Banten
Seperti saya sebutkan dalam tulisan sebelum ini, bahwa di antara koleksi buku almarhum kakak ipar saya — yang untuknya perjalanan dua hari…
Banten

Seperti saya sebutkan dalam tulisan sebelum ini, bahwa di antara koleksi buku almarhum kakak ipar saya — yang untuknya perjalanan dua hari lalu terjadi — terdapat buku Banten Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII karya Claude Guillot (2008). Rumah duka yang di dalamnya terdapat buku tersebut sendiri beralamat di Setu, Tangerang Selatan, Banten. Kata banten menjadi fokus perhatian saya dalam beberapa hari terakhir.
Sedikit tentang Banten, menurut Guillot, prasasti Kebonkopi II yang ditulis dalam bahasa Melayu isinya mengumumkan “kembali bertahtanya raja Sunda” pada tahun 932 M. Hal ini menunjukkan bila kerajaan yang berpusat di Banten Girang ini berada di bawah kekuasaan (atau setidaknya pengaruh kuat) Sriwijaya.
Nama kuna dari kerajaan Banten Girang adalah kerajaan Sunda. Sebab, menurut Guillot, hingga abad ke-10 tidak dikenal adanya kerajaan lain di Jawa Barat yang dikenal dengan nama Sunda. Awal abad ke-13, Zhao Rugua menyebut Sin-t’o (Sunda) untuk kota di Jawa Barat serta daerah-daerah sekitarnya, tempat lada ditanam. Berdasarkan penelusuran Guillot dari catatan Belanda, di penghujung abad ke-16 sebuah klarifikasi menyatakan bahwa Sunda adalah pelabuhan Banten beserta bagian paling barat Jawa, tempat tumbuhnya tanaman lada.
Nama Banten kita jumpai dalam catatan perjalanan Bujangga Manik (abad XV–XVI):
Ti kaler alas Panyawung, ta(ng)geran na alas Wa(n)ten.
Ke arah utara wilayah Panyawung, pilar (kini jadi Tangerang) dari wilayah Banten
Dan naskah Carita Parahhyangan (abad XVI):
Prangrang ka Kalapa deung Aria Burah. Prangrang ka Tanjung. Prangrang ka Ancol Kiyi. Prangrang ka Wahanten Girang. Prangrang ka Simpang. Prangrang ka Gunungbatu. Prangrang ka Saungagung. Prangrang ka Rumbut. Prangrang ka Gunung Banjar. Prangrang ka Padang. Prangrang ka Panggoakan. Prangrang ka Muntur. Prang rang ka Hanum. Prangrang ka Pagerwesi. Prangrang ka Medangkahiyangan.
Perang ka Kalapa jeung Aria Burah. Perang ka Tanjung. Perang ka Ancol Kiyi. Perang ka Wahanten Girang. Perang ka Simpang. Perang ka Gunungbatu. Perang ka Saungagung. Perang ka Rumbut. Perang ka Gunungbanjar. Perang ka Padang. Perang ka Panggoakan. Perang ka Muntur. Perang ka Hanum. Perang ka Pagerwesi. Perang ka Medangkahiangan.
Sementara kata Banten (Wanten) sendiri dalam bahasa Sunda berarti sesajian atau persembahan. Orang Inggris dan Belanda menyebutnya Bantan. Lain lagi dengan orang Portugis, mereka menyebutnya Bantam.
Bantan, tulis Jonathan Rigg dalam kamusnya A Dictionary of the Sunda Language of Java (1862), tempat tinggal Bantam saat ini, di ujung barat Jawa. Kamus Bahasa Jawa dan Belanda karya T. Roorda yang diterbitkan di Amsterdam pada tahun 1847 memberikan kata Bantan ini, yang berarti perlengkapan yang digunakan, artinya; persembahan.
Dalam bahasa Bali, Banten adalah persembahan; dan Bantenan adalah persembahan kolektif. Tuan Friederich menganggap Banten sebagai Krama atau bentuk yang lebih halus dari Bali, yang menurut kamus Clough, halaman 463, berarti persembahan pendamaian, hadiah keagamaan atau pengorbanan — makna yang menurut pendapat Tuan Friederich akan berlaku untuk pulau Bali, karena makna yang sama melekat pada kata Bali dalam bahasa Sanskerta. Tuan Friederich menganggap bahwa Bali adalah semacam tanah suci Pandita, yang dikhususkan untuk tujuan dan persembahan keagamaan, yang untuk tujuan yang sama Banten awalnya digunakan, tetapi dihancurkan oleh Hasanuddin, setelah masuknya agama Islam.
Kata-kata lain dalam bahasa Jawa juga mengalami transformasi yang sama anehnya dengan Bali Banten, misalnya Kari Kantun. T. Roorda, Halaman 172, untuk tetap ada; sisa. Kirim Kintun. T. Roorda Halaman 180. untuk mengirim; apa pun yang dikirim (Rigg, 1862:40).
Perhatian saya lebih kepada tomponimi Banten. Mengapa kawasan di ujung barat pulau Jawa disebut demikian?
Sebuah telisik geologis saya coba ajukan. Di ujung barat Pulau Jawa, alam rupanya benar-benar tidak pernah diam. Di sana, lempeng samudera menghunjam ke bawah daratan, menciptakan sebuah tungku raksasa di kedalaman bumi yang kita kenal sebagai Busur Magmatik Sunda. Di atas tungku inilah, Banten berdiri.
Bagi masyarakat kuna yang mendiaminya, getaran tanah dan kepulan uap belerang bukanlah sekadar proses geofisika melainkan gerak dan nafas dari wujud metafisik. Jejak kearifan ini tersimpan rapat dalam namanya sendiri: Banten. Sebuah kesadaran untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu yang berada di luar kemampuan mereka untuk menghadapinya. Untuk itu lahirlah tradisi mempersembahkan sesajian, sebuah persembahan.
Banten secara etimologis berarti “tempat persembahan” atau “ruang sesaji”. Hipotesis ini membawa kita pada sebuah kesadaran baru: bahwa seluruh bentang alam Banten, sejak masa pra-Islam, berfungsi sebagai sebuah altar raksasa. Titik vital dari altar ini berada di Gunung Pulasari.
Sebagaimana dicatat oleh Guillot, Pulasari bukanlah gunung biasa. Ia adalah Sasaka Domas, pusat inti yang suci. Bersama Gunung Karang dan Gunung Aseupan, mereka membentuk benteng vulkanik yang mengepung kaldera purba Rawa Dano. Di puncak-puncak inilah, uap fumarol yang keluar dari kawah dimaknai sebagai kehadiran energi magmatik yang harus dihormati. Hubungan spiritual ini menjangkau hingga ke tengah laut, gunung Krakatau, sang “saudara satu busur” di Selat Sunda.
Penduduk Banten kuna berada di posisi yang unik sekaligus genting. Mereka hidup di antara mesin-mesin magmatik terhitung paling aktif di dunia. Toponimi Wanten (Banten) adalah bentuk kearifan lokal untuk “menjinakkan” kegarangan alam. Melalui ritual parawanten di situs-situs megalitik yang menghadap kawah dan laut, penduduk masa lalu berusaha menjaga harmoni dengan energi bumi.
Mereka menyadari bahwa mereka tinggal di atas saluran-saluran magma yang tak terlihat namun terasa getarannya. Banten, dengan demikian, adalah sebuah identitas yang lahir dari dialog antara manusia dan alam. Saat ilmu Bumi modern belumlah lahir, kepercayaan akan adanya kekuatan gaib yang menuntut leluhur kita untuk bertindak dan memitigasi risiko, bukanlah sesuatu yang layak untuk dikecam sebagai primitif. Sebaliknya, justru kepercayaan inilah yang kemudian bertransformasi menjadi ilmu pengetahuan. Sudut pandanglah yang mengubahnya.
Tidaklah berlebihan untuk menyatakan bahwa Banten adalah wilayah yang didedikasikan sebagai tempat “persembahan” demi keseimbangan; sebuah “benteng” yang menjaga ujung Pulau Jawa dari amuk vulkanik yang selalu mengintai di bawah tanahnya. Kini “persembahan” dan “benteng” itu adalah tidak lain dari apa yang sekarang kita kenal sebagai ilmu Bumi.
메타데이터
- post_id
- 66ada3e4bf2d
- slug
- banten-66ada3e4bf2d
- url
- https://medium.com/@dodikurniawan71/banten-66ada3e4bf2d
- canonical_url
- https://medium.com/@dodikurniawan71/banten-66ada3e4bf2d
- author_url
- https://medium.com/@dodikurniawan71
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 21:10:59