Mengapa Kematian (Dapat) Terasa Dekat?
Sedikit Refleksi Di Awal Juli.
Mengapa Kematian (Dapat) Terasa Dekat?
Sedikit Refleksi Di Awal Juli.

Photos and Assets are from Canva
Yo! Sudah lama rasanya aku tidak menulis di sini. Rasanya sial sekali harus menuliskan pembukaan ini dari awal. Sebenarnya tulisan ini sudah panjang kutulis, tapi entah mengapa aplikasi Medium tidak bisa menyimpannya, sehingga membuatku menulis ulang dari huruf pertama. Ingin rasanya ingin berkata kasar dengan aplikasi sialan ini.
Tapi ya sudahlah, anggap saja hal tadi itu cobaan dan pelajaran, kalau lain kali kalau menulis jangan lupa untuk simpan drafnya di lain tempat haha (bisa juga menulisnya di catatan terlebih dahulu sebelum memasukkannya ke sini). Lagipula ini juga tulisan kembali ku di sini setelah sekian purnama bertapa di sela buang air dan pikiran yang menumpuk.
Sebenarnya bukannya aku tidak ada ide sama sekali yang ingin kubagikan di sini, tapi entah mengapa belakangan ini semangatku untuk menulis agak surut. Tidak ada hal yang membuatku merasakan ‘sakit’ belakangan ini, karena aku memutuskan untuk hidup lebih optimis dan berjuang demi banyak hal di hidupku. Yah, aku adalah orang yang mempercayai bahwa (kebanyakan) penulis biasanya akan menghasilkan karya terbaiknya di saat ia ‘sakit’ — merasakan kesedihan, kehilangan, ketakutan, stres dan trauma yang mendalam.
Walaupun belakangan ini aku mulai membuka lebih lebar perspektifku tentang hal itu. Aku perlahan mulai meyakini bahwa rasa bahagia atau ketaatan pun dapat menghasilkan karya sama hebatnya dengan para penulis yang sakit. Bahkan aku yakin pasti banyak karya hebat di luar sana yang tercipta karena alasan iseng atau kepepet haha.
Tapi sayangnya aku lagi nggak mau menyisir pikiran kusutku mengenai hal itu. Karena ada pikiran kusut yang lebih kusut lagi yang ingin kubagikan kepada kalian. Pemikiran ini masih fresh banget karena baru-baru saja terjadi dan tepikir di tempurung kepala yang doyan mengepul sebelum menuju alam mimpi .
Mengapa kematian (dapat) terasa dekat? Pertanyaan ini muncul ketika aku tengah menikmati masa liburan singkatku menyambut hari raya Idul Adha di kampung halamanku — tepatnya di malam satu hari sebelum aku kembali ke perantauanku. Kupikir, mumpung pulang kampung aku memutuskan untuk melakukan berbagai aktivitas dan rutinitas yang sering kulakoni semasa sebelum aku merantau untuk melanjutkan studi. Contohnya seperti memberi makan kucing peliharaan ayahku yang jumlah melebihi jumlah jari tangan manusia, lalu iseng-iseng mengambil gambar (foto) random di sana, seperti pelang Indomaret atau salah satu karyawan ayahku yang tengah memasang CCTV dan masih banyak lagi.
Dari sekian banyak kegiatan itu ada satu kegiatan yang paling aku sukai, yaitu dipijat oleh nenekku. Yah, siapa sih yang tidak suka dan senang ketika diberikan kasih sayang oleh nenek, terlebih ini berupakan sebuah pijatan di kepala dengan pikiran yang penuh ruam dan benang yang kusut.
Tetapi, perasaan senang itu perlahan luntur ketika tangan nenekku mulai memijat kepalaku. Pijatannya terasa lemah, bahkan sangat lemah dibandingkan setengah tahun lalu. Tangannya yang dulu dapat mengurai dan menumbuhkan bunga puas di kepalaku kini berhasil membuatku tersadar bahwa waktu telah lama berlalu.
Mengapa kematian (dapat) terasa dekat? Yap semua itu pun terjawab dalam sekali rebah. Semua terjawab ketika aku merasakan tangan yang dulu kuat perlahan mulai melemah, melihat kaki yang dulu dapat ke sana kemari yang kini mudah lelah, mendengar suara yang dulu nyaring tetapi lambat laun mulai kehilangan dayanya. Kematian dapat terasa dekat karena dia memang ada di sekitar kita, bahkan bagian dari diri kita. Setiap hari kita berpendar dan menghirup udara yang sama dengan kematian itu. Setiap detiknya, kematian terus memantau siapapun, baik yang muda maupun tua untuk disapa kapanpun, di manapun dan bagaimanapun, terlebih pada mereka yang lengah dengannya dan sang waktu. Aku ingat pernah menuliskan ini, bahwa kita tak pernah bisa memilih kapan kita mati, bagaimana kita mati dan bersama siapa kita mati, bahkan kita tak akan pernah bisa mengatur pandangan orang terhadap kematian kita itu.
“I spend too much time.”
Itulah yang terlintas di dalam benakku pada malam itu. Tanpa kusadari aku selama beberapa tahun ini aku tenggelam dalam lautan bernama kesia-siaan. Sampai-sampai aku melupakan apa hal yang penting dalam hidupku. Tanpa kusadari, orang-orang yang pernah singgah, hadir, mendukung dan membersamaiku dalam hidupku perlahan mulai pergi entah karena memang melanjutkan hidup, cita-cita atau tergerus oleh fananya sang waktu.
Pada malam itu, aku pikir mungkin ini adalah cara-Mu untuk menegur dan memberikan kesempatan untuk diriku. Dan jika yang kupikir adalah ‘iya’ — benar. Maka mudahkan, lancarkan dan restuilah jalan dan usahaku.
I don’t want to promise, because I am a person who often breaks promises and disappoints others. However, I am very grateful that you still give me this opportunity. Thank you for keeping me from giving up on you, myself and the people who love me.
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. — Q.S. Az-Zumar : 53
메타데이터
- post_id
- 64fa4d03faf0
- slug
- mengapa-kematian-dapat-terasa-dekat-64fa4d03faf0
- url
- https://medium.com/@syachxn/mengapa-kematian-dapat-terasa-dekat-64fa4d03faf0
- canonical_url
- https://medium.com/@syachxn/mengapa-kematian-dapat-terasa-dekat-64fa4d03faf0
- author_url
- https://medium.com/@syachxn
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 04:30:57