← Back to list

Tumbuh Kembang Pikiran dan Warna-Warna dalam Kepala Manusia.

#4: Ulasan Film Inside Out 2 (2025)

Jurnal Senyap · 2025-07-07 05:39 · 0 claps · 3.0 min read
#ulasan-film #disney-plus #pixar #inside-out-2 #movie-review
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎬 · Film & Television

Tumbuh Kembang Pikiran dan Warna-Warna dalam Kepala Manusia.

#4: Ulasan Film Inside Out 2 (2025)

Mendengar kabar bahwa Inside Out (Pete Docter, 2015) akan mendapatkan sebuah film lanjutan di acara D23 Expo pada tahun 2022 lalu, saya langsung membayangkan alangkah sulitnya mengalahkan film animasi raksasa yang digandrungi sebagai salah satu film animasi terbaik yang pernah dibuat sepanjang masa itu — yap, sepanjang masa. Meski begitu, film pertama Inside Out bisa diibaratkan seperti tokoh Anxiety (Maya Hawke) dalam film kedua ini. Ia bukanlah musuh yang mesti ditundukkan.

Inside Out 2 masih bercerita tentang Riley (kali ini suaranya diisi oleh Kensington Tallman) yang kini sudah menginjak usia 13 tahun — dan emosi penuh warna dalam pikirannya. Berlatar waktu dua tahun setelah keluarganya pindah dari Minnesota ke San Francisco, California. Riley terlihat sudah lebih kerasan di tempat tinggal barunya. Mengarungi masa remaja dengan kesibukan sekolah, rutinitas di rumah dan berinteraksi dengan teman-teman terdekatnya. Dan ya, seperti remaja pada umumnya, pubertas pun tiba. Pada dasarnya, film kedua ini menjawab pertanyaan Joy (Amy Poehler) di penutup film pertamanya dulu, “What could happen?” — spoiler alert, banyak hal yang terjadi.

Sama seperti film sebelumnya, keunikan Inside Out 2 terdapat pada cara kreatif pembuatnya dalam menguraikan perihal emosi yang rumit menjadi sebuah tontonan yang menghibur dan penuh rasa. Baik penonton anak-anak maupun penonton dewasa akan mendapat ruang dan keterkaitannya masing-masing dengan film ini. Sebuah sajian yang berimbang — dan juga berdampak. Sebab, saya yakin, Inside Out 2 mampu menyentuh penonton dari rentang usia manapun dengan menempatkan peran tokoh Anxiety dan pengaruhnya terhadap manusia serta regulasi emosi sebagai fokus utama filmnya.

Riley hanyalah seorang remaja. Semua hal yang berkaitan dengan identitas diri sebagai remaja usia 13 tahun sangatlah penting baginya. Kejadian-kejadian memalukan, bagaimana terlihat keren, butuh validasi, pengakuan, dan apa tanggapan orang lain terhadap dirinya adalah sesuatu yang sangat relevan. Dan kehadiran Anxiety, Embarrassment (Paul Walter Hauser), Envy (Ayo Edebiri) serta Ennui (Adèle Exarchopoulos) menguatkan urgensi itu dalam ceritanya. Menambah warna dalam pikiran Riley. Bagaimana ia meregulasi hal-hal tersebut — dalam hal ini diwakili oleh Joy dan kawan-kawan — dilukiskan secara komprehensif oleh filmnya.

Bicara soal regulasi emosi, ada sebuah adegan yang sangat menarik di awal film, di mana Joy dan kawan-kawan “membersihkan” pikiran Riley dari hal-hal yang kurang mengenakkan yang dialaminya pada hari itu. Ingatan tak mengenakkan tersebut kemudian dibuang ke tempat yang, bagi mereka, “tidak perlu dipikirkan sekarang”. Dan tokoh Joy secara lantang berkata, “We keep the best (memory) and toss the rest.” Adegan ini terasa sangat dekat, sebab sebagai manusia betapa sering (dan banyaknya) hal yang kita tekan jauh dalam pikiran dan pada akhirnya pikiran-pikiran itu menumpuk tak terurai.

Namun bukan berarti Inside Out 2 berjalan tanpa ada masalah. Pertanyaan, “Kenapa emosi-emosi baru di pikiran Riley tidak muncul di pikiran orang dewasa di film sebelumnya?” tidak dijawab tuntas di film kedua ini. Masalah lainnya, walau harus diakui bahwa usaha filmnya dalam mengurai narasi kompleks bisa dinilai berhasil, tapi di saat bersamaan, usaha tersebut juga membebani filmnya sendiri. Ada kesan bahwa filmnya meninggalkan penonton di bagian ini karena terlalu sibuk dalam usaha menerjemahkan hal-hal kompleks tadi. Membuat jarak yang cukup lebar sehingga beban emosional filmnya tidak tersampaikan secara maksimal. Seketika ingat momen “Take her to the moon for me…” dari film pertama. Film pendahulunya membayangi keberadaan Inside Out 2.

Untungnya film dapat diakhiri dengan baik. Baris dialog, “I don’t know how to stop Anxiety” yang diucapkan oleh Joy mengundang haru. Yang kemudian dilanjutkan dengan kalimat perihal kenyataan bahwa ketika beranjak dewasa, “you feel less joy.” Momen relatable yang menutup jarak yang tadinya sempat memisahkan penonton dengan filmnya. Di momen itu juga Inside Out 2 mengurai konflik di dalam pikiran Riley — konflik antara Joy dan Anxiety. Kebiasaan Joy membuang ingatan buruk yang mungkin dimaksudkan sebagai proteksi untuk Riley ternyata malah mengakibatkan ingatan-ingatan tersebut menggunung tinggi. Kecenderungan Anxiety untuk terus mengkhawatirkan “bagaimana nanti” pun tak banyak menolong. Tapi mungkin hanya itulah yang mampu dilakukan oleh remaja usia 13 tahun. Bukankah mereka yang dewasa terkadang juga masih merasakan hal yang sama?

Inside Out 2 merepresentasikan bentuk-bentuk emosi dalam pikiran dengan berbagai warna. Riley, seperti kita, terbentuk oleh banyak warna. Kesadaran bahwa manusia bukanlah satu warna yang dikotakkan akan menuntun pada kenyataan bahwa seperti hal lain dalam hidup, pikiran pun sudah semestinya berimbang. Tidak ada elemen emosi yang harus ditaklukkan. Semuanya diperlukan untuk tetap tumbuh dan berkembang.


메타데이터
post_id
640a1fdaa535
slug
tumbuh-kembang-pikiran-dan-warna-warna-dalam-kepala-manusia-640a1fdaa535
url
https://medium.com/@jurnalsenyap/tumbuh-kembang-pikiran-dan-warna-warna-dalam-kepala-manusia-640a1fdaa535
canonical_url
https://medium.com/@jurnalsenyap/tumbuh-kembang-pikiran-dan-warna-warna-dalam-kepala-manusia-640a1fdaa535
author_url
https://medium.com/@jurnalsenyap
status
ok
fetched_at
2026-08-01 21:05:13