← Back to list

Cent’anni, Ghibli !

Saya ingat pertama kali menonton “Spirited Away” karena melihatnya di lapak DVD ilegal. Waktu itu saya hanya tahu bahwa film tersebut…

Terry Arie in Ruang Kontemplasi · 2026-06-17 13:19 · 66 claps · 5.9 min read
#bahasa-indonesia #resensi-film #ruang-kontemplasi #studio-ghibli #animasi
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎬 · Film & Television ⚖️ · Law & Justice

Cent’anni, Ghibli !

Saya ingat pertama kali menonton “Spirited Away” karena melihatnya di lapak DVD ilegal. Waktu itu saya hanya tahu bahwa film tersebut sering disebut sebagai salah satu film animasi terbaik. Beberapa teman saya merekomendasikannya, banyak situs menempatkannya di posisi teratas daftar film yang wajib ditonton dan nama Studio Ghibli sendiri sudah terdengar seperti sesuatu yang wajib diketahui oleh siapa pun yang menyukai film, apalagi animasi dan jejepangan.

salah satu ilustrasi fans (pinterest.com/yeris)

salah satu ilustrasi fans (pinterest.com/yeris)

Namun saat menontonnya untuk pertama kali, saya justru merasa bingung. Seorang anak perempuan bernama Chihiro tersesat di dunia yang aneh. Orang tuanya berubah menjadi babi. Ada roh-roh yang datang ke sebuah pemandian raksasa. Ada naga yang bisa terbang di langit malam. Ada makhluk misterius bernama No-Face yang tidak pernah benar-benar dijelaskan siapa dirinya. Film itu terasa seperti mimpi yang tidak selalu masuk akal. Ketika kredit penutup muncul, saya tidak merasa memahami semuanya. Tetapi ada sesuatu yang janggal, sebuah perasaan yang sulit dijelaskan. Dan justru karena itulah saya terus mengingatnya.

Bertahun-tahun kemudian saya mulai menyadari bahwa pengalaman seperti itu bukan hanya terjadi saat menonton “Spirited Away”. Hampir setiap kali menonton film Studio Ghibli, saya merasakan hal yang sama. Saya mungkin tidak selalu memahami setiap simbol, setiap metafora atau setiap detail dunia yang mereka bangun. Namun saya selalu meninggalkan film-film mereka dengan perasaan yang lebih beragam. Seolah-olah film-film tersebut tidak berusaha menjelaskan dunia kepada saya, melainkan membantu saya memahami manusia.

Dan semakin banyak film Ghibli yang saya tonton, semakin jelas pula bahwa di balik beragam cerita tentang penyihir, roh, kastil berjalan atau makhluk-makhluk fantastis, mereka sebenarnya sedang membicarakan tema yang sama: tentang tumbuh dewasa, kehilangan, hubungan manusia dengan alam, kesepian, cinta dan keberanian untuk terus berjalan meskipun hidup tidak selalu memberikan jawaban.

Salah satu hal yang membuat film-film Ghibli terasa berbeda adalah cara mereka memandang konflik. Banyak film modern dibangun di atas pertarungan yang jelas antara pihak baik dan pihak jahat. Kita tahu siapa yang harus didukung dan siapa yang harus dikalahkan. Namun di dunia Ghibli, garis pembatas itu sering kali kabur. Tokoh-tokohnya jarang benar-benar jahat dan hampir tidak ada karakter yang sepenuhnya baik. Mereka semua membawa alasan, ketakutan dan luka masing-masing. Dalam “Princess Mononoke”, misalnya, konflik antara manusia dan alam tidak pernah disajikan sebagai pertarungan hitam-putih. Lady Eboshi memang merusak hutan, tetapi pada saat yang sama ia memberikan pekerjaan dan perlindungan kepada orang-orang yang tersisih oleh masyarakat. Kita tidak bisa begitu saja membencinya sebagaimana tidak bisa sepenuhnya membenarkannya. Dan mungkin di situlah letak kekuatan terbesar Studio Ghibli. Mereka memahami bahwa kehidupan nyata hampir tidak pernah sesederhana memilih siapa yang benar dan siapa yang salah.

Semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa film-film Ghibli sebenarnya mengajarkan sesuatu yang sangat jarang disampaikan oleh film-film lain, yaitu kemampuan untuk melihat dunia dengan empati. Mereka tidak meminta kita memilih kubu, namun meminta kita belajar memahami. Mereka mengajak kita melihat bahwa di balik setiap keputusan yang buruk, sering kali ada ketakutan. Di balik setiap kemarahan, ada luka yang dipendam. Dan di balik setiap konflik, ada manusia yang sedang berusaha bertahan hidup dengan caranya sendiri. Dan mungkin itulah sebabnya film-film mereka terasa relevan bahkan bertahun-tahun setelah dirilis. Karena sifat dasar manusia tidak banyak berubah.

Ada hal lain yang selalu menarik perhatian saya ketika menonton karya-karya Studio Ghibli. Mengapa tokoh utama mereka begitu sering berupa anak-anak, terutama anak perempuan? Chihiro dalam “Spirited Away”, Kiki dalam “Kiki’s Delivery Service”, Satsuki dan Mei dalam “My Neighbor Totoro”, Nausicaä dalam “Nausicaä of the Valley of the Wind”, hingga Ponyo. Pilihan ini tentu bukan kebetulan. Jika diperhatikan, hampir semua karakter tersebut berada dalam fase kehidupan yang sama yakni mereka sedang belajar memahami dunia. Mereka belum memiliki semua jawaban, belum menjadi orang yang selesai dibentuk oleh pengalaman hidup. Mereka masih bertumbuh.

Mungkin justru karena itulah mereka dipilih sebagai tokoh utama. Anak-anak melihat dunia dengan cara yang berbeda. Mereka masih mampu merasa kagum pada hal-hal kecil dan masih percaya bahwa sesuatu yang ajaib bisa terjadi. Anak-anak belum sepenuhnya kehilangan rasa ingin tahu. Ketika orang dewasa melihat hutan, mereka mungkin melihat sumber daya atau lahan yang bisa dimanfaatkan. Ketika anak-anak melihat hutan, mereka mungkin membayangkan ada roh yang tinggal di sana. Dan dalam banyak hal, Studio Ghibli tampaknya percaya bahwa kemampuan untuk melihat keajaiban dalam kehidupan sehari-hari adalah sesuatu yang sangat berharga.

Menariknya lagi, tokoh perempuan dalam film-film Ghibli hampir tidak pernah ditulis sebagai karakter yang menunggu diselamatkan. Mereka bukan putri dalam dongeng klasik yang keberadaannya menunggu datangnya sang pahlawan. Mereka adalah individu yang aktif mengambil keputusan, melakukan kesalahan, belajar dari kegagalan dan bertumbuh sepanjang cerita. Chihiro tidak bertarung untuk mengembalikan orang tuanya dengan kekuatan super. Kiki tidak menjadi hebat karena menemukan kemampuan baru yang luar biasa. Mereka bertumbuh karena belajar menghadapi ketakutan mereka sendiri. Mereka belajar bertanggung jawab dan belajar percaya pada diri mereka sendiri. Dan menurut saya, bentuk keberanian seperti itu justru terasa jauh lebih dekat dengan kehidupan nyata daripada keberanian yang sering ditampilkan dalam film-film aksi.

beberapa tokoh dalam film Ghibli, (pinterest.com/prastikhya)

beberapa tokoh dalam film Ghibli, (pinterest.com/prastikhya)

Hal lain yang membuat saya semakin menghormati Studio Ghibli adalah keputusan mereka untuk tetap mempertahankan animasi gambar tangan di tengah dunia yang semakin didominasi teknologi digital dan animasi tiga dimensi. Ketika banyak studio berlomba menghasilkan visual yang semakin realistis dan lebih efisien demi mengejar jam tayang, Ghibli memilih jalan yang lebih lambat. Jalan yang membutuhkan ribuan jam kerja tambahan dan yang mungkin tidak selalu masuk akal dari sudut pandang pebisnis. Namun pilihan tersebut membuat setiap film mereka memiliki sentuhan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ada kehangatan yang terasa begitu manusiawi dalam setiap gerakan rumput, setiap hembusan angin, setiap tetes hujan dan setiap awan yang melintas di langit.

Banyak orang menyebut kualitas itu sebagai jiwa dari karya Ghibli. Ketika melihat adegan kereta yang melintasi hamparan air dalam Spirited Away atau pemandangan pedesaan dalam My Neighbor Totoro, kita bisa merasakan bahwa semua itu tidak sekadar dibuat oleh mesin. Ada tangan manusia yang menggambarnya satu per satu. Kumpulan karyang yang penuh berisi perhatian terhadap detail yang lahir dari kesabaran. Dan di zaman ketika hampir semua hal dituntut untuk lebih cepat dan lebih efisien, keputusan untuk tetap menggambar dengan tangan terasa seperti sebuah pernyataan filosofis. Bahwa tidak semua hal harus dipercepat. Bahwa proses juga memiliki nilai.

Nilai itu terasa semakin jelas ketika kita memperhatikan ritme film-film mereka. Banyak film takut membuat penontonnya bosan dan oleh karenanya dipenuhi konflik dan aksi. Namun Studio Ghibli sering melakukan hal yang sebaliknya. Mereka berani menghadirkan keheningan, menampilkan adegan yang tampaknya tidak penting bagi jalan cerita. Seperti tokohnya yang hanya duduk di tepi sungai, menatap langit, memasak atau hanya mendengarkan suara serangga di malam hari. Namun justru adegan-adegan seperti itulah yang paling lama tinggal dalam ingatan saya.

Mungkin karena hidup yang sebenarnya juga lebih banyak terdiri dari momen-momen semacam itu. Sebagian besar hidup kita tidak dihabiskan dalam peristiwa besar. Kita tidak setiap hari memenangkan penghargaan, mendapatkan promosi atau mengalami titik balik yang mengubah segalanya.

Sebagian besar hidup terjadi di sela-sela. Di antara jeda perjalanan pulang, di dalam secangkir kopi pagi, sebuah obrolan singkat dengan teman atau ketika duduk diam sambil memikirkan seseorang yang pernah singgah dalam hidup kita. Studio Ghibli memahami hal itu dengan sangat baik. Mereka mengingatkan bahwa kehidupan tidak hanya ditemukan dalam momen-momen spektakuler, tetapi juga dalam hal-hal sederhana yang sering luput dari perhatian.

Mungkin karena itulah saya tak pernah bisan untuk menonton ulang film-film mereka. Bukan untuk melarikan diri dari kenyataan, melainkan untuk melihat kenyataan dengan cara yang berbeda. Film-film Ghibli tidak menawarkan dunia yang sempurna. Mereka tidak menjanjikan bahwa semua masalah akan selesai dengan bahagia. Film-filmnya menunjukkan bahwa hidup, dengan segala kerumitannya, tetap layak dijalani. Bahwa kehilangan adalah bagian dari perjalanan dan perubahan sering kali tidak bisa dihindari. Sebuah pengingat bahwa kita tidak harus memahami semuanya untuk tetap melangkah maju.

Dan semakin bertambah usia saya, semakin saya merasa bahwa itulah alasan mengapa Studio Ghibli begitu banyak dicintai penggemarnya di seluruh dunia. Di balik semua naga, roh, kastil berjalan dan makhluk-makhluk ajaib, mereka sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana. Mereka mengingatkan bahwa menjadi manusia bukanlah tentang menjadi yang paling kuat, paling sukses atau paling luar biasa. Menjadi manusia adalah tentang tetap menjaga rasa kagum, memiliki empati, belajar melihat keindahan dalam hal-hal kecil dan tetap berjalan meskipun kita tidak selalu tahu ke mana jalan ini akan membawa kita.

Barangkali itulah sihir terbesar Studio Ghibli. Mereka membuat kita datang untuk melihat dunia fantasi, tetapi ketika filmnya selesai, yang kita temukan justru diri kita sendiri.

Selamat Ulang Tahun, Studio Ghibli!

daftar film studio Ghibli, (pinterest.com/endlessness)

daftar film studio Ghibli, (pinterest.com/endlessness)


메타데이터
post_id
64c0b010f45d
slug
centanni-ghibli-64c0b010f45d
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/centanni-ghibli-64c0b010f45d
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/centanni-ghibli-64c0b010f45d
author_url
https://medium.com/@cipthami
status
ok
fetched_at
2026-06-21 07:44:09