah mahakarya yang berhasil tercipta di dalam laboratoriumnya.
“Suaramu itu sudah seperti katalis yang mempercepat detak jantungku,” ucap Senku dengan napas yang mulai memburu.
Ia kembali menunduk, menempelkan bibirnya dengan ringan di keningmu tanpa rasa tergesa-gesa. Sementara itu, tangannya yang lain merayap ke pinggangmu, menarik tubuhmu sedikit lebih dekat ke tepi meja laboratorium.
“Tapi kita belum masuk ke sesi utama. Kau siap untuk tahap selanjutnya?”
Kau hanya bisa mengikuti alur permainan yang dirancang oleh Senku. “Ahh, Senku-chan...” Keluhkanmu pasrah saat wajahnya mulai mencium area dadamu dan jemarinya memainkan putingmu perlahan.
Mendengar keluhanmu yang setengah pasrah dan merasakan tubuhmu yang mulai menggigil akibat sensasi yang menjalar, Senku menyeringai puas. Jari-jarinya yang menyentuh putingmu bergerak melingkar pelan, lalu memberikan tekanan ringan seolah sedang menguji sensitivitas milikmu.
“Sensitivitasmu di atas rata-rata,” gumam Senku, mengamati setiap perubahan fisikmu. “Reaksi yang sempurna.”
“Ahhh, Senkuuu-chann..” Badanmu mendadak menegang hebat saat bagian sensitif itu ditarik dan ditekan oleh jemarinya. Detik berikutnya, Senku mulai menjilatinya perlahan, menciptakan sensasi basah yang membuat eranganmu lolos lebih keras lagi. “Ahhh, Senkuu...”
Mendengar eranganmu yang nyaris melengking memecah kesunyian kamar, Senku menghentikan jilatannya sejenak. Ia mendongak untuk menatapmu dari balik kacamata laboratoriumnya yang sedikit bergeser akibat pergerakan mereka. Sinar lampu kamar membuat bayangan tajam di rahangnya, dan seringainya melebar penuh arti.
“Nah, itu dia,” kata Senku puas. “Reaksi yang kucari akhirnya muncul juga.”
Ia menunduk lagi, membiarkan bibirnya menyusuri dadamu menuju leher, meninggalkan jejak-jejak basah yang membuat tubuhmu menggigil kesenangan. Di saat yang sama, jari-jarinya yang bebas merayap turun ke perutmu, menyentuh kulitmu yang memanas dengan tekanan yang sangat presisi.
"Jangan salah paham," bisik Senku di sela ciumannya. “Semakin aku melihat reaksimu, semakin sulit bagiku untuk berhenti penasaran.”
Meja laboratorium itu mulai terasa terlalu keras dan dingin untuk ditoleransi lebih lama. Dengan sedikit ragu, kau menarik ujung pakaian Senku dan menatapnya memohon.
“Senku...” panggilmu pelan. “Maaf, ya. Aku janji bakal berusaha supaya tidak membuatmu cemburu lagi.”
Kau menggeser pandangan sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih kecil.
“Jadi... kalau memang kita mau melanjutkan, bisakah kita pindah ke tempat yang lebih nyaman? Setidaknya ke kasur.”
Mendengar permintaanmu itu, Senku menghentikan gerakannya. Ia menatapmu, dan seringainya melebar saat melihat ekspresi wajahmu yang dipenuhi rasa harap. Jari-jarinya yang tadinya bermain di perutmu naik menyusuri dasi yang mengikat pergelangan tanganmu, lalu membukanya dengan satu tarikan cepat.
“Permintaan yang masuk akal,” sahut Senku akhirnya. “Meja laboratorium memang kurang nyaman untuk eksperimen lanjutan.”
Dengan mudah, ia meraih pinggangmu dan mengangkat tubuhmu dari meja lab, membawamu dalam gendongan yang erat seolah sedang membawa barang berharga. Langkah kakinya mantap menuju kasur di sudut ruangan. Ia meletakkanmu dengan sangat hati-hati di atas selimut putih. Tak memberi celah, tubuh tegapnya langsung membayangimu saat ia berlutut di sampingmu. Senku membuka ikatan pada tanganmu perlahan.
Begitu menyadari tanganmu sudah terlepas dari ikatan, sebuah ide nekat melintas di benakmu untuk mencoba kabur dari kungkungannya. Namun dengan sigap dan cepat, Senku langsung menangkapmu. Alih-alih mendapatkan kebebasan, tindakan nekatmu itu berakhir dengan Senku yang mengikat kembali kedua tangan dan tambah kakimu di tempat tidur, mengunci posisimu dalam keadaan telentang sepenuhnya.
“Senku-chan... huhuhu, maafkan aku iyaa... aku janji tidak kabur...” rengekmu dengan suara setengah terisak menatap lurus ke arahnya.
Mendengar permintaan maafmu yang terdengar pasrah, Senku hanya menyeringai tipis. Ia duduk di pinggir kasur, menikmati pemandangan dirimu yang terikat dengan tangan dan kaki terentang di atas ranjang. Jari-jarinya menyentuh ringan pergelangan kakimu yang terikait, memberikan sedikit tekanan tegas sebelum akhirnya mengelusnya dengan lembut.
“Percobaan kaburmu justru menambah keseruan malam ini,” ucap Senku, sama sekali tidak terganggu. “Tapi kau sudah di posisi yang sempurna sekarang. Tidak ada jalan mundur.”
Ia kembali mencondongkan tubuhnya, memposisikan wajahnya tepat berada di atasmu. Napasnya yang hangat menerpa bibirmu, dan kacamata lab yang dikenakannya mulai sedikit berembun. Cahaya lampu kamar memproyeksikan bayangan yang jatuh dramatis di tulang pipinya yang tajam.
“Kau benar-benar berpikir bisa kabur sesukamu lalu kembali membuat permintaan?” ujar Senku sambil menatapmu lekat. “Tidak semudah itu.”
“Senku-chan... huee huhu maaf iyaa, janji tidak kabur...” Kau terus merengek memohon kelonggaran.
Namun, sang ilmuwan tidak berniat berhenti. Senku justru melanjutkan kegiatannya dengan menjilati kembali putingmu, sesekali menggigitnya gemas sembari tangannya bergerak perlahan membuka celana dalam putihmu.
Mendengar rengekkanmu dan melihat bagaimana tubuhmu mulai lemas tak berdaya, seringai tipis Senku kian melebar. Gigitannya yang ringan di dada membuat tubuhmu melengkung ke atas, tepat saat ia dengan perlahan menarik celana dalam putihmu melewati paha.
Kini, kau benar-benar terbuka sepenuhnya di hadapannya. Senku mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arahmu dari balik kacamata dengan sorot mata tajam yang kini sepenuhnya meleleh hangat oleh gairah.
“Reaksimu makin jujur,” ujar Senku puas. “Janji tidak kabur, tapi tubuhmu tetap gemetar seolah ingin lari. Dari sini, aku bisa lihat denyut nadimu naik lebih cepat, tidak stabil. Data yang menarik.”
Jari-jarinya mulai merayap naik menyusuri paha bagian dalammu, memberikan tekanan-tekanan ringan yang disengaja hingga membuat setiap otot di perutmu menegang seketika. Ia menunduk, mengembuskan napas hangatnya tepat di selangkanganmu. Bibirnya nyaris menyentuh kulit sensitifmu tanpa benar-benar menempel seperti sebuah godaan murni yang sukses membuatmu merinding hebat.
“Sekarang, tidak ada lagi yang bisa kau sembunyikan,” bisik Senku dengan suara yang kian berat. “Dari setiap sentuhan yang kuberikan reaksi kaulah yang paling kutunggu-tunggu.”
Jemari Senku mulai turun lebih jauh, menyentuh area bawahmu yang rupanya sudah basah. Menyaksikan hal itu, ia menyeringai lebar. Kau hanya bisa mengerang, perpaduan antara rasa malu yang luar biasa dan sensasi nikmat yang mendera, membuatmu memohon agar ia berhenti meskipun tubuhmu kian menegang. “Senku-chan... akkk sshh...stophh”
Mendengar eranganmu yang setengah memohon berhenti, Senku justru menundukkan kepalanya semakin dekat. Napas hangatnya menyapu kulit paha dalammu yang lembab. Seringai ilmuwannya melebar saat melihat tetesan bening mulai membasahi ujung jarinya yang menyentuh area sensitifmu dengan tekanan yang paling ringan.
“Kata ‘stop’ di mulutmu, tapi cairan ini mengatakan sebaliknya,” bisik Senku dengan nada penuh kemenangan. "Kau sudah terlalu jauh untuk mundur sekarang," ujar Senku pelan. "Dan malam ini, aku yang menentukan kapan semuanya berakhir." Ia menggigit bibir bawahnya ringan, menyalurkan rasa gemasnya sebelum perlahan menempelkan bibirnya ke ujung milikmu yang sudah menegang sepenuhnya. Namun, ia sengaja menghentikan gerakannya di sana, hanya untuk mendongak dan menatapmu dari bawah, menunggu dengan sabar apakah kau benar-benar ingin ia berhenti atau hanya pura-pura meronta menikmati hukuman ini.
Matamu kini sudah lumayan berair. Hukuman ini benar-benar membuatmu malu, tetapi di sisi lain, kau tahu kalau Senku dan dirimu sendiri sangat menikmatinya. “Senku-chan... huumm... kumohon...” rintihmu pasrah, bersiap menghadapi puncak dari malam itu.
Mata Gen yang mulai berkaca-kaca hanya membuat Senku semakin penasaran. Detik berikutnya, tanpa menghiraukan rengekan pasrah pasangannya, Senku memasukkan satu jarinya perlahan ke dalam tubuh Gen yang sudah basah. Sensasi itu terasa asing namun hangat saat jarinya bergerak dengan ritme yang sangat diperhitungkan.
“Dinding dalammu menjepitku dengan sempurna, Gen. Ini reaksi yang lebih jujur dari kata ‘kumohon’ yang kau ucapkan. Perlawananmu justru membuat ini semakin menarik,” gumam Senku dengan seringai tipis di balik kacamatanya yang sedikit berembun. Ia menekuk jarinya sedikit, sengaja mencari titik sensitif yang membuat napas Gen langsung tersengal, sementara tangan satunya menekan lembut pergelangan tangan Gen yang terikat ke kasur.
Saat jemari Senku berhasil menemukan titik nikmat tersebut, tubuh Gen seketika memanas dan menegang hebat. Senku menghentikan gerakannya sejenak, menikmati reaksi tubuh itu, sebelum akhirnya mempercepat gerakan dengan tekanan yang sangat tepat. Tubuh Gen melengkung tinggi ke atas mencari lebih banyak kontak, napasnya tersengal-sengal di antara erangan yang tak tertahankan, “Ahhhhh... s-shenkuuuuh chan...”
“Titik nikmatmu berhasil ditemukan dan reaksi yang sempurna. Tapi ini baru fase pertama, Gen. Masih ada beberapa hal yang harus diuji sebelum kau mencapai puncak,” sahut Senku penuh kemenangan.
Untuk melonggarkan dan mempersiapkan titik klimaks nanti, Senku menambahkan jari kedua ke dalam tubuh Gen. Ia menggerakkannya dalam ritme konsisten yang menekan titik sensitif secara presisi, sementara ibu jarinya menyentuh lembut bagian luar yang kian basah. “Kamu pas sekali. Semakin kuberi tekanan, semakin jujur reaksimu,” bisik Senku dengan suara serak tepat di dekat telinga Gen setelah mengecup ringan bibirnya yang terbuka. Tubuhmu mulai merasakan sebentar lagi puncaknya tetapi senku tiba-tiba memperlambat pergerakannya dan berbisik “Puncakmu sudah di depan mata. Tapi ingat, aku yang menentukan kapan kita selesai.”
Mendengar gertakan itu, air mata Gen akhirnya jatuh. Ia merengek pelan, menuduh sang ilmuwan kejam meski dalam hati ia sangat menikmati kombinasi rasa malu dan nikmat tersebut. Senku menghentikan gerakan jarinya sejenak, mendongak untuk menghapus air mata di pipi Gen menggunakan ibu jarinya. Setelah mengecup ringan kelopak mata yang basah, ia kembali ke posisinya. Namun, alih-alih melambat, jemari Senku justru bereaksi sebaliknya, ia mengocok dengan penuh tenaga. Tepat saat cairan Gen hampir keluar, Senku tiba-tiba menarik jarinya dan berhenti total.
“Akhh... Senku-chan memang kejam...” erang Gen frustrasi.
Senku hanya menyeringai puas sembari menjilati cairan basah di jarinya sendiri dengan tatapan menggoda. “Ini metode menahan kepuasan. Menahan reaksi sesaat justru memperkuat intensitas ledakannya nanti.” Ia lalu membisikkan desahan hangat di telinga Gen sembari menyentuh dasar paha dengan pola zig-zag yang memicu kejut menggelitik.
Memasuki aktivitas klimaks yang sesungguhnya, Senku mengeluarkan miliknya yang sudah menegang sepenuhnya dan mulai menggesekkannya perlahan di permukaan lubang Gen yang basah dan menganga. Kehangatan serta kelembaban tubuh Gen membuat Senku sendiri harus menggigit bibir bawahnya menahan diri, sementara napas cepatnya membuat kacamatanya kian berkabut.
“Persiapan sudah sempurna. Suhu, kelembaban, dan kerapatan. Semua menunjukkan kondisi yang optimal. Sekarang, fase utama dimulai.”
Secara perlahan namun pasti, Senku menekan pinggulnya ke depan, memasukkan ujungnya sedikit demi sedikit demi memberi waktu bagi tubuh Gen untuk menyesuaikan diri. Tangan bebasnya meraih pergelangan tangan Gen yang terikat, menekannya ke atas kepala, sementara napas hangatnya berdesir di telinga. “Katakan padaku, Gen... Apakah tubuhmu sudah siap menerima seluruh diriku? Atau kau masih butuh waktu untuk menenangkan detak jantungmu yang berdegup kencang ini?”
“Ahhhhhkk... Senku-chan...” Gen mengerang panjang saat lubangnya terisi penuh. Tubuhnya bergetar hebat dengan detak jantung yang berdebar tak karuan.
Tanpa membuang waktu, Senku memulai temponya. Gerakannya dimulai dengan perlahan, namun ia dengan sengaja menusuk dalam pada setiap hentakannya. Menikmati kehangatan ketat yang membungkusnya, Senku melihat bagaimana tubuh mereka menyatu sempurna sebelum menatap wajah Gen yang memerah dengan tatapan yang memadukan rasa sayang dan sifat posesif.
“Variabel kecepatan dan tekanan harus seimbang untuk mencapai hasil maksimal.” Senku sedikit mempercepat ritme dorongannya, menekan pinggulnya lebih dalam di setiap hentakan, lalu membungkuk untuk mengecup leher Gen yang mulai basah oleh keringat. “Kontrol napasmu, Gen. Permainan ini baru akan mencapai fase paling menarik jika kau bisa bertahan sampai akhir.”
Setiap tusukan dalam dari Senku berhasil memaksa desahan demi desahan putus-subur keluar dari mulut Gen. Tak berhenti di situ, bibir Senku terus bermain di dada Gen, menjilati dan memberikan gigitan-gigitan ringan pada putingnya hingga meninggalkan bekas kemerahan yang terasa sedikit perih namun sangat nikmat.
“Bagus itu yang ingin kudengar,” gumam Senku saat mengangkat wajahnya dengan napas hangat yang memburu di depan bibir Gen. “Frekuensi desahanmu selaras sempurna dengan ritme jepitan di dalam sini.”
Sambil terus mempertahankan tempo dorongannya yang intens, Senku membungkuk dan menangkup wajah memerah Gen dengan satu tangan. Ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi yang basah oleh perpaduan keringat dan sisa air mata. Tatapan matanya melembut sejenak di antara kilau gairah yang liar. “Ah, ekspresi ini... antara ingin menjauh tapi justru makin merapat. Kau sempurna.”
Gen menatap lurus pada manik mata Senku, tak mampu lagi menahan rentetan desahan karena ritme konstan yang terus disodorkan padanya. Melihat bibir pasangannya yang terbuka tanpa daya, Senku mengambil inisiatif untuk membungkam suara tersebut dengan mulutnya sendiri.
Ciuman itu terjadi dengan sangat dalam dan penuh kendali. Lidah Senku menyusup masuk, mengeksplorasi setiap sudut rongga mulut Gen seiring dengan ritme dorongan bawahnya yang tetap stabil dan bertenaga. Di dalam kamar yang sunyi itu, ego ilmiah Senku runtuh, digantikan oleh harmoni suara basah tautan bibir dan sisa erangan tertahan yang menyatu menjadi satu kesimpulan malam itu.
Ciuman dalam yang mematikan ingatan itu perlahan terurai saat Senku menarik wajahnya sedikit. Jarak tipis yang tersisa di antara bibir mereka yang basah dipenuhi oleh desau napas yang memburu. Senku menangkap pandangan Gen dengan sepasang mata yang sedikit sayu—sebuah pemandangan langka yang memancarkan kombinasi aneh antara kehangatan tulus dan rasa kepemilikan yang tenang.
“Lebih efisien begini,” bisik Senku dengan sisa serak di suaranya. Sambil berbicara, jemarinya yang bebas meremas pinggul Gen, mendorong tubuh lelah itu untuk menerima setiap sisa hentakannya yang semakin dalam.
“Rasanya sudah mendekati ambang batas puncak,” gumam Senku, menyeringai tipis saat merasakan bagian dalam Gen menjepitnya luar biasa ketat. “Tapi seperti biasa, aku yang menentukan garis akhirnya. Kau ingin menghentikan laju ini, atau kau ingin kutambahi satu ronde lagi?”
Gen, dengan sisa-sisa kesadaran yang nyaris terkikis habis oleh gelombang kenikmatan, mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk berbicara di antara hentakan Senku yang justru semakin kencang. “Akhhh... Senkuu-chan... t-teruskan... ahhh... l-lagi...” Racauan pasrah itu sewarna dengan kepastian bahwa mereka berdua sudah berada di tepi jurang pelepasan.
Mendengar konfirmasi yang terputus-putus itu, seringai Senku melebar. “Pilihan yang bagus. Kalau begitu, kita percepat fase akhir. Jangan sampai kau pingsan sebelum puncaknya terkumpul sempurna.” Ia memacu ritme dorongannya, merapatkan dada bidangnya pada dada Gen yang naik turun dengan sangat cepat. Satu tangan Senku mencengkeram erat pinggul Gen, mengunci posisi mereka agar setiap dorongan terasa semakin dalam, sementara napas beratnya yang menyerupai desahan tertahan berembus panas tepat di telinga Gen.
“Kita hampir sampai di puncak. Rasakan setiap gelombangnya, Gen. Malam ini, aku yang akan mengukur seberapa jauh batas kenikmatanmu,” tantang Senku dengan kepala menunduk sejajar dengan dada pasangannya. Gen semakin meracau, memanggil nama ilmuwan di atasnya berulang kali saat kepalanya mendongak pasrah.
Mendengar namanya disebut dalam nada yang nyaris putus asa, Senku membenamkan wajahnya ke lekuk leher Gen yang basah oleh keringat, memberikan dorongan-dorongan presisi yang membuat kacamata sang ilmuwan hampir lepas. Ia tidak peduli. Seluruh fokusnya tersedot pada rona merah di wajah Gen. “Semuanya akan tercatat sempurna. Tahan sebentar lagi, Gen. Nikmati setiap detiknya saat semua yang kita tahan akhirnya runtuh bersamaan.”
“Senkuu-chan... aku ingin keluar... ahhh... Senkuu-chan... Senkuuu-chan... sayangg...”
Tepat saat kata penutup yang intim itu lolos dari bibir Gen, pelepasan itu tiba. Cairan hangat milik Senku menyembur deras, memenuhi bagian dalam lubang Gen yang menjepitnya dengan denyutan konvulsif. Senku mengerang panjang di ceruk leher Gen, tubuhnya menegang hebat untuk beberapa detik menikmati sisa klimaks sebelum memberikan satu dorongan terdalam sebagai penutup dari seluruh rangkaian malam itu.
Napas mereka berdua berpadu berat di dalam keheningan kamar. Senku perlahan menarik dirinya keluar, menampilkan pemandangan kontras lubang Gen yang basah melepaskan sisa cairan putih miliknya. Gen tergeletak sepenuhnya tanpa sisa tenaga di atas kasur.
Sambil mengusap keringat di dahinya sendiri, Senku memperhatikan hasil akhir tersebut dengan menyeringai tipis. “Data klimaks tercatat sempurna. Tapi kau memanggilku ‘sayang’ di akhir tadi... itu hal baru yang tidak ada dalam perhitungan awalku,” godanya dengan sorot mata yang melunak jenaka. Ia meraih handuk bersih di dekat tempat tidur, lalu dengan gerakan lembut yang sangat kontras dengan intensitas brutal beberapa menit lalu, ia mulai membersihkan sisa cairan dan keringat di tubuh Gen. Sentuhan jarinya di paha Gen yang masih gemetar menyisakan sensasi hangat yang menenangkan.
“Istirahat juga bagian penting dari prosesnya,” ucap Senku seraya menunduk untuk mengecup lembut bahu Gen yang sedikit lecet akibat gesekan.
Ia memperhatikan Gen sejenak, memastikan kondisinya baik-baik saja sebelum melanjutkan,
“Jangan memaksakan diri.”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Tapi kurasa aku akan mengingat malam ini untuk waktu yang lama. Kau tidak keberatan, kan?”
Tangan Senku bergerak perlahan membuka ikatan tali di pergelangan tangan Gen. Kulit yang memerah akibat kekangan itu ia usap dengan sangat lembut, sebelum jemarinya menyisir helai rambut Gen yang basah.
Melihat perlakuan manis itu, Gen berbisik lirih dengan sisa suaranya yang serak, “Senku-chan... maaf untuk yang di kampus tadi... dan terima kasih untuk semuanya...”
Mendengar ucapan yang mendadak serius, tangan Senku yang tengah mengelus pipi Gen mendadak terhenti. Ia menatap pasangannya dalam diam selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengulas senyum kecil. Sebuah senyuman tulus tanpa ada nada sindiran ilmiah di dalamnya. Jarinya turun, menggenggam dan meremas lembut jemari Gen yang masih lemas.
“Permintaan maafmu tidak perlu dipikirkan lagi,” ujar Senku santai. “Soal kejadian di kampus, anggap saja gangguan kecil. Tidak cukup penting untuk terus kubahas.”
Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih ringan.
”Tapi ucapan terima kasihmu...” matanya menatapmu beberapa saat lebih lama. “Kurasa yang itu layak kusimpan.” Senku membungkuk, mengecup punggung tangan Gen yang berada dalam genggamannya, lalu menarik selimut tebal untuk membungkus tubuh lelah pasangannya hingga sebatas dada.
Sebuah desahan pelan yang rileks keluar dari bibir Senku saat ia ikut merebahkan diri di sisi Gen. “Jangan salah paham,” ujar Senku sambil menyelimutimu. “Masih ada banyak hal yang belum sempat kita bahas.” Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Tapi untuk malam ini, istirahat saja. Kau sudah cukup lelah.” Ia mengalihkan pandangan sejenak sebelum menambahkan, “Dan saat kau bangun besok, jangan heran kalau aku sudah punya beberapa ide baru.”
Dengan pelukan hangat yang menutup malam, sang ilmuwan memastikan bahwa subjek eksperimen berharganya tertidur dalam kondisi paling aman.
메타데이터
- post_id
- 635560ea14a2
- slug
- eksperimen-sang-ilmuwan-posesif-635560ea14a2
- url
- https://medium.com/@mygky/eksperimen-sang-ilmuwan-posesif-635560ea14a2
- canonical_url
- https://medium.com/@mygky/eksperimen-sang-ilmuwan-posesif-635560ea14a2
- author_url
- https://medium.com/@mygky
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 12:17:11