Roman(Sar)tika Rayuan Perempuan Gila di Film Pangku
Roman(Sar)tika Rayuan Perempuan Gila di Film Pangku
Roman(Sar)tika Rayuan Perempuan Gila di Film Pangku
Foto oleh Osman Rana di Unsplash
Beberapa bulan yang lalu (atau mungkin tahun lalu) saya berkesempatan menonton film Pangku, debut layar lebar dari Reza Rahardian.
Film ini menceritakan perjalanan Sartika, seorang perempuan muda yang sedang hamil tua, dan mengambil keputusan besar untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Namun, kenyataannya justru membawanya terdampar di sebuah gang remang-remang di tepi jalur Pantura.
Ketika saya menonton di awal film, saya merasa cemas dan gelisah, masalahnya ada pada suasana yang diciptakan begitu sunyi dan hampa.
Begitu banyak momen tanpa dialog, hanya suara latar lembut dan pencahayaan redup yang menciptakan rasa sepi.
Gambaran itu membuat saya merasa terjebak dalam dunia yang tak menentu, barangkali hal itu yang dirasakan oleh tokoh Sartika. Ada kekosongan dalam langkah yang ia ambil, dan saya bisa merasakannya melalui layar.
Sesuatu yang begitu kuat terdapat dari karakter ini yaitu tentang harapan meski ia terjebak dalam dunia yang penuh dengan rasa takut dan ketidakpastian.
Saya mulai merasa bahwa perjalanan Sartika ini merupakan sangat dekat dengan perjuangan seorang ibu yang rela mengorbankan dirinya demi anak yang ia cintai.
Namun, yang membuat saya benar-benar terkejut adalah ketika lagu “Rayuan Perempuan Gila” oleh Nadin Amizah mulai diputar.
Dalam beberapa detik pertama saya terdiam, adegan pada layar terasa kabur seakan saya mencoba mencerna makna lagu.
Lirik lagu itu awalnya saya pahami sebagai sebuah ungkapan cinta yang merayu dan berlebihan. Tetapi kini justru terasa sangat dekat dengan apa yang saya bayangkan dalam film tersebut.
Ketika saya mendengarnya, seolah ada sesuatu yang menyentuh perasaan saya, sama seperti yang saya rasakan terhadap perjalanan Sartika.
Lagu ini mengalun lembut dengan suara khas Nadin dan membawa saya pada ruang emosional tidak terduga.
Penuh ganggu Di dalam jiwanya Sambil penuh cinta Diam-diam berusaha
S’lalu tahu Akan ditinggalkan Namun, demi Tuhan Aku berusaha
“Rayuan Perempuan Gila” menjadi pengakuan tentang sebuah perjuangan yang tidak bisa dihindari tanpa risiko.
Dalam hidup Sartika, ia bukan hanya berjuang untuk diri sendiri, yang meski dengan penuh ganggu dalam jiwanya, ada cinta dan kasih pada anaknya sebagai pendorong utama dalam perjuangannya.
Pada awalnya saya mendengar “Rayuan Perempuan Gila” hanya sebagai ekspresi cinta yang berlebihan.
Saat saya pulang dari menonton Pangku dan mendengarkan lagu itu lagi, kini pandangan saya berubah menjadi semacam pengakuan tentang perjalanan hidup yang penuh ketidakpastian, seperti Sartika.
메타데이터
- post_id
- 63dddd7269a7
- slug
- roman-sar-tika-rayuan-perempuan-gila-di-film-pangku-63dddd7269a7
- url
- https://medium.com/@alfinlaurentinus0/roman-sar-tika-rayuan-perempuan-gila-di-film-pangku-63dddd7269a7
- canonical_url
- https://medium.com/@alfinlaurentinus0/roman-sar-tika-rayuan-perempuan-gila-di-film-pangku-63dddd7269a7
- author_url
- https://medium.com/@alfinlaurentinus0
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13