Aku Takut Berteman Dengan “Orang Suci”
Suci dari Dosa atau Suci dari Profesionalitas dan Relasi?
Aku Takut Berteman Dengan “Orang Suci”
Suci dari Dosa atau Suci dari Profesionalitas dan Relasi?

Moslem Friendship. Sumber : Pinterest
DISCALIMER KERAS : Tulisan ini tidak berniat memojokkan orang, ini hanya opini pribadi. Other people, may have another PoV.
Berbicara tentang orang alim, kira-kira apa yang menjadi bayangan pertama di otak kalian? Orang yang rajin datang ke forum-forum ilmiah? Ataukah orang-orang yang rajin duduk di masjid sambil mendengarkan ceramah?
Bertahun-tahun berkuliah di sekolah negeri membuatku memiliki banyak teman dari berbagai latar belakang, salah satunya latar belakang agama. Walaupun agamanya sama, sama-sama Islam, tetapi tidak semua punya pemahaman dan standar Islam yang sama. Hal ini membuatku lebih banyak belajar tentang dunia lebih luas, terutama dari sisi pertemanan.
Hingga akhirnya setelah masuk dunia perkuliahan, aku menemukan sebuah tempat tinggal di bawah binaan lingkungan Masjid Salman ITB yang ternyata aku “keterusan” tinggal di lingkungan ini hingga sekarang. Awalnya tawaran ini sangat menyenangkan bagiku. Ditambah dengan COVID-19 waktu itu, tawaran untuk sudah lebih awal (sejak tingkat 1) berada di Bandung membuatku semangat belajar hidup merantau. Jadi konsepnya memang tetap kuliah online, tetapi dari Bandung HAHA. Kocak memang.
Syok dengan Relasi
Namun, ketika tahun kedua sudah wajib offline, aku merasakan ada yang berbeda. Pertama kali berinteraksi dengan orang, aku tidak bisa secair teman-temanku. Paling-paling cuma bisa akrab sama Apis karena dari dulu seasrama. Memang faktor kecanggungan juga karena online selama dua tahun sejak akhir SMA, tetapi rasanya tidak hanya karena itu. Aku merasa masih canggung karena sedikit syok juga bertemu dengan manusia-manusia dari berbagai latar belakang. Sebab, semuanya lebih heterogen dari asrama pertamaku di Rusamuda yang sudah heterogen dari berbagai macam fakultas. Aku merasa agak syok karena memang tidak semuanya secara akhlak seperti orang yang sering aku temui satu tahun terakhir, teman asramaku.
Berkata secara frontal, kata-kata kasar santai, hingga duduk berbaur tanpa pemisah antara pria dan wanita itu salah satu contoh hal yang membuatku syok. Aku pun syok dan bingung dengan diriku.
“Bukannya dua tahun lalu saat masih SMA aku bisa-bisa saja berbaur dengan teman-teman yang juga seheterogen ini dalam akhlak? Kenapa sekarang rasanya susah?”
Ternyata aku sadar memang selama satu tahun aku di Rusamuda dengan aktif mengikuti berbagai kegiatan di Salman membuatku sering terpapar pertemuan dengan orang-orang yang lebih menjaga akhlak dan tutur kata. Apalagi pengalaman ini aku rasakan di luar kota, jauh dari rumah, tentu membuat semua fakta dan realita harus di-drive sendiri sehingga membangkitkan “pengolah kebijaksanaan” dalam otak. Pengolah kebijaksanaan yang dimaksud adalah tentang mekanisme kita menyerap sebuah data menjadi informasi, pengetahuan, hingga kebijaksanaan.

Piramida Data. Sumber : Selfmotivator.web.id
Syok dan bingungnya aku dalam hal pertemanan atau jejaring ini tentu menjadi kebingungan besar bagiku sebetulnya. Aku yang mulai menata hidup dengan tetap belajar Islam lebih aplikatif, kenapa harus melepas kekuatan berteman dan mencari teman. Di titik itu (tingkat dua), aku merasa tertampar realita betapa susahnya menjaga pertemanan. Seringkali mudah lelah dalam mengekspresikan diri di luar karena budaya-budaya yang berbeda. Apalagi, tidak banyak orang yang bisa kukenal seperti dulu aku mengenal teman SMA ku.


No Offense, contoh hanya pemanis.
Ketika masuk di kuliah, aku juga banyak berteman dari orang-orang yang aktif di Salman dan Gamais. Keduanya identik dengan lingkungan yang lebih islami. Namun, entah kenapa aku juga lebih sering merasa ajakan-ajakan kegiatan yang mereka lontarkan lebih menggiurkan karena ajakan mereka biasanya untuk kegiatan Salman dan Gamais yang identik dengan kegiatan dengan nuansa Islami. Konsekuensinya mudah ditebak, kegiatan dengan nuansa Islami bisa “dijual” lebih mudah dengan dalih “membantu agama, berpahala, bisa lebih dekat dengan Surga”. Pernah ga acara himpunan atau lainnya yang nuansa non Islami, lantas dijual dengan, “bisa mendapatkan pahala, melayani banyak massa kampus di ITB”? Seakan-akan memang ada sedikit pengotakan pada acara yang lebih dekat dengan Islam dan tidak.
Hingga aku berada di titik bertanya-tanya, apakah menjadi orang yang lebih mengenal Islam lantas membuatku harus membatasi diri dari relasi?
Syok dengan Profesionalitas
Dulu, sewaktu SMP dan SMA di sekolah negeri, aku bukan juga termasuk orang paling alim. Namun, beberapa dari mereka yang kuanggap alim ini justru nampak olehku fokus hanya pada akademik atau kegiatan yang berbau agama. Ketika diajak berorganisasi di OSIS atau yang lebih heterogen, tidak semua mau. Paling-paling hanya mereka yang masih bukan paling alim karena pasti di OSIS harus bisa berinteraksi dengan berbagai macam orang dari lawan jenis dan lintas agama. Oke, mungkin paragraf ini sedikit subjektif, tetapi aku yakin tidak sedikit orang yang memiliki pandangan sama denganku.
Kalau berkaca di kondisi Salman sendiri, kata Kak Daris, “Aktivis Salman itu sok baik.” Maksudnya adalah mereka sering kali terlalu sungkan untuk menyampaikan kesalahan orang, sering memaklumi berbagai macam kejadian, hingga memang senang membantu sampai-sampai kadang lupa dengan kewajiban utamanya. Akhirnya, kadang ada saja dalam kepanitiaan orang-orang yang suka menanggung beban orang lain akibat kesungkanan mereka menegur orang tersebut.
Hingga aku berada di titik bertanya-tanya, apakah menjadi orang yang lebih mengenal Islam lantas membuatku harus menjadi tidak terlalu professional?

Opening Mentoring Alumni Muda RK bersama Bang Kamil. Sumber : Dokumentasi Mbak Mute :D
Kenalan dengan Bang Kamil
Dari penjelasan sebelumnya, aku jadi sedikit bertanya-tanya tentang orang-orang yang memang mengenal Islam lebih dekat. Apakah memang iya relasi kita jadi terbatas karena akhirnya lingkungan yang bisa kita nyemplungin jadi makin terbatas? Apakah iya juga kualitas profesionalitas kita jadi turun karena tidak berani mengkritik orang? Nyatanya pertanyaan ini terjawab pada acara Opening Mentoring Alumni Muda RK bersama **Bang Kamil**, Ketua IARK.
Bang Kamil bercerita bahwa selepasnya dari RK tidak membuat semangat keislaman beliau turun. Setelah di Inggris, beliau pun aktif mengurus di semacam organisasi kemasjidan di sana seperti Kak Royyan dulu, namanya Kibar. Poin menariknya adalah ketika beliau bercerita bahwa beliau secara professional adalah orang yang sangat disiplin. Beliau tidak segan-segan menutup “room” agar orang yang datang setelahnya tidak bisa masuk. Disiplin banget sih memang…
Di RK sendiri aku jadi belajar bahwa justru muslim yang bagus (baca : bisa membuat manfaat besar) harus bisa berkolaborasi dengan baik. Intinya harus bisa berelasi dan professional. Apakah orang yang tidak setuju dengan ini salah? Tidak juga sebetulnya. Mereka punya prinsip masing-masing yang harus kuhormati. Sebab, aku hanya punya kendali pada diriku sendiri, bukan orang lain.
Key Takeaways
Aku sangat tidak menyesal bisa mengenal Islam lebih dalam dengan orang-orang disekitarku yang jauh lebih alim. Namun, memang tidak dipungkiri bahwa belajar membuka diri untuk berjejaring serta tetap bersikap professional dan tidak ragu mengkritik orang secara baik juga perlu untuk peningkatan dampak yang bisa kita lakukan. Aku yakin jika Islam tidak membatasi kita hanya berkolaborasi dengan orang muslim saja atau bahkan orang alim saja. Aku yakin bahwa misi Islam itu utamanya adalah Ramatan Lil Alamin. Membawa rahmat bagi seluruh alam adalah pekerjaan yang tidak bisa main-main dan tidak bisa sendirian.

Al Anbiya ayat 107. Sumber : quran.com
Tentang Katapudin
Halo, perkenalkan namaku Pudin, seorang mahasiswa Sistem dan Teknologi Informasi di Institut Teknologi Bandung saat ini. Aku sangat suka menulis tentang hidup, teknologi, buku, serta hal-hal random lainnya dan mulai menulis di Medium sejak 2022.
Sebagai orang yang sering overthinking dan overanalysis, menulis sangat membantuku berpikir lebih baik sekaligus menyebarkan pemikiranku kepada banyak orang. Aku suka berdiskusi dan juga punya mimpi besar untuk membuat Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Hubungi aku lebih jauh di Instagram. Mari kita berkoneksi, berdiskusi, dan bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik!
메타데이터
- post_id
- 687789a2d64a
- slug
- aku-takut-berteman-dengan-orang-suci-687789a2d64a
- url
- https://medium.com/@katapudin/aku-takut-berteman-dengan-orang-suci-687789a2d64a
- canonical_url
- https://medium.com/@katapudin/aku-takut-berteman-dengan-orang-suci-687789a2d64a
- author_url
- https://medium.com/@katapudin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 04:55:24