Ego Hadi dan Luka Sartika
Ingin rasanya memeluk perempuan itu dan mengatakan bahwa dirinya hebat.
Ego Hadi dan Luka Sartika
Photo by Randy Rooibaatjie on Unsplash
Setelah membaca beberapa ulasan tentang film Pangku, saya tertarik dan memutuskan untuk menontonnya. Film ini merupakan debut pertama Reza Rahadian menjadi sutradara. Pangku dibuat berdasarkan fenomena sosial yang ada di Indonesia, tepatnya di sekitar Jalur Pantura. Jalan yang dilewati truk-truk besar bukan hanya membawa barang, melainkan juga cerita, duka, dan harapan. Seperti Hadi, seperti Sartika, seperti anak-anaknya.
Sartika datang dibawa oleh seorang sopir entah dari mana pada malam hari yang gulita. Perutnya yang menonjol terlihat berat dengan tubuh yang lemas tak bertenaga. Mimpinya hanya satu: kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Salah seorang pemilik warung di Jalur Pantura bernama Bu Maya menerimanya dan memberikan tempat singgah. Hari-harinya berjalan sangat berat karena krisis moneter di Indonesia.
Sang anak lahir dalam keadaan sehat. Namun, ada satu yang kurang — anak tersebut tidak memiliki ayah. Demi tidak menjadi pelayan kopi di warung Bu Maya, Sartika terpaksa menjadi buruh tani. Ia mencangkul di sawah seperti mencari oase di gurun yang gersang. Sulit, berat, dan hampir sekarat. Upah kecil yang diterimanya membuatnya berpikir ulang. Sartika akhirnya bersedia menjadi pelayan kopi pangku.
Tugasnya menjadi lebih mudah secara fisik, tetapi entah secara batin. Ia harus dipangku oleh berbagai macam lelaki sambil melayani keinginan merekanya, merayu agar menghabiskan lebih banyak uang di warungnya. Asap rokok, celetukan sensual, dan kadang tangisan anak balitanya ia hadapi sehari-hari. Mana yang paling berat? Kenyataan hidup. Saat perempuan lain dapat mengusahakan kehidupannya dengan baik, Sartika tidak.
Kehidupannya selalu seperti itu hingga Hadi datang. Ia seorang sopir truk pembawa ikan yang membawa harapan baru. Hadi bukan hanya menawarkan status untuk anak Sartika dapat bersekolah, melainkan juga cinta yang tidak pernah lagi Sartika pikirkan keberadaannya. Pernikahan keduanya membuat saya sedikit lega. Mungkin penonton lain juga merasakan hal yang sama. Akhirnya beban Sartika berkurang, pikir saya. Namun, realitas yang diangkat ke layar itu tetap sama pahitnya.
Sartika bagi saya adalah simbol juang dan gagal yang dialami banyak orang. Hadi adalah harapan yang tidak pernah pasti. Bayu adalah penguat saat semua juang terasa berat. Semuanya berharmoni dalam kisah yang entah siapa dan bagaimana dapat menjalaninya. Kopi pangku adalah salah satu dari ribuan jalan yang dapat dipilih siapa pun dalam kondisi apa pun, asalkan harapan mereka kecil. Film ini adalah karya tulus yang sarat akan simbol-simbol tersembunyi dalam sebuah fenomena sosial.
Saya pulang dengan perasaan kosong. Ingin rasanya bertemu Sartika dan mendengarkan kisahnya secara langsung. Ingin rasanya mengetahui bagaimana caranya membuat keputusan. Ingin rasanya memeluk perempuan itu dan mengatakan bahwa dirinya hebat.
Penulis: Nunung Asmawati
Penyunting: Rifka Az-zahra Yasmine
메타데이터
- post_id
- 63f19461a3d0
- slug
- ego-hadi-dan-luka-sartika-63f19461a3d0
- url
- https://medium.com/aksaranara/ego-hadi-dan-luka-sartika-63f19461a3d0
- canonical_url
- https://medium.com/aksaranara/ego-hadi-dan-luka-sartika-63f19461a3d0
- author_url
- https://medium.com/@nunungasmw
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 19:38:28