← Back to list

5,05% Hanya Angka: Pertumbuhan Ekonomi Tak Dinikmati Rakyat

Foto: Suasana kemacetan arus balik mudik lebaran di ruas jalan tol Ungaran, Jawa Tengah ke arah Jakarta pada, Kamis (5/5/2022). (CNBC…

Muhammad Fathan · 2024-10-03 13:23 · 1 claps · 3.0 min read
#ekonomi #pertumbuhan-ekonomi #ekonomi-dan-bisnis #krisis #resesi
Open on Medium ↗

5,05% Hanya Angka: Pertumbuhan Ekonomi Tak Dinikmati Rakyat

Foto: Suasana kemacetan arus balik mudik lebaran di ruas jalan tol Ungaran, Jawa Tengah ke arah Jakarta pada, Kamis (5/5/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Foto: Suasana kemacetan arus balik mudik lebaran di ruas jalan tol Ungaran, Jawa Tengah ke arah Jakarta pada, Kamis (5/5/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Pada tanggal 5 Agustus 2024 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2024. Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,05% (y-on-y). Angka yang bisa di bilang besar, apalagi di tengah kondisi geopolitik yang sedang tidak menentu ini.

SUMBER: BPS

SUMBER: BPS

Namun jika kita ingin menilai pertumbuhan ekonomi, jangan hanya menilai dari angkanya saja, tetapi harus di lihat juga bagaimana ‘kualitas’ nya. Dalam arti harus di analisis lagi bagaimana korelasi angka tersebut dengan fakta lapangan.

jika kita ingin menilai pertumbuhan ekonomi, jangan hanya menilai dari angkanya saja, tetapi harus di lihat juga bagaimana ‘kualitas’ nya

Dari apa yang saya amati sekarang, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,05% itu tidak di nikmati oleh masyarakat secara luas. Ada beberapa alasan yang mendukung pernyataan tersebut.

Fenomena Masyarakat Makan Tabungan

Salah satu alasan pertumbuhan ekonomi tidak dirasakan oleh masyarakat adalah semakin banyak masyarakat yang terpaksa menggunakan tabungan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Idealnya, jika ekonomi tumbuh dengan baik, pendapatan masyarakat juga akan naik, yang memungkinkan mereka menabung lebih banyak. Namun, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Kenaikan biaya hidup yang tidak sebanding dengan kenaikan pendapatan membuat masyarakat terpaksa menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan mereka, ini menunjukkan penghasilan mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Survei Konsumen terbaru menunjukkan bahwa semakin banyak warga Indonesia yang terpaksa menggunakan tabungannya untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini jelas terlihat dari data Bank Indonesia, yang mencatat penurunan drastis rasio tabungan terhadap pendapatan pada Oktober 2023 dibandingkan dengan periode sebelum pandemi Covid-19, pada 2019 rasio simpanan masyarakat mencapai 19,8%, kini angka menjadi hanya 15,7%.

Pengeluaran dan pembayaran cicilan masyarakat justru meningkat signifikan. Pada 2023, pengeluaran mencapai 76,3% dari pendapatan, melonjak dari 68% pada 2019. Begitu pula dengan cicilan yang sedikit turun, dari 12,2% menjadi 8,8%, menunjukkan ketergantungan yang semakin tinggi terhadap pinjaman dan kredit.

Kelompok masyarakat dengan pendapatan Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta mengalami penurunan tabungan yang paling tajam, dengan penurunan rasio simpanan sebesar 460 basis poin. Kelompok masyarakat berpendapatan Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta, juga terdampak, mengalami penurunan sebesar 400 basis poin. Data ini mengindikasikan adanya tekanan ekonomi yang kuat pada kelas menengah ke bawah. Hal ini juga yang menyebabkan Kelas Menengah Turun Kelas, pendapatan yang di dapat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari mereka hal ini tidak menunjukan kesejahteraan di masyarakat.

Jika hal ini terus terjadi maka daya beli masyarakat akan terus turun dan kita akan terus mengalami deflasi. Padahal, daya beli masyarakat sangat erat kaitannya dengan ekspansi manufaktur dan dunia usaha. Dengan permintaan meningkat, dunia usaha bisa meningkatkan belanja bahan bakunya dan produksinya. Saat industri bergairah, produksi meningkat, serapan tenaga kerja bertambah, dan ujungnya adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi.

PHK Dimana-mana

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat, sebanyak 52.933 pekerja menjadi korban PHK sepanjang Januari hingga 26 September 2024.

PHK terbanyak berasal dari sektor pengolahan mencapai 24.013 kasus, disusul sektor jasa 12.853 kasus, dan sektor pertanian, kehutanan, serta perikanan 3.997 kasus. Hingga Oktober 2023, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat bahwa 237.080 pekerja telah terkena PHK. Tren ini terus berlanjut di 2024, ini menunjukan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,05% tidak berdampak di masyarakat, justru yang ada masyarakat malah makin sengsara.

Baca: *Tantangan Industrialisasi Indonesia*

Darimana Angka 5.05%?

Sumber: BPS

Sumber: BPS

Kok bisa BPS mendapatkan angka pertumbuhan mencapai 5.05%? Kalau kita analisis lagi dari PDB Menurut Pengeluaran yang di terbitkan BPS, komponen dengan pertumbuhan paling tinggi itu ada di pengeluaran konsumsi pemerintah dan LNPRT bukan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang pertumbuhannya cenderung stagnan.

Pertumbuhan pengeluaran konsumsi pemerintah yang meningkat itulah yang menyumbangkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,05% . Pengeluaran yang tinggi ini di akibatkan karena distribusi bansos kepada masyarakat yang jik kita analisis lagi tidak punya dampak berkelanjutan terhadap perekonomian di masyarakat.

Padahal indikator pertumbuhan ekonomi yang bagus itu meningkatnya pengeluaran konsumsi rumah tangga dengan pendapatan per kapita yang terus meningkat. Walaupun porsinya terhadap pengeluaran tebrbesar tapi pertumbuhannya cenderung stagnan ini menunjukan tidak ada peningkatan taraf hidup atau kesejahteraan di masyarakat.

Baca Artikel Saya di Blog Pribadi https://thanconomic.blogspot.com.


메타데이터
post_id
66cb3ef4a290
slug
5-05-hanya-angka-pertumbuhan-ekonomi-tak-dinikmati-rakyat-66cb3ef4a290
url
https://medium.com/@adinandrafathan/5-05-hanya-angka-pertumbuhan-ekonomi-tak-dinikmati-rakyat-66cb3ef4a290
canonical_url
https://medium.com/@adinandrafathan/5-05-hanya-angka-pertumbuhan-ekonomi-tak-dinikmati-rakyat-66cb3ef4a290
author_url
https://medium.com/@adinandrafathan
status
ok
fetched_at
2026-07-22 15:40:29