← Back to list

Jika Tubuhku Membiru

Lautan yang kamu puja, kini nampak lebih seperti rumah.

Al Xan · 2026-07-11 13:59 · 1 claps · 3.2 min read
#life #grief #lost-and-found #relationships #death-and-dying
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships 🧠 · Mental Wellness 💭 · Philosophy of Spirit

Jika Tubuhku Membiru

https://pin.it/4vzKOEwQM

https://pin.it/4vzKOEwQM

Jikalau tubuhku mulai membiru, akankah kamu mendekapku yang lemah ini pada tubuhmu itu?

Malam ini, bimantara tak lagi menyimpan sisa cahaya, menenggelamkan pasang surut ombak yang datang bergantian. Aku masih disini merindu untukmu, bayang wajahmu kerap kali menghantui pikiranku kini perlahan meluruh ditelan samudera.

Laut biru itu ternyata sangat cantik, kerap kali aku bertanya mengapa kamu begitu menyukai laut? Apakah karena ia berwarna biru? Tetapi, langit juga berwarna biru, apakah kamu mencintai langit seperti kamu mencintai sang lautan?

Kamu tertawa saat aku mempertanyakan hal yang kamu sukai itu, matamu menyipit seperti bulan sabit hingga senyum mu kini terukir indah bak permata. Kamu menepuk tanganku, hingga nayanika-mu sampai pada aksha-ku.

"Aku menyukainya karena lautan selalu menemani malam gelapku, bagiku biru itu tak pernah menuntut apapun, ia sangat tenang sampai aku bisa bernafas dengan lega. "

Aku terdiam mendengarkan suaramu, memangnya apa bedanya dengan langit yang membentang di atas sana, bukankah mereka juga tidak kalah indah? Kamu tertawa kembali, dan mengatakan bahwa kamu tidak bisa terbang untuk menggapai sang langit diatas sana, namun kamu bisa menggapai laut dengan mudah.

Aku menatap wajah tenangmu yang kini tenggelam pada keindahan lautan.

Dahulu bahkan tak pernah tersirat dalam pikiran ku untuk mencintai lautan yang membentang tanpa akhir ini. Baskara setiap waktu selalu menemaniku, cahaya nya selalu ku puja setiap saat tanpa ada kata berpaling.

kamu selalu bercerita betapa kamu menyukai biru pada lautan, sayangnya ku tak pernah mencintai lautan seperti mu.

Bagimu lautan adalah rumah yang tak pernah mengharuskan mu untuk berpura-pura, bagiku lautan ialah hamparan asing yang menelan seluruh suara.

Aku tak pernah menyukai biru laut, ia sangat dalam terkesan sangat sunyi dan menyimpan rahasia yang tak pernah aku sanggup untuk memikirkan nya.

Menatap binar matamu, membuatku berpura-pura untuk jatuh hati terhadap ombak nya. Aku mendengarkan bisikan mu di malam yang panjang, tetap mendengarkanmu tanpa sekalipun ku memotongnya, karena kamulah yang aku suka.

Kita bagai dua kutub yang berbeda, kamu sang pecinta lautan dan aku sang pecinta bimantara yang takut untuk tenggelam.

https://pin.it/2mSaMjQVA

https://pin.it/2mSaMjQVA

Namun kini di tengah kesunyian ini bahkan sang baskara yang selalu ku puja tak menemaniku disini. Aku terkurung pada bimantara yang kelabu, menunggu seseorang yang tak akan pernah datang.

Aku merindukanmu, bisikan tenangmu yang dulu kamu titipkan sekarang di telan oleh kesunyian. Mimpi-mimpi ku dahulu binasa pada kefanaan yang tak bertepi. Seluruh luka-luka yang menghantuiku selama ini merambat jauh pada nadiku, aku membungkamnya sampai rasanya tubuhku menjadi kaku.

Sesungguhnya pelabuhan mana lagi yang bisa kutitipkan segala renjana yang tak pernah aku sanggup bisikan secara langsung.

Kini, ku berdiri di tepian laut, menatap biru yang menyesakan. Ternyata kamu benar, lautan ini adalah rumahmu. Tapi, bagiku lautan adalah sebuah racun abadi yang mencuri ragamu dan merenggutmu dariku. Aku tak lagi membenci warna biru ini, karena disinilah kamu bersemayam.

Dalam bisikan samudra yang berbisik tenang, aku menapakkan telapak kaki ku pada air laut yang kemudian mencapai betis ku, deru ombak kini kian naik. Aku berjalan lebih jauh menjauh pada pelukan ananta sang samudera, hingga rasanya rasa dingin air laut perlahan mendayu-dayu memintaku untuk berjalan lebih jauh.

Berkali-kali aku menatap dengan binar terpukau pada air laut biru. Jutaan bintang yang menggantung pada akasha, kini dapat kulihat jelas memantul pada permukaan lautan. Jari jemariku perlahan menyentuhnya, seakan aku sedang menggapai sang bintang itu.

Ternyata benar, kita tak perlu terbang untuk melihat bintang-bintang indah di atas sana, dalam lautan pun kita dapat melihatnya dengan jelas.

Aku mengukir senyum, meminta maaf karena aku sempat meragukanmu. Kasihku, kamu selalu saja menjadi orang yang paling mengetahui segala hal, disini sangatlah indah dan menenangkan atma pada diriku, kamu menang sekarang. Andai dahulu kamu menyukai ku seperti kamu menyukai lautan, mungkin saja kita bisa pergi bersama.

Mungkin kali ini tubuhku akan benar benar membiru dilahap oleh lautan. Janganlah kamu membiarkanku karam sendirian, disini yang paling mengetahui tentang laut hanyalah dirimu, tolong ajarkan aku lagi mengenai lautan ini hingga aku dapat mengerti tentang dirimu yang penuh teka-teki itu.

Kasihku.. Bila mana aku menjadi buih buih lautan yang kamu sukai, akankah kamu mendekapku seperti kamu mendekap lautan ini dahulu kala?

Apakah kamu bisa mendengarkanku? Atau sang laut pun enggan menyampaikan rasa duka dan rindu ku untuk dirimu?

Kini, kulepaskan semuanya. Melepas semua rindu yang tak pernah sampai pada atma mu, kubiarkan diriku meluruh menyatu dalam kedalaman samudra. Dalam biru itu untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku akhirnya bisa bernafas.

Aku tak akan pernah pergi, aku hanya sedang pulang ke lautan biru yang abadi yang paling kamu puja, menjadi amerta dalam palung yang paling sunyi.


메타데이터
post_id
64481bd502dc
slug
jika-tubuhku-membiru-64481bd502dc
url
https://medium.com/@Alx4nx/jika-tubuhku-membiru-64481bd502dc
canonical_url
https://medium.com/@Alx4nx/jika-tubuhku-membiru-64481bd502dc
author_url
https://medium.com/@Alx4nx
status
ok
fetched_at
2026-07-13 23:03:49