← Back to list

Dari Warung Kopi Saya Sadar, Kuliah itu Kekanak-Kanakan

Sudah hampir genap empat semester lamanya, saya menjalani rutinitas sebagai seorang mahasiswa. Masa-masa yang sebenarnya banyak membuat…

Fair Naza in Literasi · 2018-06-28 08:00 · 14 claps · 6.2 min read
#lico #warkop #kooperasi-media #mahasiswa
Open on Medium ↗
Wiki topics: AIM · AI in Marketing

Ilustrasi oleh Jae Anam

Ilustrasi oleh Jae Anam

Dari Warung Kopi Saya Sadar, Kuliah itu Kekanak-Kanakan

Sudah hampir genap empat semester lamanya, saya menjalani rutinitas sebagai seorang mahasiswa. Masa-masa yang sebenarnya banyak membuat beban dan masalah-masalah baru dalam kehidupan remaja saya yang agak suram ini. Saya pada awalnya masuk kuliah dengan penuh antusiasme sebagai seorang pemuda yang mulai gemar membaca buku-buku dan mulai haus dengan ilmu pengetahuan, paling tidak menurut ukuran penilaian saya waktu itu.

Sebelum masuk kuliah, saya sudah melahap beberapa buku karangan Pramoedya Ananta Toer, esai-esai pendek Goenawan Mohammad, catatan harian Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib, beberapa buku sejarah Indonesia ataupun dunia, dan beberapa buku-buku filsafat dasar meskipun belum sistematis dan mendalam betul saya pelajari semua buku-buku itu. Gairah saya untuk terus menggali dan mengetahui segala macam pengetahuan di waktu-waktu sebelum masuk kuliah itu saya rasakan begitu besarnya. Hal itu pula yang membuat saya berpikir untuk menekuni dunia akademis dan intelektual ini lebih jauh, sehingga saya putuskan untuk masuk di institusi perguruan tinggi, tentu saja dengan alasan untuk tetap menjaga semangat mencari tahu ilmu itu. Saya putuskan untuk memilih jurusan Sastra Indonesia, karena cuman itulah yang saya rasa paling pas untuk menjaga minat saya dalam membaca buku-buku.

Terkait perjalanan saya mengikuti proses seleksi untuk masuk di dalam perguruan tinggi, saya rasa tidak perlu detail betul saya kisahkan. Karena bagi saya itu masa lalu yang cukup menyakitkan. Saya adalah korban penolakan dari sistem seleksi bernama Seleksi Bersama Masuk Pergurun Tinggi Negeri (SBMPTN). Dalam kegalauan dan patah hati waktu itu, saya akhirnya memilih perguruan tinggi swasta Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang bertempat di Jogjakarta. Alasan saya memilihnya, pertama, karena biaya kuliah di UAD terutama untuk Sastra Indonesia terbilang yang paling murah di kampus itu. Kedua, karena saya tidak punya pilihan lagi. Itulah nasib yang sering saya alami, tidak punya pilihan lain karena pilihannya cuma satu, bahkan kadang-kadang tak ada.

Singkat cerita, saya akhirnya diterima sebagai mahasiswa di UAD. Saya benar-benar antusias untuk mengikuti proses kuliah di awal-awal waktu itu. Saya bayangkan akan begitu banyak ruang dan kesempatan untuk meningkatkan dan menjaga semangat saya dalam belajar selama menjadi mahasiswa di dalam proses kuliah. Tapi pada akhirnya secara perlahan-lahan kekecewaan demi kekecewaan mulai terukir kembali di dalam hati saya yang penuh luka ini. Semakin ke sini, semangat saya untuk belajar justru semakin turun. Jadwal kuliah yang padat dan disertai dengan terlalu banyaknya aturan yang membelenggu kehendak anak-anak muda seperti saya benar-benar menyiksa dan menyita waktu saya.

Saya tidak bisa lagi mebagi fokus karena terlalu banyak yang harus diurusi terkait dengan perkuliahan. Saya tidak lagi punya banyak kesempatan membaca buku-buku, karena waktu kosong saya pun mau tidak mau saya pakai untuk istirahat menghadapi perkuliahan pada jadwal-jadwal selanjutnya. Saya pun tidak punya banyak teman untuk diskusi ilmu pengetahuan di dalam kelas. Apa yang saya lakukan sebelum kuliah, yakni berdiskusi dengan tembok rumah setelah selesai membaca satu buku sepertinya lebih memberi efek yang produktif dan kepuasan tersendiri bagi diri saya ketimbang mengikuti proses kuliah di dalam kelas.

Dosen-dosen yang menerangkan materi kuliah pun bagi saya hanya memberikan suara-suara kosong yang lebih mirip lagu pengantar tidur, begitu membosankan dan membuat kantuk. Mereka bahkan hampir tidak pernah menyinggung masalah-masalah sosial sekitar ataupun masalah kesusastraan yang paling terkini misalnya. Saya selalu kesulitan menangkap inti materi-materi pembicaraan yang mereka kemukakan. Apa yang mereka sampaikan, dalam penangkapan saya, hanya membahas persoalan yang khas dalam pembicaraan mereka sebagai generasi yang sudah mulai tua, sehingga mahasiswa yang mereka hadapi yang notabene merupakan generasi yang jauh dari mereka tidak dapat menangkap model pembicaraan khas orang tua itu, kalau tak mau dikatakan tak punya ketetarikan untuk mendengarnya. Itu belum lagi ditambah dengan suasana pergaulan yang sangat berjarak dan eksklusif yang mereka bangun dengan para mahasiswa di dalam maupun di luar kelas. Memang tidak semua dosen yang ada memiliki karakteritik semacam itu, ada juga beberapa yang memiiki metode pembelajaran yang cukup menarik. Hanya saja jumlah dosen seperti itu tak begitu banyak jumlahnya dibandingkan dengan yang saya terangkan di atas.

Bersamaan dengan keadaan semacam itu, beruntunglah saya menemukan dunia pergaulan baru, saya sebut saja dunia baru itu dengan nama dunia pergaulan warung kopi (warkop). Saya mulai mengenal dunia ini sejak saya menjadi salah satu pekerja di warkop bernama Literasi.co (Lico). Warkop ini adalah badan usaha yang didirikan dengan asas ekonomi kooperasi.

Ekonomi kooperasi merupakan sistem perekonomian yang dalam prakteknya mengedepankan gotong royong dalam bekerja. Dalam model ekonomi ini ada sebentuk organiasi kooperasi yang dibuat, setiap anggota kooperasi yang ada dalam organisasi itu memberikan iuran berupa dana sebagai modal usaha secara sukarela, modal usaha itulah yang akan digunakan untuk membentuk badan usaha yang dikelola oleh anggota secara gotong-royong. Badan usaha yang ada itu dijalankan untuk memutar dan mengembangkan modal usaha yang berasal dari iuran tadi, sekaligus juga, untuk menghidupi organisasi kooperasi maupun anggotanya.

Badan usaha yang dibentuk dari modal usaha itu misalnya, diwujudkan dalam bentuk warkop Lico. Jadi, warkop Lico merupakan badan usaha kooperasi dengan kepemilikan bersama yang dibentuk untuk menghidupi para anggota kooperasi melalui pembagian sisa hasil usaha yang biasanya dilaksanakan dalam rapat besar anggota koopreasi satu tahun sekali. Format ekonomi semacam ini diracik dari konsep ekonomi kooperasi Muhammad Hatta dan juga D.N. Aidit.

Saya mendapatkan akses untuk bekerja di warkop Lico melalui keterlibatan saya dalam kepengurusan redaksi di salah satu pers mahasiswa (persma) Jaganyala. Pada waktu itu, kondisi warkop Lico baik secara ekonomi maupun keorganisasian di dalamnya sedang dalam keadaan terpuruk karena konsep kooperasi yang dibayangkan di atas tidak berjalan secara maksimal. Nasib warkop ini pada saat itu berada dalam keadaan hidup segan mati tak mau karena dana atau modal usaha yang tak cukup untuk melanjutkan pengoperasiannya. Dalam keadaan itu, para pengurus persma Jaganyala mengambil inisiatif untuk menjadi pengelola warkop dan menargetkan untuk memperoleh modal usaha sebesar, kurang lebih 3–7 juta dalam jangka waktu tiga bulan. Hal itu memang hampir mustahil karena kondisi pemasukan warkop Lico dalam sebulan masih tidak stabil, bergantung pada jumlah pelanggan warkop yang masih fluktuatif setiap hari, kadang banyak kadang juga sedikit.

Meskipun demikian, teman-teman persma Jaganyala tetap mengambil resiko untuk menjadi pengelola warkop dengan beberapa pertimbangan. Pertama, apabila tetap berlanjut, maka warkop Lico dapat terus menjadi ruang publik dan ruang belajar/diskusi alterntif, terutama bagi teman-teman Jaganyala sendiri yang tidak mendapatkan ruang belajar yang cukup di kampus (UAD). Kedua, warkop Lico dapat menjadi laboratorium bagi Jaganyala untuk menguji kerja-kerja organisasinya, baik itu dalam bentuk kerja jurnlistik maupun kerja ekonomi (pengelolaan warkop). Ketiga, sebagai ruang, Jaganyala dapat menggunakan warkop Lico untuk menjahit jaringan dengan organasasi/gerakan lain, baik itu mahasiswa ataupun masyarakat. Terakhir warkop ini dapat pula menjadi tempat untuk melangsungkan jalinan asmara percintaan bagi anggota-anggota Jaganyala. Pertimbangan-pertimbangan ini tidak akan saya bahas lebih jauh bagaimana implementasi dan kelangsungannya, mungkin akan saya bahas dalam tulisan yang lain, karena saya hanya ingin memfokuskan pembahasan ini pada persoalan bagaimana perbandingan output yang saya dapatkan dalam ruang kuliah dengan rutinitas yang saya lakukan selama menjadi pekerja di warkop Lico.

Dengan menjadi pekerja di warkop Lico inilah saya menemukan gairah belajar saya kembali. Bahkan lebih dari itu, saya juga, sedikit banyak, dapat membentuk daya hidup saya sendiri sebagai pemuda. Selama bekerja, saya dapat membentuk model pembelajaran dan pergaulan sendiri tanpa banyak intervensi dan aturan-aturan yang mengekang keinginan saya untuk berkembang. Setiap individu yang berada dalam lingkaran pergaulan warkop adalah perancang kurikulum hidupnya sendiri. Dengan demikian, saya kira individu dapat berdaya dengan usahanya sendiri. Seorang kawan yang merupakan novelis bernama Dwi Cipta bahkan pernah berkata pada saya waktu dia tengah belajar bahasa Belanda secara otodidak, bahwa guru itu tidak penting baginya, karena hanya anak-anak atau orang-orang yang kekanak-kanakanlah yang membutuhkannya.

Saya dapat mengembangkan kemampuan intelektualitas saya melalui belajar dengan membaca buku sendiri atau diskusi kelompok membedah buku maupun bedah film yang dilakukan paling tidak dua kali dalam seminggu di warkop Lico. Selain itu, saya juga dapat mengembangkan daya kerja tubuh/fisik saya melalui jadwal piket menjadi pekerja warkop dengan membersihkan warkop dan mencuci piring, panci dan gelas-gelas kotor yang ada. Saya juga biasa berjalan kaki pulang dan pergi dari kamar kos saya menuju warkop Lico. Saya tidak tahu persis seberapa jauh jarak warkop dengan kamar saya itu. Saya hanya menghitung durasi perjalanan yang saya tempuh sebanyak 30 menit lebih lamanya. Itu rutin saya lakukan paling tidak tiga kali dalam seminggu. Saya susuri jalan-jalan kota Jogja dengan menghayati setiap sudutnya. Kegiatan itu tentu saja membantu menjaga ketahanan tubuh saya, karena saya dapat mengeluarkan keringat sepanjang perjalanan itu. Sesekali saya juga biasa berolahraga setiap pagi kalau-kalau saya menghinap di warkop Lico.

Dengan menjalani pergaulan warkop inilah kemudian saya dapat menemukan gairah hidup dan spirit belajar saya sendiri. Satu hal yang tidak dapat saya temukan dalam rutinitas perkuliahan yang saya jalani. Dalam ruang kuliah, saya lebih banyak mendapatkan ceramah, pembimbingan akademik yang tidak begitu jelas outputnya bagi mahasiswa, dan juga pendisiplinan melalui aturan-aturan yang seringkali bertentangan dengan keinginan saya, seperti harus memotong rambut, harus berpakaian rapih dan benar, pakai sepatu, dsb. Mahasiswa agaknya lebih diposisikan sebagai anak-anak yang masih perlu pengarahan dan pemberian batasan-batasan untuk melakukan sesuatu layaknya anak-anak. Beruntung bahwa masih ada peristiwa yang membuat mahasiswa dapat terhibur yaitu peristiwa asmara: jatuh cinta. Jika tidak, dapat dibayangkan bagaimana membosankannya kehidupan dan pergaulan akademis itu. Untuk itu saya agaknya setuju dengan perkataan Dwi Cipta di atas, bahwa guru itu hanya dibutuhkan oleh anak-anak atau orang yang kekanak-kanakan, dan dengan demikian dapat pula saya katakan bahwa dari mengenal pergaulan warkop, saya sadar bahwa kuliah itu kekanak-kanakan.[]


메타데이터
post_id
63d21092fca3
slug
dari-warung-kopi-saya-sadar-kuliah-itu-kekanak-kanakan-63d21092fca3
url
https://medium.com/literasi/dari-warung-kopi-saya-sadar-kuliah-itu-kekanak-kanakan-63d21092fca3
canonical_url
https://medium.com/literasi/dari-warung-kopi-saya-sadar-kuliah-itu-kekanak-kanakan-63d21092fca3
author_url
https://medium.com/@fairnaza
status
ok
fetched_at
2026-06-10 09:45:17