← Back to list

Di Balik Ilusi Kebangkitan: Dari Ṣaḥwah Islâmiyyah Menuju Tajdîd (Close Reading Pemikiran Abid…

“Orang yang tidur pada malam hari, lalu bangun keesokan paginya masih mampu melanjutkan perjalanan hidupnya seperti biasa. Berbeda halnya…

Moh. Saiful Huda · 2026-01-21 15:25 · 7 claps · 6.3 min read
#islamic-thought #modernism #islam #close-reading
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment 📚 · Books & Reading 🕊️ · Religion

Di Balik Ilusi Kebangkitan: Dari Ṣaḥwah Islâmiyyah Menuju Tajdîd (Close Reading Pemikiran Abid Al-Jabiri dalam al-Dîn wa al-Dawlah wa Taṭbîq al-Sharî’ah)

“Orang yang tidur pada malam hari, lalu bangun keesokan paginya masih mampu melanjutkan perjalanan hidupnya seperti biasa. Berbeda halnya dengan para penghuni gua (ahl al-kahf) — atau siapa pun yang berada dalam kondisi serupa. Bagi mereka, sekadar terjaga (ṣaḥwah) tidaklah cukup untuk kembali menjalani kehidupan. Mereka terlebih dahulu membutuhkan pembaruan (tajdîd) cara berpikir, agar mampu melihat dan memahami realitas kehidupan yang baru sebagaimana adanya.”

— Muhammad Abid Al-Jabiri

Dalam peta pemikiran Islam kontemporer, ketegangan antara tradisi dan modernitas sering kali direduksi menjadi slogan-slogan politis yang memikat namun rapuh secara konseptual. Salah satu suara paling kritis yang mencoba membedah kebisingan slogan ini adalah Muhammad Abid Al-Jabiri. Melalui tulisannya yang tajam, Al-Jabiri tidak sekadar melakukan kritik semantik, melainkan sebuah operasi bedah epistemologis terhadap dua konsep sentral yang memperebutkan hegemoni dalam diskursus Arab-Islam, yaitu ṣaḥwah (kebangkitan) dan tajdîd (pembaruan).

Problematika Ontologis dan Genealogi “Ṣaḥwah

Al-Jabiri memulai diskursus dengan sebuah skeptisisme mendalam terhadap istilah yang mendominasi panggung wacana Islam pada dekade terakhir abad ke-20; “Ṣaḥwah Islamiyah”. Bagi pengamat awam, istilah ini tampak positif dan penuh harapan, merujuk pada fenomena kembalinya simbol-simbol agama ke ruang publik, yang sering kali dipicu oleh peristiwa besar seperti Revolusi Iran. Namun, Al-Jabiri melihat adanya cacat ontologis yang serius dalam penggunaan terminologi ini. Ia berargumen bahwa melabeli fenomena sosial-politik tersebut sebagai “kebangkitan” menyiratkan sebuah premis tersembunyi yang bermasalah: bahwa Islam sebelumnya berada dalam kondisi “tidur” atau “absen”.

Asumsi ini ditolak mentah-mentah oleh Al-Jabiri. Menurutnya, Islam — baik sebagai sistem akidah, syariah, maupun sebagai ideal moral kehidupan — tidak pernah sedetik pun “tidur” atau lenyap dari kesadaran kolektif umat Islam, pun tidak pernah hilang dari perilaku keseharian mereka. Dengan demikian, istilah “ṣaḥwah” bukan hanya tidak akurat, tetapi juga asing bagi “kamus Islam” yang otentik. Al-Jabiri melangkah lebih jauh dengan melakukan pelacakan geneologis terhadap istilah ini, mengajukan hipotesis bahwa “ṣaḥwah” sejatinya adalah produk impor linguistik. Ia mencurigai bahwa istilah ini hanyalah terjemahan harfiah dari label yang disematkan oleh jurnalisme Barat (al-ṣiḥâfah al-gharbiyyah) ketika mereka mencoba mendeskripsikan pergolakan politik di dunia Islam. Dalam pandangan ini, penggunaan kata “ṣaḥwah” oleh intelektual Muslim tanpa kritik adalah bentuk ketidaksadaran epistemologis, di mana umat Islam mendefinisikan diri mereka menggunakan kategori yang diciptakan oleh “Liyan” (Barat).

Lebih dari sekadar masalah asal-usul kata, Al-Jabiri mengkritik implikasi psikologis dari “ṣaḥwah”. Ia mendefinisikan “ṣaḥwah” sebagai sebuah infi’âl (reaksi atau kepasifan emosional), bukan fi’l (aksi atau tindakan yang disengaja). Dalam menghadapi tantangan kehidupan modern yang kompleks, sekadar bereaksi secara emosional — meskipun reaksi itu tulus — tidaklah memadai. Dunia modern menuntut partisipasi aktif, bukan sekadar luapan perasaan. Oleh karena itu, Al-Jabiri menegaskan bahwa “ṣaḥwah” adalah fenomena permukaan; ia bersifat situasional dan bergerak di kulit luar sejarah (saṭḥ al-târîkh), tidak menyentuh kedalamannya. Fenomena ini mungkin berhasil memobilisasi massa sesaat, namun gagal memberikan fondasi kokoh bagi pembangunan peradaban jangka panjang.

Tajdîd: Menuju Arkeologi Akal dan Tindakan Rasional

Sebagai antitesis terhadap kedangkalan “ṣaḥwah”, Al-Jabiri mengajukan konsep “tajdîd” (pembaruan). Pilihan ini bukan didasarkan pada sentimentalisme bahasa, melainkan pada keunggulan filosofis dan akar historisnya. Berbeda dengan “ṣaḥwah” yang berkonotasi reaktif, “tajdîd” memiliki legitimasi teologis yang kuat, bersandar pada hadis Nabi tentang kehadiran pembaru agama pada setiap penghujung satu abad. Namun, kekuatan utama “tajdîd” bagi Al-Jabiri terletak pada dimensi temporalnya. Jika “ṣaḥwah” terpaku pada respons sesaat, “tajdîd” adalah kerja intelektual yang “menukik ke kedalaman” (‘amal ba’îd al-aghwâr) dan “turun dengan segala bobotnya ke masa depan” (yanzilu bi kulli thaqlihi ‘alâ al-mustaqbal). Ia bukan sekadar perbaikan kosmetik, melainkan intervensi mendalam ke dalam struktur sejarah untuk mengarahkan alurnya.

Al-Jabiri menekankan bahwa tantangan dunia Arab dan Islam hari ini tidak bisa dijawab dengan retorika lisan semata — orasi, nasihat, atau penyuluhan — dan tidak pula dengan kekuatan fisik otot. Zaman kontemporer ini, menurut Al-Jabiri, adalah zaman yang didirikan di atas “tindakan akal” (fi’l al-’aql). Modernitas dibangun di atas fondasi presisi, organisasi, kalkulasi langkah, pembatasan probabilitas, dan minimalisasi unsur kebetulan. Dalam ekosistem peradaban yang sangat rasionalistik ini, emosi keagamaan yang meluap-luap (“ṣaḥwah”) tidak memiliki daya tawar yang berarti. Hanya melalui “tajdîd” — yang dimaknai sebagai rasionalisasi cara berpikir dan tadbir kehidupan — umat Islam dapat bertahan.

Di sini terlihat jelas keberpihakan Al-Jabiri pada rasionalisme. Ia menolak pemisahan sekuler antara agama dan dunia. Karena Islam mengaitkan kesalehan agama dengan kesalehan dunia, maka pembaruan agama (tajdîd al-dîn) secara otomatis meniscayakan pembaruan dunia (tajdîd al-dunyâa). Dan karena urusan duniawi senantiasa berubah seiring waktu, konsep dan tuntutan “tajdîd” pun harus bersifat dinamis, tidak statis mengikuti definisi masa lalu.

Merebut Kembali Bid’ah: Strategi Al-Shatibi Melawan Kebekuan

Salah satu hambatan terbesar bagi proyek “tajdîd” yang rasional ini adalah beban sejarah fikih yang kaku, khususnya dalam pemahaman konsep bid’ah (inovasi). Al-Jabiri mengkritik keras para fukaha “era kebekuan dan kemunduran” (‘aṣr al-jumûd wa al-inḥiṭaṭ) yang memperluas definisi bidah secara serampangan. Fanatisme tekstual ini sampai pada tahap yang tidak masuk akal, di mana pembangunan sekolah dianggap bidah karena di masa Salaf pendidikan dilakukan di masjid, dan pembangunan jembatan dianggap sesat karena tidak ada preseden dari para Sahabat. Mentalitas ini, bagi Al-Jabiri, adalah penghalang utama kemajuan peradaban.

Untuk mendobrak kebuntuan ini, Al-Jabiri tidak membuang tradisi, melainkan melakukan penggalian strategis (arkeologi pemikiran) dengan memanggil otoritas Imam Al-Shatibi, fukaha Andalusia yang terkenal dengan konsep Maqashid Syariah-nya. Al-Jabiri memuji Al-Shatibi karena responsnya yang bersifat “Islami (islâmiyyan), rasional (‘aqlâniyyan), dan historis (târîkhâniyyan)”. Al-Shatibi memberikan landasan metodologis yang krusial, yaitu pembedaan tegas antara urusan ibadah maḥḍah dan urusan ‘âdât (kebiasaan/muamalah).

Dalam pembacaan Al-Jabiri terhadap Al-Shatibi, menolak hal-hal baru dalam urusan duniawi — seperti pakaian, makanan, dan masalah-masalah kontemporer — hanya karena tidak ada di zaman Sahabat, adalah sebuah tindakan yang “sangat mungkar” (mustankar jiddan). Kebiasaan (‘awâ`id) manusia niscaya berbeda tergantung zaman, tempat, dan bangsa. Oleh karena itu, segala hal baru yang muncul demi kemaslahatan sosial dan tidak mengubah inti ibadah ritual, tidak boleh dikategorikan sebagai bid’ah yang tercela.

Melalui manuver intelektual ini, Al-Jabiri mendefinisikan ulang cakupan “tajdîd”. Jika “tajdîd” hanya dimaknai sempit sebagai “memberantas bid’ah” (memurnikan ritual), maka fungsinya akan terisolasi dari realitas kehidupan yang terus bergerak. Definisi sempit ini mungkin cukup untuk masa lalu, tetapi gagal total dalam menjawab tantangan hari ini. “Sistem Islam” dalam bidang politik dan ekonomi bukanlah paket siap pakai yang tertulis kaku dalam teks, melainkan prinsip-prinsip etis umum yang menuntut ijtihad kreatif manusia untuk menerjemahkannya ke dalam realitas. Inilah “tajdîd” yang sejati; menemukan solusi operasional untuk masalah modern yang tidak dikenal di masa lalu, solusi yang dijiwai etika Islam namun progresif secara peradaban.

Metafora Ashabul Kahfi dan Penjara Gua Plato

Puncak dari analisis Al-Jabiri terletak pada kritik peradaban yang ia sampaikan melalui metafora yang menggugah. Ia menolak analogi bahwa kondisi umat Islam saat ini seperti orang yang tidur semalam lalu bangun di pagi hari. Orang yang tidur semalam, ketika bangun, masih berada di dunia yang sama dan dapat melanjutkan hidup seperti biasa. Sebaliknya, Al-Jabiri menyamakan kondisi umat Islam dengan Ahl al-Kahf (Para Penghuni Gua) atau mereka yang mengalami diskontinuitas sejarah serupa. Mereka yang tertidur selama berabad-abad tidak cukup hanya dengan “bangun” (ṣaḥwah). Mereka membutuhkan lebih dari itu, mereka perlu memperbarui akal mereka terlebih dahulu agar mata mereka mampu memproses cahaya dari dunia baru yang telah berubah total.

Al-Jabiri bersikap sangat realistis — bahkan cenderung pesimistis — mengenai posisi peradaban Islam vis-à-vis Barat. Ia mengakui secara radikal bahwa peradaban modern bukanlah kelanjutan dari peradaban leluhur umat Islam, dan bukan pula buatan tangan umat Islam. Peradaban hari ini — dalam sains, teknologi, ekonomi, dan ideologi — adalah ciptaan “Liyan” (Barat), di mana umat Islam hanyalah pengikut atau konsumen. Tantangan yang dihadapi bukan lagi sekadar penyimpangan kecil (bidah) yang bisa diluruskan dengan kembali ke teks, melainkan tantangan dari sebuah peradaban yang sama sekali baru yang menuntut cara berpikir yang sama sekali baru pula.

Di penghujung analisisnya, Al-Jabiri menggunakan alegori filsafat klasik “Gua Plato” untuk menggambarkan tragisnya kondisi epistemologis umat Islam. Ia menyatakan bahwa meskipun umat Islam tidak mengalami nasib persis seperti Aṣḥâb al-Kahfi, mereka menderita sindrom “Gua Plato”. Umat Islam dipaksa membelakangi cahaya matahari (realitas objektif) dan menghadap ke dinding gua, sehingga yang mereka lihat hanyalah bayang-bayang dan siluet imajiner, bukan kebenaran itu sendiri. “Ṣaḥwah” atau kebangkitan emosional, dalam konteks ini, hanyalah kegaduhan di dalam gua yang tidak membantu penghuninya melihat matahari. Yang dibutuhkan adalah keberanian intelektual untuk memutar tubuh, keluar dari gua, dan menatap realitas modernitas yang menyilaukan dengan mata akal yang telah diperbarui.

Inferensi: Menuju Transformasi Struktur Nalar

Melalui close reading pemikiran ini, terlebih dalam sub-tema “Ṣaḥwah-Tajdîd”, terlihat bahwa Al-Jabiri tidak sedang menawarkan ansiolitik bagi kegelisahan umat Islam, melainkan sebuah diagnosa yang menyakitkan namun perlu. Ia menolak kenyamanan semu yang ditawarkan oleh narasi “ṣaḥwah islâmiyyah”, yang ia anggap sebagai ilusi reaktif dan superfisial. Bagi Al-Jabiri, masa depan umat Islam tidak bergantung pada seberapa keras mereka meneriakkan slogan identitas, melainkan seberapa mampu mereka melakukan “tajdîd” — sebuah kerja peradaban yang sunyi, rasional, dan metodologis.

Risalah inti Al-Jabiri adalah sebuah panggilan untuk transformasi struktur nalar. Dengan meminjam legitimasi Al-Shatibi, ia mencoba membebaskan akal Muslim dari penjara teologis buatan fukaha konservatif yang mengharamkan kemajuan. Namun, lebih dari itu, ia memperingatkan bahwa tanpa “pembaruan akal” (al-tajdîd al-’aqlânî), umat Islam akan selamanya terjebak dalam gua sejarah, melihat bayang-bayang masa lalu sambil tertinggal semakin jauh oleh kereta peradaban yang dikemudikan oleh bangsa lain. “Ṣaḥwah” mungkin membuat umat Islam merasa hidup, tetapi hanya “tajdîd” yang berbasis rasionalitas kritis yang mampu membuat mereka berdaya di hadapan realitas.


메타데이터
post_id
68296e3dbd17
slug
di-balik-ilusi-kebangkitan-dari-ṣaḥwah-islâmiyyah-menuju-tajdîd-close-reading-pemikiran-abid-68296e3dbd17
url
https://medium.com/@em.saifhuda/di-balik-ilusi-kebangkitan-dari-%E1%B9%A3a%E1%B8%A5wah-isl%C3%A2miyyah-menuju-tajd%C3%AEd-close-reading-pemikiran-abid-68296e3dbd17
canonical_url
https://medium.com/@em.saifhuda/di-balik-ilusi-kebangkitan-dari-%E1%B9%A3a%E1%B8%A5wah-isl%C3%A2miyyah-menuju-tajd%C3%AEd-close-reading-pemikiran-abid-68296e3dbd17
author_url
https://medium.com/@em.saifhuda
status
ok
fetched_at
2026-06-21 15:33:18