Caraku Memberi Makna
Menjelang tidur tadi malam, saya menyempatkan diri untuk melihat kalender dan menghitung berapa hari lagi menuju deadline pendaftaran…
Caraku Memberi Makna
Foto oleh Julien di Unsplash
Menjelang tidur tadi malam, saya menyempatkan diri untuk melihat kalender dan menghitung berapa hari lagi menuju deadline pendaftaran sidang skripsi di kampus. Namun, hal yang menjadi titik fokus saya setelah melihat kalender tidak lagi tentang sidang skripsi tersebut, melainkan kalender itu yang sudah menunjukkan paruh kedua tahun 2026.
Dalam diam, saya mulai merekap dalam pikiran tentang apa saja yang sudah saya capai atau hal baik apa yang sudah saya lakukan untuk diri saya sendiri di tahun ini.
Setelah merekap kasar tentang semua itu, saya akhirnya menyadari bahwa tahun ini tak ada perkembangan yang signifikan terhadap diri saya sendiri. Bahkan banyak hal yang sebetulnya tidak perlu saya lakukan, tapi tetap saja saya lakukan. Dari segi bacaan juga tak banyak yang bisa diceritakan, malah rasanya tahun ini jauh lebih buruk dari tahun kemarin.
Di tahun ini, saya sering tak tidur malam hanya karena hal-hal yang sebetulnya sepele. Ditambah lagi kebingungan saat proses menyelesaikan skripsi membuat semuanya semakin runyam. Saya mulai mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya absurd tentang hidup itu sendiri. Seperti, kenapa kita sangat takut dengan kegagalan di masa muda? Kenapa semua hal harus diukur dengan standar produktif yang sama? Atau kenapa kita sangat takut dengan ketertinggalan? Karenanya, saya mulai melampiaskan kebingungan itu dengan mencari teori-teori yang relevan dengan keresahan saya. Hingga akhirnya saya menemukan beberapa pemikir macam Camus, Sartre, dan Cioran.
Setelah membaca dan mencari tahu tentang mereka bertiga, saya menjatuhkan pilihan saya pada Camus yang menjelaskan bahwa hidup itu absurd. Karenanya, tugas kita dalam menghadapi keabsurdan itu bukan lagi tentang mencari makna atas hidup, tapi membentuknya menurut versi kita sendiri.
Melalui novelnya yang berjudul Orang Asing, Camus sudah memperlihatkan “keabsurdan” pemikirannya melalui karakter bernama Meursault. Diceritakan bahwa Meursault merespons kematian ibunya dengan menghitung hari dan jadwal bus (“Hari ini ibu meninggal. Atau mungkin kemarin, aku tidak tahu. Aku menerima telegram…”). Dia memperlakukan peristiwa besar seperti kematian hanya sebagai kumpulan rutinitas seperti biasanya. Namun, sikap tanpa ekspresi Meursault terhadap peristiwa besar itu seperti menampar diri saya sendiri.
Keresahan saya saat melihat kalender tadi malam bersumber dari cara pandang yang lahir bukan dari diri saya, melainkan dari standar yang ditentukan oleh sistem — mungkin. Saya resah ketika menyadari bahwa waktu telah berada di paruh kedua tahun 2026 karena tanpa disadari saya membiarkan kalender menuntun diri saya. Sistem berhasil mendoktrin saya untuk selalu cemas terhadap waktu yang terus maju. Kemudian memaksa saya harus merasa bersalah jika tak ada perkembangan yang signifikan dalam 365 hari, dan menakut-nakuti saya dengan bayangan masa depan yang sangat tidak jelas.
Melalui ketidakpedulian Meursault, saya akhirnya memilih melihat paruh kedua tahun ini dengan cara yang agak berbeda. Saya memilih untuk menyikapinya dengan kehendak saya sendiri, karena tak bisa dipungkiri bahwa waktu akan terus berjalan, dan sistem ini akan terus-menerus seperti itu. Namun, jika hidup ini memang absurd, maka angka 2026 semestinya tidak memiliki kemampuan untuk meneror saya.
Penilaian bahwa tahun ini lebih buruk dari tahun kemarin hanyalah jebakan yang saya buat dengan berlandaskan sudut pandang orang lain (sistem). Oleh karenanya, di sisa tahun ini, saya memilih berhenti menghakimi diri saya sendiri. Saya akan menjalani hari-hari ke depan dengan apa adanya, dengan kesadaran dan makna yang saya tentukan sendiri.
메타데이터
- post_id
- 6387c3ccd637
- slug
- caraku-memberi-makna-6387c3ccd637
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/caraku-memberi-makna-6387c3ccd637
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/caraku-memberi-makna-6387c3ccd637
- author_url
- https://medium.com/@muhammadnrdin25
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 18:29:56