← Back to list

Pembentukan Faksi Militer dan Resistensi Rakyat dalam Menumbangkan Stratokrasi pada Serial Mobile…

Waralaba Mobile Suit Gundam telah menjadi salah satu fenomena pop- culture paling berpengaruh dalam genre science fiction mecha. Istilah…

Kate.K · 2026-05-24 17:24 · 0 claps · 5.8 min read
#gundam #military #resistance #pop-culture #anime
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media 📋 · Product Management 🔬 · Science · General ✍️ · Writing & Creative 📚 · Books & Reading

Pembentukan Faksi Militer dan Resistensi Rakyat dalam Menumbangkan Stratokrasi pada Serial Mobile Suit Zeta Gundam

Waralaba Mobile Suit Gundam telah menjadi salah satu fenomena pop- culture paling berpengaruh dalam genre science fiction mecha. Istilah “Mobile Suit” merujuk pada mesin raksasa berbentuk humanoid yang bersifat mobile atau mudah digerakkan sekaligus berfungsi sebagai suit atau baju zirah bagi pilotnya. Berbeda dengan tank atau pesawat tempur konvensional, Mobile Suit memiliki fleksibilitas tinggi, mampu bergerak lincah di darat maupun di ruang angkasa. Sementara etimologi Gundam itu sendiri belum pernah diintepretasikan secara resmi namun dari sini saya ingin mengasumsikan melalui pandangan saya sendiri bahwa etimologi Gundam terdiri dari kata gun (senjata) dan freedom (kebebasan) yang mana kedua kata tersebut menjadi portmanteau yang menurut saya sangatlah unik, memadukan senjata dan kebebasan menjadi satu makna yang baru adalah suatu ironi yang tak lepas dari pertempuran. Senjata dan kebebasan tidak lepas dari kewenangan, yang saya maksud pada kalimat sebelumnya yakni bagaimana senjata dan kebebasan mampu melahirkan kekuatan dan hak pada seorang individu atau kelompok tertentu dalam mengatur serta menerapkan kebijakan yang serta merta mengikat kelompok lainnya untuk tunduk tanpa syarat pada kelompok yang lebih kuat. Saya berbicara mengenai Stratokrasi, Melansir dari Fiveable.me (2018) Stratokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana militer atau angkatan bersenjata memegang kekuasaan dan mengendalikan proses pengambilan keputusan politik. Dalam sistem stratokrasi, perwira dan personel militer lah yang terpilih dan bukan rakyat sipil, dengan demikian militer adalah otoritas pemerintahan utama. Familiaritas dari stratokrasi menurut saya lekat dengan salah satu series Gundam yang menjadi tonggak revolusi dari series dengan genre mecha pada dekade 1980-an, series ini berjudul Mobile Suit Zeta Gundam.

Mobile Suit Zeta Gundam (1985) adalah instalasi series kedua dari waralaba Gundam, Cerita Zeta Gundam berfokus pada seorang pemuda bernama Kamille Bidan yang tinggal di sebuah koloni luar angkasa. Suatu hari, Kamille terlibat dalam perseteruan dengan seorang tentara Titans, yang mana Titans adalah sebuah organisasi paramiliter yang sangat opresif terhadap Spacenoid ( istilah bagi manusia yang tinggal di luar angkasa). Dari kejadian tersebut, hidup Kamille berubah total. Ia pun mencuri salah satu mobile suit milik Titans dan Kamille pun akhirnya terlibat langsung dan tergabung dalam organisasi resistensi untuk melawan otoritas Titans yakni A.E.U.G (Anti Earth Union Group) yang mana perseturuan antara dua faksi ini menciptakan sebuah perang saudara yang dikenal sebagai Konflik Gryps.

Bendera resmi A.E.U.G (Anti Earth Union Group)

Bendera resmi A.E.U.G (Anti Earth Union Group)

Bendera resmi Titans

Bendera resmi Titans

Mula-mula saya akan memulai dari bagaimana Titans dibentuk sebagai kelompok paramiliter. Titans merupakan satuan militer khusus yang dibentuk oleh Federasi Bumi sebagai kekuatan anti-pemberontakan dan intelijen yang diberi wewenang luar biasa untuk menjaga stabilitas pasca One Year War (Perang satu tahun yang terjadi pada series sebelumnya yakni Mobile Suit Gundam 1979). Dalam series Zeta Gundam, Titans digambarkan sebagai representasi klasik dari birokrasi militer yang haus akan kekuasaan dan sebagai bentuk nyata suatu lembaga yang semula dibentuk untuk tujuan keamanan umat manusia yang bertransformasi menjadi kelompok penindas yang menyalahgunakan status militerisme mereka. Titans diberikan otonomi operasional yang sangat luas oleh Federasi Bumi, termasuk hak untuk bertindak di luar prosedur hukum standar, sehingga memungkinkan mereka beroperasi dengan impunitas yang tinggi. Secara resmi, tujuan utama Titans adalah menjamin keamanan internal Federasi dengan menumpas sisa-sisa pasukan Zeon (faksi militer oposisi pada perang satu tahun) dan segala gerakan separatis di setiap koloni-koloni luar angkasa. Namun, seiring berjalannya waktu, agenda organisasi ini bergeser secara signifikan. Tujuan sebenarnya yang tersembunyi adalah mengkonsolidasikan kekuasaan politik dan militer di tangan kelompok elit Bumi yang disebut Earthnoid, serta menegakkan supremasi Manusia Bumi atas kependudukan Spacenoid melalui strategi legitimasi wewenang hak stratokrasi. Tindakan yang mencerminkan stratokrasi dipantulkan melalui perlakuan Titans terhadap Spacenoid, hal ini dapat terlihat dari bagaimana Titans dengan kejamnya menyebarkan gas beracun yang menelan 10 juta korban jiwa pada Koloni Side-1 Banchi 30, alasan disebarkannya gas beracun tersebut yakni bermula dari kritik dan protes yang disampaikan oleh para penduduk Banchi 30 akan sikap tentara Titans yang terkesan menginjak-injak Spacenoid serta sentimen tentara Titans yang pro Earthnoid. Pada awalnya aksi protes berjalan dengan kondusif namun protes tersebut kian berubah menjadi kekacauan dikarenakan pihak Federasi Bumi yang menutup mata mereka akan tindakan dari Titans.

Pada tanggal 31 Juli (Dua tahun sebelum konflik Gryps) Pihak Titans meluncurkan gas G-3 di dalam Side-1 Banchi 30 sebagai bentuk “pembungkaman” dan pelajaran bagi para Spacenoid yang berani mempertanyakan kewenangan Titans.

Gas G-3 yang digunakan untuk meracuni Koloni Side-1 “Banchi 30”

Gas G-3 yang digunakan untuk meracuni Koloni Side-1 “Banchi 30”

Menurut Mukhlis et al., (2025) Penindasan terhadap perbedaan pendapat yang terlihat jelas dalam penggunaan hukum secara selektif terhadap para kritikus pemerintah, termasuk pengguna media sosial dan lawan politik juga telah berkontribusi pada kemunduran demokrasi. Tidak hanya itu, eksploitasi sumber daya alam pada koloni luar angkasa ditunjukkan oleh Titans dalam pembangunan laser raksasa buatan Gryps 2 yang dibuat untuk menghancurkan markas utama A.E.U.G.

Selanjutnya adalah bagaimana A.E.U.G menjadi sebuah simbol revolusi bagi para spacenoid. AEUG itu sendiri adalah kelompok resistensi yang dibentuk sebagai tindakan menentang akan aksi Titans yang dinilai meng-opresi para Spacenoid. Pada dasarnyaA.E.U.G bukanlah kelompok teroris, tetapi sebagai bentuk perlawanan yang “diteroriskan” oleh pihak Federasi Bumi, hal ini tidak berubah dari peran semula A.E.U.G yang dibentuk sebagai anti tesis yang melawan pemerintahan beberapa bagian dari Federasi Bumi yang telah korup. Menurut Andriansyah (2024) Salah satunya adalah keyakinan kuat terhadap janji-janji revolusi, di mana masing-masing kelompok memiliki pandangan dan cara berbeda dalam meraih kemerdekaan. A.E.U.G. digambarkan sebagai organisasi yang menentang segala bentuk penyelewengan yang dilakukan oleh Titans, keyakinan akan memperjuangkan hak-hak dan keseteraan Spacenoid terpampang dengan jelas dalam pembentukan mereka yang terjadi tepat setelah insiden gas G-3.

Puncak dari Konflik Gryps terjadi pada peristiwa pidato Dakar pada episode ke-37 Mobile Suit Zeta Gundam, yang mana pidato Dakar adalah salah satu momen yang paling ikonik dan penting dalam serial Mobile Suit Zeta Gundam. Pidato Dakar sendiri disampaikan oleh Char Aznable selaku pemimpin A.E.U.G. di hadapan Majelis Federasi Bumi di Dakar, Senegal, Afrika Barat. Dalam pidato tersebut, Char menggunakan kesempatan ini untuk mengecam keras kekejaman dan kesewenang-wenangan Titans dengan menyebut mereka lebih buruk daripada keluarga Zabi (Monarki otoriter yang pernah menjalankan pemerintahan Zeon dengan tangan besi) . Ia menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk meninggalkan Bumi dan tinggal di luar angkasa, Char berpendapat jika Bumi adalah “Cradle” yang harus ditinggalkan agar tidak terbawa arus kekacauan akibat keserakahan dan overpopulasi manusia. Char menyoroti kerusakan lingkungan Bumi yang semakin parah, Char memberikan contoh seperti gurun yang mulai menelan kota Dakar, ia disini menegaskan sebagai bukti bahwa manusia tidak boleh lagi hidup bergantung pada Bumi. Ia menyerukan agar umat manusia melepaskan diri dari “gravitasi” pikiran lama yang sempit dan bergerak maju menuju era baru sebagai makhluk luar angkasa. Saat Char tengah berpidato, pasukan Titans nekat menyerang kota Dakar untuk membunuh Char dan delegasi Majelis. Serangan ini dilakukan di depan mata dunia, padahal Majelis Federasi sedang bersidang. Aksi Titans pun akhirnya diberitakan melalui siaran langsung dari Dakar yang membongkar wajah asli Titans, yang mana para Titans tidak segan membunuh delegasi pemerintah dan warga sipil demi kepentingan mereka sendiri. Banyak negara dan anggota Federasi yang sebelumnya netral atau mendukung Titans menjadi muak dan menarik dukungan mereka. Tindakan semena-mena Titans akhirnya menciptakan citra mereka sebagai “pembela Federasi” hancur, Titans kini hanyalah kelompok militer yang bar-bar dan berbahaya.

Pidato Char Aznable pada Day of Dakar

Pidato Char Aznable pada Day of Dakar

Mengapa manusia tidak bisa percaya bahwa mereka dapat memperluas kemampuan mereka dengan pergi ke luar angkasa? Maksud saya, kita manusia tidak boleh mencemari bumi! Para Titans terdiri dari orang-orang yang jiwanya tertarik oleh bumi dan akan melahapnya! — Char Aznable

Dengan demikian, A.E.U.G. dan Titans adalah dua faksi yang melambangkan kebebasan dan tirani dalam satu bingkai. Titans yang mendambakan supremasi akan segalanya (Gun) dan A.E.U.G. yang mendambakan kebebasan antar seluruh umat manusia tanpa memandang kaum tertentu (Dam). Represi yang meluap dalam narasi Mobile Suit Zeta Gundam membuat serial ini sangatlah kental dengan influens stratokrasi yang terlihat pada tindakan yang diambil oleh faksi Titans dan penggambaran revolusionisme yang menjunjung tinggi kemanusiaan pada faksi A.E.U.G.

Referensi

Andri Yansyah. (2024). Resistensi Tradisional. The International Journal of Pegon Islam Nusantara Civilization, 13(02), 83–106. https://doi.org/10.51925/inc.v13i02.120

Stratocracy. (2018). Fiveable.me. https://fiveable.me/intro-to-sociology/key-terms/stratocracy

‌Mukhlis, M. M., Paikah, N., & Wiranti, W. (2025). Power Dispersion as a Barrier to Autocratization: The Paradox of Indonesia’s Compromised Democracy. Jurnal Penelitian Hukum de Jure, 25(3), 249–266. https://doi.org/10.30641/dejure.2025.v25.249-266


메타데이터
post_id
65003f0fea22
slug
pembentukan-faksi-militer-dan-resistensi-rakyat-dalam-menumbangkan-stratokrasi-pada-serial-mobile-65003f0fea22
url
https://medium.com/@sandyroger86/pembentukan-faksi-militer-dan-resistensi-rakyat-dalam-menumbangkan-stratokrasi-pada-serial-mobile-65003f0fea22
canonical_url
https://medium.com/@sandyroger86/pembentukan-faksi-militer-dan-resistensi-rakyat-dalam-menumbangkan-stratokrasi-pada-serial-mobile-65003f0fea22
author_url
https://medium.com/@sandyroger86
status
ok
fetched_at
2026-07-10 11:40:45