← Back to list

Merebut Masa Depan Tafsir:

“Membongkar Tradisi, Merangkul Kritik, Menawarkan Solusi”

Kliss in Al-Hikmah · 2025-09-08 09:40 · 86 claps · 2.5 min read
#interpretation #quran #methodology #epistemology #objektivizm
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy 🕊️ · Religion

Merebut Masa Depan Tafsir:

“Membongkar Tradisi, Merangkul Kritik, Menawarkan Solusi”

Tulisan ini berangkat dari refleksi pribadi atas Seminar yang diadakan oleh Pusat Studi Qur’an, Ibih Tafsir, dan elbranstalk ini mendiskusikan kerangka penafsiran Al-Qur’an dan masa depan studi tafsir di Indonesia. Tema utamanya adalah metodologi dan dinamika yang sedang berjalan dalam studi Al-Qur’an. Tiga narasumber utama, yaitu Prof. Dr. Abdul Mustaqim, Prof. Dr. Yusuf Rahman, dan Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, menyampaikan pandangan mereka dari sudut pandang yang berbeda.

Mustaqim menekankan bahwa perkembangan dan perubahan tafsir tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi zaman, tetapi juga oleh pergeseran epistemologi. Ia mengibaratkan epistemologi sebagai “ruh” dalam tafsir, yang tanpanya produk tafsir akan gagal.

PPT

PPT

Mustaqim juga mendorong para pegiat tafsir agar tidak bersikap anti terhadap pemikiran Barat, karena perspektif tersebut dapat memperkaya pendekatan akademik tanpa harus meniadakan otoritas Al-Qur’an. Beliau menutup sesinya dengan pesan penting: kebenaran tafsir itu bukan hanya sebatas tulisan di kitab, tetapi juga harus bisa diterapkan dalam kenyataan.

Senada dengan itu, Rahman menceritakan pesatnya perkembangan kajian Al-Qur’an di Barat, yang dibuktikan dengan banyaknya riset dan konferensi besar. seperti gambar di bawah ini:

Ia juga menyoroti beragamnya respons para sarjana Muslim di Indonesia terhadap kajian Barat. Ada yang menolak secara teologis dan polemis, seperti Fahmi Zarkasyi yang berpendapat bahwa kesarjanaan Barat didasarkan pada Western View, berbeda dengan Islamic Worldview. Namun, ada juga yang bersikap lebih terbuka dan menganggap kajian Barat tidaklah monolitik. M. Sirry mendukung pandangan ini dengan menjelaskan bahwa para sarjana Barat sering kali berdebat dan saling mengkritik, bahkan di antara mereka sendiri. Oleh karena itu, Rahman menekankan pentingnya membedakan antara kajian akademik yang kritis dengan kajian apologetik yang sifatnya hanya pembelaan diri. (baca Studying the Qur’an in the Muslim Academy 2020)

Terakhir, Shihab memberikan pandangannya tentang metodologi tafsir yang harus terus berkembang seiring dengan perubahan masalah di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan untuk menjelaskan teori-teori ilmiah, melainkan untuk memotivasi manusia agar terus mencari ilmu. Menurutnya, yang terpenting dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah objektivitas. Beliau menyampaikan bahwa penafsiran tidak harus terikat pada syarat-syarat lama dan boleh menggunakan pemikiran dari berbagai ulama, bahkan dari para orientalis. Profesor Quraish menutup sesinya dengan pesan yang sama pentingnya: tafsir Al-Qur’an harus bisa memberikan solusi nyata untuk masalah-masalah yang dihadapi masyarakat saat ini.

Secara keseluruhan, seminar ini menekankan bahwa studi tafsir Al-Qur’an harus terus berkembang dan adaptif. Para narasumber sepakat bahwa epistemologi yang kuat dan objektivitas adalah kunci untuk menghasilkan penafsiran yang relevan dan bisa menjawab tantangan zaman. Pandangan dari Prof. Mustaqim, Prof. Rahman, dan Prof. Quraish Shihab saling melengkapi satu sama lain: studi tafsir harus didasarkan pada kerangka epistemologis yang kokoh, terbuka terhadap perspektif dari luar tanpa mengesampingkan otoritas Al-Qur’an, dan mampu memberikan solusi praktis bagi permasalahan kontemporer. Pendekatan-pendekatan ini menjadi fondasi penting agar studi tafsir tidak menjadi produk yang gagal, melainkan terus hidup dan relevan di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, masa depan studi tafsir di Indonesia sangat bergantung pada bagaimana para pegiatnya bisa memadukan kekayaan tradisi Islam dengan pendekatan akademik modern. Dengan membedakan antara kajian apologetik dan akademik, serta bersikap terbuka terhadap dialog ilmiah, studi tafsir akan mampu melahirkan interpretasi yang tidak hanya kokoh secara keilmuan, tetapi juga bermanfaat secara sosial. Pada akhirnya, tujuan utama dari semua penafsiran adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman yang dinamis dan solutif, yang kebenarannya bukan hanya ada di atas kertas, tetapi juga terwujud dalam kenyataan hidup sehari-hari.


메타데이터
post_id
689768bc9ef0
slug
merebut-masa-depan-tafsir-689768bc9ef0
url
https://medium.com/al-hikmah-chronicles/merebut-masa-depan-tafsir-689768bc9ef0
canonical_url
https://medium.com/al-hikmah-chronicles/merebut-masa-depan-tafsir-689768bc9ef0
author_url
https://medium.com/@sore
status
ok
fetched_at
2026-07-17 16:52:51