← Back to list

Tetesan Hujan di Lensa Waktu

Lagu hujan yang melintasi dua benua

Stepanus BP · 2026-07-16 14:21 · 376 claps · 3.3 min read paywalled
#lagu-anak #indonesia #kenangan #diaspora #montreal
Open on Medium ↗

Tetesan Hujan di Lensa Waktu

Lagu hujan yang melintasi dua benua

This essay won the Frame & Tales writing challenge. This is its Indonesian version — click here to read the original “Raindrops on the Lens” for free!

Photo by Caroline Ross on Unsplash

Photo by Caroline Ross on Unsplash

“Grandpa, apa itu genting?”

Aku berhenti bernyanyi.

Bukan itu pertanyaan yang kuduga akan muncul di tengah nina bobo.

Waktu cucu-cucuku masih kecil, ritual sebelum tidur bagi mereka semua hampir sama. Digendong Grandpa dan sambil menyanyi.

***Baca gratis di sini!***

Biasanya aku akan mulai menggendong, membiarkan tubuhnya di atas perut bunciku yang serupa bantal, mengayun-ayun, sambil bernyanyi. Selain Twinkle, Twinkle, Little Star, kukenalkan juga lagu-lagu anak Indonesia, yang kuingat.

Kalau mereka tak bisa tumbuh di Indonesia, mungkin setidaknya mereka bisa tumbuh besar bersama lagu-lagunya. Itu misi rahasiaku.

YouTube membantu menemukan kembali lagu-lagu anak yang nyaris kulupakan — Nina Bobo, Bintang Kecil, dan banyak lagi.

Salah satu yang jadi favorit Cassandra dan adik-adiknya adalah “Tik Tik Bunyi Hujan.”

“Grandpa, aku mau kamu nyanyi hujan,” kata Cassandra.

“Tik… tik… tik… bunyi hujan di atas genting…”

Aku ingat malam itu, di tengah lagu, Cassandra membuka matanya.

“Grandpa, apa itu genting?”

“Atap rumah,” bisikku. “Ceritanya panjang, sayang.”

Ia memejamkan mata lagi.

Lalu, beberapa detik kemudian, ia tersenyum dan berkata, “Nyanyi lagu hujan lagi, ya?”

Aku tertawa. Tentu saja.

“Tik… tik… tik… bunyi hujan di atas genting…”

Ini lagu anak-anak yang sederhana. Tapi bagi banyak anak-anak di Indonesia, ini juga lagu tentang rumah.

Lagu itu bercerita tentang keajaiban sederhana saat hari sedang hujan. Air turun dari langit, mengalir ke mana-mana, dan pepohonan serta kebun kembali basah, segar dan hidup.

Yang lucu, aku sendiri tidak besar di bawah atap genting.

Di kampungku, genting bukan pemandangan yang paling umum. Hanya beberapa rumah dan bangunan besar yang memakainya, meski di banyak daerah lain genting justru sangat populer.

Genting-genting merah maroon itu membuat rumah lebih sejuk di bawah terik matahari tropis, dan memberi hujan irama yang lebih lembut.

Rumah nenekku malah beratapkan alang-alang. Rumput kering itu disusun berlapis dan diikat dengan tangan,menjadi atap melindungi rumah dari hujan tropis.

Ketika hujan jatuh di atap itu, suaranya tidak keras. Hanya serupa bisikan lembut.

Irama tenang itu cukup untuk membuatmu mengantuk.

Belakangan, rumah kami yang lebih baru, seperti banyak keluarga lain di kampung, mengganti atap alang-alang dengan seng bergelombang. Lebih kuat, lebih modern, tapi ya, mengubah total musik hujan.

Bisikan itu berubah jadi konser.

Setiap tetes hujan menciptakan pertunjukan logam kecil di permukaan seng yang bergelombang.

Kadang paku-pakunya longgar, muncul bocor kecil di sana-sini. Dan tak ada yang menganggap itu aneh. Itu memang bagian dari hidup bersama hujan.

Jadi, rumah masa kecilku tidak persis seperti rumah dalam lagu itu. Tapi rasanya sama.

Kebun, pepohonan, dan rumpun bambu mengelilingi rumah kami. Musim hujan datang, lanskap yang kering perlahan berubah. Tanah melepaskan aroma khasnya; tanaman kembali menghijau.

Kalau kupikir-pikir lagi, aku sudah mendengarkan hujan lewat tiga atap berbeda dalam satu hidup.

Atap alang-alang. Atap seng. Atap terbuka di sabana.

Dan sekarang… hujan tak lagi menabuh di atas kepalaku. Kini, ketukannya terdengar serupa ketukan sopan di kaca jendela di sampingku.

Hujan dan Salju di Quebec

Aku mendengarkan hujan dengan cara berbeda di Quebec.

Rumah kami beratap sirap aspal yang nyaris tak membiarkan hujan mengumumkan kedatangannya. Musim panas, angin kencang sering membawa hujan menyamping. Lebih sering mengetuk pelan kaca jendela besar, daripada menabuh di atas atap.

Lalu musim dingin tiba.

Salju turun nyaris tanpa suara, berterbangan seperti kapas, mendarat menyelimuti halaman dan atap-atap dengan lapisan putih.

Aku sering berdiri di jendela yang sama.

Musim panas, kulihat cucu-cucuku bermain kecipak air di genangan. Musim dingin, kulihat mereka membuat bola salju.

Di saat-saat seperti itu, lensa waktuku diam-diam bergeser.

Di luar jendela ada cucu-cucuku.

Di dalam ingatanku hidup seorang bocah penggembala kerbau bertelanjang kaki, berlari melintasi sabana dataran tinggi Toraja, mengejar tetes hujan pertama setelah berbulan-bulan kemarau.

Bocah kecil itu tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya tumbuh cukup tua untuk menjadi seorang kakek.

Kenangan tidak berpindah di dalam koper.

Lagu Itu Sudah Tahu

Saat menyelesaikan tulisan ini, aku mencari “Tik Tik Bunyi Hujan” di YouTube.

Begitu melodi akrab itu memenuhi ruangan, sesuatu yang tak kuduga terjadi.

Satu per satu, cucu-cucuku berkumpul mengelilingi komputerku.

Tanpa melihat layar, mereka mulai bernyanyi.

Jauh sebelum kaki mereka pernah menginjak Indonesia, sebuah lagu-lagu lama sudah lebih dulu membawa mereka ke sana.

Terima kasih sudah membaca.

Kalau ingin mendengar lagu aslinya, bisa dicari di YouTube.

[embed]

Dan kalau kau ingin ikut bernyanyi, mari kita nyanyikan lagi:

Tik tik tik, bunyi hujan di atas genting

Airnya turun tidak terkira

Cobalah tengok dahan dan ranting

Pohon dan kebun basah semua

Semoga lagu ini mengingatkanmu pada dekapan ibu atau ayah, atau nenek atau kakekmu, sebelum tidur.

Jika kamu sudah pergi jauh dari rumah tempat lahirmu, semoga lagu hujan yang sederhana ini bisa membawamu ke tempat yang pernah kau sebut rumahmu..

Montreal, 12 Juli 2026


메타데이터
post_id
66a13028713f
slug
tetesan-hujan-di-lensa-waktu-66a13028713f
url
https://medium.com/@stepanuskapoda/tetesan-hujan-di-lensa-waktu-66a13028713f
canonical_url
https://medium.com/@stepanuskapoda/tetesan-hujan-di-lensa-waktu-66a13028713f
author_url
https://medium.com/@stepanuskapoda
status
ok
fetched_at
2026-07-27 06:20:56