Zona Kabut
| Self Regulation
Zona Kabut
| Self Regulation

Perkebunan Teh di Kawasan Gunung Patuha, Juni 2025
Aku tak menyiapkan banyak resolusi di tahun ini. 2024 sejatinya adalah tahun yang begitu menguras energi sehingga 2025 sudah seharusnya menjadi lembaran-lembaran yang kulalui untuk mencintai diri sendiri.
Mulai menapaki Medium sejak empat tahun lalu, membuatku memiliki coping mechanism yang apik: menulis. Meski tulisanku tak selalu padat berisi, menulis membantuku mengurai yang selama ini berserakan di dalam kepala. Aku tak rutin mengunggah judul baru, kadang aku mengaku bahwa menulis adalah kesukaanku, tetapi sejatinya tidak melulu. It becomes hard when I don’t have something to write — dan ternyata di sana masalahnya, menyadari bahwa menguraikan sesuatu juga ada seninya.
Beberapa waktu lalu aku sempat menyimak penjelasan seorang senior saat menghadiri sebuah forum, terkait Self Regulation. Katanya hidup di bumi membuatnya menyadari bahwa belajar tidak selalu harus dilakukan dengan duduk di kelas. Sesederhana mengobrol dengan seseorang di tempat yang tidak harus fancy, lalu meneguk segelas kopi — idealisme-idealisme baru bisa lahir dari obrolan yang tidak direncanakan.
“Setiap manusia punya spesifikasi dan atribut,” katanya. “Atribut bisa ilang, tapi spesifikasi engga. Kamu punya harta, jabatan, anak siapa, itu atribut namanya. Sedangkan spesifikasi adalah hal-hal yang akan membentuk siapa kita. Sebut aja physical, sebaik-baiknya bentuk yang diberi sama Allah. Lalu philosophical, yang mendasari pola pikir. Selain itu ada spiritual, hubunganmu sama Allah dan sesama manusia kayak gimana. Kalau ketiga hal itu kamu jaga dengan sesuatu yang positif, dalam jangka panjang kamu akan melihat dirimu sendiri berbeda karena punya lifestyle yang membentuk.” jelasnya panjang lebar.
Kupikir setiap orang tentu menyadari ini, hanya saja tidak tahu teorinya. Orang-orang kerap mengejar idealisme mereka, menumpuk atribut untuk membuka jalan lain yang belum kelihatan, tidak jarang dengan menghalalkan segala cara. Padahal yang benar-benar menjamin adalah spesifikasi diri. Konon katanya, emas jika ditempatkan di mana pun akan tetap menjadi emas, karena nilainya ada pada dirinya sendiri. Physical, philosophical, spiritual, dan lifestyle adalah modal yang menjadi pembuka “jalan” itu.
Mendapatkan wejangan ini di awal usia 20-an seperti diingatkan untuk memasang fondasi yang kokoh sebelum bersemi dan bermekaran. Meskipun orang-orang bilang berada di usia ini hidup layaknya berada di zona kabut, di mana segala sesuatu terasa samar, jarak pandang terbatas. Yang terlihat di depan barangkali hanya dunia akademik yang sudah mulai terasa jauh, namun dunia kerja pun belum sepenuhnya jelas. Kerap aku hanya meraba-raba sekitar, menjalani sesuatu yang sudah mengalir di depan mata.
Meskipun segala sesuatu terasa mengambang, tetapi justru aku mulai berusaha membentuk prinsip sendiri, meyakini hal-hal yang berseberangan dengan apa yang dulu aku yakini. Tidak ada kabar dari masa lalu, juga tidak ada tanda-tanda besar dari masa depan — satu-satunya yang kumiliki adalah masa kini. Masa di mana yang kupegang erat hanya kepercayaan akan diri sendiri dan tidak buru-buru menemukan validasi.
Aku tahu, hidup kadang tengik, menyajikan hal-hal yang tak bisa kuterjemahkan sendiri. Dunia seluas ini tak jarang hanya membuatku tenggelam dalam kesunyian yang dipenuhi tanda tanya — menghitung ada berapa banyak karib yang tinggal, ada berapa banyak orang yang peduli padaku karena aku benar-benar layak dipedulikan — bukan atas dasar hubungan transaksional. Tetapi barangkali kabut itu adalah cerita sendiri, tempatku mulai menemukan arah, meskipun tidak ada peta dan kompas yang pasti untuk menuntun jalan ini.
Aku mengutip secuil tulisannya Arman Dhani dari bukunya yang berjudul Eminus Dolere: Panduan untuk Mempersiapkan Perpisahan.
Katanya:
“Kamu gadis baik. Seseorang dengan hati bening dan mungkin masa lalu yang tidak baik-baik amat. Kamu dan aku mungkin sama. Orang yang disandera kenangan dan kerap kali ingin menyerah pada keadaan daripada melawan nasib yang sumbing. Kita sama-sama terlalu takut untuk berdiri dan berhenti berharap. Tapi jangan pernah kamu relakan diri sendiri untuk jadi korban. Menangislah secukupnya, rayakan kesedihanmu, kemudian jika kamu sudah siap, berdirilah dan hadapi dunia dengan kepala tegak.”
Ia benar, kamu dan aku mungkin sama. Tak ada tujuan yang lebih baik selain berhenti menunggu penyelesaian dari orang lain. Setidaknya —
Kalau kalah hari ini, harga salahnya murah.
Karena masih ada ruang untuk jatuh, belajar, dan bangkit tanpa kerugian sebesar nanti di masa depan. Maka penting untuk mengetahui bagaimana cara mengatur diri supaya tidak terjebak dalam siklus salah yang sama, dan hanya kamu sendiri yang tahu harus memulai dari mana.
Di usia 22, aku juga meyakini bahwa dunia itu tidak selalu linear. Lengkungan setiap orang berbeda, dan barangkali di situlah letak ceritanya. Jika mengingat petuah orang-orang besar: don’t try to be the best in a category, be the only one in your category.
Be the only, berarti kamu tidak sedang membandingkan langkahmu dengan orang lain, melainkan membangun jalur yang memang hanya kamu yang bisa menapakinya. Dan di jalur itu, atribut yang tampak dari luar hanyalah penanda; yang sesungguhnya menuntun adalah spesifikasi yang dibawa sejak awal — cara berpikir, kekuatan hati, dan nilai yang dipegang teguh.
Tapi semua hal tidak selalu tentang usaha. Kadang hidup juga penuh ketidakpastian, bahkan keberuntungan pun adalah bentuk ketidakpastian. Bukankah di dunia ini tidak ada yang benar-benar tahu seperti apa konsep rezeki? Meski demikian, kita selalu punya pilihan. Pilihan yang tidak semata-mata bertujuan hanya untuk menunjang utilitas, namun juga untuk dapat memaksimalkan berkahnya.
Dirampungkan di Bandung, 10 Agustus 2025.
메타데이터
- post_id
- 660999049d4e
- slug
- zona-kabut-660999049d4e
- url
- https://medium.com/@silmynurvianty/zona-kabut-660999049d4e
- canonical_url
- https://medium.com/@silmynurvianty/zona-kabut-660999049d4e
- author_url
- https://medium.com/@silmynurvianty
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 18:30:51