Bejana Kosong
Keenan mendongakkan kepalanya menghadap langit-langit kamar, netranya terus mengerjap diiringi deru nafas yang lajunya kian cepat. “Inhae…
Bejana Kosong

Keenan mendongakkan kepalanya menghadap langit-langit kamar, netranya terus mengerjap diiringi deru nafas yang lajunya kian cepat. “Inhae, exhale, inhale, exhale” ucap Keenan kepada dirinya sendiri sembari menenangkan deru sadis di dadanya. Nafas kasar ia hembuskan, ia usap dadanya perlahan, lalu terkekeh kecil. Tangannya bergerak menuju ponsel hitam yang tidak pernah jauh dari jangkauannya, 1611 adalah kata kunci untuk membuka ponsel hitam miliknya, dan aplikasi hijau bernama Spotify adalah tujuannya. Penyuara telinga nirkabel ia sambungkan lalu ia tempatkan pada kedua telinganya, “I Can’t Runaway by Seventeen” ia ketikkan pada kolom pencarian di aplikasi hijau, dan tidak butuh waktu lama untuk dia menekan ikon berbentuk segitiga pada aplikasi tersebut untuk memutar lagu kesukaannya itu, lantas memejamkan netranya.
ddrrttt … ddrrrttt….
Keenan terkejut dengan getaran pada ponselnya, ia melirik layar ponsel hitamnya dan menemukan sebuah pesan dari sahabat kecilnya, Athar. Ia menyipitkan mata dan membaca pesan yang dikirim oleh Athar, “Apasih galau mulu monyet, copot gak earphone lu” tulis Athar. Oh ternyata sahabatnya melihat aktivitas dengarnya di aplikasi hijau, “Dengerin lagu doang, alay” Keenan membalas pesan dari sahabatnya. Belum satu menit berlalu ponsel Keenan kembali bergetar pertanda sahabatnya lagi lagi memberinya pesan, “Percuma lu dengerin tu lagu ampe 2 jam ampe kuping lu soak, bukannya sembuh yang ada malah makin ga waras” begitulah balasan Athar, sang empu hanya tertawa ringan lalu ia mengirimkan balasan singkat “Thar, temenin renang, 10 menit lagi gue sampe kos lu”. Segera ia beranjak dari kursi gaming kesayangannya, mengganti pakaiannya dengan setelan serba hitam.
“Thar buruan anjir keburu kolam rame ah males gue” ucap Keenan pada panggilan suara yang terhubung pada ponsel Athar, “Bawel” timpal Athar.
Athar menaiki jok belakang motor hitam milik Keenan, melihat laki-laki di depannya sedang memasang penyuara telinga nirkabel ke telinganya kemudian dia mencolek bahu laki-laki tersebut sembari berkata “Nan kalo lu dengerin I Can’t Runaway lagi gue sita earphone sama hp lu tai” dengan sangsi. Keenan di depannya hanya mendengus seraya berkata “Gue dengerin GAM3 BO1 kocak” kemudian melajukan kuda besinya dengan kencang menuju tempat yang 6 bulan terakhir ini kerap mereka sambangi, kolam berenang.
“Peregangan dulu elah peregangan Keenan!” Athar setengah berteriak setelah melihat Keenan langsung menceburkan diri ke dalam kolam tanpa aba-aba.
30 menit berlalu, Keenan menoleh ke kiri mendapati Athar sudah duduk di tepian kolam dan berteriak kepadanya “WOY KEENAN UDAH AH ANJING GUE CAPEK BANGET ENGAP”, ia menghentikan kayuhan tangan dan kakinya, menghampiri Athar di tepian lantas membalas teriakan Athar “CIH SEGITU DOANG THAR TENAGA LU? JANTAN BUKAN LU?” yang langsung dihadiahi cipratan bertubi-tubi oleh Athar.
“Bacot ah istirahat dulu ego, lu yang galau tapi gue yang engap monyet” balas Athar cepat.
Keenan tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi, “Gue bilas dulu deh nan, lu kalo masih mau berenang sono dah, ntar samper aja gue di pinggir sono noh” ucap Athar seraya menunjuk meja bundar berisi tas mereka dengan payung besar di atasnya dan hanya dibalas dengan anggukan kepala dari Keenan yang dalam sekejap kembali melanjutkan aktivitas berenangnya.
“Nan, besok sembuh ya biar lu gak nyakitin diri sendiri terus kaya gini” Athar berbisik pada angin.
Athar memandang lurus ke arah Keenan yang sedang berjalan menuju tempat duduk untuk menemui dirinya, ia tertawa seraya melemparkan handuk “Lap dulu lah badan lu itu, bau kencing orang-orang kolam huek”. Keenan yang deru nafasnya belum teratur lantas duduk di kursi kosong di samping Athar, mengelap sisa air yang tertinggal dan hinggap di badan tegapnya. Disambarnya mie instan milik Athar tanpa persetujuan dari sang pemilik dan ia suapkan ke mulutnya dengan lahap guna membungkam jeritan-jeritan organ dalam perutnya.
“Mau sampe kapan nan?” Athar tiba tiba melempar sebuah pertanyaan ambigu
“Apanya yang sampe kapan?” tanya Keenan
“Lu” jawab Athar singkat tanpa menoleh ke arah sahabatnya
“Ngomong yang jelas napa sih thar” ujar Keenan sambil memberi tendangan kecil di betis sahabatnya
Athar menghembuskan nafas kasar seraya menoleh ke arah Keenan “Lu renang mulu udah hampir 6 bulan, mana ga ngotak banget bolak-balik 5x gapake istirahat. Biar apa sih nan? Biar luntur ke air rasa sakitnya? Pertanyaan gue tuh beneran luntur ke air apa kagak?”
Keenan hanya terkekeh “Gue gak tau thar”
“Pusing ah gue ngomong sama lu, dah sono bilas dulu terus kita makan dah ah pake segala lu embat mie gue” ketus Athar seraya mengibaskan tangan mengusir laki-laki bertubuh tinggi dan tegap itu.
Sampai sudah mereka di sebuah warung makan bergaya joglo langganan mereka, keduanya kompak memesan pecel ayam bagian paha atas lengkap dengan tahu, sambal, dan lalapan. Keenan meneguk air putih dengan es batu yang ia pesan “Aduh seger banget thar”. Mereka melanjutkan aktivitas makan sore dengan sedikit kegaduhan merebutkan sepiring tahu. “Jadinya 42.000 yo Mas Keenan” ucap Bude Yati si penjual pecel ayam, Keenan lantas mengarahkan ponselnya pada kode batang yang tertempel pada meja kasir “Udah masuk ya bude, makasih, aku sama Athar balik sek” yang kemudian dibalas oleh Bude Yati “Yo hati-hati nang” sambil melambaikan tangan kepada dua laki-laki tersebut.
Kuda besi berwarna hitam mengira ia akan kembali beristirahat di garasi tempat tinggal Keenan, namun kenyataannya ia justru diistirahatkan sejajar dengan teman satu kaumnya pada parkiran Bukit Pijar. Ketika pertama kali Keenan dan Athar mengunjungi tempat tersebut yang mereka temukan hanya gundukan tanah lapang, rumput, pepohonan, dan sapi warga setempat. Sangat berbeda dengan yang mereka temui hari ini, terdapat tenda-tenda penjual makanan, kondisi yang semakin ramai pengunjung, dan adanya tiket masuk untuk mengunjungi gundukan tanah lapang berumput tersebut, sangat menyebalkan.
Dua laki-laki bernama Athar dan Keenan duduk di bagian dekat pohon untuk sedikit menjauh dari keramaian. “Nan, sekali lagi gue tanya ke lu. Mau sampe kapan?” tanpa aba-aba Athar melempar pertanyaan kepada sahabat kecilnya.
“Thar, gue gak tau”
“Keenan, ayolah. Apalagi sih nan?” tanya Athar
“Tiga tahun, thar. Bukan tiga bulan, bukan tiga hari” jawab Keenan cepat
“Tiga tahun gak dihargain maksud lu?” Athar tertawa ringan
“Monyet” balas Keenan sembari memukul bahu Athar
“Gue salah gak sih thar? Harusnya gue ga mutusin Ayu gak sih thar? Siapa tau Ayu sadar sama kesalahannya abis gue block seminggu waktu itu? Iya gak sih?” Keenan menghujani Athar dengan rentetan pertanyaan
Athar menatap Keenan nanar, “Lu kenapa oon banget sih? Monyet ya lu?”
“Uu aa uu aa” ujar Keenan sembari bersikap layaknya monyet hutan
“Nan, gue serius” Athar menatap Keenan lalu menggeser badannya dan merangkul bahu Keenan. “Kita sebutin lagi ya nan kelakuan bejat tu betina yang secara sadar dia lakuin ke lu tanpa ada kata maaf dan rasa bersalah setelah dia ngelakuin itu ke lu” ujar Athar lalu terjadi jeda 5 menit di antara keduanya.
“Ayu masih suka ngechatin Dika. Ayu masih selalu cari celah buat ada komunikasi sama Radit. Ayu bilang ke gue ketemu Theo buat bayar jaket angkatan tapi ternyata sekalian jalan, mereka foto bareng terus diupload lagi sama si Theo di close friend. Ayu suka tiba-tiba diemin gue berhari-hari tanpa gue tau penyebabnya, terus nanti dia dateng marah-marah ke gue tanpa alasan. Ayu suka tiba-tiba nebeng temen cowonya tanpa bilang dulu ke gue. Ayu suka dm dm cowo. Ayu sering minta gue yang ngerjain tugasnya. Ayu suka nuduh gue selingkuh sama partner organisasi gue. Ayu juga main line nearby-” belum selesai mulut Keenan merapal tingkah laku mantan kekasihnya itu namun Athar sudah lebih dahulu membekap mulutnya.
“Aduh banyak banget buset dah ah kaga usah dilanjutin, gue udah hafal” ucap Athar sambil memijit pelipisnya
“Thar, gue kurang apa sih anjing sampe diperlakuin kaya gitu?” ujar Keenan dengan suara lemah
“Lu kurang waras” sambung Athar yang kemudian merogoh saku celananya dan mulai memutar sebuah lagu; 2 Minus 1 — Seventeen. “Dengerin bener-bener nan, jangan I Can’t Runaway mulu yang lu dengerin” ujar Athar kepada Keenan.
https://music.youtube.com/watch?v=O8KzsdZC1ec&si=b2aNMq5uAfER1avC
“Two minus one
I can see you’re doing really good without me, baby
Two minus one
I’m doing great myself
Hope you know I am
’Cause I’m not lonely, lonely, lonely, lonely, yeah
Lonely, lonely, lonely, lonely, yeah
Two minus one
I’m super fine
I don’t need you anymore” Athar bersenandung turut serta menyanyikan lagu yang sedang berputar pada ponselnya.
“Ah monyettt” Keenan mengagetkan Athar yang sedang terhanyut pada lagu yang sedang diputar
“Yailah si anjing malah nangis” Athar meledek Keenan sembari siku tangannya terus ia benturkan ke tubuh Keenan
“Kelilipan goblok” Keenan mengelak
“Lu masih ngarep si Ayu bakal ngerasa bersalah terus minta maaf ke lu dengan proper ya nan?” sebuah pertanyaan lolos dari mulut Athar
“Emang salah ya thar kalo gue masih ngarepin itu?” Keenan berbalik melempar pertanyaan kepada lelaki berhidung mancung di sampingnya
“Salah nan”
“Lu belain dia thar? Gue yang selama ini ada buat dia thar, dia susah gue yang bantu, gue yang provide dia, gue yang ngusahain dia sampe gue-”
“Nan, gak semua orang tuh tumbuh di lingkungan yang ngajarin dia buat punya empati ke orang lain. Inget nan, kalian tumbuh dengan cara dan lingkungan yang berbeda”
“Ya kan harusnya secara naluri manusia dia ngerasa bersalah dong?” Keenan melontarkan kalimat tanya dengan nafas yang memburu
“Nan, orang yang tinggal di daerah gersang tuh gampang kehausan” Athar menjawab pertanyaan Keenan dengan kalimat yang sulit Keenan pahami
“Gini maksud gue, dengerin baik-baik ya sahabatku Keenan Binar Syahreza bin Muhammad Syahreza-” belum selesai Athar menyampaikan kalimat indahnya, Keenan memotong dengan cepat “Bacot monyet” sembari memberi jitakan kecil di dahi Arkana Athar Athallah, membuat sang lelaki itu meringis sambil mengusap dahinya berulang kali.
“Lu pernah cerita ke gue kalo dia dari kecil ditinggal orang tuanya kerja di luar negeri kan? Jadi dia tinggal sama kakek neneknya, terus sama kakaknya juga ga akrab karena age gap yang cukup jauh, bener gak gue?” Athar memastikan kepada Keenan
“Iya bener gitu, terus apa hubungannya kunyuk?” Keenan bertanya dengan nada terheran heran
“Lu dari lahir sampe sekarang tinggal bareng keluarga lu, lu deket sama bokap nyokap lu, sama adek-adek juga lu deket. Kalian sering family time, kalo puasa juga sahur sama buka barengan kan? Belanja baju lebaran juga ramean kan lu sama keluarga lu? Dan kalian hampir setiap hari selalu ada interaksi, ada komunikasi, selalu ada perhatian ke satu sama lain secara langsung dan bertahun-tahun ga pernah putus. Tangki cinta lu tuh keisi banyak banget nan, ibaratnya mah lu tuh hutan amazon lah nan-” Belum selesai Athar berbicara, lagi-lagi Keenan menyambar “Gue ga paham kenapa harus HUTAN AMAZON, tapi lanjut dulu deh thar”
“ELU MOTONG MULU MONYET” Athar menggeram kesal kepada sahabatnya, Keenan hanya menjulurkan lidahnya
“Hutan Amazon kan banyak tuh komposisi vegetasinya, pohon bermacem-macem, ada sungainya, ada hewannya. Rindang banget tuh disana, ga akan kegerahan gasih nan? Lu ga akan cepet haus kan kalo ada disana?” Keenan hanya mengangguk
“Lu tuh gitu Keenan, lu tumbuh dan besar di tempat dimana kasih sayang tuh melimpah ruah dari keluarga lu, berantem-berantem kecil juga besoknya lu comot juga tuh mie ayam bokap lu. Sedangkan si Ayu? Dia tuh ibarat gurun pasir nan, gersang karena isinya cuma hamparan pasir luas, mentok-mentok juga paling vegetasinya kaktus, itu juga jumlahnya paling juga ga nyampe 50?? Pasti gerah banget itu nan di gurun pasir tuh, gampang haus lu kalo ada disana” ujar Athar
“Jadi Ayu tuh haus kasih sayang gitu maksud lu?” Keenan bertanya dengan nada pelan dan hati-hati
“Kasarnya sih gitu nan, dia tuh dapet kasih sayang keluarga cuma seitil nan atau bahkan ga sama sekali?”
“Eh goblok bahasa lu tai banget seitil seitil” timpal Keenan dengan mata yang membelak
“Dia harus lari kesana kesini cuma buat dapetin air nan karena dia kehausan parah, dia cari jalan pintas buat dapetin banyak air, buat ngisi bejana dia yang mungkin kosong mlompong? Tapi ga pernah ada yang bisa menuhin bejana dia, karena apa nan? Karena cara dia ngisi dan pegang bejananya itu salah, jadi airnya tuh tumpah mulu”
“Kenapa bejananya begitu thar?”
“Karena bejananya dia bawa lari kesana kesini terus lah Keenan, coba lu bawa gelas terus lu lari kesana kesini, tumpah kan airnya karena guncangan? Nah itu si Ayu, dia isi air dengan ambil dari bejana lu, detik berikutnya dia lari ke Dika dia isi disana, abis itu dia lari lagi pindah tempat ke Radit, dan ke orang-orang yang lain. Siklusnya Ayu akan selalu kaya gitu nan”
Keenan hanya mendengus perlahan
“Rasa bersalah tuh ga akan pernah terlintas di benak dia, nan. Karena dia terus menerus kehausan, yang dia pikirin ya cuma gimana dapet air yang banyak dalam satu waktu tanpa dia liat tuh bejana keguncang mulu makanya airnya ga penuh penuh”
“Jadi sekarang gue harus apa thar?”
“Lu harus liat bejana lu sendiri Keenan, penuh nan isinya. Lu tuh bakal selalu bahagia karena kalo lu haus dikit terus lu minum dari bejana lu, tuh air ga bakal berkurang karena keluarga dan orang terdekat lu bakal selalu KASIH air ke lu nan. Bukan lu yang cari air, tapi lu tuh DIKASIH air sama orang-orang sekitar lu” Athar menatap sahabatnya dengan senyum terbaiknya sembari ia rangkul bahu sahabat kecilnya
Athar benar, ia harus memilih dirinya sendiri, ia harus melepas belenggu yang selama ini mencuri air dari bejananya. Keenan menyadari bahwa keluarganya tidak pernah meninggalkannya, interaksi dan komunikasi keluarganya tidak pernah terputus sejauh apapun ayah dinas luar kota, selama apapun durasi bunda arisan. Athar juga tidak pernah berpindah walau sejengkal pun, baik buruk Keenan selalu Athar terima dengan baik. Begitu pula dengan teman-temannya yang lain, tidak pernah sekalipun mereka mengabaikan Keenan.
-end
메타데이터
- post_id
- 68edc24da0c2
- slug
- bejana-kosong-68edc24da0c2
- url
- https://medium.com/@kirahoran16/bejana-kosong-68edc24da0c2
- canonical_url
- https://medium.com/@kirahoran16/bejana-kosong-68edc24da0c2
- author_url
- https://medium.com/@kirahoran16
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 21:25:18