← Back to list

Cara Menikmati Kontestasi Pilpres

Mencerdaskan Nalar, Meningkatkan Daya Gedor

Sirod Muhammad · 2023-10-23 00:48 · 0 claps · 3.9 min read
#kontestasi #seleksi-kepemimpinan #pilpres #pilkada #pileg
Open on Medium ↗

Cara Menikmati Kontestasi Pilpres

Mencerdaskan Nalar, Meningkatkan Daya Gedor

Photo by Touann Gatouillat Vergos on Unsplash

Photo by Touann Gatouillat Vergos on Unsplash

FLASHBACK 26 TAHUN LALU

Belajar dari pengalaman mengikuti kontestasi, rasa-rasanya di usia 45an sekarang ini saya lebih banyak menikmati proses ini untuk pengembangan diri saya saja.

Agak mengherankan sebenarnya, karena mustinya mentalitas dan kesadaran ini tumbuh sedari dulu sejak usia belia, 17an misalnya. Circa 97-an, saat saya dengan gagahnya menolak permintaan pembina osis di sekolah untuk membaca deklarasi di belakang orde baru. Saat itu saya yang dipercaya menjadi Ketua OSIS oleh mereka, merasa gagah betul menolak “tekanan” pihak sekolah.

Di depan rumah saya, saya tancapkan 5 umbul-umbul berwarna-warni termasuk hijau dan merah tak hanya kuning sebagai pertanda rumah saya terbebas dari tekanan golkar dan orba. Walau alm. Ayah adalah anggota perkapen (persatuan karyawan perkebunan) yang dipaksa mengikuti Golkar, ibu bersikukuh tetap memilih PPP saat itu. “Perlawanan” ibu ini saya lanjutkan dengan lantang menentang kakek, paman dan saudara-saudara saya yang terlihat “takluk” menjadi kaki tangan Golkar pada masa itu.

Belum cukup, saya datangi kantor cabang PPP di Purwakarta, mendaftarkan nama saya sebagai saksi pemilu sehingga, saya menjadi saksi pilpres 1997 di kampung saya berhadapan dengan kerabat saya sendiri. Wuih, deg-degan rasanya, dan terlihat hebat… (kayaknya)

MOMEN BELAJAR DAN PERBAIKAN DIRI

Photo by name_ gravity on Unsplash

Photo by name_ gravity on Unsplash

Saya melihat kontestasi di manapun: organisasi siswa, mahasiswa (intra dan antar kampus), kepemudaan, bisnis seperti HIPMI atau KADIN, memberi banyak ruang untuk kita belajar dan memperbaiki diri.

Dalam setiap “pertarungan” adu gagasan dan ketokohan tersebut, selalu saja ada modal untuk saling koreksi, saling meniru hal-hal baik bahkan berujung pada peningkatan kapasitas pribadi masing-masing dalam momen seleksi kepemimpinan tersebut.

Menghadapi kontestasi dengan menjadi penonton saja banyak hikmah yang bakal didapatkan, apalagi kita menjadi bagian kontestasi tersebut. Terpenting, menyiapkan diri dan mentalitas “gelas kosong” agar diri ini selalu bertambah baik setiap saat.

Berkumpulnya banyak orang-orang hebat dalam momen begini membuka kita berkenalan dan memperdalam kelebihan-kelebihan orang-orang tersebut. Dalam momen biasa, terkadang untuk bertemu memerlukan forum bisnis dan berbayar, tetapi dalam kontestasi politik mereka-mereka ini lebih mudah diakses karena turun gelanggang ada yang mereka cari dan inginkan. Pintar-pintar bersosialisasi, menggali informasi dan jika memungkinkan mengeksekusinya menjadi lahan rejeki bisnis tentunya.

MENGAMBIL CERUK MARKET

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David E. Sumual menuturkan bahwa faktor pemilihan umum (Pemilu) dapat memberikan sumbangan sekitar 0,15% — 0,2% dari baseline pertumbuhan ekonomi.

Artinya banyak sekali kesempatan untuk meraih untung dalam putaran ekonomi ini. Sebuah laman web pengusaha di Jakarta memberi contoh-contoh kegiatan yang dapat dimanfaatkan kita memperoleh cuan di masa pemilu ini. Percetakan, Konsultan Personal Branding, Survey Popularitas & Elektabilitas Caleg sampai menjadi Event Organizer kegiatan politik adalah contoh-contoh yang dapat kita lakukan yang dapat menghasilkan uang.

Tidak perlu membayangkan skala besar dan nasional, cukup 1–2 customer yang datang dari calon legislatif saja, tentu hasilnya sudah lumayan.

MENTALITAS PEMBELAJAR

Photo by Dikaseva on Unsplash

Photo by Dikaseva on Unsplash

Pernah melihat tim kampanye atau konsultan para capres? sulit menemukan mereka menghina atau mencela paslon lain bukan? tindakan ini akan menjadi backfire kepada paslon yang ia dukung.

Seyogyanya juga kita, hindari kebencian yang diungkapkan berlebihan. Tidak suka boleh dan wajar, bahkan ini menjadi kontrol politik dan pencerdasan kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi jika habis waktu kita mencela kelompok atau tokoh politik di seberang sana, lantas apa untungnya untuk menjadikan diri ini lebih baik dari waktu ke waktu?

Dunia makin tua, perang di mana-mana, suhu panas karena “matahari terasa mendekati bumi” telah terjadi, gak usah sibuk urus aib orang lain

Memperkaya perspektif dengan mencoba memahami alur berpikir lain, atau sisi lain dari tokoh yang kita benci misalnya, itu juga tak kalah pentingnya. Hal ini akan menghilangkan sisi buruk benci dan dengki dalam diri, berbuah pada perbaikan karakter pribadi secara terus menerus. Hal ini yang saya kelola dalam diri saya, ketika saat mahasiswa dulu, ada kebencian sangat pada sosok almarhum Gus Dur misalnya. Debat terbuka dengan guru saya alm. Aji Hermawan di sebuah mailing list saya lakukan, tetapi saya simpan catatan beliau untuk saya pelajari nanti-nanti siapa tahu berguna.

Benar saja, semakin lama saya akhirnya mengagumi Gus Dur, dan bukan itu saja saya kini menjadi salah satu pengurus sayap organisasi NU dan mengikuti pengkaderan ala Nahdlatul Ulama di Pelatihan Kader Penggerak NU. Indah bukan?

DARI DISKUSI KE SILATURAHMI

Saya bukanlah contoh teladan untuk diskusi yang adem, hangat apalagi inspiratif. Sisi emosional saya seringkali mengalahkan keindahan pertemanan dan silaturahmi. Hal ini saya akali dengan terus-menerus memperbaiki dalam cara berdiskusi di medsos, mengurangi jam mengakses media sosial dan bertemu dengan kawan-kawan diskusi tersebut di ruang nyata.

Rugi rasanya pemilihan di kita yang kebanyakan menggunakan metoda OMOV (one man one vote) di mana mutu argumen seseorang dianggap sama rata, antara yang faham dan yang tidak lalu menjadikan kita hanya blok-blok-an dan dukung-dukungan tanpa narasi yang jelas. Bila berbeda saling hina, bila sama saling puja puji. Keduanya sama bodohnya menurut hemat saya, malah menimbulkan kedunguan-kedunguan nalar yang khawatirnya gagal mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bertemu atau setidaknya mengadakan google meet misalnya, akan meminimalkan kesalahfahaman diskusi berbasis teks dan meme di whatsapp group dan kolom-kolom media sosial. Jika isi grup hanya berisi hujatan, hinaan dan cacian, lebih baik dihindari atau setidaknya baca dari nomor yang jarang kita akses, menghindari input negatif berlebihan. Dan apabila kita ingin mengintip percakapan yang ada, kita sudah menyiapkan diri dan lebih sehat dan bijak menyelaminya.

Depok, Oct 10, 2023


메타데이터
post_id
636415cedf6f
slug
cara-menikmati-kontestasi-pilpres-636415cedf6f
url
https://medium.com/@msirod/cara-menikmati-kontestasi-pilpres-636415cedf6f
canonical_url
https://medium.com/@msirod/cara-menikmati-kontestasi-pilpres-636415cedf6f
author_url
https://medium.com/@msirod
status
ok
fetched_at
2026-06-29 01:02:39