← Back to list

Kamera Bintang

Hari itu, langit begitu cerah, seolah ikut memberi restu atas langkah Senja yang akan berlomba melukis mewakili kampusnya. Di aula besar…

Nada · 2025-04-16 04:37 · 0 claps · 1.4 min read
#markhyuck #mahae #alternative-universe
Open on Medium ↗
Wiki topics: BIZ · Business Strategy 🔭 · Astronomy & Space

Kamera Bintang

Hari itu, langit begitu cerah, seolah ikut memberi restu atas langkah Senja yang akan berlomba melukis mewakili kampusnya. Di aula besar tempat perlombaan digelar, deretan kursi mulai dipenuhi oleh peserta dan penonton yang datang memberikan dukungan. Senja duduk di bangkunya, menggenggam kuas sambil menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat.

Di deretan kursi penonton, Bintang terlihat paling semangat. Ia sibuk mengecek kamera kesayangannya, kamera yang diberikan orang tuanya saat ulang tahun terakhir , berencana memotret tiap momen penting Senja.

Haera yang sedari tadi berdiri di samping Bintang, dengan gelisah ikut berusaha memotret Senja yang duduk agak jauh. Tapi di satu gerakan tak terkontrol, Haera tanpa sengaja menyenggol lengan Bintang yang tengah lengah. Kamera itu pun jatuh ke lantai dengan bunyi crack yang keras dan menyayat.

“Lo apa-apaan sih!” Jeiro spontan menolak bahu Haera dengan tajam, matanya menatap nyalang penuh emosi.

Haera membeku, jantungnya langsung berpacu kencang. “Ya ampun, Bintang… maaf ya, aku enggak sengaja. Aku… aku ganti beli baru, ya?” ucapnya cepat, gugup, panik.

Bintang menunduk, tangannya menggenggam serpihan lensanya yang retak. “Tapi ini… ini kamera hadiah ulang tahun dari orang tua gue, Haera.” suaranya bergetar, matanya memerah.

Haera makin cemas. “Aku beli baru yang sama, aku janji. Kamu jangan nangis ya.”

“Haera!” suara Moza meledak, berdiri dari kursinya. “Lo gak pernah menghargai ya? Bintang bilang itu hadiah ulang tahun dari orang tuanya! Wajar kalo dia sedih! Ini bukan soal ganti barang!”

Calla dan Jivan menunduk, suasana berubah tegang dan sesak.

Moza lanjut, suaranya mulai gemetar. “Emang lo gak pernah ngerasain, ya? Sayang sama hadiah dari nyokap bokap lo?”

Haera diam. Sesaat ia menatap semua wajah yang kini tampak kecewa, marah, dan menjauh. Lalu ia menghela napas pendek, tanpa meneteskan air mata.

“Aku emang gak pernah ngerasain itu, Moza.” Tak ada nada marah. Tak ada pembelaan. Hanya kejujuran yang menggantung tipis dari bibirnya.

Jeiro berdiri, menunjuk ke arah pintu. “Udah, Haera. Pergi aja. Daripada lo rusak suasana lomba Senja.”

Haera mengangguk kecil. “Maaf…”

Lalu ia melangkah pergi, meninggalkan kursi penonton, melewati aula yang kini terasa dingin di tengah riuhnya dukungan untuk Senja. Tak seorang pun memanggilnya. Tak seorang pun mengejarnya.

Di luar, angin sore menyambutnya pelan. Tapi hatinya terasa jauh lebih dingin dari angin manapun.


메타데이터
post_id
64107ce3da4f
slug
kamera-bintang-64107ce3da4f
url
https://medium.com/@nadafazayya/kamera-bintang-64107ce3da4f
canonical_url
https://medium.com/@nadafazayya/kamera-bintang-64107ce3da4f
author_url
https://medium.com/@nadafazayya
status
ok
fetched_at
2026-06-26 03:39:16