← Back to list

Sepanjang Jalan Teras Rumah Karya: Zahra Riliantira

Segelas kopi hitam tersaji hangat bersama sepiring pisang goreng yang siap untuk disantap. “Huh. Lama-lama jadi kolam renang nih,” ucap…

Pena Bastra · 2026-01-03 10:42 · 5 claps · 2.2 min read
#writing #cerpen #cerpen-indonesia #cermin
Open on Medium ↗

Sepanjang Jalan Teras Rumah

Karya: Zahra Riliantira

Segelas kopi hitam tersaji hangat bersama sepiring pisang goreng yang siap untuk disantap. “Huh. Lama-lama jadi kolam renang nih,” ucap seorang pria paruh baya menatap kesal jalan yang rusak digenangi air di depan rumahnya.

“Kayaknya dari aku SMP dan sekarang udah masuk kuliah, tetap aja belum diperbaiki,” sahut pria berusia 19 tahun di sebelahnya.

“Negara banyak yang korupsi ya begini, menyusahkan rakyat!”

“Eh. Ada CCTV, Pak,” candanya.

Hari terus berganti, harapan yang berbeda terus mengalir sepanjang hari. Tak terkecuali untuk lubang yang berada di depan rumahnya. Entah harus berapa nyawa lagi yang melayang agar jalan itu diperbaiki. Entah harus berapa tubuh lagi yang mencium aspal kolot itu. Dan entah harus sebanyak apalagi orang-orang yang menuntut hak itu. Tak ada kejelasan pasti yang mampu membuat warga merasa nyaman dan aman untuk melewati jalanan itu.

Brak.

Warga ramai-ramai mengerubungi seseorang yang mengalami kecelakaan tunggal. Sebab lubang itu, pasti. “Napasnya udah mulai melemah, cepet bawa ke rumah sakit!” Seorang pria paruh baya dengan janggutnya yang mulai memutih menginterupsi warga lain.

“DARAAA!!!” teriak seorang ibu-ibu sembari menatap nanar keadaan sang anak yang sudah terkapar lemah.

Seorang remaja SMA dibawa ke rumah sakit terdekat menggunakan mobil salah satu warga di sana. Kepalanya terus mengeluarkan cairan merah pekat. Baju putih abunya berlumuran darah—mampu membuat beberapa orang di sana menangis pilu.

“Ibu ... Ayah ... Dara sayang kalian,” kata terakhir yang terucap dari bibir pucatnya. Suara tangis menggema, membuat hati siapa saja yang mendengarkan ikut merasakan lara yang menyiksa.

Setelah sebulan lebih dari hilangnya nyawa gadis itu, tetap saja lubang maut tersebut menganga sempurna. Tak ada perubahan, tak ada perbaikan, masih terbuka mencari targetnya.

Di depan teras yang sama dengan satu orang yang berbeda, segelas kopi kembali terhidang menemani kedua remaja bercakap santai. “Mau buka bisnis kolam ikan lo di depan rumah, Al?” tanya pria kekar berambut ikal itu sembari tertawa.

Pasalnya sekarang musim hujan, garis jalan yang seperti nol besar itu bisa saja jadi kolam ikan atau kolam jentik nyamuk dadakan.

“Bukan gua. Gua juga gak tahu siapa yang buka bisnis terang-terangan di depan rumah ini. Bisnis yang merugikan banyak orang, tapi mungkin gak buat dia.”

Pria berambut ikal itu tertawa kembali setelah mendengar penuturan temannya. Entah apa yang lucu.

Malam ini dingin sekali, tetapi percik air terus membasahi tanah. Angin berhembus lembut menyapa kulit yang halus. Dingin. Tak seperti malam-malam sebelumnya, rasa gundah terus berkecamuk di lubuk hati membuat bingung si pemilik kalbu.

“Hati-hati, Ray!” ucap Al pada temannya tadi.

Tubuhnya kini sudah nyaman bersentuhan dengan kasur yang empuk dan hangat. Rasanya enggan untuk menjauhi benda empuk itu hanya untuk tugas kuliah yang membuat sakit kepala.

“Kenapa, ya, malam ini kayak beda? Mau sedih tapi gak tau karena apa?” gumam lelaki itu.

Dring ... dring ... dring ....

Bunyi telepon memecah keheningan di ruang tidurnya. Segera ia menjawab panggilan telepon itu. “Al, tas gua ketinggalan di ruang tamu. Laptop gua ada di sana. Lo jangan tidur dulu! Gua mau balik.”

“Gak usah, gua anterin. Sekalian gua mau minep dan ngerjain tugas di rumah lo.”

Pria itu segera mengganti bajunya dan pamit dengan orang tua. Ia terjang rintik hujan bersama motor kesayangannya.

Brak!!!

Ban motornya tergelincir jalan berlubang. Tubuhnya kini mencium aspal basah yang mampu memunculkan luka batin. Warga mulai menghampiri tubuh lemahnya yang sudah berlumuran darah. Kepalanya, tangannya, kakinya. Hampir semuanya mengeluarkan cairan merah pekat membuat orang-orang di sana meringis melihat kepedihan itu.


메타데이터
post_id
65d996cc64da
slug
sepanjang-jalan-teras-rumah-karya-zahra-riliantira-65d996cc64da
url
https://medium.com/@PenaBastra/sepanjang-jalan-teras-rumah-karya-zahra-riliantira-65d996cc64da
canonical_url
https://medium.com/@PenaBastra/sepanjang-jalan-teras-rumah-karya-zahra-riliantira-65d996cc64da
author_url
https://medium.com/@PenaBastra
status
ok
fetched_at
2026-07-13 17:38:32