← Back to list

ESSAI: KEHIDUPAN KLISE MANUSIA ABAD KE-21 VOL #01

(Sebuah catatan singkat eksistensialisme post-modernistik hari ini)

Novandi Putra · 2026-01-16 13:27 · 0 claps · 3.1 min read
#nihilism #life #absurdism #goblok #ngentot-tunangan-teman
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy

pins.capt

pins.capt

ESSAI: KEHIDUPAN KLISE MANUSIA ABAD KE-21

(Sebuah catatan singkat eksistensialisme kehidupan post- modernistik)

FRAGMEN PERTAMA KEHIDUPAN

“Dalam hasil risetku, perbedaan sosiologi kehidupan dizaman kita saat ini, dengan manusia-manusia pada abad ke-21 lampau, terlihat kehidupan mereka yang begitu absurd dan tak layak untuk dijalani”. — sekumpulan manusia diabad mendatang meneliti kehidupan manusia-manusia diabad ke-21, abad kita semua hari ini.

Merah jingga langit sore itu, 26 November 2025. Bulan kesebelas dari runtunan kegelisahan dalam setahun. Hanya sebulan lagi, ayo! Apakah aku akan mati dipenghujung tahun ini?

Gumpalan asap, debu yang menempel diwajah, kretek ditangan, dan sepatu polos tak terikat. Diriku terdiam sejenak, siang panas hari, merekah sebelum waktunya, apakah seharusnya berjalan seperti ini? Hari ini, dikota ini? Kota metropolitan, asap dan debu yang terus mengepul sepanjang hari, kontainer datang silih berganti, bunyi mesin Las dan api yang terus dipercikan dari kios penyemir besi. Kenapa seperti ini? Setelah sekian bulan sebelumnya. Kian hari diriku kian terasing, bukan hanya oleh sosial yang asing dan heterogen. Tetapi juga dengan diriku sendiri, seorang yang mempunyai nama, pemberian ibuku dan disepakati oleh ayah sewaktu aku lahir kedunia. Pada akhirnya berdiri seperti entitas tak dikenal, seperti hewan liar yang masuk parit, terusir oleh otoritas duniawi. Otoritas kehidupan dan diri sendiri. Bukan cuma hari ini, aku masih ingat bagaimana diriku memilih untuk merantau jauh, sengaja dengan sadar, menjebakkan diri didalam sesaknya kota. Meskipun begitu, kisahku akan kulanjutkan esok hari, dengan mood yang semoga saja mulai membaik. Hari ini, hujan mulai turun, petir mulai menyambar seperti suara motor bising hasil modifan. Aku membenci suara motor itu, bukan, lebih tepatnya aku membenci pemiliknya. Membenci seorang manusia. Motor bising hasil domestikasi pemiliknya, memodifnya dengan telaten agar terlihat lebih maskulin dipandang para wanita. Kerusakan fenomena ini adalah kesengajaan seorang manusia dalam memandang seorang hawa, merendahkan derajatnya dengan menimpahnya dengan maskulinitas, hingga pada akhirnya keberulangan ini bergeser menjadi sebuah tren yang menyebar keseluruh penjuru. Tak heran, dimanapun aku melangkah, suara motor itu seakan terus membuntuti. Berbeda dengan suara petir yang otentik dan tidak memiliki kehendak bodoh yang berulang dan membatu, sebagaimana hubungan manusia dan motor. Aku akan membedah kehidupan ini dengan satu kretek terakhir sambil meneduh sejenak.

Kehidupan yang kujalani, manusia-manusia yang ku temui, lebih dari satu, mungkin seribu atau sejuta. Seperti kawanan semut, mereka semua sama, aku sebagai entitas dalam bentuknya, begitu mirip tak tampak sejengkalpun perbedaan. Keserasian setiap manusia ini (termasuk diriku) bukan cuma dalam hal material yang tampak oleh panca indra. Namun juga dalam ranah kesadaran spiritualitas, keinginan, harapan, dan tujuan. Mereka memiliki pola yang sama dalam memandang bagaimana "seharusnya" hidup berjalan. Seakan telah dipoles sedemikian rupa hingga setiap manusia mengimaninya. Ya, hampir setiap orang yang ku kenali dan orang yang sekejap mengobrol dan ku palak rokoknya dipinggir jalan, seperti terdapat pola. Meski berbeda profesi, latar belakang, hingga keahlian, persamaan tersebut tercermin didalam perspektif setiap orang ketika memandang arti kehidupan, untuk apa kehidupan itu, dan bagaimana standar kehidupan harus dijalani—agar setiap orang bersamaan dengan yang lainnya, dipedulikan oleh sekawanannya, dan tak terlihat aneh. Pola-pola ini terbentuk dan membelenggu dalam seluruh aspek kehidupan. Mahasiswa Baru dengan kekiri-kiriannya, lulus kuliah dan bekerja, bekerja dengan kemonotonannya, pekerja kontrak ataupun serabutan, mencari uang dan menghambur-hamburkannya, fetish dan gila terhadap pencapaian dan jabatan, membeli minuman keras dan bermain wanita, berpacaran, melangkah lebih jauh merencanakan perkawinan, mempunyai 2 sampai 3 orang anak, menikmati kopi diperkarangan rumah pribadi dengan singkong dan gorengan buatan istri, mendengarkan The Beatles hingga mahalini, membesarkan anak dengan harapan lebih baik dari dirinya, dan terakhir bertemu ajal dan kematian badan. Pola ini terus berulang. Seperti pola trinitas kekristenan yang terus diputar-putar dan dipatuhi sebagai standar "kebahagian" seorang subjek manusia dalam menjalani hidup. Siapa yang mengatur pola ini sedemikian rupa?

Rokokku hampir habis, Standar kebahagiaan yang setiap manusia imani sangat absurd menurutku, aneh dan terlalu klise. Sampai-sampai, setiap manusia yang hingga detik ini diriku sedang meneduh menunggu hujan reda. Terasa seperti satu warna dan bentuk—kesatuan dalam hidup yang klise. Kehidupan yang menjijikan seperti ini tak layak untuk dijalani.

Rokokku habis, aku memandang langit. Awan gelap, air, dan petir telah pergi. Namun suara bising itu tetap saja terdengar dan membayang-bayangi telingaku. Kehidupanku hari ini, disesak dan padatnya kota, dikejamnya angkara, dan didalam menjijikannya pola kehidupan. Aku, seorang entitas, seorang penyintas, dengan kekalahan, kelelahan, dan rasa muak. Hanya sejengkal saja, aku ingin bunuh diri. Karena hanya hal tersebut yang tak setiap orang dapat melakukannya.

Ini adalah gambaran pertamaku menjajaki bagaimana nihilisme bersarang disini, ditengah-tengah ruas jalan,—jalan kehidupan. Aku berlari dan meneduh, pulang kerumah, dan tertidur, mungkin hari esok diriku dapat terlahir kembali sebagai entitas yang lebih nihilistik.

*Essai ini akan dilanjutkan tanpa batas waktu dan kenihilisan yang tak dapat diperkirakan.


메타데이터
post_id
6727a07b95a4
slug
essai-kehidupan-klise-manusia-abad-ke-21-6727a07b95a4
url
https://medium.com/@Pelantur_/essai-kehidupan-klise-manusia-abad-ke-21-6727a07b95a4
canonical_url
https://medium.com/@Pelantur_/essai-kehidupan-klise-manusia-abad-ke-21-6727a07b95a4
author_url
https://medium.com/@Pelantur_
status
ok
fetched_at
2026-07-13 08:59:31