Membaca Buku itu Menyenangkan Sekali
Sebuah reviu dan cerita pengalaman
Membaca Buku itu Menyenangkan Sekali
Sebuah reviu dan cerita pengalaman
Photo by Road Trip with Raj on Unsplash
Hari ini, Kamis 21 Mei 2026.
.
Hari berjalan cukup lancar meski beberapa kali aku ketiduran. Mungkin ini adalah efek dari obat pereda nyeri yang aku minum pagi tadi, atau mungkin ada faktor lain yang kurang bisa dimengerti.
Yang jelas, setelah mengisi sebuah sharing session di sekolah, aku merasa sangat mengantuk dan akhirnya memutuskan untuk tidur sebentar di sudut kantorku.
Setelah sekitar 30 menit, aku terbangun meski beberapa kali tertidur lagi dan lagi. Sampai pada akhirnya, ada seorang rekan kerja yang duduk di sampingku sambil bermain ponsel dan kami berbincang-bincang sederhana.
Siang ini kami beristirahat makan di luar bersama dengan para santri yang mengabdi di pondok dan kebagian untuk menjadi asisten kami. Sebenarnya aku telah memiliki rencana untuk makan sedikit saja, tapi ternyata kelepasan mengambil lauk yang cukup banyak.
Aku merasa kekenyangan karena menyantap gorengan sebagai penutup makan siang tadi (The Sin of Gluttony).
.
Setelah itu, karena merasa mengantuk dan menguap berulang kali, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan di dekat asrama anak-anak. Jujur saja, aku hanya berencana untuk membaca sebentar lalu tidur di kursi luar perpustakaan.
Tapi ternyata rasa kantukku perlahan menghilang saat ada beberapa santri yang mondar-mandir di sekitarku, dan aku terpaksa mencoba kembali fokus pada buku yang sudah kupinjam tadi.
Bukan sebuah kejadian yang buruk, meski aku tidak diperkenankan untuk terlelap barang sebentar. Sebab buku yang aku baca tadi adalah salah satu tipe buku yang ternyata bisa membuat orang yang membacanya tetap terjaga.
Berjudul Madre karya Dee Lestari, sebuah buku kumpulan prosa, cerita pendek, dan puisi yang rasanya begitu menyegarkan dan membuatku betah dalam membacanya.

Dok. Pribadi — Membaca buku di kursi luar perpustakaan
Aku belum pernah membaca karya tulis dari Kak Dee kecuali buku Filosofi Kopi yang pernah kupinjam dari perpustakaan mini Pakdhe-ku saat masih SMA. Jadi, rasanya sudah lama aku tidak menikmati karya tulis dari beliau, dan Madre adalah sebuah pembuka yang menggembirakan.
Beberapa kali aku pernah direkomendasikan untuk membaca karya Kak Dee yang lain seperti Perahu Kertas atau Aroma Karsa. Tapi karena aku adalah pembaca buku yang cenderung mencari buku gratisan, agak trauma jika membeli buku yang akhirnya kurang cocok dan tidak terbaca. Jadi sampai saat ini, hanya satu dari karya beliau yang sudah pernah aku baca hingga tamat.
.
Meski begitu, rasanya buku Kak Dee yang kedua ini akan cepat aku selesaikan nanti. Karena memang isinya menarik dan setelah sekitar satu jam membaca, sudah hampir setengah buku kuselesaikan.
Buku Madre ini berukuran cukup kecil dan muat saat aku memasukkannya ke dalam saku celana kerja tadi. Menurut perkiraanku, mungkin dalam beberapa hari ke depan cerita di dalamnya sudah bisa dinikmati secara tuntas.
Photo by David Emrich on Unsplash
Dataran yang Lapang, Senin, 25 Mei 2026.
.
Hari ini terasa begitu datar dan biasa saja. Aku diiringi oleh alunan musik yang sama, merasa lelah karena kegiatan administrasi, dan aktivitas kerja yang tak jauh berbeda. Badanku terasa hambar; tidak ada semangat atau rasa sakit dan kebingungan yang memaksa untuk bergerak.
Satu hal yang mungkin bisa dirayakan adalah keberhasilanku untuk menyelesaikan buku yang berjudul Madre, karya tulis dari Dee Lestari. Meski aku tidak bisa menyelesaikannya sesuai dengan harapan dan targetku kemarin, karena memang beberapa hari belakangan terasa cukup hectic di sini.
.
Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, bahwa Madre adalah sebuah kejutan yang menyenangkan. Aku merasa bersyukur karena bisa membacanya hingga selesai. Untaian kata dan kumpulan karya Kak Dee begitu baik dan membuatku ingin mencoba untuk membaca karyanya yang lain.
Tapi rasanya aku harus membaca novelet, kumpulan cerita dan karya yang sejenis seperti Filosofi Kopi dan Madre ini. Jadi, seri seperti Supernova itu harus menunggu dan akan lebih baik untuk mencoba novel Aroma Karsa atau Perahu Kertas terlebih dulu.
Sayang sekali karena aku adalah seorang pembaca gratisan, jadi yang harus dilakukan adalah kembali mengecek persediaan buku di perpustakaan sekolah besok.
Atau mungkin aku bisa mencuri waktu luang untuk kembali membaca novel Tanah Lada karya Kak Ziggy yang nama panjangnya susah untuk diketik itu, ya?
Entahlah, meski temanku yang meminjamkan novel ini sangat merekomendasikannya, tapi ia juga bilang aku boleh membacanya secara perlahan. Karena memang novel ini akan terasa begitu menyebalkan bagi sebagian orang, dan kemarin aku begitu mangkel saat membaca beberapa bab di awal sehingga aku lari ke bacaan yang lain dulu.
Mengingat beberapa orang memang merekomendasikan buku ini sejak kemarin, rasanya memang aku harus mencoba membacanya sekali lagi.
Meski aku harus membacanya dengan perlahan, seharusnya itu tidak menjadi masalah, bukan?
Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!
[embed]Submission Guideline — Booknotations Panduan mengirim tulisan ke Booknotationsmedium.com
메타데이터
- post_id
- 65178eeadc69
- slug
- membaca-buku-itu-menyenangkan-sekali-65178eeadc69
- url
- https://medium.com/booknotations/membaca-buku-itu-menyenangkan-sekali-65178eeadc69
- canonical_url
- https://medium.com/booknotations/membaca-buku-itu-menyenangkan-sekali-65178eeadc69
- author_url
- https://medium.com/@atmadevawiranata
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 12:15:08