← Back to list

Pembicaraan panjang untuk Ivy, ditemani martabak dan rokok

@INE · 2024-05-19 01:31 · 0 claps · 14.3 min read
#fanfiction #sunwoo #eric #the-boyz
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✍️ · Writing & Creative

Pembicaraan panjang untuk Ivy, ditemani martabak dan rokok

DAVKA

“Dih kolor gue!” Masih dengan keributan kolor bang Dion yang membuat gue tertawa terbahak sampai sakit perut – Meskipun dia lagi menuduh gue!

“Apasih dibilang dibeliin ibu!” Balas gue nggak mau kalah, tapi beneran, kemaren ada tukang baju keliling pakai mobil 100 ribu 3. Ibu beli buat gue dan bapak.

“Gak semua kolor ijo punya lo ya Yon.” Kenapa sih Aidane ini, daritadi yang diributin kan celana boxer warna merah yang gue pakai, bukan warna ijo???

“Apasih tolol, gak ada yang bilang warna ijo, gue bilang merah.”

GUBRAK!

“Bangke.”

“WEY!” Sontak kita semua yang duduk di sofa ruang TV langsung menoleh ke arah meja dapur setelah mendengar suara kegaduhan dan mengaduh Asanka.

“Lah lo ngapain tidur di bawah meja?” Dari bawah meja keluar seonggok manusia yang entah sejak kapan dia tidur di bawah meja makan. Kayak…… YANG BENER AJE LU SANKA TIDUR DI BAWAH MEJA PAKE SARUNG??? Bidang dadanya yang lebar dibiarkan terbuka dihinggapi debu rumah ini – Bang Asanka nggak menjawab, justru dia sibuk mengusap usap kepalanya yang habis kepentok meja. Seraya mengucek ngucek matanya, mencoba melihat keributan yang terjadi sejak ia tidur.

“Lo ngapain?” Kita semua heran, sebanyak itu kamar dan tempat tidur dia pilih bawah kolong meja yang nggak tahu apakah hari ini di pel Aidane?

“Gue tadi tidur di sofa.”

“Terus itu kenapa di bawah meja?” Tanya Dion.

“Lo ngigo ya?” Kata gue.

“Ha?” Mungkin efek tidur, dia jadi kurang bisa nangkep apa yang lagi diomongin, jadi harus bersabar.

“Ya lo kenapa tidur di bawah meja makan?”

“Gue tidur di sofa.”

“Jelas lo bangun dari kolong meja.”

“Gue juga bingung heheheheh.” Balasnya dengan senyum polos, demi Allah, kalau gue seumuran dia bakal gue geplak kepalanya. Ngeselin banget. “Padahal gue gak pernah ngigo sampe pindah tempat tidur.”

Tapi respon bang Sanka yang begini tuh hiburan banget, buktinya, Kamga ketawa sampai kepalanya kejedut pintu lemari yang terbuka.

“Lo ya yang ngangkat gue?” Baru saja kepalanya jadi korban, sekarang Kamga sudah tertuduh oleh Sanka. “Ngaku aja sih.”

“Mana ada.”

“Tadi pas gue tidur cuma ada lo sama Abel di rumah ini.”

“Abel kali.”

“Lo bedua lah, Abel mana kuat angkat gue sendirian.” Katanya ngedumel sendiri.

“Lagian, siapa suruh badan gede, gue mau nonton Tv.” Kata Kamga mengaku sambil ketawa ketiwi.

Melihat keributan keduanya, kita semua lagi lagi tertawa, ini lucu. Bang Sanka tuh kalau tidur bakal kayak orang mati, kalau ada gempa, dia bakal bangun setelah gempanya selesai sangking lelapnya dia tidur.

Ya gue juga susah bangun, tapi kalau lagi diisengin gitu pasti kebangun lah.

“Rese lu.”

Tiba tiba dari kamar mandi keluar Abel, badan bang Abel tuh mirip model fair and lovely, shining shimmering splendid, super glowing.

“Lo abis minum ya bang?” Gue mengendus badan Sanka sedikit, dia beneran abis minum kayaknya, soalnya ini nyengat banget baunya.

“Wine doang.”

“Sebotol dia abisin sendiri.”

“Buset, gak sisain kita kita.” Toyor Aidan. Yang ditoyor balik noyor Aidan. “Hahahah asli nyet, abis banget.”

“Lagi ada masalah lu?” Dion siap mendengarkan keluhan bestie seperjuangannya. Meskipun bentar lagi pasti ada aja ujungnya….. “Halah San, lu mah mending……”

“Bangsat gue belum cerita.”

“HAHAHAHAHAHAHHA.” Jelas kita semua ketawa lah, Sanka sudah siap bercerita, namun tiba tiba harapannya dipatahkan begitu saja sebelum bicara.

“Buat apa lah menaruh harapan besar ke beban keluarga kayak lo gini, jelas salah besar ya Yon.” Katanya mencengir lebar.

“Sama sama beban jadi harus pengertian.” Dion menepuk bahu Sanka dengan ramah.

Masih di tengah huru hara obrolan ngalor ngidul kita, Keva baru saja datang menaruh camilan di meja dan langsung naik ke atas.

“Gue tidur duluan ya.” Katanya pada kami.

“Buset kok langsung tidur, masih jam segini.” Celetuk Dion. “Tapi thanks ya Kev.”

“Napa tuh bocah?”

“Lagi pusing kisi kisi soal kali?”

Kebetulan Keva sedang mempersiapkan ujian untuk kuliah di luar negeri.

“Gue ke atas ya.” Kata gue.

“Ini Ka, bawa ke atas makan bareng Keva.” Bang Sanka memberi gue satu piring martabak pemberian dari Keva.

“Nih bawa sekalian minumnya, biar gak naik turun lu bedua.” Kata Kamga.

“Iya nih Ka, sekalian.” Seru Dion.

“Iya bawa!” Kata Abel.

“Yaelah, gue ke kamar doang.”

“Bawa aja napasi.” Omel Aidan.

Sesampainya di atas, gue menemukan Keva duduk termenung seraya menghisap rokoknya di balkon.

“Lagi kusut kenapa lo?” Tanya gue, mengambil satu batang rokok miliknya di meja.

“Kaga.”

Keva yang seperti ini, Keva yang kosong nggak punya tenaga untuk marah sama gue, di saat kalau mood dia bagus, dia bakal protes ketika keheningannya di ganggu orang lain termasuk orang orang di rumah ini.

“Aman kan tadi anter Ivy pulang?”

“Lo emang gak ketemu dia di rumah? Lagian tinggal satu rumah saling sapa kek.”

“Emang lo saling sapa tetangga lo setiap mau pergi ke sini?”

“Ya kaga lah bangsat.” Yang bener aje, rugi dong.

“Sama.”

“Tapi kan Ivy bukan tetangga.”

“Siapa?”

“Kerabat jauh.”

Keheningan ini di isi oleh hembusan asap rokok kami yang nggak ada hentinya, sambil makan martabak itu satu demi satu, hampir setengah jam, gue dan Keva hanya diam. Sibuk melamun.

“Lo salah apa lagi sama Ivy, Kev?” Gue hanya menebak, setelah melihat reaksinya yang syok begini, gue yakin memang ada yang dia sembunyikan.

“Kenapa?”

Keva masih nggak mau jawab, dia menghela napas panjang sekali.

“Ivy cerita soal nyokapnya gak?”

“Justru gue mau nanya ini sama lo, nyokapnya kenapa tiba tiba gak ada kabar?”

“Kalau gue cerita, lo bakal ceritain ini ke Ivy gak?”

“Apa?” Ini sungguh membuat gue amat penasaran. “Ivy gak boleh tau soal ini?” Dan Keva mengangguk.

“Apa?”

“Gak percaya gue sama lo, lo tuh pasti cerita ke Ivy.”

“Lah serius, nggak lah kalau dia gak boleh tau mah.” Gue mencoba meyakinkan dia. “Serius, apa?”

“Janji ya lo gak bilang bilang dia.”

“Iya janji, perlu janji jari kelingking biar makin percaya?” Gue siap menarik tangannya.

“Dih, najis.” Keva dengan sigap mau menonjok dan gue cuma bisa terkekeh sambil menunggu dia bercerita.

“Nyokapnya Ivy tuh….. gak baik.”

“Gak baik gimana?”

“Beliau pergi dari Ivy kecil dan baru muncul lagi sekarang. Tau gak kenapa dia sibuk banget mau cari Ivy?”

“Kangen anak?” Itu jawaban paling logis dan masuk akal.

“Beliau tahu ayahnya Ivy udah gak ada. Itu surat rumah peninggalan alm jatuh ke tangan Ivy. Jadi nyokapnya ke sini buat itu semua.”

“Setega itu?” Gue masih nggak percaya. Tapi gimana nggak percaya buat Keva, sementara sekarang dia bercerita semarah ini.

“Iya… nyokapnya sudah nikah, punya keluarga di batam. Nyokapnya masih terus telfon dia sampai tadi sore. Terus malem ini, bang Arga nemuin beliau dan lo tahu kalimat apa yang dia omongin ke Arga?”

“Makasih? Ivy di mana?” Ini pertanyaan paling logis dari mulut seorang Ibu setelah sekian lama nggak ketemu anaknya.

“Hahahahaha lo tuh ya, comeon dong Dav.”

“Lah kenapa ketawa njir?”

“Lo biasanya kompor kalau ada gosip. Ini kenapa tenang banget?”

Iya ya… kenapa gue selalu bisa berpikir jernih setiap itu menyangkut Ivy?

“Gue takut.” Kata gue jujur. “Gue takut denger berita terburuknya buat Ivy.”

Keva mengangguk.

“Nyokapnya minta duit, di sana mereka kelilit hutang. Jadi gue sama abang ngasih yang dia perluin tapi dengan satu syarat. Jangan cari Ivy lagi.”

“Loh kok malah lo ngejauhin dia sama nyokapnya sih?” Gue nggak tahu seburuk apa nyokap Ivy di mata keluarga Keva, tapi melihat gimana Ivy sebahagia itu setelah tahu kabar ibu kandungnya, gue menyayangkan apa yang Keva lakukan. “Lo gak liat sebahagia apa dia?”

“Dav, denger gue dulu… gue jelasin.” Katanya lembut sekali.

Perlahan membuat gue juga tenang.

“Nyokapnya cari buat uang… bukan karena dia memang pengen hidup bareng sama Ivy. Surat rumah dan peninggalan bokapnya semua jatuh ke Ivy sebagai ahli waris. Jadi kalau Ivy sampai ikut nyokapnya, rumah satu satunya kenangan penting Ivy sama Ayahnya nggak ada lagi. Dan kalaupun Ivy ikut nyokapnya, gue nggak yakin kebutuhan Ivy bisa terpenuhi. Mereka di sana aja perlu duit.”

“Ivy kan udah gede, dia tahu mana yang boleh di ambil dan nggak.”

“Lo yakin Ivy bisa nolak?”

Gue diam.

“Lo yakin Ivy bilang nggak untuk ibu… ibu yang selalu dia sayang sampai hari ini?”

“Nggak…. Gak tau ya hehehehehe.”

Saat mengatakan “Nggak.” Ada rasa kasian yang sulit gue jelaskan.

Keva kayaknya sudah empet banget sama kelakuan gue, sampai dia cuma ngelirik terus buang muka. “Ivy atau nyokap lo, pilih siapa?”

“Nyokap gue lah…. Kenapa?”

“Nanya aja.” Balas gue jujur. “Kok gue milih Ivy ya?”

“Lo kan memang anak durhaka.”

“Sialan.” Balas gue cekikikan.

“Gue sama abang dari kemaren cari jalan tengahnya. Supaya mereka gak ketemu. Masalahnya Dav… kalau soal Ayah, mental Ivy nggak pernah stabil. Mungkin dia bakal kasih rumah itu dijual sama Mamanya, tapi setelahnya dia nggak akan berhenti nangis.”

“Dia juga nggak akan berhenti nyalahin diri sendiri.” Keva mengangguk menyetujui kalimat tambahan gue.

“Makanya gue sama abang minta itu. Kalau dari awal niat dia baik buat Ivy, gue bakal nyambut nyokapnya dengan tangan terbuka.”

“Terus mau sampai kapan lo kayak gini?”

“Gak tau, Arga sih udah bilang ke nyokapnya Ivy kalau ada perlu apa apa telfon dia aja. Jadi gak perlu ke Ivy.”

“Beres berarti?”

“Sekarang sih beres kalau lo gak gacor ke Ivy.”

“Hahahahahah sialan, kagak.”

“Bener ya?”

“Demi Allah Kev, seenggak percaya itu sama gue?”

“Ini Ivy.”

“Iya terus kalau Ivy? Gak mungkin gue biarin nyokapnya jual rumah peninggalan bapaknya Ivy gitu aja.”

“Bisa kena lo juga kalau seandainya Ivy tahu, dia bakal benci lo juga.”

“Tenang lah, ada lo gini yang dibenci juga.”

“Serius ya?”

“IYA ELAH.”

Keva masih menatap gue tajam dengan tatapan akan membunuh gue kalau gue ngomong lagi. Dia menaruh curiga – gue akan buka omongan ini ke Ivy. Ya memang harus diwaspadai sih, apalagi kalau orangnya modelan Davka Malik yang nggak berhenti nyengir sekarang.

“Lo kalau ngeliatin mulu, gue nggak bisa berhenti nyengir bangke. Stop melotototin gue nggak!”

“Gue bentar lagi kan cabut ke Belanda.”

“Nah iya gimana tuh? Arga juga sibuk kerja, ngasih tau bi Mumu sama pak Yus pasti mereka keceplosan. Lo doang yang diharepin kalau di rumah bisa ngalihin perhantian Ivy buat nggak nyari lagi nyokapnya. Malah lo-nya cabut.”

“Emang lo gak bisa?” Mulut Keva enteng banget. “Bukannya lo seneng banget 24/7 sama Ivy?”

“Nyaris gue marah, bener sih gue suka banget deket deket Ivy.”

“Dih, deket tembok tuh.” Ditoyor dong kepala gue.

“Ya udah lah kalau itu mah aman.” Keva emang suka melotot, tapi gue nggak tahu kalau dia memang sesuka itu melototin gue?!

“Gak percaya?”

“Lo tuh tipikal orang yang keceplosan.”

“Kaga, beneran gue kunci rapat rapat mulut gue.”

“Bener ya?”

“Kev…. Emang seenggak bisa dipercaya itu ya gue di mata kalian?”

“Iya.”

Waduh, sakit juga.

“Lo cerita ke gue karena lo mau pergi, kalau lo gak pergi lo gak mungkin cerita ini ke gue.”

“Iya.” Balasnya cepat tanpa menatap gue.

Dada gue kayak ditonjok. Nyesek.

“Ekspresi lo sekarang yang bikin gue nggak percaya. Gue gak tahu kapan lo lagi serius dan nggak.” Kata Keva jujur. Bukan salah dia juga, memang pak Malik sebelum mencetak juniornya nggak berdoa dulu. Jadinya begini…. Nikmati ajalah. “Kerjaan lo tuh bercanda terus, daritadi juga ngomongnya aman aman aja.”

Ya terus gue harus jawab apa? Genting, boleh juga? Atau nyanyi lagu hujan utopi supaya serius kayak Aliando?

“Lo pernah Kev ngerasa gak punya apa pun dihidup lo? Orang lihat dari lo gak ada, lo terbiasa diremehkan dari pembawaan lo yang santai dan terkesan gak serius. Lo pernah kayak gitu?”

Keva nggak menjawab karena dia nggak pernah tahu gimana rasanya. Orang lain melihat Keva selalu penuh rasa kagum terutama ketika mereka tahu dia yatim piatu. Orang tua udah nggak ada tapi dia masih konsisten dapet nilai bagus, semua yang terjadi dihidupnya nggak pernah jadi hambatan untuk jadi orang cerdas dan hebat.

Dia emang selalu sehebat itu.

Tapi gue….

Nggak ada yang bisa gue kasih untuk orang lain selain senyuman gue, rasa syukur, dan humor yang lucu menghibur mereka.

Gue juga yakin, dia dan orang orang di rumah Asanka akan menganggap gue gak bisa diandalkan. Karena seperti itu lah gue bagi mereka.

“Siapa yang ngeremehin lo?” Keva bertanya. “Gue kayak gini bukan ngeremehin lo. Gue cuma gak yakin lo bisa tahan nyembunyiin soal ini. Karena gue tahu lo orang paling takut liat Ivy sedih. Gue tau lo nggak pernah bisa bohongin Ivy.” Caranya bicara lembut sekali, ini seperti melihat Keva bicara dengan Ivy, pelan pelan dan penuh penekanan. “Lo gak pernah ngeliat diri lo kayak gue dan orang di rumah ini kan?” Keva melanjutkan. “Lo gak pernah tau gimana seisi sekolah dulu ngeliat lo?”

“Anak badung.”

“Gak ada yang bikin lo percaya diri selain Ivy dan bola, Dav…. Lo mungkin anak badung, anak seumur itu lo berharapnya apa? Punya saham? Punya perusahaan? Jadi CEO? Lo baca cerbung y/n aja kalau mau liat anak sekolah udah bisa jadi CEO.”

Gue ketawa, gokil nih dia. Jadi curiga kalau setiap malem Keva emang ke facebook buat baca cerbung Aliando, Prilly atau malah Mahabharata.

“Kalau cuma dianggep anak badung, guru di sekolah gak mungkin mau ngandelin lo.”

“Babu itu mah.”

“Tuh kan, lo cuma percaya diri soal bola dan Ivy. Selain itu… gak ada yang lo banggain.”

Gue terkekeh, karena Keva bener.

“Lo jadi orang pertama yang bakal dicari guru in a good way.”

“Gak salah denger gue? Lo inget gak sih awal masuk kelas 10 gue udah masuk BK 3 kali gara gara berantem sama kakak kelas di kantin?”

In a good way?

Guru sekolah mencari gue biasanya cuma buat disuruh nolongin orang, yang menurut mereka lebih menjanjikan. Itu adalah salah satu dari cara mereka supaya gue nggak salah gaul.

Pertama kali dapat tugas untuk membantu orang lain rahang gue mengeras dan tangan tergenggam erat. Gue yang cuma suka main bola dan tidur, diminta repot untuk bantu banyak orang. Dan lama kelamaan gue terbiasa ikut campur dalam urusan baik bagi banyak orang.

“Lo berantem juga karena nolongin gue yang mau dikeroyok kakak kelas.”

“Sumpah lo dulu belagu banget.” Gue jadi bernostalgia.

“Mereka aja sirik.”

“Lagian lo kenapa dulu sinis banget, normalnya anak SMP baru masuk SMA tuh kalem, ada senior nunduk, bukan malah pelirak pelirik.”

“Gak ada peraturannya di sekolah anak kelas 10 harus nunduk depan kakel.”

“Ya itukan etika di sekolah aja.”

“Etika senior.” Kata Keva mengakhiri.

Sifat Keva yang nggak pernah disukai senior selama kelas 10 hanya jiwa sinis dan mengintimidasinya. Cara dia menatap sekitarnya terkesan ngajak berantem. Jadi setiap senior berkontak mata dengannya, mereka akan berakhir mendatangi Keva karena tersinggung, dikiranya Keva nantangin mereka.

“Terserah lo aja lah.”

“Sampai lulus ya lo jadi DJFM cadangan?”

“Iya, kata bu siapa sih itu yang ngasih hukuman, wali kelas 10 kita. Bilangnya cuma minggu pertama ngisi radio sekolah, tapi setiap anggota eskul dia nggak masuk, gue yang diminta ngegantiin.”

“Lo kurang tegas nolaknya.”

“Udah, gue bolak balik nolak. Emang setegas apa harus pakai kekerasan maksud lo?”

“Pakai otak lah.”

Hari hari gue jadi pengisi radio sekolah adalah hari di mana gue akan menjadi zombie. Bangun pagi, datang ke sekolah pagi untuk menyambut anak anak dengan narasi indah dan kalimat bijak yang gue simpulkan dari tema radio hari itu. Beberapa kali juga gue sempat mendapat surat kaleng dari siswa sekolah, mereka kebanyakan berterimakasih – Menyukai wajangan quotes yang gue sampaikan.

Dan gue selalu berharap dari semua surat surat itu ada Ivy yang menulisnya. Sayangnya itu hanya menjadi harapan gue. Sebab Ivy hanya akan menulis di kertas miliknya untuk dimasukan ke dalam toples memory tanpa ada kalimat tentang gue di dalamnya.

“Hahahahahaha lucu aja kalau diinget.” Gue terkekeh menatap balkon seraya melahap habis martabak ditangan gue.

“Apanya?”

“Alasan gue dipilih jadi DJFM cadangan.”

“Apa?”

“Setiap gue nolak, pembina radionya bilang – gue bisa bikin keajaiban.”

Keva melongo nggak mengerti.

“Lo aja melongo, apalagi gue…. Cuma yaaaaa itu bikin gue seneng.”

“Dasar.”

“Pujiannya manjur buat gue. Setiap diminta ngedj gue jadi seneng banget.”

“Lo juga jadi nggak sering telat buat anter Ivy sekolah.”

“Sangat bermanfaat.” Kata gue mengakui manfaat dari menjadi penyiar radio sekolah.

“Ivy isn’t just a friend to you.” Jantung gue seperti berhenti berdetag. Gue nggak pernah membicarakan perasaan gue pada siapa pun dengan serius, gue selalu bilang Ivy cuma temen. “Isn’t not?”

Ya elah Keva ini jago banget bikin orang jantungan lewat kalimatnya yang tiba tiba itu.

“Ivy temen gue.”

Dibanding takut nggak jadi pacarnya, gue lebih takut kehilangan Ivy. Gue takut jadi orang yang akhirnya menyakiti dia dengan segala bentuk perlakuan serta kalimat yang tanpa sadar gue lakukan padanya. Selama ini pelan pelan gue mencoba mengenal Ivy, apa yang harus gue lakukan supaya nggak membuatnya lebih sakit lagi. Gue pengen Ivy bahagia, seenggaknya kalau dia sedih dia bisa datang ke gue, kalau dia sakit gue bisa jadi orang yang sembuhin lukanya. Seperti semua rasa sakit yang ia tahan pada heelsnya.

Gue akan selalu memberi kenyamanan untuk Ivy. Seperti memberinya sendal jepit, mengobatinya saat kakinya terluka.

Kalau ditanya gue suka Ivy?

I love her, i love her with everything i am.

Epilog

Masa kini.

“Amy?”

Aku menoleh ke sumber suara ketika memasuki gedung siaran tempat Yaya bekerja.

Besar juga.

Pertama kali datang ke gedung kerjaan kakakku. Si penyiar, branding mbak Yaya di kantornya cukup berbeda dari kelakuannya di rumah. Di kantor dia dikenal sebagai orang yang ramah, sangat ramah dan murah senyum.

“Oh iya pak, Amy.” Aku menyalami pria yang nggak tua tua juga, dan nggak muda muda juga. Seumuran mbak Yaya sepertinya? “Ada titipan dari Mama.” Aku datang membawa dua plastik besar kue yang mama buat.

“Panggil Davka aja, gue belum tua tua banget. Sarah baru aja mulai rekaman…” Pria ini tinggi, wangi, cara bicaranya…. Gimana ya menjelaskannya? Tengil, cara dia melihat sesuatu, caranya berjalan terasa angkuh dan petantang petenteng.

“Oh bapak yang diminta nemein saya ya?”

“Eh dibilang Davka aja, gue belum bapak bapak.”

Aku mengangguk.

“Kalau disuruh nemenin sih nggak.” Dia melanjutkan.

“Terus?”

“Mau ngambil makanan aja.” Balasnya menahan tawa.

“Disuruh Sarah.”

“Iya, buat makanan.”

“Terus?”

“Yaudah?”

“Gak ada lagi?”

“Emang bawa makanan lagi? Kalau ada boleh…. Di mobil?”

Dasar nggak jelas, pertanyaannya kubiarkan terbang dibawa angin, sehingga membuatnya memainkan lidah di dalam mulutnya, keningnya berkerut. Membuat alisnya tanpa sadar naik sebelah.

“Gak lagi sakit kan?”

“Sehat.”

“Kenapa tiba tiba diem? Oh…. Lo mau nunggu Sarah di sini, ya sudah gue temenin.”

Aduh, aku malu sekali mendengar ketengilan dari caranya bicara.

“Nggak jadi.”

“Emang gak pengen dengerin siaran?”

“Gak biasa ngobrol sama orang gak dikenal.” Balasku ketus.

“Kan tadi udah kenalan, gue Davka.” Aku meliriknya dengan tatapan sebal. “Iya iya ditemenin, jangan marah.”

Dia aneh.

Dan gampang akrab dengan orang baru.

Lagian siapa yang marah!

“Pulang aja, makasih ya.” Aku memberikan 2 plastik besar berisi makanan itu ke Davka yang baru aku temui di kantornya.

“Tema podcastnya menarik loh. What would i say to someone i love after not seeing them for years.”

Aku berhenti.

Dan balik menatapnya.

Namanya terasa familiar buatku.

Sangat familiar, tapi siapa ya?

Ia terkekeh melihat wajahku yang bengong.

“Semenarik itu sampai bengong?”

“Ami…… helo…..”

Aku masih setia bengong, mengingat ingat siapa Davka itu?”

Siapa sih?

“Terus apa yang mau lo omongin?”

“Hah?” Tanyanya bingung mendengar pertanyaanku.

Tiba tiba aku ingat satu nama. Pria pemilik buku diary.

Davka Malik?

“Temanya, what would i say to someone i love after not seeing them for years. Kalau lo… apa yang mau lo omongin?” Aku cuma punya insting kalau…. Ivy dan Davka…. Aduh nggak tahu takut! Aku nggak tahu apa yang terjadi setelah buku diary itu habis. Jadi sekarang aku hanya bicara dan menebak.

Dia diam sibuk menerjemahkan maksud dari wajahku.

Dan dia menjawab tanpa bertanya lebih lagi. “Gue kangen ada lo di dalamnya.” Dia menatapku, namun tatapan matanya kosong, he’s a lost person.

“Gue kangen ada lo di dalam hidup gue.”

Seketika senyum miring yang sejak tadi ia tunjukkan, juga wajah slengeannya, tergantikan dengan rasa kehilangan.

“Kalau lo apa?” Ekspresi wajahnya berubah, dia kembali seperti sediakala. “Sekarang gantian lo yang jawab, tadi gue udah jawab tuh.”

“Gak…. Tau?”

“Lah curang.”

“Apa cepet, ini jawabnya sekalian masuk aja ya. Gue capek bawa dua plastik gede berdiri gini. Ayok.”

Aku mengikutinya dari belakang… menatap punggungnya.

“Dijawab apa?”

“Lo harus panjang umur.”

“Apa gimana?”

“Hah?”

Kok aku kayak orang bego begini sih?

Rasanya sedih sekali. Entah kenapa kesedihan dalam buku diary nya melekat padaku.

“Gue bakal bilang…. Davka, thank you….” Dia menoleh melihatku dan aku terus mengatakannya. Karena aku sendiri tidak tahu, hanya saja aku ingin mengatakan ini padanya. “Besok masih jadi hari yang baik, jadi lo harus panjang umur….”

Dia tertegun menatapku.

Aku mencoba menjelaskan supaya dia nggak berpikir aku orang aneh yang tiba tiba berterimakasih padanya setelah menyebut namanya. “Sesuai temanya… What would i say to someone i love after not seeing them for years. Selama itu pisah secara baik baik, dan dia nggak begitu nyakitin gue, kalau selama lost contact ini gue masih sayang… gue akan selalu bersyukur sama existensinya di dunia ini sampai gue perlu berterimakasih sama dia.”

“Tapi bukannya semua perpisahan bakal nyakitin?” Balasnya. “Nggak ada perpisahan yang gak nyakitin kedua belah pihak.”

“Tergantung gimana cara kita melihat itu semua.”

“Emang gimana?”

“Kita belum kenalan dengan benar, gue Amy Adsila Berdine…. Dipanggil Amy atau Nini.” Aku mengulurkan tanganku, ingin cepat cepat tahu nama belakangnya.

“Katanya tadi gak mau ngobrol sama orang gak dikenal.”

“Ini kenalan supaya bisa ngobrol?” Kataku sambil terkekeh.

“Hahahah….. gue Davka Malik.” Ia membalas uluran tanganku.

“Halo Davka Malik, apa kabar?”

Jantungku berdegup kencang sekali, ini bukan harapan yang aku inginkan sejak beberapa tahun lalu ketika aku memutuskan untuk menyerah mencari pemilik buku diary itu. Aku nggak pernah menyangka kalau pria di kantor baru Sarah adalah orang yang aku cari selama ini.

“Okay menarik, seperti yang lo lihat lagi pegel.”

“Hahahahahaha cuma bawa 2 plastik isi makanan!”

“Tetep pegel…. Btw thanks kata kata lo tadi kayak permintaan buat gue.” Ini menjadi canggung untuk kami berdua. “Maksudnya karena lo sebut nama gue sebelum jawab tema podcastnya, jadi gue ngerasa itu buat gue? Hahahahahaha.”

“Bagus deh, gue justru geer kalau lo ngomong itu buat gue?”

“Yang mana?” Katanya.

Gue kangen ada lo di dalam hidup gue. Hmmmm….. feels like itu keluar dari lubuk hati lo yang paling dalam. It feels very close to you.” Kataku seperti menebak, karena aku berharap dia dan Ivy baik baik saja.

Davka nggak menjawab rentetan panjang kata kataku, mungkin ia berpikir aku orang sotoy yang mendeksripsikan bagaimana dia hanya dari satu kalimat.

“Nice to meet you, Ni. Kapan kapan ketemu lagi ya.” Kata Davka saat aku dan Sarah bersiap untuk pulang.

“Kok lo berdua udah akrab aja?” Mungkin Sarah kaget, karena Davka panggil namaku dengan Nini, nyaris nggak ada yang memanggil nama itu selain keluarga.

“Tadi kenalan, adek lo seru. Rajin rajin dibawa ke sini dong, Rah.”

“Yeee.” Sarah sewot sampai mendorong Davka pelan membuat gue tertawa melihat reaksi terkejutnya.

“Lo dorong gue pakai tenaga dalem ya?”

“Jauh jauh deh lo buaya.”

“Hahahaha sialan.”


메타데이터
post_id
65ee57c988b0
slug
pembicaraan-panjang-untuk-ivy-ditemani-martabak-dan-rokok-65ee57c988b0
url
https://medium.com/@cerillines_/pembicaraan-panjang-untuk-ivy-ditemani-martabak-dan-rokok-65ee57c988b0
canonical_url
https://medium.com/@cerillines_/pembicaraan-panjang-untuk-ivy-ditemani-martabak-dan-rokok-65ee57c988b0
author_url
https://medium.com/@cerillines_
status
ok
fetched_at
2026-07-23 20:09:59