Tawar menawar
Kebiasaan ibu-ibu yang bikin puyeng
Tawar Menawar
Kebiasaan Ibu-ibu yang Bikin Puyeng
TM100H #DAY47
Jumat lalu adalah shiftku menjaga toko. Konsumen yang datang bisa dihitung dengan jari. Yang pertama, adalah langgananku. Sebut saja namanya mbak Ki. Tanpa ba bi bu dia membeli sepotong celana pendek berwarna hitam.
Satu jam berselang setelah mbak Ki, masuklah dua mbak-mbak berhijab dengan perawakan sekitar umur 40-an dan 30-an. Sebut saja Mbak A dan mbak B.
Photo by engin akyurt on Unsplash
Mbak A mencoba celana semiwool berwarna coklat. Celana itu memiliki potongan slim fit dan satu lagi berwarna abu-abu. Ia bertanya kepadaku, “Bagus yang mana ya Ce?” ujarnya. Aku pun menjawab “Bagus yang coklat Mbak, sesuai dengan tone kulitnya, lebih cerah jadinya..”
Setelah cocok dengan celana itu, Mbak A melihat-lihat etalase atasan. Ia pun tertarik dengan atasan knit motif garis vertikal. Tadinya ada 3 warna: oranye putih, hitam putih, dan coklat putih. Namun, atasan berwarna oranye sudah laku terjual.
Karena ia ingin celananya bisa dipadupadankan, ia pun memilih warna coklat putih — yang kalau dilihat mirip seperti permen blaster.
Temannya, Mbak B ikut melihat-lihat juga. Ia yang tadinya ingin baju knit (baju berbahan rajut) pun beralih ke kemeja motif garis, karena menurutnya lebih pas di badan.
Photo by Markus Winkler on Unsplash
Mbak A sejak memegang atasan motif garis kerap menawar. Harga yang kami jual adalah Rp 265.000, dan ia meminta agar dijadikan 200 ribu saja. Aku bilang “Belum bisa mbak, itu barang impor soalnya. Bahannya juga bagus, bukan yang kaleng-kaleng (sambil tersenyum).”
Namun ia masih kekeuh menawar. Total belanja mereka sebanyak 3 potong pakaian senilai Rp 520.000, tapi mbak A meminta untuk dijadikan Rp 400.000.
Omset toko sedang surut, harga sudah ibuku perhitungkan agar tidak terlalu mahal, tapi masih saja mau nawar. Capek bangettt, aku pun ingin menangis di pojokan rasanya :’)
“Ayolah Cee, jadi 400ribu bae yo”..
“Kami ambek nah klo 400 ribu, la langganan jugo”
Aku pun menimpali “Aduh mbak, lagi sepi kami nih. Mbak kan banyak duit, jangan nawar jauh igo laa (kutengok ia memakai banyak gelang emas, makanya kujawab begitu 😅).”
Aku yang sempat hilang akal, akhirnya teringat ada postingan yang dibagikan ibuku di WA. Satu toko menjual barang yang sama, namun dengan harga 3x lipat lebih mahal daripada kami 🙃
Aku pun menunjukkan postingan itu kepada mereka, dengan penuh kesabaran..
“Jingok nah mbak, di online jualnyo nak 700 ribu ini, barangnyo samo..”
“Ambeklah mbak, la murah nian barang kami ni, dak pasaran pulo..”
Photo by Blake Wisz on Unsplash
Mbak A pun menjawab “Ai Cece ni, madaki dak kurang lagi. La langganan Aku nih.”
Aku pun menjawab “ Sudah murah ini Mbak, beli 3 diskon 15rb. Men mbak ambek 4 baju, diskon 10rb per pcs-nyo. Boleh bandingi hargo kami mbak samo toko lain hehehe.”
Mbak A masih dengan wajah agak ngambek, akhirnya kubilang:
“Cak ini bae kugenepi 500 ribu bae nah mbak, bonus kopi korea.”
Mbak A pun menjawab “Yo sudah aku ambek lah”.
Perdebatan dan tawar menawar yang berlangsung kurang lebih selama 30 menit itu pun akhirnya terselesaikan.
“Amen kito pake duit dengan senang hati, ujinyo bakal lancar.” Mbak A pun kini senyum sumringah.
“Iyo, bener nian itu mbak. Mokasih yo mbak, sehat & lancar rejekinyo.” Aku memberikan salam perpisahan kepada konsumenku.
Lega rasanya, dan aku segera bergegas ke toilet karena sudah menahan untuk pipis dari tadi….
메타데이터
- post_id
- 674da016691f
- slug
- tawar-menawar-674da016691f
- url
- https://medium.com/cerita-uang-perekonomian/tawar-menawar-674da016691f
- canonical_url
- https://medium.com/cerita-uang-perekonomian/tawar-menawar-674da016691f
- author_url
- https://medium.com/@jessmei
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-14 11:28:49