Esai-esai Dea Anugrah dan Kegetiran yang Terasa Dekat

SELIPAN CATATAN #1
Esai-esai Dea Anugrah dan Kegetiran yang Terasa Dekat
Judul Buku : Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya Penulis : Dea Anugrah Penerbit : Buku Mojok Halaman : vi + 181 hlm. Tahun Terbit : Januari, 2019
Ketika sangkakala berbunyi segalanya telah disiapkan di Bumi dan Jehovah menyerahkan dunia kepada Coca-Cola Inc., Anaconda, Ford Motors, dan perusahaan lainnya. United Fruit Company mencadangkan bagian paling nikmat untuk dirinya sendiri, pantai tengah duniaku, pinggang Amerika yang lembut. Di sana, negara-negara dia baptis ulang sebagai Republik-republik Pisang. (Pablo Neruda – United Fruit Co.)
Awalnya saya menemukan buku ini tergeletak di lantai ketika kami sedang beres-beres buku di ruangan organisasi. Buku ini bersampul hitam dan judulnya cukup mencuri perhatian: Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya. Sekilas saya mengira isinya adalah kutipan-kutipan inspiratif, semacam buku self-help ringan. Tapi setelah membuka beberapa halaman awal, ternyata isinya adalah kumpulan esai.
Menarik juga, pikir saya. Akhirnya buku itu saya masukkan ke dalam tas dan saya bawa pulang ke kos. (Rosida, maaf saya lupa bilang kalau buku ini saya pinjam—tapi tenang, sudah saya kembalikan ke tempatnya, hehe.)
Buku ini ditulis oleh Dea Anugrah dan terdiri dari 20 esai yang membahas banyak hal—dari sejarah, kematian, pekerjaan, dan beragam lainnya.
Gaya tulisannya liris, kadang getir, dan sering kali menyentil diam-diam. Salah satu esai favorit saya berjudul Ada Apa dengan Pisang?, yang membahas sejarah perdagangan pisang dan bagaimana buah sederhana itu ternyata terhubung dengan kolonialisme, kekerasan, dan kerakusan kapitalisme global.
Lewat esai ini, Dea berhasil menunjukkan bagaimana hal yang tampak remeh bisa membawa kita pada percakapan tentang kekuasaan dan ketidakadilan. United Fruit Company, misalnya, pernah begitu berpengaruh hingga ikut menentukan nasib negara-negara kecil di Amerika Latin—yang kemudian dijuluki “Republik Pisang”. Di balik pisang yang kita beli murah di pasar, ada sejarah panjang tentang tanah yang dirampas, buruh yang dieksploitasi, dan kekayaan yang terkonsentrasi.
Tapi buku ini bukan semata-mata kritik sosial. Ia juga reflektif dan kadang melankolis. Dea tidak menggurui, justru sering membiarkan pembaca tenggelam sendiri dalam kesimpulan. Dalam segala absurditas dunia, ia mengingatkan: hidup memang tidak selalu masuk akal, tapi tetap ada keindahan yang bisa dirayakan, sekecil apa pun bentuknya.
Dan mungkin itulah yang membuat buku ini terasa dekat. Ia tidak menawarkan jalan keluar dari kekacauan hidup, tapi mengajak kita untuk melihatnya dengan mata terbuka dan hati yang semampunya.
“Menyadari bahwa hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya." (hlm. 179).
메타데이터
- post_id
- 6592a5b2e3aa
- slug
- kapitalisme-buruh-dan-menjalani-hidup-yang-indah-sebuah-refleksi-dari-esai-ada-apa-dengan-6592a5b2e3aa
- url
- https://medium.com/@bukansiskakhol/kapitalisme-buruh-dan-menjalani-hidup-yang-indah-sebuah-refleksi-dari-esai-ada-apa-dengan-6592a5b2e3aa
- canonical_url
- https://medium.com/@bukansiskakhol/kapitalisme-buruh-dan-menjalani-hidup-yang-indah-sebuah-refleksi-dari-esai-ada-apa-dengan-6592a5b2e3aa
- author_url
- https://medium.com/@bukansiskakhol
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-29 01:02:39