Yang Tertinggal di Belakang
Kekata dariku yang tidak mampu mewakili rasanya
Yang Tertinggal di Belakang
Kekata dariku yang tidak mampu mewakili rasanya
Photo by Patrick Tomasso on Unsplash
pada gambar yang termangu
waktu menghentikan kedipku
detik nyaris bisu
detak sudah tak terdengar
kemudian aku terjerembab
pada pagi bahagia dengan penuh senyum
juga cahaya pagi hangat beserta nasi goreng
spesial buatan ibu
ada ayah, ibu, dan adikku yang masih dua
juga nenek yang tersenyum
burung masih berkicau
ayam? jangan kau tanya perihal itu
adanya di pasar. di rumah tidak boleh
kata ibu begitu. pupnya bau, soalnya
kemudian terjerembab
pada mesin cuci yang berguncang
aku bergegas bersandar di sisinya
bersama dua yang lain. Tertawa
kemudian terseret jauh
pada rumah bersalin dan bahagia
ye!! adik baru
pasukanku makin banyak!
kemudian terpelanting
pada potret beku di ruang tamu
aku, ibu, ayah, dan adik-adikku yang tersenyum
sudah memudar gambarnya
duhai, hatiku ngilu
hari-hari yang tertinggal itu pelakunya
"tidak mengapa, akan baik-baik saja...
toh besok-besok tidak akan terasa lagi bukan?"
kemudian mataku menatap ponsel
pesan kukirimkan hanya teronggok disana
"semoga semuanya baik-baik saja.."
— YAS📧
메타데이터
- post_id
- 65d233948a0b
- slug
- yang-tertinggal-di-belakang-65d233948a0b
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/yang-tertinggal-di-belakang-65d233948a0b
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/yang-tertinggal-di-belakang-65d233948a0b
- author_url
- https://medium.com/@Yas__
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-29 22:44:20