Gentengisasi atau Sirapisasi?
Koran #1
Gentengisasi atau Sirapisasi?
Koran #1

Matahari Borneo, 17–08–1929, Halaman 4, Kolom 1. Koleksi Perpusnas.*
Selama 25 tahun hidup di Kalimantan Selatan, tak kuingat pernah melihat sebuah rumah penduduk beratapkan genting (kata “genteng” tak baku). Barangkali ingatanku yang keliru, barangkali penjelajahanku kurang jauh, atau barangkali pula memang rumah dengan atap genting itu tak pernah ada. Daripada genting, atap sirap jauh lebih sering kujumpai; mulai dari rumah, mesjid, hingga istana para raja.
Atap sirap sendiri terbuat dari kayu ulin/bulian/belian. Berbentuk segi lima memanjang, pelat kayu ini disusun tumpang tindih sebagai pelindung rumah dari panas dan hujan. Bentuk atapnya indah sekali ketika selesai dipasang, kawan-kawan pembaca dapat melihatnya sendiri di internet jika penasaran.
Hawa di dalam rumah beratap sirap akan terasa sejuk, apalagi kalau dipadukan dengan dinding, tiang, dan lantai yang terbuat dari kayu ulin pula. Ulin agaknya memang mengamini lakabnya, si kayu besi. Padahal lakab ini mulanya diberikan berkat ketangguhannya menghadapi hama dan cuaca, tetapi rupanya ia mewarisi pula sifat lain dari besi: dingin.
Potongan surat kabar yang kusertakan di atas merupakan iklan penjualan sirap dan kayu ulin dengan berbagai fungsi (barangkali di sana ada kasau, reng, lis, dan sebagainya). Masa itu kayu ulin masih menjadi primadona untuk memenuhi berbagai keperluan, baik itu sebagai bahan utama pembuatan rumah, maupun bahan pembuat perkakas yang ada di dalam rumah. Nenekku bahkan masih menyimpan cetakan kue dari kayu ulin dengan ukiran yang indah sekali, sayang tak kusimpan potretnya. Kalau pulang nanti akan kusertakan di bawah tulisan ini, semoga ingat.
Kayu ulin memang lambat sekali pertumbuhannya. Ketika ditanam untuk keperluan komersial, orang pasti tak akan sabar untuk menunggunya, sehingga kayu ulin itu harus ditebang di usia yang masih muda. Padahal kayu ulin berkualitas biasanya berasal dari pohon yang berusia puluhan hingga ratusan tahun. Namun, apa daya? kayu ulin yang mulai langka karena pembalakan liar ini harganya semakin meroket saja. Jangankan yang tua, yang muda saja sudah tinggi harganya.
Tingginya harga ulin sudah tentu berpengaruh pula pada harga atap sirap. Masyarakat dari golongan menengah ke bawah jelas akan mencari jenis atap lain sebagai pengganti, yakni seng. Sebenarnya ada alternatif lain seperti rumbia, tetapi usianya yang tak bertahan lama menjadikannya tak cocok bagi masyarakat sekarang yang sebagian besar waktunya habis di “jalan”.
Golongan menengah ke atas pun sebenarnya sudah mulai meninggalkan atap sirap. Mereka berpindah ke genting metal yang lebih serasi dengan bangunan beton. Mengapa pula oleh mereka tak dipilih genting tanah liat? wah, silakan kalian tanya sendiri saja.
Maka sepertinya tak harus selalu genting; boleh seng, rumbia, ijuk, sirap, atau jenis atap dari daerah lain yang menjadi ciri khasnya. Masih banyak yang belum kuketahui, kalau sempat ingin kulihat semuanya. Maka dari itu, aku berharap semoga keberagaman atap tersebut masih tetap terjaga hingga bila-bila.
Kata orang: Selama orang masih mencari, Ia belum tua. Prof. S. Soemadikarta (3 Februari 2026, dalam sebuah pertemuan singkat)
Sebagai manusia yang masa kecilnya dihabiskan di bawah rumah beratap seng, aku merasa sangat bahagia. Kalau musim hujan, suara rintiknya sangat menenangkan. Kalau kemarau, rasanya seperti orang kaya yang berendam di sauna. Hampir keseluruhan bagian dalam rumah kami tanpa plafon. Kalaupun ada, ia terbuat dari terpal salur yang barangkali hanya meredam panas sebanyak 5-10%.
Seringkali seng yang dipakai sebagai atap adalah seng bekas, sehingga lubangnya sudah ada di sini sana. Sebelum dipasang, terlebih dahulu ia ditambal dengan isolasi seng 20 ribuan. Ketika sudah lama terpasang pun kadangkala ada lubang baru yang tercipta. Kalau sedang ada stok seng, bapak akan menggunakannya sebagai pelapis. Kalau tidak ada, isolasi tadilah penolong kami. Ketika aku sudah cukup usia dan berani naik ke atas atap, tugas menambal itu kugantikan dan kulakukan dengan riang di bawah terik matahari.
메타데이터
- post_id
- 68b3aa971fcd
- slug
- gentengisasi-atau-sirapisasi-68b3aa971fcd
- url
- https://medium.com/@katzenstreu/gentengisasi-atau-sirapisasi-68b3aa971fcd
- canonical_url
- https://medium.com/@katzenstreu/gentengisasi-atau-sirapisasi-68b3aa971fcd
- author_url
- https://medium.com/@katzenstreu
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13