Sasaran Terdekat
#1288: Duka Mencari Arah, Amarah Salah Alamat
Jurnal
Sasaran Terdekat
#1288: Duka Mencari Arah, Amarah Salah Alamat
Ruangan kosong yang tampak utuh, tetapi menyimpan kesunyian yang tidak mudah diberi nama (Foto: Christian Lue/Unsplash)
Seorang teman bercerita tentang anaknya yang baru divonis mengidap penyakit langka. Dokter menyampaikan bahwa kondisi anaknya akan menurun perlahan. Sejak kabar itu, suasana rumahnya berubah meski tidak ada yang tampak berbeda secara fisik. Dia mulai sering tidak mengenali reaksinya sendiri, terutama ketika tiba-tiba marah kepada suaminya karena hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
🔑 **Klik tautan ini untuk melanjutkan membaca. 🔑**
Yang paling mengganggunya bukanlah kemarahan itu sendiri, melainkan kesadaran yang muncul setelahnya. Dia tahu hal yang dipersoalkan tidak sebanding dengan beban besar yang sedang dihadapi. Namun, pada saat itu, hal kecil terasa cukup untuk menampung sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan, bahkan kepada dirinya sendiri.
Saya mendengarkan cerita itu tanpa banyak menyela. Ada situasi yang tidak meminta penjelasan, tetapi meminta didengar lebih dulu. Hati saya seperti diiris-iris karena mengenal baik anaknya. Dari situ, saya melihat bahwa manusia bisa berubah tanpa sempat memahami perubahan yang sedang terjadi pada dirinya sendiri, lalu baru menyadarinya setelah semuanya telanjur terjadi.
Duka kadang terlalu besar untuk dipegang langsung. Ketakutan kehilangan, ketidakpastian, dan rasa tidak berdaya tidak punya bentuk yang bisa dilawan atau dinegosiasikan. Semua itu tidak bisa diarahkan ke satu titik. Tanpa disadari, perhatian bergeser ke hal yang lebih dekat, lebih kecil, dan lebih mudah dijangkau dalam keseharian.
Dalam rumah, pasangan sering menjadi sasaran terdekat, bukan karena menjadi sebab, melainkan karena hadir dan paling mudah dijangkau setiap hari. Kita percaya bahwa hubungan dekat akan cukup kuat menampung amarah, padahal kepercayaan itulah yang sedang diuji. Saya teringat betapa seringnya saya sendiri melakukan hal yang sama. Nada suara netral tiba-tiba terasa menekan tanpa alasan jelas dan batas antara hal besar dan kecil ikut kabur.
Di balik itu, ada sesuatu yang tidak kentara: kebutuhan untuk tetap merasa punya kendali. Ketika keadaan besar tidak bisa diubah, hal-hal kecil di sekitar terasa seperti satu-satunya ruang yang masih bisa digerakkan. Bahkan, keputusan yang ekstrem kadang muncul bukan sebagai niat yang matang, melainkan sebagai upaya mencari pegangan di tengah situasi yang terasa runtuh.
Pada beberapa kasus, dorongan untuk berpisah muncul bukan karena masalah pada hubungan itu sendiri, melainkan karena pikiran sedang mencari jalan keluar dari rasa tidak berdaya. Ketika tidak ada yang bisa diubah, keputusan yang paling dekat terasa seperti satu-satunya bentuk kendali yang tersisa. Ucapan semacam itu sering lahir spontan di tengah emosi yang belum reda.
Ada yang terbesit dalam pikiran saya dari cerita teman itu. Tidak semua kemarahan lahir dari tempat yang sama dengan arah yang dituju. Ada kemarahan yang lahir dari takut, ada yang dari lelah, dan ada yang dari sesuatu yang belum sempat diberi nama. Kita sering bergerak lebih cepat daripada sempat memahami, lalu baru mengerti setelah semuanya mereda.
Yang paling dekat memang sering kali bukan yang paling bersalah, melainkan yang paling mudah dijangkau ketika sesuatu di dalam diri kehilangan arah. Dalam duka yang tidak punya alamat, emosi bergerak mencari tempat singgah yang tersedia meski bukan tempat yang seharusnya dituju. Itulah yang membuat kemarahan sering terasa tidak adil, tetapi tetap terjadi.
Saya tidak tahu apakah teman saya akhirnya berbicara jujur kepada suaminya tentang apa yang sebenarnya dia takutkan. Saya juga tidak tahu apakah amarah itu akan terus mencari sasaran kecil selama duka itu belum menemukan tempatnya. Yang saya tahu, di balik setiap pertengkaran karena hal sepele, mungkin ada ketakutan yang jauh lebih besar yang sedang mencari jalan keluar.
Jurnal dan Kenangan
Sabtu kemarin, saya menyelesaikan buku Na Willa dan Rumah dalam Gang karya Reda Gaudiamo. Membaca buku ini seperti menemukan dunia lain setelah membaca buku Kenapa Kita Tidak Berdansa? Dea Anugerah. Hidup terasa menyenangkan dan tanpa beban ketika dilihat lewat kacamata anak kecil. Karena penasaran, saya kembali ke POST Bookshop di Pasar Santa untuk membeli dua buku lain dari kedua penulis itu.
Tahun lalu, saya menemukan kembali kegembiraan membaca ulang Pesona Bahasa Edisi Kedua yang memperbarui rujukan linguistik lama setelah hampir dua dekade. Buku ini menyajikan penjelasan 15 bab dari berbagai penulis dengan gaya jernih, dari fonologi hingga pragmatik, sehingga konsep linguistik terasa lebih mudah diakses. Struktur tiga bagian membantu pemahaman bertahap dan membuat linguistik terasa lebih ramah dan relevan secara umum.
[embed]Linguistik Tak Lagi Mengintimidasi #923: Ulasan Buku Pesona Bahasa Edisi Kedua (2025)medium.com
Dua tahun lalu, saya melihat menulis bukan sekadar hasil akhir pemikiran, melainkan juga sarana untuk berpikir. Gagasan yang belum matang dikembangkan melalui proses menulis, seperti dalam diskusi atau curah pendapat, sehingga struktur pikiran menjadi lebih jelas. Menulis dan berpikir saling memengaruhi. Tulisan memperdalam analisis, sementara pikiran membentuk kejernihan tulisan. Ide tidak perlu menunggu matang untuk dituliskan dalam proses berpikir sehari-hari pula.
Ingin lebih terampil berbahasa? Kunjungi toko 🏪, ikuti kelas 👨🏫, atau hubungi 📞 Narabahasa.
메타데이터
- post_id
- 656417d2e7ef
- slug
- sasaran-terdekat-656417d2e7ef
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/sasaran-terdekat-656417d2e7ef
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/sasaran-terdekat-656417d2e7ef
- author_url
- https://medium.com/@ivanlanin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 00:50:33