Seni Juga Butuh Money
Series ODORO (One Day One Random Opinion) #99
Seni Juga Butuh Money
Series ODORO (One Day One Random Opinion) #99

sumber: https://i0.wp.com/
Selamat merayakan lebaran seni! Sebelum berpindah domisili ke luar Jawa, saya termasuk orang yang sejak tahun 2022 tidak pernah absen mengunjungi pameran seni kontemporer ArtJog. Setiap tahunnya, saya selalu menyengajakan diri untuk datang ke Kota Yogyakarta dan berlibur di sana selama beberapa hari dengan salah satu agenda utamanya adalah seharian mengelilingi ArtJog. Tahun ini, mengusung tema Ars Longa: Generatio, acara yang diselenggarakan pada 19 Juni hingga 30 Agustus 2026 di Jogja National Museum (JNM) tersebut rupanya sedang menjadi bahan gunjingan banyak pihak.
Aksi protes muncul dari sebuah gerakan kolektif yang melabeli diri dengan sebutan ArtJoke, di mana mereka memberikan kritik terhadap fenomena artwashing — sebuah praktik pencucian citra melalui seni. Para seniman yang tergabung di dalamnya menggugat masuknya Didit Hediprasetyo Foundation, entitas bisnis milik Didit Hediprasetyo yang merupakan putra dari Prabowo Subianto ke dalam struktur pendanaan ArtJog 2026. Rekam jejak bisnis yang kerap dikaitkan dengan keluarga tersebut dinilai kontradiktif dengan nilai-nilai seni independen.
Menurut aktivis ArtJoke, hal ini menunjukkan persoalan yang besar terkait kebebasan berekspresi dan relasi antara ruang seni dengan kekuasaan. Keterlibatan entitas tersebut dinilai berpotensi memperkuat kontrol kekuasaan terhadap ruang kesenian. Situasi kian memanas ketika setelahnya muncul pula dugaan tindakan represif terhadap seorang seniman yang melakukan aksi performance di area depan lokasi pameran.
Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagai festival seni mandiri yang skalanya terus membesar, tentu saja ArtJog membutuhkan sokongan dana korporasi untuk membiayai pameran utama, panggung pertunjukan, dan rangkaian program lainnya.
Selama bertahun-tahun, saya melihat sendiri betapa proper-nya acara yang dipelopori oleh Heri Pemad tersebut. Mulai dari pameran seni rupa yang terkonsep apik dengan menampilkan berbagai jenis karya seperti lukisan, patung, dan instalasi dari berbagai seniman lintas generasi di Indonesia. Performa ArtJog yang merupakan pertunjukan rutin setiap akhir pekan yang menampilkan tari, teater, dan musik dari seniman lokal hingga internasional. Exhibition Tour yang dipandu oleh kurator, termasuk sesi khusus untuk anak-anak dan pelajar. Meet the Artist di mana berlangsung ruang dialog antara seniman dan pengunjung untuk membedah karya atau isu-isu seni kontemporer. Serta program edukasi lokakarya interaktif dan inklusi untuk pengunjung difabel.
Saya sendiri tidak masalah jika acara seni ini disponsori oleh sebuah entitas kekuasaan. Sebab, meskipun belum berkesempatan untuk datang ke sana secara langsung, saya melihat di media sosial bahwa ada banyak karya seni yang bisa dibilang “bertentangan” dengan pemerintah, seperti kritik terhadap hukum, institusi Polri, dan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Artinya, karya seni yang ditampilkan bukan jenis yang benar-benar dikurasi sehingga hanya menampilkan “sisi baik” dari pemerintah.
Toh, menurut saya karya seni dan uang memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Lihat saja betapa karya lukis dari seniman-seniman hebat dunia diperjualbelikan dengan harga yang tidak masuk akal. Ajang pencarian bakat seni yang ditampilkan ditelevisi juga mengandalkan banyak sponsor untuk membuat acara tersebut tetap berlangsung. Berarti benar bahwa seni memang masih ada yang bersifat eksklusif.
Justru dengan kehadiran ArtJog inilah, pada akhirnya seni dapat dinikmati oleh kalangan yang lebih luas. Dengan harga tiket Rp80.000 untuk dewasa dan Rp50.000 untuk anak-anak (usia 6–15 tahun), ArtJog menjelma semacam one stop destination bagi para penikmat seni yang ingin merasakan pengalaman menikmati seni dalam berbagai bentuk di satu tempat sekaligus. Coba bayangkan jika tidak ada ArtJog, pameran seni hanya akan diadakan di ruang-ruang kecil yang sifatnya terbatas dan tidak terpusat, yang mana pasti membutuhkan sumber daya lebih banyak jika ingin datang ke tempat-tempat tersebut.
Beberapa pihak yang sebelumnya dijadwalkan mengisi rangkaian acara ArtJog 2026 dikabarkan memilih mundur setelah mengetahui perihal pendanaan ini. Saya menghargai hal tersebut sebagai sebuah bentuk sikap yang memang lahir dari pemahaman dan pengalaman masing-masing. Sedangkan bagi orang seperti saya yang agak skeptis perihal sumber pendanaan; akan tetap memilih datang, berfokus menikmati karya seni, menuliskan pengalaman selama di sana, namun tetap aware jika ada hal-hal “nyeleneh” yang perlu dikritisi.
메타데이터
- post_id
- 656eed4da5f7
- slug
- seni-juga-butuh-money-656eed4da5f7
- url
- https://medium.com/@artefactbydiy/seni-juga-butuh-money-656eed4da5f7
- canonical_url
- https://medium.com/@artefactbydiy/seni-juga-butuh-money-656eed4da5f7
- author_url
- https://medium.com/@artefactbydiy
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 12:17:11