← Back to list

Dada Tuna, Oci dan Dabu-Dabu

Mari Makan Ikan di Bitung

Herry Susanto in Komunitas Blogger M · 2025-09-17 14:47 · 333 claps · 4.2 min read
#ulasan #kuliner #bahasa-indonesia #komunitas-blogger-medium #bitung
Open on Medium ↗

KISAH MAKAN

Dada Tuna, Oci dan Dabu-Dabu

Mari Makan Ikan di Bitung

Tugu Ikan Cakalang di Kota Bitung, sumber gambar : kompas

Tugu Ikan Cakalang di Kota Bitung, sumber gambar : kompas

Bitung

Suatu waktu kami berkesempatan mengunjungi Bitung, kota pelabuhan yang berada di ujung timur Sulawesi Utara, ditempuh dengan hanya menghabiskan waktu sekitar satu jam dari Manado dengan perjalanan santai bersama tim.

Keluar pintu tol Manado-Bitung, kami disambut dengan objek vital nasional berupa deretan silinder raksasa milik PT Tonasa, jaringan produsen semen terbesar di kawasan Indonesia Timur.

Di Sulawesi, tidak ada merk semen Gresik yang sudah melegendaris sebagai andalan para tukang jawa, adanya adalah merk “Semen Tonasa” di berbagai toko bangunan eceran di Sulawesi.

Namun sebelum melanjutkan, alangkah baiknya membaca ulasan pak tipank mengenai tuna kita berikut:

[embed]Tuna Kita Komoditas Ekspormedium.com

Bitung merupakan salah satu kota penghasil Tuna terbesar di Indonesia. Di antara kekayaan laut Bitung, kuliner bahari khususnya masakan ikan merupakan hal yang patut dicoba.

Setelah pekerjaan usai, kami berkesempatan pergi ke salah satu warung langganan rekan-rekan di Bitung. Menurut mereka, warung ini meski bersahaja, namun soal rasa hanya ada satu-satunya, tidak ada duanya, apalagi tiganya.

Urusan menjamu tamu, rekan kami di Bitung patut diacungi jempol. Begitu tim kami datang, pesanan baru saja matang. Rupanya teman-teman di Bitung bisa memperkirakan dengan presisi, kapan pekerjaan selesai, berapa menit perjalanan menuju warung dan tentu berapa porsi yang harus dipesan.

Wisata Makan Ikang

Menghadap meja, pesanan serentak datang. Ada tumis bunga daun pepaya, ikan oci goreng, sambal dabu-dabu, sambal bawang, kondimen berupa irisan jeruk, mentimun, kemangi dan tentu dada tuna bakar adalah bintangnya.

tumis bunga pepaya, foto pribadi

tumis bunga pepaya, foto pribadi

Sambal bawang dan ikan oci goreng. Foto pribadi

Sambal bawang dan ikan oci goreng. Foto pribadi

Dada tuna ini berukuran sekepal tangan orang dewasa, nampak lembab meski baru turun pembakaran, di bagian luar sedikit gelap karena proses pembakaran. Menurut rekan-rekan kami, potongan dada tuna berbeda dengan badan tuna.

Pada potongan dada tuna terdapat imbuhan segaris lemak ikan yang konon kaya akan kolagen, bermanfaat bikin kulit awet muda, berbeda dengan badan tuna yang murni terdiri dari daging tuna.

Dada tuna bakar. Efek kamera membuat tampak gelap, aslinya tidak segosong ini. Foto pribadi

Dada tuna bakar. Efek kamera membuat tampak gelap, aslinya tidak segosong ini. Foto pribadi

Proses pembakaran dada tuna adalah sebuah seni.

Sebelum dibakar, dada tuna ini biasanya direndam dalam bumbu minimalis yang akan membuat cita rasa asli ikan semakin menonjol.

Perasan air jeruk, sedikit bawang putih, dan sedikit minyak kelapa meresap perlahan, menghilangkan sisa amis, sambil menambah aroma yang menggugah selera.

Di atas bara api dari arang batok kelapa, dada tuna yang berukuran besar dibolak-balik secara perlahan. Asap yang pekat mengepul membawa aroma khas batok kelapa yang bercampur dengan bau amis laut, menciptakan sensasi yang otentik.

Disinilah kepekaan dari chef pembakar begitu menentukan. Kurang lama dibakar, dada tuna akan tercium samar aroma amis ketika diiris. Terlalu lama dibakar akan membuat dada tuna menjadi kering, hilang rasa khas ikan dan tentu melawan seperti karet ketika digigit.

Ketika matang, permukaan dada tuna akan tampak sedikit hangus, tetapi bagian dalamnya tetap juicy dan empuk.

Salah satu tim kami berseloroh, mengapa kuliner bakaran ikan laut yang begitu populer di Jawa semacam ikan kakap, kerapu, baronang, sama sekali tidak populer di Sulawesi Utara?apalagi ikan air tawar semacam gurami, nila atau si legendaris bandeng bakar?

Mungkin jawabannya adalah karena masyarakat Sulawesi Utara lebih doyan ikan ekspor berkualitas tinggi semacam tuna.

Ikan bandeng, meski telah diolah menjadi otak-otak bandeng, maupun telah dicabut durinya, dibakar dan disajikan dengan nasi putih pulen panas, sambal kecap dan rajangan bawang merah mentah, rupanya belum masuk selera masyarakat Sulawesi Utara.

Sambal Dabu-dabu

Dabu-dabu segar warung om Mando, foto pribadi

Dabu-dabu segar warung om Mando, foto pribadi

Keajaiban kuliner dada tuna ini tidak lengkap tanpa pasangannya: sambal dabu-dabu.

Sambal khas Sulawesi Utara ini adalah perpaduan seimbang dari rasa pedas, asam, dan segar.

Dibuat dari potongan cabai rawit merah dan hijau, tomat sayur, bawang merah dan disiram minyak panas, sambal dabu-dabu Bitung memiliki karakteristik yang unik. Pedasnya polos, mengandalkan kombinasi pedas cabe, asam tomat sayur dan sedikit irisan renyah bawang merah.

Segar, pedas dan tentu saling meningkatkan rasa bila dihidangkan dengan ikan laut, baik dibakar maupun digoreng.

Ketika dada tuna bakar yang sedikit berasa asap bertemu dengan sambal dabu-dabu yang bercitarasa segar dan pedas, terjadi ledakan rasa di lidah.

Rasa gurih alami dari dada tuna bakar, yang cenderung tawar, berpadu dengan sengatan pedas namun segar, menghasilkan keseimbangan yang harmonis. Rasa pedasnya yang mula-mula terasa ringan, perlahan-lahan meningkat, membuat keringat menetes namun tak ingin berhenti menyuap.

Kombinasi ini sangat cocok dinikmati dengan nasi hangat dan tumis sayuran khas lokal, seperti tumis kangkung atau tumis bunga pepaya.

Secara keseluruhan, dada tuna bakar dan sambal dabu-dabu Bitung bukan sekadar menu di atas meja.

Hidangan ini adalah representasi dari kota pelabuhan yang sibuk dan kekayaan alam yang melimpah.

Mencicipi hidangan ini berarti merasakan kehangatan Bitung, kekayaan lautnya, dan kesegaran buah tropis dalam satu piring.

Namun demikian, kelezatan ini juga membawa cerita kekayaan alam kita. Ikan tuna kini memiliki nilai ekonomis tinggi, dan ikan tuna hasil tangkapan dari laut Sulawesi yang berkualitas tinggi, justru ada di meja-meja restoran nun jauh di negeri seberang.

Bisa jadi tuna yang terhidang di meja saat ini adalah buah tangkapan nelayan lokal, yang tak sempat diperlakukan layaknya komoditas ekspor sehingga justru kekayaan ini bisa dinikmati oleh masyarakat lokal.

Bagi kami, makan di warung ini berarti turut menikmati kekayaan bahari dan tradisi kuliner yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Bitung.

Lokasi Warung Ikang Bakar “Om Mando”

[embed]Lokasi Warung Ikang Bakar “Om Mando”, Bitung, Sulawesi Utara


메타데이터
post_id
65f6f539aefa
slug
dada-tuna-oci-dan-dabu-dabu-65f6f539aefa
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/dada-tuna-oci-dan-dabu-dabu-65f6f539aefa
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/dada-tuna-oci-dan-dabu-dabu-65f6f539aefa
author_url
https://medium.com/@herry.susanto2
status
ok
fetched_at
2026-07-17 11:34:31