I: Sepiring Nasi Goreng dan Perspektif Rasa Manusia
Hari itu berjalan seperti biasa, tidak ada yang terasa spesial tidak ada juga pesan yang ditunggu untuk dibalas rasanya ya seperti…
I: Sepiring Nasi Goreng dan Perspektif Rasa Manusia
Hari itu berjalan seperti biasa, tidak ada yang terasa spesial tidak ada juga pesan yang ditunggu untuk dibalas rasanya ya seperti hari-hari biasa dimana isinya kuliah, hidup dan bernapas. Malam ini rasanya perut lapar level maksimal minta diisi setelah seharian berkutat dengan dunia dan kehidupan tembalang yang panas. Sepertinya sepiring nasi goreng dan segelas es teh akan menjadi menu yang sempurna untuk menutup hari yang melelahkan pikirku kala itu.
Tepat pukul sembilan malam, aku beranjak dari kasur yang nyaman menuju ke tempat nasi goreng langganan tentu saja ditemani oleh motor kesayanganku si ‘tipsy’. Udara tembalang kala itu sangatlah sejuk seolah menjadi obat panasnya siang yang menusuk. Senyum hangat bapak dan ibu penjualnya menyambut seperti biasa membuat tempat itu terasa nyaman. Malam itu tidak terlalu ramai mungkin karena habis hujan? antrean juga tidak panjang tapi entah kenapa terasa lama apa mungkin karena aku ga bawa hp? Rasanya hampa menunggu dengan diam dan hanya ditemani es teh yang perlahan es batunya mulai mencair.
Tidak sampai setengah jam, sepiring nasi goreng ayam dengan tingkat pedas yang sedang tidak terlewat taburan bawang goreng dan telur sudah tersaji di depan mata seolah berkata “Ayo cepat makan aku ” Suapan pertama masuk ke mulut rasanya enak, tidak terasa spesial, tapi cukup memberikan rasa nyaman di lidah dan perut sebagai penutup hari yang melelahkan waktu itu. Di suapan berikutnya aku mulai mencoba menikmati tiap bulir nasi dan setiap rasanya ada asin, manis, pedas. Sambil makan tiba tiba aku teringat beberapa waktu lalu temanku sempat bilang nasi goreng di tempat ini kurang enak dan temanku yang lain bilang nasi goreng ditempat ini enak padahal bagiku ini lumayan bahkan mungkin lebih enak jika dibandingkan dengan beberapa nasi goreng lain di temcy.
Di situlah aku mulai berpikir: kenapa rasa bisa begitu subjektif bahkan di objek yang sama? Kenapa menurutku enak, menurut orang lain bisa terasa biasa saja atau bahkan tidak enak sama sekali ? dari nasi goreng aku berpikir sebuah analogi sederhana tentang rasa di lidah dan rasa di hati yang ternyata mirip
“Kadang sesuatu yang kamu anggap cukup, bagi orang lain bisa jadi terlalu sedikit atau justru mungkin terlalu banyak.”
Nasi Goreng dan Rasa: Sebuah Analogi Tentang Perlakuan dan Respon Manusia
Dari situ aku mulai membayangkan perlakuan kita terhadap orang lain ibarat seperti sepiring nasi goreng. Resep dan bumbu yang kita gunakan menjadi simbol bagaimana cara kita memperlakukan orang-orang dalam hidup kita dan bagaimana cara kita memposisikan orang tersebut di hidup kita ya seperti kasta tingkat kasih sayang yang kita siapkan untuk orang lain. Coba bayangkan jika kita diberi kesempatan untuk bikin 3 nasi goreng dengan 3 resep yang berbeda :
- Piring pertama isinya nasi goreng seadanya tanpa toping cuma garam dan nasi. Ini adalah perlakuan paling dasar yang kita berikan ke orang-orang yang tidak terlalu dekat mungkin teman sekelas, kenalan baru, atau orang yang sekadar lewat di hidup kita. orang yang kita anggap sebagai peramai hidup bukan komponen utama hidup kita.
- Piring kedua isinya nasi goreng lebih niat, dengan telur dan bumbu yang pas namun secukupnya tidak berlebih dan tidak kurang juga. Ini bentuk perlakuan kita untuk sahabat, orang-orang yang sudah menemani kita dalam suka duka, tapi hubungan kita masih sebatas teman, belum sampai ke ranah perasaan yang lebih dalam.
- Piring ketiga isinya nasi goreng paling spesial, dibuat dengan bahan terbaik, takaran bumbu yang pas, dibuat sehati hati mungkin lengkap dengan telur dadar dan taburan bawang goreng dan dipastikan rasanya paling enak menurut kamu. Ini bentuk perlakuanmu untuk orang-orang paling berarti dan berharga menurut kamu misal keluarga, pasangan, seseorang yang kita cintai dalam diam maupun terang-terangan dan mungkin seseorang yang menjadi komponen utama hidup mu intinya buat yang spesial menurut kamu. Dimasak dengan sepenuh hati, berharap mereka bisa merasakan ketulisan di setiap suapannya.
Tapi pertanyaannya… Apakah nasi goreng yang kita buat dengan cinta itu sudah pasti terasa istimewa juga di lidah mereka? dan apakah mereka juga akan memberikan masakan versi terbaik mereka untuk kita cicipi?
Sayangnya, tidak ada jaminan semua ekspetasi kita terhadap orang lain itu akan menjadi realita. Karena…
Rasa Itu Relatif, Apalagi Cinta
Bisa saja nasi goreng paling sederhana yang kita buat bahkan kita anggap tidak enak itu justru adalah makanan paling spesial bagi seseorang, karena sebelumnya dia belum pernah makan nasi goreng seenak buatanmu itu atau bahkan dia belum pernah merasakan makanan bernama nasi goreng artinya perlakuan minimum yang kamu berikan adalah perlakuan terbaik yang pernah orang itu rasakan selama dia hidup dan dia belum pernah mendapat perlakuan lain yang lebih baik, kamu adalah yang pertama memberikan pengalaman itu atau bahkan satu-satunya yang memperlakukan mereka dengan baik walaupun menurutmu cuma sekedar perlakuan biasa saja.
Sebaliknya, orang yang kamu beri nasi goreng terenak versimu bisa jadi dia tidak merasakan adanya bumbu spesial di nasi goreng itu. Bagi dia rasa nasi gorengnya biasa saja tidak ada rasa lebih dan makna tersembunyi yang spesial. Bisa jadi karena dia sudah sering makan nasi goreng yang berkali-kali lipat lebih enak atau juga dia ga suka nasi goreng alias bukan kamu orangnya dan di disitulah tanpa sadar terkadang rasa kecewa sering diam-diam hadir dan perlahan mulai tumbuh subur di hati.
“Perasaan itu seperti resep, meski kamu sudah berikan bumbu terbaik takaran paling enak sekalipun rasanya tetap bisa berbeda di hati orang lain.”
Hal yang sama juga berlaku untuk sikap dan ucapan kita sehari-hari. Kadang sesuatu yang kita anggap ringan atau biasa bisa jadi beban berat untuk orang lain, Maka taukah kamu…
Kenapa Penting untuk Saling Mengerti dan Memahami?
Perbedaan perspektif mengajarkan kita bahwa setiap manusia memiliki rasa yang unik dan tidak ada yang sepenuhnya sama. Itulah mengapa toleransi rasa antarmanusia menjadi penting. Ada orang yang kelihatan bahagia, penuh tawa, terlihat kuat di depan semua orang padahal di dalamnya ia sedang rapuh, butuh bantuan dan menahan luka yang tak terlihat. Ada pula yang tampak lemah, pendiam, dan terkesan tak berdaya padahal ia sedang memikul beban yang tidak sedikit.
Berhentilah berpikir bahwa semua orang merasakan sesuatu dengan cara yang sama seperti dirimu dan mengira bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang sama terhadap dunia. Karena kita semua berjalan dengan luka, beban hidup, masalah, latar belakang dan pemahaman yang berbeda-beda.
Jika suatu hari kamu merasa disakiti oleh seseorang bisa jadi mereka bahkan ga sadar telah menjadi tokoh antagonis dalam kisah hidupmu dan bisa jadi juga kamu adalah salah satu tokoh antagonis di kisah orang lain. Karena ga semua rasa bisa ditebak dan ga semua luka bisa tersampaikan hanya lewat isyarat. Jadi kunci utamanya adalah komunikasi.
Ceritakan apa yang kamu rasa. Jika kamu belum siap berbicara langsung dengan orang yang bersangkutan, ceritakanlah pada seseorang yang kamu percaya. Terkadang yang kamu butuhkan bukan jawaban, tapi ruang untuk berhenti menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi. Karena diam yang terlalu lama bisa berubah menjadi luka, dan luka yang dipendam terlalu banyak akan meledak seperti bom waktu yang menghancurkan dirimu.
“Terkadang yang kamu butuhkan bukan jawaban, tapi ruang aman untuk berhenti menyalahkan diri sendiri.”
“Perspektif manusia itu unik seperti sidik jari tidak ada yang benar-benar identik sama.”
Pada Akhirnya, Hidup Itu… Ribet
Hidup itu ribet, mati juga ribet, memahami orang lain ga mudah, dan mimpi akan disukai oleh semua orang? mustahil kita bisa membuat semua orang yang hadir di hidup kita suka dan nyaman di dekat kita karena bukan tugas kita untuk memuaskan semua ekspetasi mereka dan bukan tugas mereka juga untuk memuaskan semua ekspetasi yang kita buat.
Tapi, ketika kamu menyadari bahwa perspektif rasa setiap orang itu berbeda kamu akan belajar untuk berhenti berekspektasi berlebihan kepada manusia dan berhenti menyepelekan apa yang dirasakan orang lain. Bisa jadi sesuatu yang kamu anggap sepele adalah luka terdalam bagi orang lain dan bisa jadi juga tanpa kamu sadari perlakuan sederhana, kebaikan paling kecil yang kamu lakukan justru menyelamatkan hidup seseorang
Harapan yang kamu gantung di orang lain tidak ada jaminan untuk mereka mewujudkannya karena harapanmu adalah tanggung jawabmu jadi jangan merasa dunia ini hancur ketika orang lain tidak sesuai harapan mu dan membuat kamu kecewa karena dari awal menggantungkan harapan berlebih kepada manusia adalah teknik menyakiti diri yang paling menyesakkan.
Jadi… teruslah memasak nasi goreng versimu, dengan rasa dan cara yang kamu yakini paling tulus. Tapi ingatlah dunia ini tidak hanya berputar pada standar rasa milikmu. Ada jutaan lidah, jutaan hati, dan masing-masing punya takaran rasa yang berbeda. Karena pada akhirnya rasa bukan hanya tentang bagaimana kamu menyajikan tapi juga tentang siapa yang menikmatinya.
“Menggantungkan harapan berlebih pada manusia adalah seni menyakiti diri yang paling sunyi.”
“Harapan yang kamu buat adalah tanggung jawabmu bukan tanggung jawab orang lain. Jangan biarkan ekspektasimu jadi sumber lukamu.”
17 juli 2025 pukul 00.05 ditulis oleh dina manusia yang masih belajar untuk berjalan dengan benar | edisi cara melihat kehidupan dari makanan
Kalau kamu suka tulisan ini, jangan lupa simpan untuk dibaca ulang saat kamu lagi bingung soal rasa baik rasa makanan, atau rasa terhadap seseorang.
메타데이터
- post_id
- 65f2d6b278bb
- slug
- hidup-itu-ribet-sepiring-nasi-goreng-dan-perspektif-rasa-manusia-65f2d6b278bb
- url
- https://medium.com/@duadina93/hidup-itu-ribet-sepiring-nasi-goreng-dan-perspektif-rasa-manusia-65f2d6b278bb
- canonical_url
- https://medium.com/@duadina93/hidup-itu-ribet-sepiring-nasi-goreng-dan-perspektif-rasa-manusia-65f2d6b278bb
- author_url
- https://medium.com/@duadina93
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 01:30:37