← Back to list

Bugis dan Makassar: Meluruskan Kesalahpahaman Identitas

2025 : 146) Meninjau Ulang Perbedaan Sejarah, Budaya, dan Bahasa

Muh. Zulkifli · 2025-12-07 05:31 · 185 claps · 2.9 min read paywalled
#bugis #makassar #suku #manusia #indonesia
Open on Medium ↗

Bugis dan Makassar: Meluruskan Kesalahpahaman Identitas

2025 : 146) Meninjau Ulang Perbedaan Sejarah, Budaya, dan Bahasa

Photo by Nadine E on Unsplash

Photo by Nadine E on Unsplash

Klik untuk baca seutuhnya!

Kesalahpahaman mengenai identitas suku Bugis dan Makassar masih sering terjadi, terutama di kalangan masyarakat di luar Sulawesi Selatan. Banyak orang menganggap bahwa keduanya adalah satu suku yang sama.

Anggapan ini muncul antara lain karena konstruksi pengetahuan di sekolah, kurikulum, serta buku paket yang menggunakan penulisan “Bugis–Makassar” dengan tanda strip.

Penulisan seperti itu memberi kesan bahwa keduanya menyatu dan setara sebagai satu kelompok tunggal, padahal Bugis dan Makassar merupakan dua suku bangsa yang berbeda, baik dalam sejarah, budaya, maupun bahasa.

Sumber Kesalahpahaman

Penggunaan tanda strip dalam penulisan “Bugis-Makassar” dan tidak menggantinya dengan kata sambung “dan” menyebabkan banyak orang menyamakan keduanya.

Padahal, jika ditinjau dari sejarah dan karakter kebudayaan, keduanya memiliki kekhasan masing-masing. Makassar memiliki sejarah maritim yang sangat kuat, sementara Bugis juga memiliki jejak maritim, namun tidak semasif Makassar, dan lebih cenderung bercorak agraris.

Pemahaman yang keliru melalui penulisan tadi turut memperkuat anggapan bahwa Bugis dan Makassar adalah satu kesatuan yang sama.

Latar Historis yang Membentuk Persepsi Kesamaan

Secara historis, persepsi bahwa Bugis dan Makassar adalah sama juga dipengaruhi oleh peristiwa politik setelah Perang Makassar.

Ketika perang usai, Arung Palakka sebagai Raja Bone melakukan strategi politik untuk mempersaudarakan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan melalui perkawinan. Keponakannya, La Patau, dinikahkan dengan putri Raja Gowa, I Mariyama.

Dari perkawinan ini lahir keturunan yang kemudian menjadi raja baik di Bone maupun di Gowa. Peristiwa inilah yang kemudian menimbulkan anggapan bahwa kedua suku ini menyatu, namun, ini hanya penyatuan secara politis, bukan etnis.

Kesamaan Nilai dan Wujud Budaya

Dari segi budaya, orang dari luar Sulawesi Selatan dapat dengan mudah mengira Bugis dan Makassar adalah sama karena ekspresi budaya keduanya tampak serupa.

Kedua suku sama-sama menjunjung tinggi nilai siri na pesse (Bugis); siri na pacce (Makassar), yang berarti harga diri, kehormatan, rasa malu, dan solidaritas. Nilai tersebut identik dalam makna tetapi berbeda dalam pelafalan karena perbedaan bahasa.

Di masa lalu, keduanya juga memiliki sistem sosial yang sama-sama terdiri atas lima poin. Di Bugis disebut pangadereng, dan di Makassar disebut pangadakkang. Struktur dan fungsi keduanya setara.

Dalam wujud budaya, terdapat penggunaan songkok recca, songkok pamiring, dan ulaweng pada masyarakat Bugis, sedangkan di Makassar terdapat songkok guru yang digunakan oleh kalangan bangsawan. Bentuk-bentuk kebudayaan tersebut tampak mirip, namun tetap berasal dari dua suku yang berbeda.

Perbedaan Bahasa sebagai Penanda Identitas

Perbedaan paling jelas antara Bugis dan Makassar terdapat pada bahasa. Pengalaman langsung menunjukkan jarak linguistik tersebut. Ketika saya berkuliah di wilayah Makassar, tepatnya di Kabupaten Gowa, percakapan dengan penutur asli bahasa Makassar hampir tidak dapat dipahami sama sekali.

Setiap kalimat hanya bisa saya jawab dengan kalimat pendek “iye’”, tanpa mengetahui maknanya. Setelah waktu berjalan, hanya beberapa kata yang dapat dikenali, tetapi tetap tidak sampai pada tingkat pemahaman penuh.

Dalam buku Manusia Bugis karya Christian Pelras, disebutkan bahwa bahasa Bugis dan Makassar memiliki perbedaan yang jauh, dan justru bahasa Bugis lebih dekat dengan bahasa Toraja.

Walaupun secara budaya dan agama Bugis dan Toraja sangat berbeda, kedekatan bahasa ini menunjukkan bahwa Bugis dan Makassar adalah dua identitas yang terpisah.

Identitas dalam Diaspora

Cara orang Bugis dan Makassar mengidentifikasikan dirinya di perantauan sering dipengaruhi oleh sejarah dan reputasi masa lalu.

Di Jawa, khususnya Yogyakarta, orang dari kedua suku tersebut sering memilih menyebut dirinya sebagai orang Makassar karena kenangan sejarah perjuangan Karaeng Galesong yang membantu Trunojoyo melawan VOC dan Amangkurat II.

Bahkan dalam Keraton Yogyakarta hingga hari ini masih ada Pasukan Dhaeng, sebagai bukti historis, reputasi yang baik orang-orang Makassar di Jawa.

Di Kalimantan, orang dari kedua suku tersebut lebih sering menyebut dirinya sebagai orang Bugis karena jumlah orang Bugis yang lebih besar. Bahkan banyak orang Makassar ikut menggunakan identitas Bugis.

Di Malaysia, terutama di Semenanjung, identitas Bugis juga lebih dipilih karena jejak para Daeng yang pernah berperan membantu kerajaan-kerajaan setempat.

Oleh sebab itu, meskipun orang Makassar datang ke sana pada masa kini, mereka lebih memilih mengidentifikasikan diri sebagai orang Bugis agar lebih diterima.

Kesimpulan

Pemahaman yang salah tentang Bugis dan Makassar sebagai satu suku terbentuk dari konstruksi pengetahuan dalam pendidikan, hubungan historis antara kerajaan, serta dinamika identitas dalam diaspora.

Bugis dan Makassar adalah dua suku bangsa yang berbeda, dengan sejarah, budaya, bahasa, dan wujud kebudayaan masing-masing.

Pemahaman yang tepat diharapkan dapat memberikan wawasan bagi masyarakat luas dalam melihat keragaman identitas di Sulawesi Selatan.

End.

Sulolipu


메타데이터
post_id
684532fa3cb2
slug
bugis-dan-makassar-meluruskan-kesalahpahaman-identitas-684532fa3cb2
url
https://medium.com/@sulolipu/bugis-dan-makassar-meluruskan-kesalahpahaman-identitas-684532fa3cb2
canonical_url
https://medium.com/@sulolipu/bugis-dan-makassar-meluruskan-kesalahpahaman-identitas-684532fa3cb2
author_url
https://medium.com/@sulolipu
status
ok
fetched_at
2026-06-23 17:05:31