Jadi Gini,
Dewasa ini, gue gak lagi mikirin persoalan cinta yang penuh percikan bumbu-bumbu perasaan dan bualan yang cuma sekilas. Lebih dari itu…
Jadi Gini,
Dewasa ini, gue gak lagi mikirin persoalan cinta yang penuh percikan bumbu-bumbu perasaan dan bualan yang cuma sekilas. Lebih dari itu, hubungan istimewa dengan seorang pria tak lagi semendebarkan masa-masa sekolah dulu. Boro-boro mikirin soal menikah, isu-isu yang berterbangan di lini masa akhir-akhir ini justru bikin Kantor Urusan Agama (KUA) perlahan tak lagi menjadi destinasi paling menarik nomor satu untuk dikunjungi.
Perceraian, perselingkuhan, KDRT, pembredelan harga diri, dan konflik ekonomi menjadi perkara-perkara yang menghantui keyakinan diri untuk melangkah pada tangga kehidupan berumah tangga. Betulan, marketing para setan dalam membuat bingkai buruk tentang rumah tangga sangat layak diacungi jempol. Kini, orang-orang lebih memilih hidup mengikat diri dengan lawan jenis tanpa ikatan halal, seperti tren pacaran dan living together. Ah, keimanan kami dicabik dan terkoyak.
Jule, Raisa, Clara, dan perempuan-perempuan lainnya adalah sosok-sosok yang turut berkontribusi menggeser cara pikir gue dalam memilih dan dipilih seseorang. Gue tidak lagi tertarik pada seseorang hanya karena penampilannya, panjang pendek saldonya, dan kelas sosial keluarganya. Nilai diri, kedekatan dengan pencipta, dan cara berperilaku justru menjadi hal-hal yang akan gue beli setengah mati.
Selain itu, daya tarik yang gue cari justru terletak pada seseorang yang tertarik dan mencintai gue bukan karena jenama-jenama pakaian yang gue kenakan, bukan perihal makeup sebagus apa yang terias di wajah, dan bukan pada stratata sosial tempat gue dikelompokkan melainkan karena ide-ide yang kadang cemerlang dan kadang tidak, pada anomali-anomali cara pandang, dan soal perseteruan argumen debat akan konteks. Klise tapi itu adanya.
Gue mulai berfokus pada hal-hal yang sifatnya berdampak panjang dan mampu menciptakan tenang dan senang yang abadi. Lagian, siapa pula yang mau berumah tangga hanya sebulan-dua bulan karena permasalahan komunikasi? Ngerinya.
Oh, tau enggak? Gue kerap merasa biasa aja dengan sikap orang yang tidak tertarik pada cara gue berpenampilan. Secara serius dan merucut, gue cukup sulit untuk tersinggung oleh seorang pria yang hanya menilai perempuannya dari cara berpenampilan — sama sekali tidak salah dan bukan kesalahan untuk seorang pria melakukan itu. Gue kerap yakin dan berpikir bahwa selera setiap orang itu berbeda, itu aja. Jadi, satu orang yang tidak suka cara gue berpenampilan bukan berarti menjadi pukulan rata bahwa orang lain juga melakukan hal yang sama. Ini soal yang subjektif.
Kapan-kapan nulis lagi, sekarang ngantukan.
Lusa sudah senin.
Ah.
Mau minggu terus~
메타데이터
- post_id
- 670d997584dc
- slug
- jadi-gini-670d997584dc
- url
- https://medium.com/@windyaml/jadi-gini-670d997584dc
- canonical_url
- https://medium.com/@windyaml/jadi-gini-670d997584dc
- author_url
- https://medium.com/@windyaml
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 04:52:32