im done nursing u.
Suaramu pelan-pelan mulai memudar dari kepalaku; aku bahkan udah nggak lagi ingat bagaimana persisnya nada bicaramu saat menyebut namaku…
im done nursing u.
Suaramu pelan-pelan mulai memudar dari kepalaku; aku bahkan udah nggak lagi ingat bagaimana persisnya nada bicaramu saat menyebut namaku, atau bagaimana getaran suaramu dulu selalu berhasil menenangkan badai di dadaku.
Mungkin itu hal yang baik. Dan memang itulah tanda yang sudah lama kutunggu — bahwa setelah berbulan-bulan tersesat dalam labirin yang kuciptakan sendiri, aku akhirnya mulai menemukan kembali jalan pulang menuju diriku yang lama. Aku perlahan-lahan mulai melepaskan jangkar memori tentangmu yang selama ini menahanku untuk berlayar lebih jauh.
Namun, jika malam ini aku harus benar-benar jujur pada bayanganku sendiri di cermin, aku tahu bahwa runtuhnya kita bukanlah sebuah kutukan dari semesta, melainkan murni karena kelalaianku. Kehancuran itu tidak pernah menjadi salahmu sepenuhnya. Aku yang keliru.
Aku keliru karena membiarkan keegoisan merusak apa yang dulu begitu utuh. Aku salah karena melepaskan genggaman demi sesuatu yang belum pasti dan terlambat menyadari nilainya. Dan aku bodoh keliru karena mengira bahwa cinta yang besar akan bertahan tanpa perlu dirawat, membiarkanmu berjuang sendirian sementara aku terlalu angkuh untuk menoleh. Dan yang paling menyiksa — aku keliru karena telah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk merawat luka ini, bukan menyembuhkannya.
Kesalahan terbesarku bukanlah saat aku melepaskanmu, melainkan apa yang kulakukan setelah kamu pergi: aku menghabiskan terlalu banyak waktu untuk merawat luka ini, bukan menyembuhkannya. Menyembuhkan berarti membiarkannya mengering, menerima rasa sakitnya, lalu melangkah pergi. Namun, yang kulakukan justru sebaliknya. Hampir setiap malam, sengaja maupun tidak, aku membuka kembali perbannya, menumbuhkannya dengan rasa penyesalan, hanya untuk memastikan bahwa rasa bersalah itu masih ada di sana. Aku memelihara kepedihan itu seperti sebuah ritual penebusan dosa, mengurung diri dalam ruangan gelap masa lalu seolah-olah dengan terus menghukum diriku sendiri, takdir akan merasa kasihan lalu memutar balik waktu. Aku memperlakukan penderitaan ini sebagai satu-satunya cara untuk tetap merasa dekat denganmu.

staring at old ghosts won’t help you win today’s fight.
Hingga akhirnya, semesta menamparkan sebuah kenyataan yang memecah keheningan panjangku.
Kemarin, aku melihat siluetmu dari jejak instastory-mu. senyummu begitu ringan, tawamu samar-samar terdengar bebas, seolah segala beban yang dulu pernah kuciptakan telah sepenuhnya rontok dari pundakmu. Tidak ada lagi gurat lelah yang dulu sering kulukis di wajahmu. Di detik itulah, realita menghantamku dengan cara yang sangat sunyi dan tak terbantahkan: “Dan yang telah melangkah begitu jauh adalah perempuan itu, sedangkan pria ini masih berusaha mencari bangkitnya sendiri.”
Kamu telah berlari begitu jauh mencoba memeluk bahagia, sementara aku masih dengan bodohnya meraba-raba dinding di dalam ruang gelap masa lalu, berharap menemukan pintu yang kuncinya sudah lama kubuang sendiri.
Namun anehnya, menyadari bentangan jarak yang kini teramat luas di antara kita tidak lagi memancing bara di dadaku. Tidak ada lagi cemburu buta yang diam-diam menyiksa sanubari. Tidak ada lagi rasa sesak yang membuatku ingin berlari mengejarmu dan memohon kesempatan lainnya. Ketakutan yang dulu membelenggu itu tiba-tiba menguap. Yang tersisa di dadaku sekarang hanyalah sebuah ruang lapang — sebuah kelegaan yang tak bertepi, sedamai napas pertama setelah tenggelam sekian lama.
Rasa sakit yang dulu begitu purba kini telah menguap, menyisakan sebuah keikhlasan yang sunyi.
Melihatmu utuh kembali nyatanya adalah jawaban atas segala doa penyesalan yang kurapalkan dalam diam. Aku akhirnya mengerti, bentuk tertinggi dari sebuah penerimaan adalah saat kita mampu tersenyum melihat seseorang yang pernah kita hancurkan, kini berhasil merakit kembali kebahagiaannya hingga sempurna — meskipun bukan kita lagi yang menjadi alasannya.
Kita telah selesai. Sepenuhnya dan seutuhnya selesai.
Kini, tidak ada lagi utang maaf yang menggantung di udara. Tidak ada lagi janji masa depan yang perlu disesali, dan tidak ada lagi luka lama yang perlu kusiram dengan air mata penebusan. Kamu telah menemukan terangmu, dan kini giliranku untuk merapikan sisa-sisa reruntuhanku sendiri. Sendirian, pelan-pelan, tanpa perlu berlomba dengan siapa pun, dan tanpa perlu lagi menengok ke belakang.
Semoga kita tidak pernah lagi tersesat dalam penyesalan yang menolak untuk sembuh. Semoga kita berani melepaskan masa lalu yang telah pergi, agar tangan ini kembali kosong, utuh, dan siap untuk memeluk masa depan yang baru.
Pada akhirnya kita hanyalah dua orang yang pernah bernyanyi dalam satu panggung, yang kini harus melanjutkan perjalanan untuk mencari kebahagiaan masing-masing di atas jalur yang tidak akan pernah bersinggungan lagi. Melihatmu bahagia bersamanya adalah sebuah titik penuh (full stop) yang paling adil yang pernah diciptakan Tuhan untuk cerita kita.
May we never settle for crumbs.
May we always remember that we deserve the whole cake
메타데이터
- post_id
- 662c6ca76ff6
- slug
- im-done-nursing-u-662c6ca76ff6
- url
- https://medium.com/@shamanmusytaq/im-done-nursing-u-662c6ca76ff6
- canonical_url
- https://medium.com/@shamanmusytaq/im-done-nursing-u-662c6ca76ff6
- author_url
- https://medium.com/@shamanmusytaq
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01